
Lana bangun lebih awal, meskipun ia masih ngantuk karena tak bisa tidur semalam hingga membuat kepalanya sedikit pusing.
"Ini semua gara gara Om Doni..." sungutnya kesal karena kepalanya di penuhi dengan Omnya, entah sedang marah, senyum atau terlihat manis padanya semua seakan berputar di kepanya semalam.
"Hari ini Om antar kamu ke sekolah..." Lana mengangkat kepalanya menatap tak percaya pada Omnya, namun segera ia alihkan dengan menatap piringnya yang sudah kosong
"Kan ada Kak Setya, Lana sama Kak Setya aja.." jawaban Lana cukup membuat Doni kesal pagi pagi, Lana tak ingin di antar Doni karena ia tak mau jika harus satu mobil dengan Omnya, setidaknya sampai ia bisa seperti biasa lagi saat berdekatan dengan Om Doni.
"Kenapa gak mau di antar Om?" tanya Doni menatap Lana.
"Gak papa, cuma...." Ucapan Lana terpotong saat Setya tiba tiba datang.
"Selamat pagi Tuan Nona..." Setya tersenyum saat menyapa Lana begitupun Lana yang segera berdiri dan menarik tangan Setya keluar dari Apartemen membuat Doni menautkan alisnya dan semakin kesal menatap kepergian keponakannya. inget Om ponakan tuh...
"Nona.."Panggil Setya saat mereka sudah di luar..
"Hmm..." jawab Lana saat mereka sudah di depan mobil.
"Kata Tuan hari ini dia yang mau antar sekolah tapi..." Setya menggantung ucapannya karena ia bingung sendiri.
"Gak jadi Kak..." jawab Lana segera masuk ke dalam mobil. Setya segera berputar dan masuk ke mobil dan melajukan mobil menuju sekolah.
"Masuk dulu..." ucap Lana kemudian berjalan masuk ke gendung bertingkat di depannya.
"Hari ini aku selamat, entah besok!" lirih Lana namun terdengan oleh temnnya yang ternyata sudah berada tepat di sampingnya.
"Selamat dari apa An?" tanya Rosa, Lana cukup terkejut karena kehadiran Rosa yang tiba tiba.
"Gak ada..." jawab Lana setelah ia bisa mengontrol rasa keterkejutannya dan kembali bersikap seperti biasa. Dingin dan cuek...
"Tapi tak aku denger kamu bilang..."
"Salah denger..." potong Lana kemudian masuk ke dalam kelas saat mereka sudah sampai.
"Eh, hari ini Pak Peter yang masuk kelas kita loh.." ucap Siswi yang duduk tak jauh dari Lana.
"Wah, senengnya.." ucap Siswi lain
"Eh, tuh orangnya..." Siswi yang melihat guru masuk segera menghentikan gosip mereka kemudian duduk di tempat masing masing, namun mereka jusyru di buat terpesona setelah melihat ketampanan Guru yang akan mengajar hari ini.
"Keluarkan buku kalian.." perintah Peter pada muridnya dengan dingin dan terlihat berwibawa.
Semua siswa melakukan perintahnya termaksud Lana, bedanya ia tak fokus pada orang tampan di hadapannya melainkan fokus pada novel yang ia baca di dalam laci. Dasar Lana...
Peter sedang menjelaskan pelajaran dengan tenang, terkadang ia menoleh ke arah siswa yang duduk di belakangnya saat ia sedang menjelaskan.
"Ada yang tidak mengerti?" tanya Peter saat ia sudah selesai menjelaskan kemudian duduk di kursinya.
"Kalo tidak ada, kerjakan tugas halaman 35, waktuntnya hanya sampai jam istirahat.." lanjut Peter saat tak ada pertanyaan dari siswa yang ia ajarkan.
"An..." panggil Rosa saat melihat Lana sibuk membaca novel.
"Tugas, hal 35 buru waktu mepet nih..." ucap Rosa mengingatkan teman satu bangkunya. Lana menutup buku novelnya kemudian membuka buku pelajaran dan segera mengerjakan soal yang di sebutkan Rosa barusan bahkan.
Jam istirahat tiba, semua siswa sudah mengumpulkan tugas mereka termaksud Lana kemudian keluar kelas menuju kantin bersama Rosa. Sesaat Peter menatap Lana yang tampak biasa saja saat melihatnya, bahkan ia tak melihat mata kagum terhadapnya dari mata gadis itu membuat senyuman kecil di bibirnya.
"Gadis itu sama sekali tak tertarik padaku!" ucapnya, kemudian keluar kelas setelah membawa semua buku siswanya.
