Gadis Manis Ternyata Suhu

Gadis Manis Ternyata Suhu
Kebenaran Keluarga Bu Cantik (Bu Misya)


__ADS_3

Sudah satu minggu selama liburan Lana terus datang ke rumah besar milik keluarga Bu Misya, meskipun Setya sudah mengatakan segala hal tentng pemilik rumah tersebut namun itu justru membuat Lana semakin rajin datang ke sana terkadang ia ingin menginap namun sayang Doni tak mengizinkannya. Tapi kali ini Lana nekat dan pergi ke sana tanpa sepengetahuan Doni meskipun semuanya telah ia rencanakan bersama Setya.


Flashback....


"Nona..." panggil Setya saat mereka sudah berada di mobil setelah keluar, dari rumah besar milik keluarga Bu Misya.


"Ya Kak.." jawab Lana tersenyum bahagia


"Bisa kita bicara sebentar! ada yang harus saya beritahu pada Nona tentang keliarga Bu Misya." ujar Setya membuat dahi Lana berkerut


"Hmm." deheman Lana sebagai tanda ia setuju.


Setya menghentikan mobilnya di taman tak jauh dari kediaman Bu Misya. Lana segera turun setelah Setya. membukakan pintu mobil untyknya.


"Mari Nona.." Setya. mengulurkan tangannya agar Lana duduk di kirsi panjang ayang ada di sana sedangkan ia tetap berdiri di samping Lana


"Jelaskan Kak apa yang kmu tahu tentang Kak. Misya!" ujar Lana tanpa menoleh, wajahnya sangat serius.


"Rumah yang di tinggali oleh keluarga Nona Misya itu seharusnya jadi milik Anda Nona Muda!" Lana menoleh ke arah Setya, kedua alisnya menaut wajahnya berubah masam. Setya mengerti dengan pandangan yang di berikan Lana padanya ia tetap mela jutkan ucapannya.


"Benar Nona, Ayah Nona Misya adalah orang yang telah menyebabkan Ayah dan Bunda Nona meninggal." Mata bulat Lana membuka lebar menatap tajam ke arah Setya yang juga menatap ke arahnya.


"Jangan bercanda!" tegas Lana ia sudah berdiri


"Saya tidak bercanda Nona, bahkan hari ini tanpa sengaja saya mendengar percakapan Tuan Besar, ah maaf maksud saya Ayah Nona Misya yang mengatakan akan mengirimkan semua dokumen penting Rumah peninggalan kelaurga Nona pada seseorang agar segera mengurus perpindahannya atas namanya." Lana semakin terkejut, wajhnya mengeras dan memerah menahan marah mata tajamnya kini menatap Setya yang hanya bisa menunduk karena tak sanggup melihat tatapan amarah dari Nona Mudanya.


"Sial, sial, sial..." teriak Lana mengepalkan kedua tangannya.


"Kemana arah mereka Setya?" kali ini Lana tak memanggilnya Kak, tapi hanya nama saja membuat Setya sedikit kaget namun segsra ia tepiskan rasa kagetnya karena memang sudah sepatutunya begitu.


"Ke arah utara Nona.." jawab Setya


"Kita kejar mereka dan akan kuberi pelajaran." ujar Lana berapi api, ia sudah berjalan mendahului Setya dan masuk ke dalam mobilnya.


Lana dan Setya sudah sampai pada tujuan mereka dan menunggu kedatangan mobil yang sudah di ketahui Setya adala orang yang membawa surat surat penting rumahnya.


"Mereka datang Nona.." ujar Setya menatap. ke arah depan mereka. Lana tersenyum sinis, sangat menyeramkan bagi siapa saja yang melihatnya bahkan mungkin tak akan ada yang percaya jika senyuman itu milik gadis manis seperti Lana.


"Hadang mereka Setya.." perintah Lana yang masih santai duduk di dalam mobil.


"Baik.." Setya keluar dari mobil dan berdiri di depan mobilnya yang ia parkir di tengah jalan agar menghalangi jaln mereka.


"Hei, siapa. kau menyingkirlah jika masih ingin hidup.." teriak salah seorang dari mereka yang membawa mobil paling depan sedang di belakang ada dua mobil lagi.


Setya tak menghiraukan perkataannya dan tetap berdiri di sana, bahkan ia sedang tersenyum membuat oang orang yang ia hadang menjadi kesal dan marah kemudian keluar dari mobil dan berjalan mendekatinya.


"Kau cari mati ya?" tanya Pria botak dengan badan besar serta pakaian serba hitam


"Coba saja kalau bisa.." jawab Setya tanpa rasa gundah sedikitpun..

__ADS_1


"Kau..." geram Pria botak tadi


"Hajar dia sampai mati.." perintahnya pada kedua orang di samping kanan dan kirinya.


