Gadis Manis Ternyata Suhu

Gadis Manis Ternyata Suhu
Dua Gadis yang Sama namun Berbeda!


__ADS_3

Waktu yang berlalu cukup cepat, kini ujian semester awal telah di mulai. Lana dan teman teman sekelasnya sedang mengikuti ujian terakhir dan kebetulan yang mengawas Bu Misya.


"Baik waktunya sudah hampir habis anak anak.." ujar Bu Misya memberi tahu waktu yang hampir habis.


Lana yang sejak setengah jam lalu telah selesai mengerjakan tugasnya tetap diam di tempat tak ingin keluar lebih dulu karena ia masih ingin menatap Bu Cantiknya, itulah panggilan Lana pada Guru di hadapannya yang sedikit tua dari Setya.


"An, kamu sudah selesai?" tanya Bu Misya pada Lana yang segera menggelengkan kepalanya dan berpura pura menulis sesuatu di kertas ujian miliknya.


Sejak tadi Bu Misya memang memperhatikan muridnya satu itu yang terus menatap ke arahnya, terkadang bahkan ia memergoki gadis itu tersenyum.


Bu Misya tersenyum, ia tahu jika sebenarnya Lana sudah menyelesaikan ujiannya namun enggan untuk keluar lebih dulu.


Lana dan Bu Misya memang semakin dekat, apalagi setelah Lana yang dengan berani meminta no telfonnya dan terus menghubungi dirinya setiap hari.


"Baik waktu habis, kumpulkan jawaban kalian di depan." ucap Bu Misya saat ia telah melihat jam di pergelangan tangannya.


Lana masih duduk di trmpatnya, ia masih menunggu semua siswa. mengumpulkan jawaban mereka dan setelah kelas mulai kosong Lana baru maju ke depan dan mengumpulkan lembar jawabannya.


"Kenapa dari tadi lihatin Ibu terus?" tanya Bu Misya saat meeeka sudah berhadapan.


"He he he, ketahuan ya Bu.." jawab Lana polos sambil tersenyum malu.


"Kamu ini, kenapa?" Bu Misya ikut tersenyum, entah mengapa ia selalu bisa tersenyum saat di dekat gadis manis dan imut di hadapannya ini.


"Gak papa, Ibu Cantik jadi An suka.." jawab Lana jujur.


"Ya sudah, pulang sana pasti sudqh di tunggu Omnya.." ujar Bu Misya sambil menggelengkan kepalanya dan tersenyum menatap Lana yang tetap diam di hadapannya bahkan raut wajahnya sudah berubah.


"Kenapa?" tanya Bu Misya saat melihat perubahan pada wajah gadis di hadapannya.


"Gak paa, An pulang dulu Bu Cantik... dahhhh.." ujarnya segera keluar sambil melambaikan tangan, namun saat ia sudah semakin jauh dari pandangan Guru Cantiknya itu raut wajah ceria yang ia tunjukkan berubah menjadi dingin dan murung.


Peter yang juga baru keluar dari kelas sebelah berpapasan dengan Lana, namun gadis itu hanya lewat tanpa meliriknya seperti biasa.


"Aneh.." ujarnya menoleh ke belakang dan hanya menampakan punggung gadis yang selalu ia bilang aneh hingga menghilang di balik tembok sekolah.


"Pak Peter ada apa?" seseorang mengagetkannya dari arah belakang.


"Bu Misya.." ucapnya saat berbalik dan mendapati Bu Misya yang sudah berdiri tepat di hadapnnya meski jarak mereka cukup jauh.


"Maaf pak.." ucap Bu Misya melihat ekspresi kaget Pak Peter.


"Tidak papa, saya juga minta maaf.." ujar Peter yang sudah kembali seperti biasa. Dingin dan cuek.

__ADS_1


"Baiklah, saya permisi Pak.." ucap Bu Misya kemudian berlalu meninggalkan anak pemilik sekolah tempat ia mengajar.


Peter lagi lagi di buat tercengang tak percaya jika Bu Misya juga tak tertarik padanya sama seperti gadis kecil yang baru saja melewatinya barusan.


"Mereka berdua sama sama aneh ku rasa.." ujarnya kemudian beranjak dari sana menuju ruangannya sendiri.


Lana yang baru sampai di parkiran mendapati jika Om Doni sudah menunggunya di sana, dengan langkah malas ia mendekati mobil dan masuk setelah pintu mobil di buka oleh supir.


"Kenapa lama?" tanya Doni menatap Lana yang sama sekali tak menolwh ke arahnya.


"Susah.." jawab Lana dqn Doni tahu jika itu hanya alasan saja karena ia tahu tak ada satupun pelajaran yang akan membuat keponakannya itu kesulitan.


Doni ikut diam tak ingin melanjutkan pertanyaan yang sebenarnya masih ingin ia ucapkan, namun melihat sikap dan mood keponakannya yang terlihat buruk membuat ia mengurungkan niatnya dan memilih diam sambil memainkan hpnya.


Lana masih memandangi ke arah luar jendela, ia menatap setiap tempat yang ia lalui. Tak ada obrolan dari kedua manusia di dalam sana mereka sama sama memilih diam hingga sampai ke apartemen.


"Om balik ke kantor.." ujar Doni tak ikut turun dari mobil hanya membuka kaca hingga terlihat wajahnya yang sedang mentap Lana yang berdiri di depannya.


"Hmm.." jawab Lana masih enggan melihat Omnya dan berlalucmeninggalkan Doni yang masih menatapnya hingga menghilang di dalam apartemen.


