Gadis Manis Ternyata Suhu

Gadis Manis Ternyata Suhu
An..


__ADS_3

Lana sedang duduk di taman bunga dekat Villa sambil membaca buku ramuan lain, ia ingin menguasi segala macam ramuan yang pasti akan sangat bermanfaat kedepannya. Doni melihat keponakannya tengah sibuk membolak balik buku di tangannya dengan mata yang terfokus membaca.


"Lana..." panggil Doni saat ia sudah berada di hadapan Lana yang segera mendongak menatap Omnya.


"Kenapa Om?" tanya Lana. Doni duduk di sebelah Lana yang kembali fokus pada bukunya sambil menunggu jawaban Om Doni.


"Om rasa kamu jarus mengubah nama kamu!" Doni tetap menatap Lana serius. Lana menoleh ke arah Om Doni dengan wajah tak setujunya.


"Kenapa? inikan nama pemberian Ayah dan Bunda. Kenapa jatus di ganti?" tanya Lana bertubi tubi.


"Bukan di ganti Lana, ini hanya sebagai samaran saja saat kita keluar dari hutan ini maka pasti mereka mengenali nama asli kamu.." jawab Doni sabar.


"Tapi kan Om..." Lana memggantung ucapannya, ia sangat berat jika harus mengganti namanya, bukan di ganti hanya di ubah untuk sementara waktu sampai mereka bisa mengambil apa yang menjadi milik mereka dan membalaskan kematian orang orang yng mereka sayangi.


"Lana fikirkan dulu, gak perlu jawab sekarang.." ujar Doni yang sudah berdiri dan berlalu meninggalkan Lana yang masih diam di tempatnya sambil menatap kepergian Omnya.


"Kenapa harus mengganti nama!" lirihnya. Lana kembali ke kamarnya ia tak lagi bisa fokus membaca atau menghafalkan catatan yang ada di buku ramuan yang ia baca.


"Ayah, Bunda apa gak papa kalo Lana mengubah nama yang kalian berikan buat Lana?" Lana sangat di lema, satu sisi perkataan Omnya memang benar namun di sisi lain ia sangat sulit jika harus mengubah nama yang sudah ia pakai bahkan sejak bayi apalagi itu adalaha nama pemberian Ayah dan Bundanya yang di berikan dengan penuh kasih sayang saat dirinya lahir kedunia.


"Ayah, Bunda Lana bingung.." ungkap Lana menatap liontin yang sudah berada dalam genggamannnya.


Tes, tes, air mata Lana tumpah. Jujur ia begitu bingung dan bimbang dengan keputusannya kali ini. Namun ia tetap harus memutuskan dan akhirnya dengan berat hati Lana setuju untuk mengubah namanya dengan nama samaran saat mereka keluar dari hutan dan melaksanakan rencana balas dendam mereka.


"Ayah, Bunda maafin Lana ya karena harus mengubah nama pemberian kalian! tapi ini hanya sementara kok, sampai Lana dn Om Doni menyelesaikan semuanya, Lana akan kembali memakai nama ini.." ujar Lana mencium foto mereka kemudian kembali menyimpannya. ke dalam kotak kecil dan menaruhnya ke dalam lemari.


Lana segera menemui Doni, dan memberikan persetujuannya untuk mengubah nama.


"Om..." Panggil Lana saat menemukan Doni yang sedang berlatih di lapangan luas dekat Villa.


"Lana..." kaget Doni dan segera memakai bajunya membelakangi Lana yang terlihat biasa saja, karena dulu ia sering melihat tubuh kekar Ayhnya, bahkan lebih bagus dari pada Om Doni.


"Om Lana setuju buat mengubah nama Lana.." Lana segera mengatakan apa yang menjadi jawabannya

__ADS_1


"Bagus, karena mulai sekarang kamu akan Om panggil An..." ucap Doni berbalik menghadap Lana saat ia sudah memakai bajunya.


"An?" tanya Lana..


"Ya, An itu singkatan dari Angkara dan Lana.." jawab Doni


"Benarkah!" Lana masih tak percaya


"An, di ambil dari nama depannya Angkara dan nama tengah kamu LANA..." jawab Doni menekankan namanya. Lana hanya tersenyum saat mendapat jawaban dari Doni.


"Baik baik, gak usah marah marah juga kali. Tua sebelum waktunya baru tahu rasa..." ujar Lana, kemudian segera berlari ke Villa untuk menghindari Om Doni yang kesal dan hendak menangkapanya.


