Gadis Manis Ternyata Suhu

Gadis Manis Ternyata Suhu
Memusnahkan


__ADS_3

Seperti yang sudah di janjikan olwh Doni, hari ini bertepat dengan tanggal ulang tahun Lana 12-05-2031 mereka akan melakukan pembantaian keluarga Kakek Erick hingga ke akar akarnya, karena jika tidak, maka balas dendam ini tidak akan berhenti dan akan terus berlanjut.


"Kamu siap Lan?" tanya Donj yang kini sudah berada tepat di samping keponakannya, Lana mengangguk ia juga tersenyum miring menambah aura kejam yang sudah melekat di diri Lana sejak ia dua kali membunuh bawahan Kakek Erick.


Arin dan Setya juga sangat setia mendampingi Lana dan Doni.


"Bagaimana dengan kediaman Ayahku?" tanya Lana tanpa datar menatap Arin yang tersenyum kecil.


"Beres Nona, dan kediaman peninggalan Ayah Anda aman." jawab Arin tetap waspada pada sekitarnya demi melindungi Lana yang justru terlihat sangat santai, senyuman gadis itu kembali terukir, puas akan jawaban Asistennya.


Doni sudah bersiap dengan memimpin langsung jalannya penyerangan ini, ia membawa hampir sebagian anggota Angkara demi melindungi Lana.


"Ikuti Om, dan tetap di belakang Om Lana!" perintah Doni tanpa menoleh ke arah Lana yang masih berdiri tegap di belakangnya sedang memandang gedung bertingkat berwarna abu abu tua bahkan terlihat sangat usang seperti tak ada kehidupan di sana. Siapa yang mengura jika ternyata di sana adalah sebuah markas narkoba juga senjata ilegal yang Kakeknya jalankan selama ini.


"Mati kau hari ini Kakek Bu suk..." gumam Lan sangat kecil hingga tak ada yang bisa mendengarkannya, Lana menyunggingkan senyum miring sekilas ia menatap Doni yang mulai maju dan mendekati gedung tua itu.


"Maaf Om, tapi ini adalah dendamku jadi aku yang akan mengakhirinya." ucap Lana, ia memerintahkan Arin dan bawahannya menuju arah lain setelah Doni dan bawahannya sudah mulai menembak dan masuk ke dalam gedung itu.


Dor dor dor...


Terdebgar hanya tiga kali tembakan, namun yang mati ada seluluh orang. Bagaimana bisa! tentu saja karena itu adalah Lana, ia bukan hanya menembakan peluru pistolnya tapi juga menggunakan pisai belati dan melemparkan pada orang orang yang menghalangi jalannya menuju lantai atas di mana Kakek Erick berada.


"Sial! keparat kau bocah tengil.." marah Kakek Erick bahkan ia membanting semua benda yang ada di Ruangannya yang besar.


Wajahnya merah padam karena amarah setelah mengetahui jika kediamannya telah di hancurkan juga anak anak serta cucunya telah habis di babat oleh Lana dan tak meninggalkan satupun, kini hanya tersisa dirinya saja.


"Aku pasti akan menghabisimu bocas sialan..." teriaknya penuh amarah, di usianya yang sudah menginjak 65 tahun, Kakek Erick terbilang masih terlihat tampan dengan wajah tegas dan berwibawa bahkan tubuhnya masih terlihat kekar meskipun sudah jelas terlihat kdriput di setiap wajah dan tubuhnya.


"Kalau begitu lkukan Kakek!" suara gadis imut nan manis terdengar menggelagar di telinga Kakek Erick yang sudah terperanjat kaget saat melihat cucunya dari sang Kakak sudah berada di ambang pintu setelah gadis itu menendangnya dengan kuat dan hanya satu kali hentakan saja.


"k-kau! Ba-bagaiman mungkin!" pabik Kakek Erick, ia hanya di lindungi oleh tiga bawahannya saja yang selama ini selaku setia kepadanya.


"Tuan!" ujar pengawal Kakek Erick yang mungkin seumuran Ayahnya, wajahnyapun tak kalah tegas dan seram namun tetap datar di pandangan Lana yang kini sudah melebarkan senyumannya dan teryawa jahat membuat ke empat orang di hadaoannya merasa aura yang berbeda hingga merinding di buatnya.


'Mengapa aku merasa merinding mendengar gdis itu tertawa!' pikir pengawal satunya yang jauh lebih muda menatap Lana penuh kewaspadaan.


Dorrrr.... "Akhhhhh..." ringis Kakek Erick memegang kakinya yang tertembak dan sudah mengeluarkan darah segar semakjn membuat Lana tersenyum jahat dan menatap gtajam ke arah Kakek Erick juga kedua pengawalnya yang masih terkejut atas apa yang di alami atasannya.


