
...🖤🖤...
Jam sudah menunjukkan pukul satu pagi, tapi pengunjung club semakin ramai. Elenora duduk disamping Lynne sembari menyesap anggur ditangannya, jari tangan satunya terselip satu batang rokok yang dia minta dari salah satu pengunjung yang dia lewati. Elenora menikmati pestanya ini, tapi pikirannya ditempat lain, matanya menatap Clara dan Movie dilantai dansa. Movie sudah mengeratkan pelukan pada Ivano, katanya laki-laki itu menyusul setelah urusan kantor selesai. Sedangkan Clara sedang berpelukan dengan mantan kekasihnya, Gerario menyusul dan sempat merengek maaf pada Clara, sedikit percekcokan tadi yang tidak sempat Elenora lihat.
Elenora menyesap nikotin ditangannya, menatap kearah teman-temannya, "Jason gak kesini?"
Lynne menggeleng, meskipun Elenora tidak melihat kearahnya. "Enggak, besok dia ada kelas pagi."
Elenora mengangguk, melihat kearah Lynne yang sedang menatapnya. "Sorry gue bohong,"
"Soal?"
Lynne belum mengatakan apapun soal tadi dia bertemu dengan Biundra.
Elenora menunduk, melihat sisa setengah batang rokok yang menyala. "Everything. Gue, bohong sama lo soal kenapa gue terlambat."
"Alasan??"
"Biu gak bisa gue kontak, gue pergi belanja sendiri."
__ADS_1
"Permintaan maaf diterima."
Elenora tersenyum tipis, menatap rokok dijarinya yang masih menyala, "dengan begonya gue pergi belanja sendiri. Gue ngerasa bisa, nyatanya enggak. Biasanya dia yang selalu nyolot kalau ada yang ambil antrian gue, kali ini gue cuma diem aja dan selalu dapet antrian terakhir. Biasanya dia yang selalu ambilin barang ditempat tinggi, kali ini gue nungguin pegawai yang lewat buat dimintai tolong tanpa gue cari dimana mereka." Elenora menghirup oksigen sebentar. "Gue pikir gue bisa tanpa Biu, tapi enggak, gue bahkan nangis waktu gue gak bisa angkat barang untuk gue masukin kebagasi. Gue beruntung ketemu laki-laki yang dengan suka rela bantuin gue dan tau kalau gue gak bisa angkat dan malah milih nangis dipinggir mobil tanpa berusaha cari bantuan."
"Itu karena lo terbiasa sama dia." Lynne menanggapi santai.
Elenora menatap Lynne sayu. "Gue bersumpah Lyn, gue gak bisa tanpa Biundra. Gue,,,, gue bener-bener gak bisa tanpa dia."
Lynne meraih rokok ditangan Elenora, menaruh diatas asbak, Lynne memeluk Elenora lembut, pengelus pungging Elenora. "I know that, stop, jangan dilanjutin."
Elenora balas memeluk Lynne, bahkan lebih kuat. Ia butuh penguatan. "Gue cuma punya kalian, rasanya bodoh kalau tiba-tiba gue cerita ke keluarga soal perasaan gue, yang mereka sendiri tau kalau gue gak pernah ada rasa sama Biundra."
"Stop please, mata lo bisa bengkak." Lynne panik saat melihat Elenora dengan mata berkaca-kaca.
"No. Gue gak yakin soal itu, Jason terus bilang sama gue kalau Biundra itu suka sama lo." Melepaskan pelukan mereka, Lynne mengusap pipi Elenora yang basah. "Kesalahannya cuma lo yang lebih dulu ngerasain perasaan itu, tapi gue yakin juga kalau Biundra ada rasa sama lo El, bertahan ya, to what extent does he realize his feelings."
...🖤🖤...
"Lo gak lupa kan El, hang-out? Pokoknya jemput gue ya, mobil lagi dipake Ivano." Cerca Movie dari sebrang telepon.
"Iya, pokoknya lo siap siap aja. Ini gue mampir ke apart Biu bentar, dia gak aktif, nyokapnya nelponin gue mulu anj*r." Eluh Elenora, sebenarnya dia malas, mereka sempat bersitegang tadi malam. Tapi mama Biundra memaksanya untuk mengecek keadaan Biundra pagi ini, keluarga mereka akan mengadakan makan siang bersama dan mama Biundra takut putranya tidak datang karena bangun kesiangan.
__ADS_1
"Iyaaa, pokoknya setiap dua puluh lima menit gue akan chat lo terus," Elenora tekekeh dan mengangguk menurut meski sahabatnya itu tidak akan melihatnya. "Yaudah, be careful baby."
Panggilan terputus. Elenora memutar kemudi memasuki parkir basement, dia parkir disebelah mobil hitam milik Biundra. "Tuh, mobilnya aja ada. Dia pasti masih tidur makanya gak aktifin hape."
"Pagi menjelang siang mba El," sapa seorang petugas kebersihan, Elenora selalu menyapa dan terkadang memberikan makanan yang tidak disentuh oleh Biundra kepada para petugas kebersihan. Dia takut mubazir, dan lagi dia tidak suka sesuatu mengganggu matanya. Seperti sebuah barang atau apapun yang berserakan.
Elenora terkekeh. "Iya mbaa,"
"Anak saya suka sama roti tawarnya, lembut."
Elenora menekan tombol tahan pada pintu lift. "Wah senangnya kalau suka. Nanti kalau diapart Biu ada jajanan lagi, aku simpen deh buat anak mbak."
Perempuan didepannya terkekeh. "Iya mba, makasih."
Pintu lift tertutup. Dan lift yang dia tapaki bergerak naik, sampai dilantai lima letak apartemen Biundra.
Tangan cantiknya menekan sandi apartemen Biundra, suasana sudah terlihat sepi. Langkah kakinya menyusuri setiap ruangan Biundra, apartement laki-laki itu lebih luas dari miliknya.
"Bii,,,," tidak ada sahutan, "pasti masih tidur." Kakinya berjalan menuju pintu kamar Biundra.
"Biiiii...." Suaranya menghilang saat pintu sudah dia buka, hanya terlihat perempuan berambut panjang tengah tertidur pulas memunggunginya. Tubuhnya tertutupi selimut tebal dan bagian atasnya telanjang. Oke, Elenora paham. Ada perempuan lain yang membuat Biundra-nya sibuk.
__ADS_1
^^^To be continued 🖤🖤^^^