Gadis Manis Ternyata Suhu

Gadis Manis Ternyata Suhu
Tuan Peter Jordan


__ADS_3

Doni dan Setya sedang menunggu Lana dengan cemas, pasalnya gadis itu di temukan oleh mereka dalam ke adaan tak sadarkan diri di dalam kamarnya.


Flasback.......


Doni yang mendapat kabar dari Setya jika Lana yang murung setelah kembali dari taman Sakurapun segera kembali ke apartemen mereka.


"Lana, kau di dalam..." panggil Doni namun sama sekali tak ada jawaban yang di berikan Lana membuat Doni semakin cemas begitupun Setya.


"Lana, buka pintunya Om mau bicara.." Doni mengetuk pintu Lana dengan kuat namun tetap saja Lana tak menyahuti panggilannya.


"Tuan sebaiknya kita dobrak saja.." saran Setya dengan wajah tak kalah cemas.


"Benar.." Doni dan Setya segera mengambil ancang ancang dan mendobrak pintu Lana dengan kuat hingga terdengar suara cukup keras dan pintu itupun terbuka dengan lebar menampakkan Lana yang terbaring di lantai sudah tak sadarkan diri sambil memeluk Liontin juga Boneka kesayangannya dulu.


"Lana..." Doni segera berlari dan mengahampiri keponkannya kemudian mengangkatnya dan membaringkannya ke kasur dengan lembut.


"Panggil Dokter." ucap Doni sedikit berteriak.


"Lana, kau kenapa?" tanya Doni menatap Lana yang masih pingsan.


"Tuan..." ucap Setya saat ia sudah kembali bersama dengan Dokter pribadi.


"Permisi Tuan saya akan memeriksa Nona.." ujar Dokter wanita pada Doni agar sedikit bergeser.


Doni segera bergeser ke arah bawa kaki Lana dan duduk di pinggirang tempat tidur memperhatikan Dokter yang sedang memeriksa keadaan keponakannya dengan hati yang tak karuan


"Bagaimana kondisinya?" tanya Doni saat Dokter wanita itu sudah selesai memeriksa Lana.


"Keadaannya baik, hanya saja dia kembali mengingat masa masa yang mungkin membuatnya trauma." jelas Dokter


Doni menatap Lana dengan sendu, ia bisa mengerti dengan keadaan keponakannya saat ini.


"Kalau begitu saya permisi..." Dokter itupun segera keluar di antar oleh Setya.


"Terimakasih..." ucap Doni


Doni masih memandangi wajah keponakannya, sesekali ia mengelus pipi Lana yang putih dan pucat membuat hatinya teriris saat melihat keadaan Lana.


"Maafkan Om, terlalu sibuk hingga melupakan Lana.." ujar Doni menyesal karena beberapa bulan ini ia memang sangat sibuk dan sangat jarang menghabiskan waktu bersama keponakannya.


"Ayah, Bunda...." lirih Lana, mengingau.


Doni sangat sedih, ia segera keluar setelah menyelimuti Lana dengan benar.


"Kembali ke kantor dan urus semua yang sempat tertunda.." Setya hany mengangguk dan menundukkan kepalanya menghormati Doni sebelum ia keluar dari apartemen.


"Semoga Nona baik baik saja.." lirih Setya kembali menoleh ke arah apertemen saat ia sudah keluar lalu melanjutkan jalannya.


"Kak, maaf aku sudah lalai menjaga Lana.." Doni sudah berada di kamarnya.


"Ternyata aku begitu lemah ya Kak, sampai terlalu sering menangis seperti ini.." Doni mengusap air mata yang menetes di pipinya senyuman miris tergaris di bibirnya.

__ADS_1


Keesokkannya, Lana sudah bangun dari tidur panjangnya hingga membuat Doni dan Setya panik olehnya.


"Hwahhhhh,, sudah pagi..." ucap Lana sambil menguap dan menutupnya dengan sebelah tangan sedang tangan satunya di pakai untuk mengucek matanya yang terasa berat...


"Kenapa. kepala ini agak pusing ya?" Lana memegang kepalanya yang terasa sedikit pusing, kemudian ia mengingat jika kemarin pasti ia pingsan.


"Hah, lemahnya diri ini..." ucapnya sambil menggelengkan kepala.


Lana segera keluar dari kamar, tak ada kesedihan sedikitpun di raut wajahnya justru hari ini ia begitu terlihat bahagia.


"Selamat pagi Om Doni..." ucap Lana dengan senyuman yang terus ia sunggingkan saat keluar dari kamarnya hingga di meja makan.


"Pagi, bagaimana keadaanmu?" tanya Doni tetap dengan nada dinginnya sedang tangannya sibuk memasak sarapan mereka berdua.


"Baik, sangat baik malah..." jawab Lana sambil menuangkan air putih ke gelasnya dan meminumnya sampai tandas..


"Selamat pagi Tuan Nona Muda!" sapa Setya yang lebih awal datang karena ia ingin mengetahui keadaan Nona. Mudanya yang ia sukai.


"Selamat pagi Kak, wah kebetulan sekali Kakak sudah datang.." ucap Lana berjalan mendekati Setya.


"Ada Apa Nona?" tanya Setya tak mengerti


"Kita berangkat sekarang Kak!" Lana menggandeng tangan Setya di depan Doni yang segera mendelik manatp Setya yang merasa ada yang tidak beres..


"Kamu belum sarapan Lana!" ucap Doni menatap ke arah Lana yang tetap pada senyumannya.