"Sialan kau Bagas! beraninya kau mengkhianatiku selama ini! ha!" makj Kakek Erick setelah melihat senyuman pria bernama Bagas dan bdrjalan menundur ke arah Lana dan juga bawahannya yang sudah tersenyum sinis.


"Kau fikir aku akan tunduk pada orang yang telah membunuh keluargaku?" tanya Bagas menatp tajam. pada Erick yang semakin narah atas pengkhianatan yang di lakukan Bagas padanya, padahan Bagas adalah salah sagu kepercayaannya dan ia baru sadar jika semua inipun pasti atas rencana dari Bagas juga cucu lucknat yang semakin tersenyum lebar menatapnya.

__ADS_1


"Sialan kau! akan aku habisi kau sekarang juga..." Kakek Erick menarik senjata milik pengawalnya, namun baru juga akan menarik pelatuknya Kana lebih dulu menembak tangan Kakek Erick juga kedua bawahannya dengan dua belati yang menancap tepat di jantung mereka.


"Akhhh..." teriak keduanya merasakan rasa sakit di bagian dada mereka, namun sedetik berikutnya mereka kejng kejang karena keracunan.


"Sialan kah bicah tengik..." Kakek Erick yang bahkan sudah terpojok masih bisa mengumpat Lana yang justru tertawa puas atas penderitaan yang di alami Kakeknya.


"Ho ho, Kakek siapa yang kau bilang sialan? Aku!" tanya Lana dengan wajah polos dan menggemaskan, membuat Kakek Erick mengernyitkan dahinya sambil tangannya yang masih menahan darah yang terus saja keluar di bagian kaki juga tangannya.


"Kau iblis! benar benar iblis!" teriak Kakek Erick saat melihat perubahan wajah Lana yang kembali menatapnya tajam bahkan aura membunuh ketara kental di mata Lana. Di saat seperti ini Kakek Erick bahkan sama sekali tak berniat untuk meminta maaf, tapi ia semakin menatap Lana dengan benci karena telah menghabisi keluarganga yang tak tahu apapun.


"Ah! ya tentu saja aku tak membunuh semua keluargamu!" ucap Lana yang mengerti akan tatapan benci dari Kakeknya, karena dulu hingga saat inipun tatapan sama juga ia miliki pada sang Kakek.


Kakek Erick terkejut, ia sedikit tersenyum menatap Lana harap harap cemas.


"Tapi! ya kau tahu Kek, aku membuatnya lumpuh bahkan takkan lagi bisa bicara seumur hidupnya.." lanjut Lana kembali membuat Kakek Erick terkejut, ia bahkan mencoba berdiri dan hendak menyerang Lana namun kembali di tembak Arin di bagian kaki satunya. "Akhhhhhh..." teriaknya merasa sakit di bagian kaki satunya.


"Ha ha ha..." Lana tertawa puas, ya dia sangat puas melihat penderitaan yang di rasakan Kakeknya.


"Seharusnya kau bunuh saja dia, jika begitu sama saja mati..." lirih Kakek Erick, ia tahu siapa anggota keluarganya yang di sisakan oleh Lana.


"Ah! tidak! aku tidak sekejam itu Kakek.." jawab Lana kembali menunjukkan sisi lain dalam dirinya yang terlihat menggemaskan. Kalian tahu! bahkan seluruh bawahan Lana pun merasa takut dan merinding saat melihat perubahan wajah Nona Muda mereka dengan begitu cepat.


"Lana...." panggil Doni dengan panik, ia baru tiba di lantai atas setelah menghabisi srluruh anak buah Erick yang cukuo merepotkan, sedangkan Lana! tentu saja ia lewat jalan khusus yang memang sudah di persiapkan oleh Bagas untuk ia juga bawahannya


"Om! lihatlah!" ucap Lana lembut, ia berjalan mendekati Doni yang menautkan kedua alisnya menatap Kakek Erick yang sudah tak berdaya dengan beberapa tembakan di bagian kaki juga tangannya, juga Lana yang sudah berdiri tepat di hadapannya secara bergantian.


"Sudah ku katakan Om, aku yang akan mengakhirinya..." bisik Lana di telinga Doni yang melebarkan matanya menatap Lana tak percaya. Benar, gadis di hadapannya sangat kejam jika marah bahkan jauh lebih kejam darinya.


Lana berbalik, kini ia mendekati Kakek Erick perlahan kemudian berjongkok agar sejajar dengan Kakeknya dan menatap kasihan pada sang Kakek yang mulai kehabisan darah.


"Akhhh.... K-kau-" ringis Kakek Erick saat Lana menancapkan belati khusu yang sudah ia persiapkan sejak lama untuk membunuh orang yang telah menghabisi keluarganya di depan matanya.


"Sakit?" tanya Lana dengan wajah polos, ia kembali menarik belati itu dengan kuat.


"Akhhhh.... Si-alan k-au bocah..." Kakek Erick kembali meringis kesakitan namun masih semoat mengumpat Lana yang tersenyym puas melihat hal itu.


