
...🖤🖤...
"Kok lo diem aja."
"Ya gue harus ngerespon apa."
"El," wajah Biundra berubah panik, Elenora tidak merespon ungkapan rasa sukanya. "Lo gak ada perasaan yang sama kayak gue?"
"Udah enggak,"
"Udah enggak?" Biundra mengulangi ucapan Elenora. "Jadi dulu pernah, El, sekarang lo udah gak suka lagi sama gue."
Elenora tidak membalas, dia berbalik dan merapikan bahan yang tadi dia keluarkan dari dalam kulkas. Biundra meraih tangannya agar berhenti dari aktivitas pengalihan pembicaraan itu.
"El," tangan Biundra meraih dagu Elenora untuk mendongak menatapnya. "Jawab.."
"Gak perlu, minggir ah." Melepaskan tangan Biundra dari dagunya.
"El, no..."
Elenora tersentak kaget saat Biundra berlutut didepannya, memeluknya erat, Elenora dejavu. Biundra pernah melakukan hal ini juga saat ia meminta mereka tidak berhubungan lagi.
"El jangan... Lo gak boleh gak suka sama gue lagi!! Iya gue tau kalau gue banyak nyakitin lo selama ini El, tapi please don't leave me." Pelukan itu semakin mengerat. "I promise I will never hurt you, i promise."
Elenora mengusap wajah Biundra, membuat laki-laki itu mendongak, matanya berkaca-kaca. "Berdiri..."
"No!!!"
Karena Biundra tidak mau berdiri, terpaksa Elenora ikut berjongkok dan menangkup kedua pipi Biundra. "Pfftt, lo kenapa kayak anak kecil gini."
"Kok lo malah ketawa sih,"
"Ya lo gemesin." Ujar Elenora sembari mengelus kedua pipi Biundra. Elenora bergerak memeluk Biundra, erat, "saking sukanya sama lo, gue gak bisa benci sama lo Biu, gue mungkin terlanjur cinta sama lo. Gue udah gak berharap apapun lagi soal perasaan gue."
__ADS_1
"Lo boleh berharap sekarang El," Elenora tidak menjawabnya membuat Biundra mengguncang lengan Elenora. "Ya Ele, berharap sama gue,,"
Tanpa ekspresi, Elenora memeluk tubuh Biundra dengan sangat lembut.
"Maaf,"
"Untuk apa?"
Biundra melepaskan pelukan mereka. "Aku terlalu bodoh karena gak sadar sama perasaanku."
"Aku?" Elenora terkekeh ketika mendengar Biundra merubah cara bicaranya.
"Kenapa?" Tanya Biundra,
"Lucu."
"Mau seperti biasa aja?" Untuk cara bicara mereka.
Elenora menggeleng. "Seperti ini bagus juga."
"Kamu berhak."
"Tidak."
"Sekarang berhak."
"Kenapa bisa?"
"I'am yours," Elenora melepaskan pelukan, menatap Biundra yang mengembangkan senyumnya. Biundra mengangkat Elenora untuk duduk dipangkuannya, mereka tidak bernuan untuk pindah dari lantai. "Ele, will you be engaged to me?"
Biundra menoleh kesamping, dia salah dialog. Elenora tertawa mendengar kalimat ajakan Biundra.
"Sepertinya aku salah kata."
Kalimat itu semakin membuat Elenora tertawa. "Kenapa malah ngajak tunangan?"
__ADS_1
Biundra juga tidak tau kenapa dia malah mengajak Elenora bertunangan, laki-laki itu memundurkan tubuhnya, menopang dengan kedua tangan dibelakang menapak dilantai, membiarkan Elenora tetap dalam pangkuannya. "It's better gak sih? Apa lagi yang kita cari sekarang,"
"Aku gak mau bertunangan dengan pacar orang."
"Pacar orang?" Ah, mungkin maksud Elenora adalah Floretta. "Aku sama Flo tidak pacaran, kami cuma teman yang saling membutuhkan, kemarin dia cerita mau memutuskan untuk kembali dengan mantan suaminya, ah iya, aku lupa cerita kalau Flo itu janda."
Elenora mengangguk. "I know, kami bertemu di pameran lukisan,"
"Sama siapa kesana?" Menyelipkan helai rambut Elenora yang menjuntai.
"Bu Floretta?"
"Kamu,"
"Oh, sama Galaksi,"
"Kalian terlalu dekat," Biundra tersenyum tipis. "Bahkan kalian berciuman."
"Ya, sewaktu itu."
"Apa kalian sering berpelukan juga?"
"Tidak pernah."
Biundra tampak tidak percaya. "Malam itu, kalian berpelukan cukup lama ditaman belakang."
"Kamu melihatnya?"
Biundra mengangguk, mengelus pipi Elenora. "Aku disana, jangan bilang kamu tidak ingat kalau aku datang kekamar bahkan kita tidur berpelukan."
Mata Elenora melebar. "Astaga. Jadi itu bukan mimpi?"
"Mimpi? jadi kamu anggap itu mimpi," Biundra terkekeh. Dia bergerak memeluk Elenora dengan erat lagi. "Setidaknya sekarang kamu tidak sedang bermimpi tentang aku mencintaimu."
^^^To be continued 🖤🖤^^^
__ADS_1