"Dasar bocah ingusan..." cercar Doni dengan kesal.


"Ah, anak itu kadang kadang bisa bikin darah ku tinggi tapi juga bisa buat aku jantungan karena kegeniusannya.." Doni menggeleng gelengkan kepalanuya saat mengingat kepintaran juga kenakalan yang selalu bisa membuat ia terkejut kejut...


"An..." ucap Lana saat ia sudah berjalan biasa menuju Villa sambil terus mengucapkan nama barunya.


"Bagus juga..." Lana tersenyum mengingat nama barunya dan cukup senang karena ia tak sepenuhnya tidak memakai nama aslinya.


"Sebaiknya aku kembali membaca buku ramauan tadi, karena aku belum menyelesaikannya.." Lana mempercepat langkahnya menuju kamar untyk mengambil buku ramauan yang sebelumnya ia baca.


"Hmm, aku baca di sini ajalah.." Lana memperhatikan sekitarnya saat ia sudah mengambil buku dan membawanya ke pinggir danau dan duduk di bawah pohon yang rindang.


Kegiatan Lana tak luput dari penglihatan Doni yang sudah menyunggingkan senyumannya. menatap keponakannya itu.


"Sudah hampir dua tahun, dan aku merasa Lana semakin banyak kemajuan." Doni terus memperhatikan Lana yang sedang serius saat membaca bukunya.


"Bahkan dalam waktu setahun ia sudah bisa membuat berbagai macam obat yang aku ajarkan dengan kadar kemurnian hampir sempurna."


"Bahkan terkadang ia juga bisa membuat ramuannya sendiri..."


"Anak ini benar benar keturunan Angkara..." Doni sangat bangga ketika mengatakan itu.

__ADS_1


"Tinggal beberapa latihan lagi, maka aku yakin kami bisa segera keluar dari persembunyian ini..." Doni mengepalkan tangannya dan menatap Lana yang sudah menyelesaikan bacaannya dan beranjak dari tempatnya ketika hari yang terlihat sudah semakin sore.


"Selesai, besok tinggal aku praktekin.." ujar Lana senang karena bisa menyelesaikan bacaannya dan segera masuk ke dalam Villa.


"Om, Lana gak makan ya mau langsung tidur..." ujar Lana saat melihat Doni yang berdiri di dekat pintu saat ia hendak masuk.


"Lana kan belum makan dari siang!" ucap Doni.


"Lana belum laper, nanti kalo laper Lana makan..." jawab Lana langsung masuk ke dalam menuju kamarnya.


Doni makan sendirian, terasa aneh sih tapi dia tetap memakan makan malamnya. Biasanya Lana duduk di hadapannya dan selalu bercerita tentang banyak hal yang ia temui, tapi malam itu Lana yang kelelahan karena seharian hanya membaca buku membuat matanya terasa perih pun memutuskan untuk tidur lebih cepat.


"Ah, ternyata makan sendirian sangat tidak menyenangkan..." lirih Doni saat sudah menyelesaikan makan malamnya...


"Makanya cari pasangan Om!" celeyuk Lana saat ia tiba tiba muncul membuat Doni terperanjat kaget dengan ulahnya yang suka muncul secara tiba tiba.


"Kebiasaan..." ucap Doni saat melihat Lana yang sedang menuang air ke dalam gelasnya dan meminumnya hingga tandas.


"Cari istri, jangan jomblo mulu Om..." lanjutnya kemudian kembali ke dalam kamarnya.


"Ehh,, bocah ini..." kesal Doni menatap Lana yang audah berjalan semakin jauh.


"Tapi bener juga sih apa yang di bilang bocah tengil itu, bahkan sekarang usiaku sudah hampir berkepala tiga.." lirih Doni membenarkan perkataan Lana.


"Sudahlah, nanti juga ada. Siapa sih yang gak tertarik sama ketampananku ini..." ujar Doni dengan bangga dengan wajah tampan yang ia miliki. Donipun segera menuju kamarnya karena ingin istirahat. Malam itu Doni tidak latihan karena merasa sangat ngantuk, ia segera memejamkan matanya ketika sudah naik ke atas kasur empuknya dan tertidur setelah beberapa detik saja. Malam yang panjang bagi keduanya di habiskan dengan tidur hingga pagi menjelang...


Lanjutkan...


Makasih yang dah mampir baca ya, jangan lupa like dan dukungannya, supaya author makin semangat...


Makasih orang baik....


🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2