Tak ada satuoun dari mereka yang berani menghentikan Lana termaksud Doni, karena yang ia lihat saat ini bukanlah keponakannya tapi orang lain. Mereka semua hanya bisa menyaksikan penyiksaan yang Lana berikan pada irang tua di hadapannya yang sudah sangat tak berdaya.


"Akhhhh..." teriakan Kakek Erick kembali menggema di dalam ruangan itu hingga terdengar oleh seluruh orang yang ada di sana.


Lana sangat puas melihat tersiksanya Kakek Erick, ia benar benar terlihat seperti iblis sungguhan sekarang baik di mata Kakek Erick juga di mata semua irang yang ada di belakangnya sedang menyaksikan dirinya.

__ADS_1


"Ha ha ha...." Lana tertawa lantang, suaranya sangat menggelegar membuat siapaoun merasa merinding saat mendengarnya termaksud Doni yang tak yakin jika yang di hadapannya saat ini adalah keponakannya Lana.


"Lana" lirih Doni memandang Lana yang sama sekali tak mendengar.


Tatapan Lana kembali pada Kakek Erick yang sudah terbaring namun maaih bernyawa walauoun mungkin tak lama lagi akan merenggang nyawa.


"Bu-nuh a-ku..." lirih Kakek Erick memohon agar segera di lepaskan dari penderitaan yang Lana berikan.


"Apa?" tanya Lana polos, ia kembali berjongkok di hadapan Kakek Erick yang sudah sesak nafas akibat racun yang ia berikan di belatinya saat menusuk Kakek Erick, hanya saja racun itu tak langsung membunuh melainkan membuat yang terkena sengsara sebelum kematiannya.


"Tidak! aku tidak berani Kakek.." seringai jahat kembali Lana tunjukkan. Ia kembali berdiri dan meninggalkan Kakek Erick yang sudah mati rasa di seluruh tubuhnya bahkan ia semakin merasa sakit di bagian dalam tubuhnya hingga merenggang nyawa dalam kesengsaraan dan tersiksa.


Doni menatap pias wajah Lana yang masih dingin dengan tatapan tajam melewati dirinya dan keluar dari sana.


"Aku berhasil Ayah, Bunda.." lirih Lana air matanya jatuh dan ia biarkan saja, lagipun saat ini tak ada yang melihat dirinya karena sudah keluar dari rungan yang membuat ia sesak.


Lana kembali ke mobilnya, namun ia tak lagi menangis atau sekedar menjatuhkan air mata karena kini Lana sedang tersenyum bahagia sambil memejamkan matanya membayangkan jika kedua orang tuanya bisa bahagia atas pencapaiannya saat ini.


"Aku berhasil!" gumam Lana, ia membuka matanya tepat dengan Doni yang sudah duduk di sampingnya dan masih menatao dirinya tak percaya.


"Apa dia sudah mati?" tanya Lana kembalj pada sosok yabg Doni kenal sebagai keponakannya, ya walaupun aura dingin masih terasa di wajah keponakannya


"Hmmm.." Doni hanya berdehem dan Lana kembali tersenyum memalingkan wajahnya ke arah jendela di sampingnya.


Hening, tak ada satupun pembicaraan di antara keduanya hingga mobil yang di kendarai Setya tiba di apartemen milik Doni.


Lana tak banya bicara, ia segera masuk dan menuju kamarnya. Bahkan setelahnya ia tak lagi keluar dari sana hingga pagi menjelang.


Doni tak bisa percaya denga apa yang ia dengar dari bawahannya atau Setya, tentang kebengisan Lana dalam menghajar bahkan mengahabisi musuh musushnya. Hari ini, hari ini ia baru percaya setelah menyaksikannya langsung di depan matanya saat Lana mengahabisi Kakeknya sendiri bahkan ia juga sudah mendapatkan kabar jika seluruh keluarga Erick sudah di berantas sampai ke akarnya oleh Lana dan hanya menyisakan satu namun percuma juga jika hidup dengan keadaan lumpuh dan tak bisa bicara.


Jika bisa, Doni ingin sekali menyangkal semuanya tentang Lana, namun ia sendiri sudah melihatnya secara langsung dan tak bisa berkata kata lagi.


"Selamat malam!" ucap Doni yang sejak tadi termenung di depan pintu kamar Lana yang tertutup rapat. Iapun segera masuk ke dalam kamarnya dan beristirahat, sedangkan seluruh bawahannya juga Lana sudah kembali ke markas untuk mengobati rekan mereka yang terluka dan rencananya besok mereka akan memakamkan rekan mereka yang gugur di makam khusus pengikut setia Angkara di mana orang tua Doni juga di makamkan di sana.


Lanjut up sayang...


makasih yang tetep setia, jangan lupa vite sama like nya ya....


makasih orang baik....


😊🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2