Dua orang yang menyerang Setya sudah tekapar hanya dengan dua gerakan dari Setya, melihat itu Pria botak tadi menjadi kesal dan memanggil. kawannya yang lain untuk keluar hingga akhirnya Setya harus menfhadapi delapan orang sendirian, namun itu tak. membuat Setya takut sama sekali.


Setya mulai menghajar kedelapan orang yang lebih dulu maju menyerangnya, meski sedikit terpijok namun masih bisa ia atasi hingga tiba tiba salah seorang dari mereka mengeluarkan pisaunya dan menusuk Setya dari arah belakang, untung reflek Setya cepat namun masih terkena tusukan di bagian perutnya meski tak begitu dalam namun cukup berbahaya jika tak segera di obati.


"Akhhh, sial..." teriak Setya memegang perutnya yang sudah mengeluarkan darah cukup banyak. Lana yang sejak tadi hanya memperhatikan pertarungan mereka cukup kaget karena Setya terkena tusukan, ia segera keluar dari mobilnya dan melihat kondiai Setya yang mulai pucat.


Lana mentap tajam ke arah delapan orang di hadapannya setelah melihat kondisi Setya, mata tajamnya memperhatika satu persatu dari mereka kemudian senyuman sini kembali terukir di bibirnya.


"Kalian akan mati..." ujarnya, namun kedelapan orang itu justru tertawa meski awalnya mereka merasa takit dengan tatapan gadis kecil di hadapan mereka namun dengan segera mereka tepis dan mulai menyerang Lana dengan membabi buta.


Lana dengan santai menjatuhkan satu persatu dari mereka tanpa berpindah dari tempatnya, bahkan Setya cukup tercengang melihat gerakan Lana yang tak bisa di tebak sama sekali.


"Sudah ku katakan kalian semua akan mati bukan.." ucap Lana sinis, ia berjalan mendekati sisa orang yang masih bisa hidup meskipun tangannya sudah terpotong sedangkan yang ketujug temannya sudah mati dengan tangan serta kepala yang terpisah dari tubuh mereka.


"Jangan bunuh aku..." lirihnya berusaha menjauh dari Lana.


"Kau iblis bukan manusia.." ujarnya lagi, tapi Lana justru tertawa mendengar perkataan orang yang sudah hampir mati di tangannya.


"Ha ha ha, aku iblis! ya aku memang iblis.." tawa Lana yang menyeramkan namun seketika pula ia meruba mimik wajahnya dengan tatapan membunuh, sekian detik berikutnya kepala orang yang baru saja mengatakannya iblis sudah menggelinding di tanah dwngan mata yang melotot.


Lana kembali mendekati Setya yang semakin pucat, ia membantunya masuk ke dalam mobil kemudian ia yang mengendarai mkbil itu menuju apartemen,Karena tak mungkin jika di bawak ke Rumah Sakit pasti akan ada banyak pertanyaan nantinya.


Setya kembali di kejutkan dengan skill Lana membawa mobil, padahal ia tak pernah melihat gadis itu belajar ataupun membawa mobil tapi apa yang ia lihat dan rasakan sangat di luar nalar. Setya hanya bisa diam dengan rasa sakit di bagian lerutnya yang semakin terasa.


Lana segera membaringkan Setya di kamarnyanya, kemudian ia segera meracik obat dan meminumkannya pada Setya yang hanya bisa pasrah dan menerima apapun yang di berikan Nona Mudanya itu. Lana juga menempelkan beberapa daun di luka Setya yang sebelumnya sudah ia tumbuk dan di campur dwngan bahan lain.


"Akhhhh..." ringis Setya saat tangan mungil Lana mulai mengoleskan racikan daun herbal itu pada perutnya.


"Tahan Kak.." ujar Lana menatap sayu ke arah Setya yang menatapnya masih tak percaya. Ya, gadis di hadapannya kini sudah kembali memanggilnya Kakak, bahkan sikapnya sudah berubah 180 derajat dari yang tadi ia lihat.


"Sebaiknya Kakak istirahat.." ujar Lana setelah selesai mengoleakan obat di perut Setya kemudian ia menyelimuti Setya barulah ia keluar. Meskipun ragu dan bimbang ia teta menuruti perintah Lana dan segera istirahat karena memang tubuhnya sangat lemas dan bahkan matanya mulai terasa berat.


Lana sudah duduk di ruang tamu, ia memperhatikan berkas berkas yang sudah ia ambil dari mobil orang orang yang sudah ia habisi bahkan ia juga menaruh peledak kecil di bagian bawah setiap mobil.


"Aku tak akan biarkan mereka mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku.." ujar Lana tersenyum puas saat ia kembali mengingat wajah ketakutan orang orang yang sudah ia bunuh. Meskipun ini adalah pertama kali baginya namun itu justru membuat adrenalinnya meningkat dan tak merasa takut sama sekali.