"Sampai kapan kamu akan begini Lan.." ujar Doni. Mobil kembali melaju menuju kantor.


"Hahhh, capek..." ujar Lana yang sudah sampai di dalam kamar sambil duduk di pinggiran tempat tidur.


"Bosen gak ada Kak Setya, biasanya kalo pulang sekolah selalu latihan bersama.." lirihnya mengingat masa masa saat ia dan Kak Setya berlatih bersama dan ia mengalahkan laki laki dewasa yang sudah ia anggap seperti Kakaknya sendiri.


"Gimana kalo nanti aku libur, bisa bisa mati kesepian aku di sini.." lanjut Lana mengingat masa masa yang akan ia lalui saat liburan tiba.


"Huaaaa..." Lana berteriak seperti orang yang menangis hanya saja air matanya tak keluar sama sekali.


"Ah, sudahlah..." Lana bersanjak dari kasur, ia segera menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


"Duh, laper.." Lana memegang perut nya yang sejak tadi berbunyi mintak di isi, ia segera berjalan menuju dapur dan melihat apa ada sesuatu yang bisa ia makan.


"Haish, gak ada apa apa, terpaksa deh masak dulu.." ujarnya memelas.


Lana mengambil semua bahan imyang ingin ia masak, kebetulan hari ini ia ingin masak capcay dan Ayam krispi kesukaannya. Lana terus berkutat di sana dari memotong, mencuci, kemudian memasak semua bahan dengan sangat telaten hingga satu jam berlalu ia menyelesaikan masakannya dengan sempurna.


"Yes, selesai.." ujarnya bangga setelah menyusun semua masakannya di atas meja.


Lana segera duduk dan menyendokkan nasi ke piringnya juga lauk yang sudah ia masak.


"Hmm, enak gak kalah enak sama masakan Om Doni.." puji Lana sendiri setelah memasukkan satu sendok nasi juga capcay ke mulutnya.

__ADS_1


Lana menghabiskan makan siangnya dengan lahap, kemudian mencuci piring setelah selesai dan membereskan lauk yang masih tersisa banyak untuk di simpan ke dalam lemari tempat biasa menyimpan makan.


"Ngapain lagi ya!" pikirnya merasa bosan.


"Hah, kenapa aku gak chat Bu Cantik aja!" ujarnya mengingat jika ia memiliki no Guru Cantiknya bahkan mereka sudah sering saling bertukar cerita di sana.


"Bu Cantik, lagi sibuk gak?" tanya Lana dari pesan singkat yang ia kirimkan. Cukup lama ia menunggu hingga notif pesan masuk dengan cepat ia meraih hp nya yang di taruh di atas kasur sampingnya.


"gak, kenapa sayang!" jawab Bu Misya


"Gak papa, An sedang bosan gak ada siapa siapa di rumah.." jawab Lana sambil mengirimkan steker sedih.


"Ibu juga lagi sendirian.." jawab Bu Misya juga mengirim steker yang sama pada Lana


"Benarkah! kalau gitu kita sama dong. he he.." balas Lana tersenyum.


"Ya..."


"An boleh panggil Kakak aja gak?" tanya Lana


"Boleh dong, malah Kaka seneng jadi berasa muda lagi deh..." jawab Bu Misya kali ini mengirimkan steker tertawa hingga nagakak.


"Ha ha, Kakak memang terlihat masih muda.." balas Lana juga tertawa.


Obrolan mereka terus berlanjut, hingga sore hari. Bu Misya mengakhiri chatingan mereka karena tiba tiba ada tamu yang ingin menemui dirinya.


"Sudqh dulu ya, ada tamu.." ucap Bu Misya


"Ok Kak, dahh.." balas Lana kemudian menyimpan ponselnya di atas nakas.


"Hah, lumayanlah gak bosen bosen amat nih hidup. Untung ada Kak Misya." ujar Lana, hawa kantuk tiba tiba menguasai dirinya hingga ia tertidur dengan posisi tidur tengkurap dengan kedua tangan yang ia rentangkan sedang wajahnya menatap ke arah pintu namun tertutup dengan rambut panjang miliknya.


Lana tertidur dengan pulas, sampai sampai ia tak menyadari jika Doni sudah kembali dari kantor dan sedang menatapnya.


"Sayang kamu itu ponakan Om, jika bukan sudah pasti akan ku jadikan gadisku..." ujar Doni pelan sambil memperbaiki rambut Lana yang menutupi wajah cantiknya.


Saat Doni pulang, ia tak melihat Lana yang biasanya sedang menonton tv atau berlatih sendiri di luar, hingga ia melewati kamar keponakannya yang tak tertutup rapat dan melihat jika Lana sedang tertidur dengan sangat pulas. Doni memutuskan masuk dan hanya berniat untuk memperbaiki tidur keponkannya, tapi siapa sangka jika ia malah terpesona dengan wajah Lana yang semakin cantik di usianya yang ke delapan belas tahun.


"Astagaaa, apa aku ini..." Doni memukul kepalanya agar fikiran fikiran buruknya tadi segera menghilang. Dengan hati hati Doni memperbaiki tidur keponakannya kemudian menyelimutinya sampai di batas dada baru lah ia keluar dan menutup pintunya dengan pelan agar tak mengganggu tidur nyenyak Lana...


Lanjut up....


Makasih yang sudqh mampir, jangan lupakan like dan dukungannya say...

__ADS_1


Makasih orang baik....


🙏🙏🙏


__ADS_2