Gadis Manis Ternyata Suhu

Gadis Manis Ternyata Suhu
Ciuman Kedua


__ADS_3

Di jalan, Lana dan Arin sudah semakin dekat dengan kantor Doni. Arin mempercepat laju kendaraannya hingga ia berhenti tepat di depan gedung bertingkat nan megah.


"Silahkan Nona!" ucap Arin setelah ia membukakan pintu untuk Lana yang segera turun secara perlahan bahkan gadis itu sudah berganti pakaian saat di dalam monil tadi.


"Anda sangat cantik Nona Muda.." puji Arin yang melihat penampilan Lana yang terlihat sedikit lebih dewasa dengan make up tipis dan dress selutut yang ia gunakan.


"Makasih Kak.." jawab Lana. Mereka berdua mulai memasuki gedung kantor Doni secara perlahan dan tak buru buru.


Semua mata mengarah pada Lana dan Arin yang barus masuk. Sungguh kecantikan Lana telah menghipnotis siapapun yang melihatnya. Arin hanya tersenyum melihat reaksi bawahan Doni saat menatap Lana yang tetap menampilkan wajah dingin dan cueknya.


"N-Nona Muda!" pekik Setya, ia terperanjat kaget melihat kedatangan Lana yang tanpa kabar, kini Lana sudah berdiri tepat di hadapannya dengan senyum tipis menatap Setya yang masih merasa terkejut.


"Kak.." panggil Lana, dan Setya segera menyadarkan dirinya. Ia segera menjatuhkan pandangannya ke bawah juga membungkuk memberi hormat pada Lana.


"Nona, maaf." ucap Setya, meskipun ia cukup dekat dengan Lana tapi tetap saja gadis muda di hadapannya saat ini adalah Nona Mudanya, keturunan Angkara.


"Um, aku ingin bertemu Om Doni!" ucap Lana langsung pada tujuan kedatangannya.


"Silahkan Nona!" ujar Setya memersilahkan Lana masuk ke dalam lift bersamanya dan Arin. Setya langsung menekan angka lima belas dan pintu lift langsung tertutup dan bergerak naik.


"Silahkan Nona!" Setya kembali mempersilahkan Lana saat mereka sudah berada tepat di depan pintu ruangan Doni.


"Terima kasih, kalian bisa pergi aku ingun bicara dengan Om Doni berdua saja!" ucap Lana memberikan perintah pada Setya dan Arin yang segera mengerti dan mereka berdua meninggalkan Lana di sana sendirian.


tok tok tok..


Lana mulai mengetuk pintu ruangan Doni tanpa bicara, ia menunggu suara seseorang dari dalam sana untuk menyuruhnya masuk.


"Masuklah Setya!" ucap Doni yang mengira jika yang mengetuk pintu adalah Serya Asistennya.


Lana tersenyum, namun ia tetap berdiam dan mulai masuk dengan perlahan hingga kini ia sudah berada tepat di hadapan Doni yang terlihat sangat sibuk dengan berkas berkas di hadapannya.


"Ada apa Setya?" tanya Doni tanpa menoleh, tentu saja Lana diam namun senyumannya kembali terukir di bibirnya.


Doni merasa heran dengan sikap Setya, ia pun mengangkat kepalanya dan terkejut setelah melihat siapa yang sudah berada di hadapannya kini.


"La-Lana!" ucap Doni terbata, dahinya berkerut menatap tak percaya pada keponakannya yang datang ke kantornya tanpa memberi tahu, bahkan Lana nampak berbeda dari biasanya.


"Siang Om.." sapa Lana dengan anggun.


Doni sangat terpana dengan kecantikan yang di miliki keponaknnya, ia bahkan tak berkedip saat meperhatikan Lana dari atas sampai bawah bahkan jantungnya mulai terasa tak aman karena berdetak cepat.


"Om!" panggil Lan lagi karena tak ada jawaban dari Doni yang masih mematung, bahkan ia sudah berjalan mendekati Omnya.


"Ah! sebaiknya Lana pulang saja!" ujar Lana yang kesal karena di abaikan Omnya, namun dengan cepat Doni menahan tangan Lana dan menariknya agak kuat hingga gadis cantik itu jatuh tepat di atas pangkuan Doni karena tadi ia sempat berjalan dan mendekati Omnya.


"Aaaaa, Om!" teriak Lana kaget karena tarikan Omnya hingga membuat keseimbangannya buyar dan jatuh ke pangkuan Doni.

__ADS_1


"Om Doni, kalo Lana jatuh gimana coba!" cercar Lana kesal karena merasa tadi itu hampir saja ia jatuh.


Doni hanya diam memeprhatikan bibir keponakannya yang sangat meng goda.