"Nanyi Lana sarapan di kantin sekolah aja Om.." jawab Lana kemudian menarik tangan Setya keluar apartemen.


"Kak..." panggil Lana saat melihat Setya hanya bengong sedang ia sudah masuk ke dalam. mobil setelah Setya membukakannya.


"Eh, i...ya Nona..." Setya yang tersedarapun segera berlari kecil mengitari mobil dan masuk lalu melajukannya dengan kecepatan sedang saja menuju sekolah Lana.


Doni tak melanjutkan kegiatan memasaknya karena terlalu kesal dengan keponakannya yang pergi begitu saja bahkan ia menggandeng tangan pria di hadapannya. Oh ayolah Om Doni, Lana kan keponakanmu masa cemburu kayak gitu sehhh...hihi


Doni segera menuju kantor dengan mengendarai mobilnya sendiri, ia bahkan melajukannya dengan kecepatan tingga dan menyalip setiap mobil di depannya.


"Awas kamu Lana..." ucapnya semakin menambah kecepatannya saat jalanan yang ia lalui sepi.


"Kak Lana, eh An masuk dulu ya.. dahh.." Lana segera masuk, hari ini ia terlihat berbeda dari biasanya..


"Ada apa dengan Nona sebenarnya?" monolog Setya bertanya pada dirinya sendiri


Saat Lana mulai memasuki gedung sekolah, ekspresi wajah ceria yang ia tunjukkan sejak tadi segera ia ubah menjadi wajah dingin dan cuek namun aura kecantikannya justru semakin terpancar.


"An..."panggil Rosa saat ia melihat temannya itu sedang berjalan menuju kelas, Lana hanya senyum tipis dan terus melanjutkan langkahnya hingga ia sudah berdiri tepat di hadapan Rosa.


"Tumben pagi amat datengnya?" tanya Rosa, namun sedikit menyindir..


"Hanya ingin..." jawab Lana.


"Kantin yok, aku belum sarapan nih laper.." ajak Rosa sambil menggandeng tangan Lana. Lana segera menganggukan kepalanya setuju dan mereka berduapun berjalan menuju kantin.

__ADS_1


"Hmm, pesen apa?" tanya Rosa


"Kayak biasa aja.." jawab Lana, namun mata juga tangannya sedang sibuk dengan handphon yang ada di tangannya.


Rosa segera berdiri dan memesan makanan untuk mereka dan kembali dengan dua mangkok bakso yang masih panas..


"Aw aw, panas..." lirih Rosa saat ia sudah sampai ke meja dan meletakkan satu mangkok bakso ke hadapan Lana yang segera menyimpan hpnya dan memakan bakso miliknya.


"Enak gak?" tanya Rosa saat melihat Lana makan dengan lahap begitupun dirinya.


"Hmm..." Lana hanya berdehem. Mereka segera menghabiskan bakso masing masing kemudian kembali ke kelas dan mengikuti pelajaran pertama yang akan segera di mulai.


"Anak anak kita kedatangan tamu spesial.." ucap Guru di depan kelas saat hendak memperkenalkan seseorang yang ia bilang spesial.


Semua murid memandang ke arah keluar kecuali Lana yang tetap biasa dan fokus dengan bukunya.


"Mari Tuan silahkan masuk..." panggil Guru wanita itu mempersilahkan orang yang ia panggil Tuan untyk masuk ke dalam kelas.


Orang itupun masuk dengan gaya dinginnya namun tetap tersenyum ramah ke arah semua orang yang ada di dalam kelas itu.


"Wahhh, tampannya..." ucap pelan salah satu siswi wantia di depan Lana


"Pangeranku..." lanjut siswi wanita di samping kanan Lana.


"Ahhh, gantengg.." Rosa yang duduk di samping kiri Lanapun ikut memuji ketampanan orang di hadapan mereka saat ini.


"Berisik Ros.." ucap Lana tanpa menoleh dan tetap fokus dengan bukunya. Sebenarnya Lana tidak sedang membaca buku pelajaran tapi buku novel yang kemarin belum selesai ia baca.


"Perkenalkan ini Tuan Peter Jordan, anak dari pemilik sekolah ini..." ujar Guru mereka


"Dan mulai besok Beliau juga akan ikut mengajar di sekolah." Para siswi wanita semakin bersorak gembira pasalnya tak pernah ada guru yang setampan Tuan Peter yang mengajar di sekolah mereka.


Peter hanya tersenyum, dan tak berbicara sepatah katapun. Ia melihat para gadis di kelas sedang tersenyum ke arahnya, hingga matanya menemukan satu gadis yang sama sekali tak menoleh apa lagi tersenyum ke arahnya.


"Unik..." lirihnya tersenyum menatap gadis yang duduk di kursi paling belakang.


"Ada yang mau di sampaikan Tuan!"


"Tidak..."


"Baiklah, kalian semua tetap tenang dan lanjutkan pelajarannya.." perintah Guru wanita itu kemudian keluar setelah Tuan Peter keluar dari kelas Lana.


"Terima kasih Tuan atas kunjungannya ke kelas kami.." ucap Guru wanita itu dengan sopan ke arah Tuan Peter yang kembali pada sikap dinginnya.


"Hmm." Peter segera melangkahkan kakinya menuju ruangan pribadi yang sudah di persiapkan untuknya selama mengajar di sekolah itu.


Up lagi...


Makasih yang udah mampir baca, jangan lupa kasih likenya ya sama dukungangannya, biar Author makin semangat...


Makasih orang baik.....

__ADS_1


🙏🙏🙏


__ADS_2