
Doni semakin jauh dari Lana dan semakin jarang bersama keponakannya itu karen ia berfikir jika Lana tak membutuhkan dirinya sejak Setya yang memang sudah ia perintah untuk selalu menemani keponakannya itu.
"Kak..." panggil Lana di tengah tengah latihannya bersama Setya.
"Ya Nona!" jawab Setya terus berusaha untuk menghindari serangan dadakan Lana.
"Om Doni sangat sibuk ya, sampai gak pernah ada waktu lagi buat Lana?" tanyanya sedih namun fokusnya masih belum terpecahkan dan masih membuat Setya sedikit kewalahan.
"Benar Nona, tapi aku yakin jika nanti Tuan sedang renggang pasti akan menemani Nona lagi.." jawab Setya dan akhirnya ia terpukul mundur oleh serangan Lana yang menghunuskan pedangnya pada Setya tepat di kepalanya.
"Aku kalah lagi, sepertinya Nona perlu lawan yang lebih tangguh.." ucap Setya memuji. Lana hanya tersenyum sambil berjalan mendekati Setya
"Ya ya ya, Kakak selalu menjawab dengan jawab yang sama.." ujar Lana memutar bola matanya saat melewati Setya dan duduk di bawah pohon tempat ia dan Setya biasa istirahat ketika selesai latihan.
"Tapi memang begitu Nona.." ujar Setya ikut duduk di samping Nona Mudanya yang hanya cembetut.
"Nona, jangan cemberut nanti cantikknya hilang.." rayu Setya namun ekspresi wajahnya justru ia yang malu mengatakan itu sedangkan Lana tampak biasa saja.
"Om Doni punya pacar ya Kak?" tiba tiba Lana menoleh ke arah Setya yang masih memandangnya bahkan jarak wajah mereka cukup dekat.
Setya menelan salivanya dengan susah payah karena bisa menatap Lana dengan sangat dekat bahkan bisa di pastika jika Setya bergerak maju sedikit saja maka hidung mereka bisa saling bersentuhan.
"Khmmm, Nona..." Setya mencoba menetralkan perasaannya dan mencoba mundur sedikit.
"Se...setahu aku Tuan belum punya pacar karena Tuan sangat sibuk dengan pekerjaannya." ujar Setya, Lana hanya mengangguk kemudian memundurkan tubuhnya ke posisi sebelumnya.
"Gak ada ya?" monolog Lana.
"Memangnya kenapa Nona menanyakan itu?" tanya Setya sedikit penasaran.
"Ha ha, tidak ada kok Kak hanya ingin tahu saja apa orang tua itu sudah punya kekasih apa belum soalnya kan Om Doni sudah sangat tua..." ucap Lana sambil tertawa meskipun tawanya hanya di buat buat agar Setya percaya.
("Baguslah..") batinnya tersenyum simpul.
Lana segera beranjak dari duduknya karena merasa sudah cukup dengan istirahatnya. Ia kembali menatap Setya yang masih duduk sambil mendongak menatap Lana yang sudah berdiri.
"Kakak pulang saja, ku rasa hari ini cukup latihannya aku mau istirahat dan ada tugas yang harus aku kerjakan.." ujar Lana meninggalkan Setya yang masih mematung di sana menatap kepergian Nona Mudanya yang terlihat aneh di matanya.
Ya, Setya beberapa hari ini melihat sikap Nona Muda yang suka berubah ubah, kadang bahagaia, kadang tiba tiba senyum sendiri dan terkadang seperti sekarang murung.
Lana kembali ke kamarnya, meski ada Setya di sisinya dan terus menemani kemanapun ia pergi, tapi terkadang ia juga ingin di temani bersama Om Doni seperti saat saat di Villa.
"Om Doni sudah melupakan aku, sekarang dia lebih fokus dengan perusahaannya dan balas dendamnya.." lirihnya merebahkan tubuh di tempat tidur yang cukup besar untuk tubuhnya yang kecil.
"Ayah Bunda, apa Lana salah jika ingin di perhatikan sama Om Doni seperti dulu?"