"Om, Lana mau turun! lepasin!" pinta Lana, sejak tadi ia ingin turun dari pangkuan Doni namun tangan Omnya itu malah semakin kencang merangkul pinggang rampingnya.


"O-" Lana tak bisa melanjutkan ucapannya karena Doni yang sudah membungakm bibirnya dengan bibir Omnya. Lana yang terkejut hanya bisa membulatkan matanya, ia menatap Omnya yang terpejam menikmati permainannya sendiri.


Doni me lu mat bibir Lana bahkan ia juga menggit pelan bawah bibir keponakannya hingga Lana membuka bibirnya sedikit dan Doni dengan cepat mengapsen deretan gigi Lana yang rapi dengan lidahnya. Lana hanya diam, ia hanya bisa menikmati setiap lu ma tan yang di berikan Omnya tanpa bisa membalas.


"Maaf.." ujar Doni setelah ia melepaskan pagutannya pada Lana yang segera membuka matanya hingga mata keduanya saling bertemu dan mengunci.


"Umm." jawab Lana, ia segera berdiri dan menjauh dari Omnya yang hanya diam saja melihat Lana yang sudah menjauh darinya dan duduk di hadapannya.


"Ada apa?" tanya Doni setelah ia bisa mengontrol dirinya sendiri, bahkan saat ini Doni terlihat sangat canggung atas perbuatannya barusan.


"Khemmm..." Lana berdehem, agar suasana di dalam ruangan itu tidak begitu canggung.


"Lana sudah menyelesaikan sekolah, dan Lana harap Om Doni segera menepati janji Om pada Lana!" Lana mulai serius, ia menatap Doni yang nampak berfikir.


"Minggu depan! minggu depan kita akan menyerang markas utama Paman Erick dan saat itulah kau bisa membalas kematian Ayah dan Bundamu..." ujar Doni tak kalah serius. Lana tersenyum miring, ia menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi di hadapan Doni juga menutup mata seperti sedang menikmati hidupnya.


"Tunggu kedatanganku Kakek bre ngsek, aku pasti akan menghabisimu dengan tanganku sendiri, bahkan aku akan menyiksamu hingga kematian akan terasa lebih baik bagimu!" gumam Lana dengan senyuma jahat, Doni hanya memperhatikan keponakannya, ia sedikit terkejut akan sikap kejam keponakannya itu.


"Baiklah! Lana akan kembali ke apartemen, dan mengurus persiapan Lana sendiri." ucap Lana, kini ia sudah berdiri dan hendak keluar dari ruangan Omnya.


"Ada apa Om?" tanya Lana, wajahnya sangat tenang meski berbanding terbalik dengan jantungnya


"Soal tadi! Om minta maaf!" ucap Doni, ia sungguh merasa menyesal karena melakukan hal konyol dan bodoh itu lagi pada keponakannya, tapi sungguh ia benar benar tak bisa menahannya. Namun, ada satu hal yang aneh! kenapa keponakannya tidak menolak? itulah yang ada di benaknya saat ini.


"Ya." jawab Lana, saat ia hendak membuka pintu ruangan Omnya, namun lagi lagi Doni menahan lengannya hingga Lana kembali berbalik dan menatap Omnya lagi.


"Ada lagi Om?" tanya Lana, ia mengerutkan keningnya. Doni masih diam, ia memperhatikan wajah tenang Lana.


"Tidak! Om akan pulang terlambat." jawab Doni, ia mengurungkan niatnya untuk bertanya seperti yang ada di benaknya saat ini setelah melihat wajah tenang sang keponakan.


"Umm! Lana bisa pulang sekarang Om?" Lana kembali bertanya dan Doni hanya mengangguk.


"Om, Lana boleh pulang kan?" Lana bertanya lagi, kedua alisnya naik ke atas menatap Omnya. Doni kembali mengangguk, ia juga masih menatap Lana.


"Gimana Lana bisa pulang, kalo Om masih pegang tangan Lana!" ujar Lana akhirnya karena Doni yang masih menggenggam tangannya, Doni yang tersadar sstelah mendengar ucapan Lanapun segera melepaskan pegangannya dan sedikit mundur.


"Maaf.." ucap Doni, sumpah ia sangat malu.


"Ya." jawab Lana tersenyum tipis, ia segera meninggalkan ruangan Omnya sebelum jantungnya benar benar melompat dari dalam sana.


"Hufff, hah..." Lana menghembuskan nafasnya agak kasar, bahkan bisa di dengar oleh siapapun jika ada seseorang di sana. Lana memegang dadanya yang masih berdebar, namun senyumannya kembali terukir saat mengingat ciuman keduanya berasama Om Doni.

