Gadis Manis Ternyata Suhu

Gadis Manis Ternyata Suhu
Pernyataan Cinta Doni


__ADS_3

Tak ada satupun yang berani mengganggu Lana, setelah para pelayan mengantarkan pesanan Lana mereka segera jeluar dari dalam kamar Nona Muda mereka yang terkenal akan kekejamannya dari para pengawal yang menyaksikan langsung kekejaman Lana saat menghabisi seluruh anggita keluarga Erick bahkan Erick sendiri mati secara mengenaskan di tangan cucunya itu.


"Di mana Lana?" suara tegas Doni pada kepala pelayan yang selalu setia berada di sana untuk memberikan perintah bagi bawahannya.


"Nona ada di kamarnya Tuan, dan mengatakan jika ia tak ingin di ganggu.." jawab kepala pelayan bernama Merry dengan menundukan wajahnya.


"Di kamar! tak ingin di ganggu!" ulang Doni, dan Marry hanya mengangguk membenarkan ucapan Doni. Tidak ada yang tahu tentang identitas Doni yang sebenarnya dan hanya Sstya juga Arinlah yang tahu.


"Apa dia sudah makan?" tanyanya lagi, dan kepala pelayan Marry kembali mengangguk sopan.


"Hmm, baiklah.." ucap Doni, ia segera makan tanpa bicara lagi dan menyelesaikan makannya dengan tenang.


Doni beranjak dari meja makan menuju kamar Lana. Sejenak ia termenung di depan pintu Lana hingga beberapa menit ia hanya berdiri tanpa ada niatan untuk mengetuk pintu kamar yang ada di hadapannya.


"Aku harus segera mengatakannya, sebelum bocah bernama Farid itu merebut Lanaku!" pikurnya memantapkan hati, lalu mulai mengetuk kamar Lana pelan hingga beberapa kali barulah ada suara kunci tang di putar namun pintunya masih tertutup rapat. Doni berinisiatif untuk membukanya sendiri hingga setengah dan tak mendapati Lana di sana, akhirnya ia membuka lebih lebar lagi pintu kamar Lana dan barulah ia bisa meliht Lana yang sedang duduk di balkon dengan tenang dan nyaman.


Doni mulai masuk dan berjalan ke arah Lana, ia berjalan secara perlahan sambil terus memantapkan dan meyakinkan hatinya untuk segera mengatakan segalanya pada Lana.


"Ada apa Om?" ketus Lana, ia sebenarnya tahu siapa orang yang sejak tadi mengetuk pintu kamarnya, namun ia sengaja tak langsung membukanya dan menunggu sampai kapan Doni akan berada di sana.


Doni masih berdiri terpaku di samping Lana yang tetap duduk dengan tenang tanpa menoleh ke arah Doni.


"Jika tak ada yang ingin di katakan, sebaiknya Om keluar karena Lana ingin bersantai seharian di kamar!" lanjutnya karena tak mendapatkan jawaban dari Doni, wajah dingin Lana juga jelas terlihat di mata Doni dan sungguh ia sangat tak suka wajah itu.


"Ada yang harus kita bucarakan Lan!" ucap Doni akhirnya sstelah sebelumnya ia menarik nafas dalam dan menghembuskannya secara perlahan juga menetralkan detak jantungnya yang berdegup kencang.


"Bicara!" ulang Lana, kali ini ia menatap Doni dengan dahi yang brkerut.


"Hmmm. bisa?" tanya Doni serius.


"Um, katakanlah dan duduklah..." jawab Lana kembali mengalihkan pandangannya ke arah depan di mana ia bisa. melihat taman yang cukup luas yang ada di kediamannya.


Doni duduk di kursi yang ada di sebelah Lana, juga ada meja kecil di tengah tengah mereka sebagai penghalang.


"Apa yang ingin Om bicarakan?" tanya Lana lagi memulai pembicaraan dari awal. Doni lagi lagi menarik nafasnya dalam dan menghembuskan secara kasar hingga Lanapun bisa mendengarnya namun mencoba untuk tetap pada posisinya tanpa mengalihkan pandngannya pada Doni yang justru terus menatapnya secara seksama.


"Setelah semua kebenaran tentang Om dan juga dirimu, Om ingin mengatakan hal jujur pada Lana.." ucap Doni ia masih menggunakan Om pada dirinya.

