FWB (Friends With Benefit)

FWB (Friends With Benefit)
Tipsy


__ADS_3


...🖤🖤...


Elenora terbatuk sebentar, mata perempuan itu terlihat memicing menatap kearahnya. Mungkin masih bingung karena ia datang tanpa mengabari. "Who is there?"


Biundra melangkah lebar mendekati Elenora, menarik pinggang perempuan itu untuk menempel padanya. Biundra mengecup pelipis Elenora sekilas. "Memangnya ada orang lain yang lo kasih akses masuk, selain gue?


"Em...."


"Hmm.." Hidung Biundra bergerak menerpa leher mulus Elenora, setiap incinya ia berikan kecupan singkat. "You're drunk? Hmm?"


"I'm.... Not, huh..." Terdengar Elenora menjawab pertanyaannya dengan terbata-bata. Mungkin saja nafasnya membuat Elenora kehilangan akal. "I just..... Tipsy, uhhhh."


"Tipsy? I do not think so...." Pergerakkannya merambah menuju rahang, sekarang mulai mengendus bibir Elenora. Biundra sangat menyukai tubuh Elenora. "Do your lips still taste sweet?"


"Tidak,,,, tau,, shhh..." Biundra merasa bahunya diremas kuat oleh perempuan dipelukannya ini. Elenora terlihat sedang menahan setiap pergerakan menggodanya. "Just try it..."


Bibir Biundra melengkung, Elenora memberinya izin lebih. "El,,"

__ADS_1


"Hah?" Elenora mengedipkan mata dua kali, "kenapa?"


Biundra mengeratkan pelukan, ia menatap Elenora lembut sebelum bertanya, "kasih alasan ke gue soal tatapan lo tadi, diclub."


"Hah?"


Biundra ingin memastikan kalau ia hanya salah lihat, kalau Elenora tidak mungkin menatapnya seperti itu, tatapan yang Biundra sendiri sulit melukiskannya dengan kata-kata. "You're drunk?"


"Enggak, gue gak mabuk!!" Tegasnya, Elenora terlihat kesal karena terus ditanya soal apakah dia mabuk atau tidak.


"Terus kenapa gak dijawab?"


"Jawab apa?"


Elenora tetap memilih diam.


"Who am i?" Biundra bertanya dengan mata yang tidak lepas melihat bibir Elenora yang mengembang, manis, terlihat sangat manis. Elenora tertawa kecil, "kenapa ketawa?"


"What do you want me to say, Biundra? Lo mau gue lupa siapa lo?" Elenora tertawa. Namun tawa itu menghilang ketika bibir Biundra meraup bibir Elenora dengan lembut. Tangan Biundra memegang tengkuk Elenora kuat agar perempuan itu tidak mencoba melepaskan diri, ibu jarinya ia gunakan mengelus pipi Elenora lembut.

__ADS_1


Bagaimana bisa bibir Elenora membuatnya candu. Biundra tidak bisa mebahan itu.


Elenora tampak tidak menolak tindakannya, membuat kedua tangan Biundra bergerak turun hingga kepinggang dan bergerak mengusap disana. Kemudian ia melanjutkan pergerakan menuju dua pantat Elenora yang kenyal, mereemas pelan lalu Biundra menunduk sedikit untuk mengangkat kedua paha Elenora untuk naik keatasnya. Beruntung Elenora membantunya dengan sedikit bergerak mengalung pada lehernya.


Biundra membawa Elenora masuk kedalam kamar, tanpa perlu penerangan dan tanpa melepaskan pangutan. Insting Biundra cukup tajam, ia sudah hapal tata letak setiap barang di apartemen Elenora, berjalan dalam kegelapan tanpa harus menyenggol apapun. Sampai didalam kamar, Biundra menaruh teman baiknya itu dengan sangat pelan, nafasnya mereka saling memburu, seakan ini adalah waktu mereka bersama. Tidak membiarkan sedikit saja waktu terbuang.


Sesekali Elenora memainkan tangannya disela-sela rambutnya, membuat Biundra semakin terbakar.


"Biu, can't you stop!! Shhh, shiit!!!" Dalam hawa panas itu, pikiran Elenora masih menguasai. Mencoba memohon pada Biundra untuk berhenti, sayangnya Biundra tidak ingin hal itu terjadi. "Biu, hahh, come on." Masih mencoba memohon agar Biundra berhenti, nafasnya tersenggal, perempuan itu butuh oksigen.


Biundra melepaskan pangutan, ia berdiri membuat Elenora tampak sangat lega, Elenora gunakan kesempatan itu untuk meraup oksigen. Mata Elenora membulat sempurna saat ia melepaskan kaos oblongnya, dan tangan laki-laki itu bergerak masuk kedalam crop top yang Elenora gunakan sembari merangkak lagi mendekatinya, memeluk lembut.


"Biu, lo...." Elenora terdiam saat Biundra menindihi tubuhnya.


Biundra menatap Elenora sendu dalam kegelapan, hanya ada sinar rembulan yang kebetulan saja menyempurnakan malam mereka. Dengan bertumpu siku, Biundra jadikan penyanggah untuknya menatap Elenora dalam, tangan satunya masih sibuk menyusuri kulit dalam Elenora.


Dada Elenora terlihat naik-turun, mungkin masih kebingungan dengan sikapnya. "El, boleh??"


"Hah? Apa?"

__ADS_1


"Let me accompany you tonight." Untuk pertama kalinya sejak mereka mulai terbiasa tidur bersama, Biundra baru mengucapkan izin sekarang.


^^^To be continued 🖤🖤^^^


__ADS_2