__ADS_1
"Lana kesepian, tanpa Ayah dan Bunda di sisi Lana.." kini air mata benar benar sudah jatuh ke pipi mulus dan sedikit chabby miliknya. Lana membiarkan air matanya terus tumpah sambil memejamkan mata ia membayangi sosok Ayah juga Bunda yang sudah lama ia rindukan.
"Ayah Bunda..." panggilnya di tengah tengah isakan tangisnya.
Lana segera bangkit dari tempat tidur dan duduk dengan kedua kaki yang ia gantung di pinggir tempat tidur sambil ia goyang goyangkan.
"Apa aku ke rumah Bu Cantik aja ya?" monolog Lana sambil berfikir sejenak, kemudian ia berdiri sambil menyunggingkan senyumannya.
"Kak, masih di taman?" ucap Lana saat ia sudah mendapat jawaban dari Setya yang baru saja ia telfon.
"Ya, masih Nona.." jawab Setya. Ya, Setya masih terduduk di taman karena merasa lelah setelah berlatih dengan Lana dan juga ia masih memikirkan Nonanya yang sejak tadi hanya murung saja.
"Aku mau keluar, Kakak bisa antar?" tanya Lana
"Tentu Nona.." jawab Setya segera berdiri
"Ok, Lana tunggu di Apartemen ya.." ujar Lana kemudian memutus telfonnya secara sepihak padahal Setya masih ingin bertanya.
Lana segera mengganti pakaiannya dengan dress berwarna biru muda selutut serta di bagian tangannya hanya menutupi sampai bahunya saja. Ia tak berdandan hanya memakai lipblos dan menguncit kuda rambutnya secara asal namun malah semakin terlihat cantik dan mempesona bahkan sekarang ia terlihat seperti umur lima belas tahun.
Setya sudah tiba di Apartemen Lana dan menunggu gadis itu keluar dari kamarnya, Setya menunggu di ruang tamu.
"Ayo Kak.." ajak Lana sedikit ceria
Setya terpaku, ia tak bergerak sama sekali dari tempatnya berdiri bahkan matanyapun sama sekali tak berkedip saat melihat Lana yang sangat cantik di matanya.
Lana semakin mendekati Setya, kemudian ia mendekatkan wajahnha ke wajah Setya yang diam mematung namun terlihat jelas jika ia sangat menganggumi Nona Mudanya dari sorot matanya yang menatap Lana.
"Kak Setya, aku cantik ya sampe bengong gitu?" bisik Lana di telinga Setya. Setya tersadar ia segera mundur beberapa langkah agar sedikit jauh dari Lana kemudian menundukkan wajahnya karena malu bahkan wajahnya jelas terlihat memarah karena ulah Lana yang jahil.
"Ha ha ha, Kak Setya lucu sekali..." tawa Lana pecah seketika ia bahkan memegang perutnya yang agak sakit akibat tertawa.
Setya mendongak menatap Lana yang masih tertawa dan mencoba menahan tawanya, namun saat melihat wajah Setya ia malah semakin tertawa.
"Aduh perut Lana sakit, gara gara Kak Setya nih.." tuduhnya, padahal itu karena ulahnya sendiri.
"Kenapa aku, kan kamu yang ketawa!" cetus Setya, jujur ia senang karena bisa melihat Lana yang tertawa lepas seperti tadi namun ia juga masih merasa malu karena kejadian beberapa menit yang lalu.
"Oo ohh,, Kak Setya ngambek nih!" ujar Lana kembali maju dan mendekati Setya yang malah mundur ke belakang..
"No...na mau apa?" gugup Setya. oh Setya kamu itu laki laki masa malu sama cewek mana bocil lagi, akibat jomblo kelamaan..
Lana terus maju mendekati Setya tanpa menghiraukan pertanyaannya, begitupun Setya yang semakin mundur hingga tubuhnya menumbur dinding.
"No..na..." Setya memejamkan matanya sambil memiringkan wajahnya ke arah lain karena ia tak sanggup menatap Lana yang semakin dekat apa lagi wajah cantik dan bibir mungil yang membut nafasnya sedikit memburu.