__ADS_1


Lana menoleh pada Doni, ia juga menatap serius kepadanya dan menunggu kata apa yang ingin di ucapkan oleh Doni selanjutnya.


"Om menyukai Lana, sejak kita belum mengetahui kebenaran ini." jujur Doni, meski sempat ragu namun ia tetap berusaha mengatakannya dan bersiap akan jawaban ataupun sikap Lana selanjutnya.


Lana tetap diam, tak ada rasa terkejut sedikitpun di wajahnya hanya ada ketenangan di sana dengan terus menatap ke arah Doni yang justru terlihat gugup dan juga tak menyangka jika Lana bisa tetap bersikap setenang itu setelah ia mengatakan perasaannya.


"Kau sangat tenag Lana! apa sebelumnya kau sudah mengetahuinya! hmm..." goda Doni dengan wajah serius, sayang yang di goda justru tersenyum miring mendengar ucapan Doni membuat dirinya mengerutkan kening setelah melihat senyuman Lana.


"Menurut Om bagaimana?" Lana bertanya dengan wajh yang ia alihkan ke arah depan sambil melipat kedua tangannya di depan dada.


Doni hanya diam ia tak mengerti apa yang harus ia jawab.


"Lana sudah tahu segalanya tentang Om Doni, tapi Om...." Lana melirik Doni dengan ekor matanya, senyumnya hilang seketika.


"Bahkan Om sama sekali tak bisa memahami Lana!" lanjutnya, wajahnya kembali datar dan tak lagi menatap Doni lewat ekor matanya.


"Maaf, tapi sekarang Om sudah tahu Lan dan Om berharap Lana bisa menerima Om yang bodoh ini." ucap Doni lembut, tatapannya sangat sejuk pada. Lana.


"Maaf Om gak pernah bisa mengerti akan perasaan Lana, tapi percaya atau tidak Om. sangat mencintai Lana." sambungnya menatap Lana yang segera menoleh ke arahnya dan mencoba mencari kebenaran dari mata Doni.


"Cinta!" ulang Lana, wajahnya tak bisa Doni tebak.


"Termaksud Farid teman kecil mu yang sempat meminta pada Om agar memberikan dirimu padanya, dan Om tentu saja tak akan membiarkan orang yang Om cintai bersama orang lain kecuali...." Doni kembali menjeda ucapannya, ia menghembuskan nafasnya perlahan dan tetap memang Lana yang hanya diam mendengarkan ucapan Doni.


"Kecuali jika kamu juga menginginkannya, maka Om tak akan bisa menghalangi kalian dan merusak. kebahagiaan orang yang Om cintai..." lanjutnya, Doni sangat lega setelah ia mengatakan segala. erasaannya pada Lana, meskipun Lana hanya diam saja sejak ia bicara hingga beberapa menit. Kedua mata Lana menatap lekat manik mata Doni yang juga menatapnya dalam, namun bibirnya tetap tertutup rapat meskipun Doni sudah menyelsaikan ucapannya, ia masih terbuai akan tatapannya pada Doni.


"Kenapa baru sekarang Om mengatakannya?" akhirnya, bibir itu mengatakan sesuatu walaupun ucapannya tak sesuai dengan harapan Doni yang ingin mendengar penerimaan dari Lana untuknya.


"Karena Om yang belum tau akan status kita Lan, bagaimana Om bisa jujur dengan rasa cinta Om sama kamu kalo saat itu Om berfikir jika kita adalah saudara." jelas Doni dan Lana hanya mengangguk tanpa mengalihkan pandangannya dari Doni.


"Lalu, apakah Om akan menyerahkan Lana pada Kak Farid jika Om tidak tahu kebenarannya sampai detik ini?" tanya Lana lagi masih dengan wajah datar.


"Bisa iya juga tidak, karena Om tak akan memaksa dirimu. Jika kamu memang menyukainya maka Om aka melepaskanmu meskioun Om yang akan terluka, tapi demi kebahagiaan Lana Om akan rela, tapi sebaliknya jika Lana memang tak setuju maka Ompun tak akan pernah membiarkan siapapun menyentuhmu.." jawab Doni serius dan penuh keyakinan. Lana kembali mengangguk, namun kali ini di sertai dengan senyum tpis yang bisa di lihat oleh Doni yang justru terlihat heran akan perubahan wajah Lana sebelumnya.