__ADS_1


"Astagaaaa, aku tak menyangka Om Doni bakalan nyium aku lagi!" gumam Lana, ia semakin memperlebar senyumannya namun dengan cepat ia ubah wajahnya menjadi dingin seperti biasanya saat melihat Setya dan Arin yang baru keluar dari dalam lift untuk menjemputnya kembali.


"Nona!" panggil Arin menatap Lana yang hanya memberikan senyuman tipis.


"Kita pulang Kak! aku sudah selesai." ucap Lana dan Arin hanya mengangguk dan sedikit menundukkan wajahnya. Lana sudah berjalan lebih dulu, namun saat ia melewati Setya Lana memberikan senyuman tipis dan pria tampan itu memberikan hormat pada Nonanya dengan menundukkan wajahnya sedikit hingga Lana melewatinya.


Dalam ruangan, jangan di tanyakan lagi karena Pia dewasa itu tengan bertempur dengan fikirannya sendiri yang merasa bodoh akan perbuatan konyolnya pada keponaknnya, bahkan untuk kedua kalinya. Hanya saja, satu pertanyaan dalam benaknya, yaitu mengapa tak ada penolakan dari Lana! tapi justru sebaliknya, keponakannya itu terlihat sangat menikmati permainannya.


Lana dan Arin sudah berada di mobil, Arin membawa laju kendaraannya stabil tak buru buru atas perintah Nonanya.


"Kak, nanti mampir di supermarket sebentar ya!" ucap Lana memberikan perintahnya, dan Arin segera mengangguk dan mencari supermarket yang ada di sana.


Sepanjng perjalanan Lana tak pernah menghilangkan senyumannya, meskipun tak begitu nyata namun masih bisa terpantau di mata Arin.


'Nona nampaknya sedang bahagia! sejak keluar dari ruangan Tuan Doni!' pikir Arin, namun ia tak ambil pusing karena yang ia tahu jika Lana selalu menganggap Doni sebagai Omnya.


Lana dan Arin sudah berada di supermarket, saat mereka masuk ke dalam sana semua mata selalu tertuju pada Lana karena gadis itu sangat mempesona di mata mereka.


"Lihat, gadis itu sangat cantik! bahkan aku tak melihat cela darinya!" ujar pengunjung wanita, ia terlihat memuji Lana namun menatap Lana tak suka dan iri.


"Ya, dia pasti Nona Muda!" jawab wanita satunya juga menatap Lana tak suka karena kecantikan Lana yang paripurna.


"Kalian ini! bisanya cuma guncingan orang aja!" ujar teman mereka yang tak kalah cantik dengan kedua wanita lainnya, ia juga sempat melihat Lana sebelum Lana menghilang dari pandangan mereka karena mengambil jalur lain.


"Ya ya.." jawab keduanya dan tersenyum lalu menggandeng temannya yang baru saja menegur keduanya. Mereka juga kembali memilih barang barang yang ingin mereka beli.


Lana sudah mengambil dan memilih apa saja yang ingin ia beli di sana, Arinpun selalu setia menemani Lana dan membawakan sebagian barang Nonanya setelah mereka membayar dan membawa ke mobil.


"Langsung pulang Kak!" ujar Lana dan Arin hanya mengangguk dan melajukan mobilnya menuju apartemen.


"Pulanglah Kak, dan persiapan dirimu juga seluruh anak buahmu untuk perang yang sebenarnya. Aku ingin kalian benar benar siap!" ucap Lana tatapannya sangat serius


"Baik Nona! saya akan mempersiapkan segalanya juga seluruh anak buah Anda." jawab Arin tak kalah serius, ia menundukkan sedikit wajahnya dan Lana tersenyum puas atas jawaban Arin.


"Um, ku harap kau mempersiapkannya dengan baik! karena beberapa hari lagi akan menjadi pertarungan yang akan menentukan siapa yang akan bertahan." ucap Lana maaih menatap Arin yang kembali mengangkat kepalanya hingga bisa melihat kesungguhan juga keseriusan Nona Mudanya.


"Saya mengerti Nona! Saya sendiri yang akan selalu berada di sisi Nona dan melindungi Nona meski nyawa saya yang akan menjadi taruhannya!" jawab Arin bersjngguh sungguh dengan ucapannya, dan Lana kembali memberikan senyuman tipis.


"Bagus! Aku tunggu!" ucap Lana, ia segera masuk dan menutup pintu apartemennya. Arinpun segera turun dari apartemen dan kembali ke markas untuk mempersiapkan segalanya sesuai dengan perkataannya juga jnjinya pada Nona Mudanya.


Lanjut up nih Kak...


Maaf ya agak lambat 🙏,, semiga sllu syuka lah ya sama ceritanya Lana dan Om Doni...


Makasih orang baik....


😊🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2