Lana kembali memasukkan berkas berkas itu ke dalam dan menyimpannya di lemari kamarnya. Matanya beralih menatap Setya yang sudah tertidur, namun ia tetap berjaga karena selama enam jam kedepan akan jadi masa krusial bagi Setya.


"Bertahanlah lah, setidaknya sampai masa kritismu terlewati.." ujar Lana, setelahnya ia kembali keluar dan berbaring di sofa panjang yang ada du ruang tamu.


Hari semakin larut dan Doni baru kembali dari kantor, namun ia sangat terkwjut karena mendapati keponakannya yang tertidur di sofa sedang kamarnya ada Setya dengan pintu yang memang sengaja di buka kebar.


"Lana..." panggil Doni mengguncang pelan tubuh Lana.


"Hmmm." Lana tak segera bangun ia menggeliat membuat wajahnya terlihat imut dan Doni segera mengalihkan pandangannya.

__ADS_1


"Om..." kaget Lana dan segera memperbaiki duduknya. Doni pun segera duduk di hadapan Lana yang kini sudah sepenuhnya sadar.


"Apa yang terjadi?" tanya Doni menatap Lana yang masih diam dengan wajah dinginnya.


Lana tak segera menjawab, ia beranjak dari tempatnya menuju kamar dan mengambil sebuah tas yang berisi berkas rumah peninggalan sang Ayah kemudian ia berikan pada Doni yang hanya diam dengan dahi yang ia kerutkan.


Tanpa bertanya, Doni segera membuka tas di hadaannya dan mengeluarkan isinya. Ia mulai membaca dan terkejut dengan kedua bola mata hampir keluar dari tempatnya.


"Ini!" Doni menatap Lana meminta penjelasan


"Ya, aku dan Kak Setya merebut itu dari mereka dan karena itulah Kak Setya seperti sekarang." jawab Lana meakipun ia menyesal karena tak sejak awal saja ia membantu Setya, mungkin semua ini tak terjadi padanya. Tatapan Lana pada Setya justru membuat Doni merasa panas dan ada rasa tak nyaman.


"Apa mereka mengenali kalian?" tanya Doni, kini raut wajahnyapun sudah kembali seperti semula.


"Tidak, mereka semua sudah aku habisi." jawab Lana masih memperhatikan Setya yang mulai merasa tak nyaman dengan keringat di wajahnya.


"Lalu..." belum sempat Doni melanjutkan ucapannya, Lana sudah beranjak dari sana memeluk Setya yang mulai merasakan rasa sakit yang teramat.


"Kak..." lirih Lana memeluk tubuh Setya. Pemandangan itu tak luput dari mata Doni yang menatap tak suka atas perlakuan Lana pada Asistennya.


"Akhhhh.." ringis Setya saat rasa sakitnya kian menjadi.


"Bertahanlah..." bisik Lana, entah mengapa hal itu membuat Setya merasa nyaman meskipun matanya terus tertutup.


"Akhhh..." teriak Setya semakin keras saat rasa sakitnya semakin terasa bahkan ia merasa tubuhnya ingin hancur.


"No...na..." lirihnya di sela sela rasa sakit yang ia rasakan.


"Aku di sini Kak, bertahanlah..." ucap Lana semakin mengeratkan pelukannya. Setya bisa merasakan pelukan Lana, hingga enak jam berlalu akhirnya Swtya bisa melewati masa kritisnya dan mulai tidur dengan nyaman lagi.


"Aku tahu kau kuat Kak..." bisik Lana kemudian ia berdiri dan memperbaiki selimut Setya barulah ia kembali keluar.


"Om..." ucap Lana terkejut ternyata Omnya masih di sana dan melihat ia dengan Setya, namun dengan cepat pula ia kembali merubah wajah terkejutnya dengan wajah dingin dan cuek seperti biasanya membuat Doni semakin kesal.


"Om mau bersih bersih, setelahnya kamu tidur di kamar Om.." ucap Doni berjalan menuju kamarnya sebelum Lana sempat menolak perkataannya.


Lana kembali duduk di sofa hingga ia tertidur kembali dengan keadaan duduk sedang kepalanya ia letakkan di bagian atas sofa.


Doni yang baru selesai mandi segera keluar dan mendapati Lana yang sudah tidur, ia segera menggendong keponakannya dan memindahkan ke kamarnya.


"Om gak suka kamu terlalu dekat dengan Setya, tapi.." Doni tak melanjutkan ucapannya karena ia sendiri bingung dengan perasaannya.


Doni segera keluar dari kamar meninggalkan Lana yang sudah tidur pulas dan nyaman. Ia pun segera berbaring di sofa dan beristirahat di sana...


Lanjut up....


agak slow up.


Makasih orang baik...

__ADS_1


🙏🙏🙏


__ADS_2