"Membosankan sekali..." Peter sudah berada di kursi kebesarannya, ia memijit pelipisnya karena sedikit terasa berat karena kembali mengingat ucapan sang Dady..
"Jika bukan karena dia aku pasti masih berada di New York sekarang..." lirihnya sedikit kesal.
__ADS_1
Peter kembali fokus pada buku buku yang tersusun rapi di atas meja dan mulai membuka serta memeriksa satu persatu jawaban mereka hingga matanya terbuka cukup lebar saat melihat salah satu buku jawaban muridnya.
"An!" ucapnya pelan melihat nama dari buku yang membuat ia cukup tercengang, pasalnya jawaban gadis itu sangat sempurna. Singkat padat dan jelas..
"Gadis ini sangat pintar, siapa dia?" Peter sangat penasar dengan hadis yang bernama An hingga menyuruh salah satu guru untuk memanggil gadis itu.
"An, di panggil Pak Peter noh keruangannya.."ucap siswi cantik yang sangat iri pada Lana.
"Hmm..." jawab Lana kemudian beranjak dari duduknya menuju ruangan Peter.
yok tok tok..
"Masuk..." Peter masih memperhatikan buku Lana
"Bapak manggil saya?" tanya Lana saat ia sudah berada di hadapan Peter yang segera menlihat Lana yang tampak biasa saja.
"Ini jawaban kamu?" Peter tak menjawab pertanyaan Lana, tapi ia justru melontarkan pertanyaan yang membuat Lana menaikan satu alisnya sambil menatap buku jawabannya dan beralih menatap Peter.
"Ya.." jawab Lana singkat
"Kau tidak mencontek kan?" Lana sedikit kesal dengan pertanyaan Peter, ia menarik nafas dalam emudian menghembuskannya secara perlahan membuat Peter yang memperhatikannya mengerutkan keningnya.
"Bapak bisa kasih saya pertanyaan dan saya akan menjawab..." ucap Lana berusaha tetap tenag karena di hadapannya adalah gurunya.
Peter tersenyum, ia menatap Lana yang terlihat terlalu santai apa lagi saat ia mengatakan hal yang seharusnya di hindari vanyak murid sepertinya.
"Kau yakin?" tanya Peter
"Jika Bapak tak bisa tak masalah, saya akan keluar sekarang.." jawab Lana hendak meninggalkan ruangan Peter.
"Baiklah, duduk dan akan aku berikan kau lima pertanyaan.." ucap Peter merubah wajahnya menjadi serius.
Peter segera menuliskan lima pertanyaan yang sangat rumit bagi siswa untyk menjawabnya kemudian ia berikan pada Lana dengan senyum sedikit mengejek.
Peter kembali tercengan saat melihat gadis di hadapannya sama sekali tak merasa kesulitan padahal ia merasa jika pertanyaan yang ia berikan sudah sangat sulit. Tapi gadis di hadapannya dengan mudah menjawab tanpa bertanya.
"Sudah.." ucap Lana mengangkat kepalanya
"Selesai, saya akan kembali ke kelas karena ada pelajaran lain..."ucap Lana segera meninggalkan ruangan Peter dengan kesal tanpa menunggu izin darinya.
"Gadis aneh, jika semua siswa begitu menggilaiku tapi dia justru ingin menghindariku..." ujar nya menatap kepergian Lana, namun senyumannya kembali terukir di bibirnya semakin menambah ketampanan di wajahnya.
Peter memeriksa jawaban Lana, ia terkejut karena lagi lagi jawaban gadis itu sempurna.
"Dia buka gadis biasa.." pikir Peter menatap ke arah pintu ruangannya.
Lana kembali ke kelasnya dengan wajah kesal yang sangat terlihat jelas di wajahnya.
"Kenapa?" tanya Rosa saat Lana sudah duduk di sampingnya
"Gila tuh guru, masak aku di bilang nyontek.." jawab Lana menggebu gebu baru kali ini ia di bilang nyontek, padahalb asanya ia akan di puji. Bukan berarti haus pujian ya...
"Serius!" Rosa cukup terkejut mendengar jawaban Lana karena ia tahu jika temannya itu memang pintar, lebih tepat nya genius...
"Hmm, gila kan!" ucap Lana menopang dagunya dengan kedua tangan.
"Terus gimana?" Rosa masih penasaran hingga ia terus bertanya pada Lana.
"Ya aku bilang aja buat bikin lima soal buat aku jawab saat itu juga.." jawab Lana menatap Rosa yang tak percaya jika temannya benar benar mengatakan itu.