Lana kembali mengalihkan pandangannya ke arah depan, ia juga kembali melipat kedua tangannya di depan dada dengan punggung yang di sandarkan ada sandaran kursi dengan nyaman dan tenang serta mata tertutup. Lana menghirup udara segara yang mulai mengisi paru parunya.


"Lana menerima..." ucap Lana pelan, namun Doni justru terlihat bingung akan jawaban Lana dan entah mengapa ia justru menyebut nama Farid.

__ADS_1


"Farid?" tanyanya dengan wajah sedih. Lana menggeleng dengan tetap. memlertahankan posisinya.


"Om..." jawab Lana. Doni terperanjat kaget mendengar jawaban Lana yang menyebut kata Om.


"Om! aku!" ulang Doni dengan wajah yang tak menyangka. Lana hanyaengangguk, kali ini ia menoleh pada Doni meski punggungnya tetap ada sandaran kursi, ia ingin melihat wajah Doni yang terkejut akan jawabannya.


Doni menunduk menetralkan jantungnya juga perasaan bahagia yang bercampur dengan rasa tak menyangka, walaupun ia tahu jika Lana juga menykai dirinnya namun ia sam sekali tak berharap banyak pada Lana untuk menerima dirinya dalam kehidupan Lana.


"Makasih..." ucap Doni dalam tundukkannya.


"Om akan selalu menjaga Lana..." Doni mengangkat kepalanya dan menatap Lana yang sudah tersenyum hngat ke arahnya. Doni berdiri dan mulai mendekati Lana yang duduk di kursi sebelahnya, ia sedikit menunduk agar wajahnya bisa berdekatan dengan wajah Lana kemudian ia mencium bibir Lana yang hanya diam sebentar namun dengan cepat ia membalas ciuman yang di berikan Doni. Mereka larut dalam ciuman hangat dan penuh cinta, kini Lana berada dalam pangkuan Doni yang sudah duduk di tempatnya.


Doni melepaskan pagutan mereka setelah beberapa menit berlalu, dan keduanya segera menghirup oksigen sebanyak mungkin karena hamoir susah bernafas akibat ciuman barusana. Setelahnya keduanya saling tatap dengan tatapan yang dalam dan penuh cinta.


"Tetap di sisi Om Lana!" ucap Doni, setelah ia mengecup sekilas bibir Lana.


"Akan Lana usahakan..." jawab Lana, entah mengapa ia merasa jika waktunya sudah tak lama walaupun dengan cepat ia menyingkirkan perasaan itu.


"Berjanjilah, kita akan selaku bersama sampai maut memisahkan!" Doni memeluk pinggang Lana dengan erat, sedang Lana melingkarkan tangannya di leher Doni. Lana hanya mengangguk dengan senyum termanisnya yang tak pernah ia berikan pada Doni selama ini.


Doni terpaku sesaat ketika melihat senyuma manis dan indah Lana yang di berikan padanya, senyuman yang tak pernah ia lihat dari Lana untuknya selama ini. Doni kembali memagut bibir Lana dan kembaki menye sapnya dengan lembut juga tak lupa ia mengabsen seisi mulut yang terasa manjs dan membuatnya sangat candu..


Lana hanya bisa menikmati permainan Omnya dengan mata yang tertutup rapat, Doni sangat lembut saat melu mat bibirnya hingga iapun bisa mengimbangi permainan dari Doni.


"Om bahagia, makasih!" ucap Doni, ia memeluk Lana dan menempelkan kepalanya di dada Lana yang mengusap kepala Doni lembut.


"Lana juga..." jawab Lana.


Sehariaan penih mereka tak keluar dari kamar Lana, dan menghabiskan waktu bersama di sana dengan saling berciuman namun tak sampai melewati batasan meskipun Doni yang sudah mulai berani meraba raba bagian tubuh Lana yang semakin terbuai akan perlakuannya.


"Om akan segera menikahimu, agar tak ada laki laki lain yang berani merebut dirimu dari Om.." ucap Doni serius srtelah ia melepaskan ciuman mereka untuk yang ke sekian kali. Lana hnya tersenyum lembut, ia terlihat sangat dewasa saat menyikapi sikap posesif Doni yang sangat terlihat jelas padahal mereka baru saja saling mengatakn perasaan.


"Terserah saja..." jawab Lana membuat Doni menyunggingkan senyuman puas.


Mereka kembali berciuman dan menyambut senja dengan bibir yang saling menyatu...


Lanjut lagi...

__ADS_1


Makasih sayang semua....


😊🙏🙏


__ADS_2