__ADS_1
"Kheemm, kenapa Kak?" tanya Lana sambil menahan tawanya dengan satu tangan sedang tangan lain hendak membuka pintu Apartemen. Setya membuka matanya perlahan dan melihat Nona Mudanya tak berada di hadapannya tapi justru hendak membuka pintu Apartemen.
Setya kembali mendengus kesal, karena sudah dua kali ia di kerjai hingga wajahnya kembali memerah. membuat Lana tak lagi sanggup menahan tawa yang sudah ia tahan sejak tadi....
"Nona keterlaluan sekali..." cecar Setya, ia sangat berani jika hanya berdua dengan Lana meski terkadang masih sedikit kikuk namun kali ini ia mengeluarkan semuanya.
"Ha ha ha, Kak Setya lucu banget aku mau nangis.." ucap Lana kini ujung matanya sudah mengeluarkan air dan segera ia hapus dengan kasar.
"Hah hah, sudah ah aku capek ketawa terus.." ujarnya kemudian berjalan ke sofa dan duduk di sana tak jadi membuka pintu Apartemen bahkan ia menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa dengan nyaman sambil mengatur nafas karena sejak tadi terus tertawa, namun lagi saat Lana melihat wajah Setya ia akan langsung tertawa apa lagi saat Setya sedang menekuk wajahnya kesal dan bibirnya sedikit di monyongkan membuat wajah Setya semakin lucu di mata Lana.
"Ha ha ha, Oh Kak ku mohon jangan pasang wajah itu aku sudah lelah tertawa, kheemmm.." ujar Lana mencoba menahan tawanya dan kembali mengatur nafas.
Setya hanya diam ia memandang ke arah lain karena jujur ia masih sangat malu.
Tiba tiba pintu terbuka menampakkan wajah seorang pria dewasa tanpa ekspresi, tapi wajahnya terlihat kesal saat menatap Lana juga Setya bergantian...
Lana sedikit terperanjat saat mendengar suara pintu yang di buka cukup kuat, ia sampai berdiri karena terkejut namun saat melihat siapa yang datang ia kembali duduk dan tawanya sudah hilang sedang matanya ia alihkan ke arah Setya yang terlihat gugup.
"Tuan.." panggil Setya sambil menundukkan wajahnya.
"Sedang apa kalian?" tanya pria yang ternya Doni.
Lana hanya diam tak bersuara, ia malah beranjak dari duduknya kemudian berjalan meninggalkan Doni dengan rasa kekesalannya karena tak di hiraukan Lana. Setya! jngan di tanya ia sudah keringat dingin karena kini ia hanya tinggal berdua saja dengan Tuannya yang terlihat menahan marah.
"Maaf Tuan.." ucap Setya
"Sedang apa kalian?, aku mendengar tawa Lana sampai di depan!" tanya Doni menatap tajam ke arah Setya.
"Maaf Tuan tadi sebenarnya Nona ingin di antar ke suatu tempat tapi saya kurang tahu.." jelas Setya
"Lalu kenapa dia sampai tertawa seperti tadi?" Doni belum puas dengan jawaban yang di berikan Setya
"Maaf Tuan, saya juga tidak mengerti kenapa Nona menertawai saya.." jawab Setya sedikit berbohong karena sebenarnya ia tahu mengapa Lana sampai menertawakan dirinya.
Doni tak lagi bergeming, ia melangkahkan kakinya memasuki Apartemen karena sejak tadi ia memang berdiri di ambang pintu.
"Pulanglah..." ujar Doni yang sudah semakin jauh dari hadapan Setya.
"Hah, aman. Nona kau mengerjaiku lalu meninggalkanku berdua dengan Tuan, kau sangat kejam Nona.." lirihnya segera meninggalkan Apartemen Doni dengan tergesa gesa.
Lanjut up...
Gak jadi ke rumah Bu Guru Cantik deh...
Makasih yang dah mampir baca, jangan lupa like sama dukungannya biar Author makin semangat..
__ADS_1
Makasih orang baik...
🙏🙏🙏