"Terus?" Lana sedikit kesal dengan teman sebangkunya karena terus menanyakan hal tu, namun ia tetap menjawab.
__ADS_1
"Dia buat terus aku jawab selesai.." jawab Lana sambil memperbaik duduknya setelah guru wanita cukup cantik masuk ke kelasnya.
Rosa hanya geleng geleng mendengar perkataan Lana yang terdengar santai dan biasa, namun baginya itu di luar nalar.
Lana dan Rosa kembali fokus pada pelajaran yang sedang di terangkan oleh guru cantik di hadapan mereka, bahkan Lana sedikit terpesona akan keanggunan wanita di hadapannya yang sesekali tersenyum saat sedang menjelaskan.
"Canyik dan Anggun..." ucap Lana pelan, ya dia sedang melamun sekarang.
"An..." panggil guru cantik saat melihat Lana yang tak fokus
"Ya Bu cantik..." jawab Lana belum sadar, semua siswa tertawa mendengar ucapannya. Lana hanya menggaruk kepalanya yang tak gatal sama sekali.
"Maju sini..." panggil Guru cantik pada Lana dengan senyuman di bibir yang di beri lipstik warna merah muda.
Lana segera berdiri dan maju ke depan, tatapan kagumnya masih terlihat jelas di matanya untuk Gurunya itu.
"Kamu gak fokus?" tanya Guru di hadapannya kini
"Gak..." jawab Lana jujur tepatnya terlalu jujur
"kenapa?" Lana berfikir sejenak kemudian ia tersenyum.
"Karena Bu Misya terlalu cantik.." jawab Lana tanpa malu saat mengatakan itu, tapi semua siswa kembali menertawakannya.
"Kamu ini, bisa gombal juga ruapanya.." ucap Guru cantik yang bernama Misya dengan senyuman manis dan tatapan teduhnya membuat Lana semakin nyaman dekat dengan gurunya satu itu.
"Ya sudah duduk lagi..." perintah Bu Misya dan segera di anggukan kepala oleh Lana kemudian ia kembali ke tempatnya.
"Cukup sampai sini, kalian yanh belum menegrti bisa temui Ibu di ruang guru..." ucap Bu Misya saat ia sudah berdiri dengan buku di tangannya.
"Bu..." panggil Lana sambil mengangkat tangan. Lagi, semua siswa menatap ke arahnya karena mereka cukup heran gadis dingin itu hari ini sedikit banyak bicara setelah Bu Misya masuk ke kelas.
"Ya, ada apa An?" tanya Bu Misya menatap Lana
"Kalo ke rumah Ibu boleh gak?" Lana langsung pada intinya.
"Boleh, kalo mau nanti bisa ke ruang guru.." jawab Bu Misya tersenyum melihat sikap siswanya satu ini yang terlihat lucu di matanya. Bu Misyapun segera keluar dan kembali ke ruang guru untuk menyelesaikan kerjaannya agar bisa pulang lebih cepat.
"Bu Misya!" Panggil Lana yang sudah berdiri di depan pintu setelah ia mengetuk pintu.
"An, kamu beneran mau alamat Ibu!" ucap Bu Misya cukup kaget karena Lana benar bebar mendatanginya.
"Ya..." jawab Lana tersenyum namun masih tetap berdiri di depan pintu.
"Masuk sini, biar Ibu tuliskan dulu.." ucap Bu Misya kemudia ia menulis alamat rumahnya dan memberikannya pada Lana yang dengan senang dan bahagia menerima.
"Makasih Bu..." ucap Lana segera keluar dari ruang guru, Bu Misya kembali tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
Dari jauh Peter yang hendak pulang tak sengaja melihat Lana yang sedang tersenyum bajagia setelah keluar dari ruang guru, karena penasaran ia berjaan mendekat ke arah di mana gadis itu keluar.
"Pak Peter..." kaget Bu Misya saat ia hampir bertabrakan dengan Peter saat akan keluar sedangkan Peter yang juga mau masuk.
"Maaf..." ucap Peter tulus segera mundur seperti yang di lakukan Bu Misya.
Bu Misya adalah orang kedua yang tidak tertarik dengan ketampanan Peter setelah Lana. Entah mengapa kedua gadis ini terlihat justru ingin selalu menghindarinya di banding berdekatan dengannya. Jika orang tahu, maka hancurlah reputasinya sebagai pria yang di gilai wanita...
Lanjutannya....
Jangam sungkan buat kasih like sama dukungannya ya dan makasih buat yang dah mau mampir baca...
Makasoh orang baik....
__ADS_1
🙏🙏🙏