
Doni tak bisa tidur meskipun ia sudah memejamkan matanya sejak beberapa jam yang lalu bahkn ia membalik balikkan badannya ke kanan dan ke kiri namun tetap saja sama.
Doni membuka matanya, ia duduk bersandar di sandaran tempat tidur sambil memegang pelipisnya yang terasa agak berat dan pusing.
"Kenapa aku tak bisa tidur?" ujarnya
"Sepertinya aku memang harus bicara pada Lana, jika tidak aku tqkkan bisa tidur sampai pagi.." Doni memakai pakaiannya dan segera keluar dari kamar menuju kamar Lana.
Sejak kejadian tadi sore, Lana sama sek8ali tak keluar dari kamar ia mengurung dirinya bahkan tak makan malam membuat perutnya berbunyi minta di isi.
"Oh, kayaknya aku harus makan.." lirihnya merasa lapar sambil memegang perutnya.
Lana memutuskan keluar kamar, ia berjalan menuju dapur dan tak menemukan apapun di sana membuat ia hanya bisa duduk sambil minum segelas air.
Doni yang sudah berada di depan kamar Lana mendengar suara di dapur, hingga ia mengurungkan niatnya untu menemui Lana dan berjalan menuju dapur. Namun siapa sangka ternyata yang membuat kebisingan adalah orang yang ingin ia temui dan sedang duduk sambil meminum air yang hampir habis di dalam gelas.
"Sedikit lagi.." ujar Lana ia segera menghabiskan air minumnya hanya segali teguk, kemudian hendak beranjak dari duduknya dan berbalik.
"Aaaaa..." teriaknya terkejut saat melihat Om Doni sudah berada di hadapannya dan jarak mereka sangat dekat.
"Om..." pekik Lana memukul lengan Doni yang hanya diam.
"Duduk, Om ambilkan makanan.." ujar Doni tak merespon keponakannya dan berjalan melewati Lana menuju tempat ia menaruh makan malam karena ia tahu jika. Lana pasti akan kelaparan.
"Makanlah, jangan cuma minum air nanti kembung.." lanjutnya sambil menaruh sepiring nasi serta lauk pauknya di hadapan Lana yang langsung tersenyum.
Lana segera memakannya dengan lahap, bahkan ia lupa jika saat ini sedang ngambek dan puasa bicara dengan Omnya.
Doni tersenyum tipis saat melihat keponakannya yang makan dengan lahap. Sudah beberapa hari ini mereka memang tidak makan malam atau sarapan bersama. karena Doni yng selalu pulang larut dan Lana yang selalu menghindari Omnya saat pagi dan memilih sarapan di kantin sekolah.
"Ahh, kenyangnya..." ujar Lana saat ia sudah menyelesaikan makan malamnya, eh bukan makan malam tapi makan tengah malam karena sekarang hampir jam satu malam.
"Lana..." panggil Doni menatap lekat kepinakannya yang duduk bersebrangan dengannya.
Lana yang tadi sedang bersandar di sandaran kursi sambil menutup matanya, melihat ke arah Omnya yang sudah menatapnya sejak tadi bahkan ia tak menyadari jika Doni selalu tersenyum saat ia makan dengan lahap.
"Hmm.." jawab Lana segera mengalihkan pandangannya ke arah lain dengan kedua tangan ia lipat di depan dada.
"Om mau bicara! dan kalo Om sedang bicara maka lihat Om.." ujar Doni tegas.
"Ya udah bicara aja Om, Lana gak budek kok masih bisa dengar.." jawab Lana namun ia masih memandang ke arah lain.
Doni menarik nafanya dalam kemudian menghembuskannya secara perlahan ia mencoba menetralkan rasa kesal dan marahnya agar tak menyakiti keponakannya sendiri.
__ADS_1
"Mulai besok, Setya Om tugaskan mengurus kantor jadi gak bisa menemani kamu dan mulai besok Om yang akan antar jemput kamu. Paham.." ujar Doni kembali tegas. Lana menatap Doni dengan tatapan tajam dan menusuk bahkan Doni juga bisa. melihat tatapan benci dan kesal padanya.
"Terserah..." jawab Lana kemufian beranjak dari duduknya dan meninggalkan Doni yang masih terdiam. di tempatnya melihat sikap Lana yang semakin jauh darinya.
Lana ingin memberontak atas tindakan Omnya yang ingin menjauhkan dia dengan Setya yang sudah ia anggap sebagai Kakaknya, bahkan Setya yang selama ini selalu mendampingi dirinya kala suda dan duka dan sekarang Omnya malah ingin menjauhkan mereka.
"Percuma juga aku menolak, toh tetap saja dia. yang akan berkuasa..." ujar Lana saat ia sudah berada di dalam kamar bahkan ia membanting pintu dengan keras sampai terdengar ke ruang makan di mana Doni berada.
Doni yang tersadar hanya bisa memejamkan matanya, namun entah mengapa ia hanya tak suka jika Lana semakin dekat dengan Setya atau mungkin dengan orang lain selain dirinya.
"Kenapa aku ini, kenapa aku selalu marah jika melihat Lana dekat dengan pria lain! apa?.." monilgnya sambil berfikir, nmun sepersekian detik berikutnya ia menggelengkan kepala atas fikiran yang tak. masuk akal di benknnya kini
"Tidak mungkin, Lana adalah keponakanku dan dia anak dari Kakak.." ucapnya. Ia segera berdiri dan berjalan cepat menuju kamarnya, namun saat ia berada tepat di depan kamar Lana ia mengehntikan langkahnya dan menatap sekilas pintu kmar keponaknnya yang tertutup rapat.
"Om Doni jahat, jahat, jahat.." teriaknya, tanpa sadar jika Omnya mendengar teriakannya yang kuat dari luar.
"Apa aku sejahat itu?" lagi ia bermonolog dengan dirinya sendiri, kemudian meninggalkan kamar Lana.
"Ahh, Ayah, Bunda andai kalian masih di sini pasti Lana gak akan merasa terkekang kayak gini." lirihnya setelah mengambil liontin pemberian Ayahnya juga boneka teddy bear miliknya yang sudah ia bersihkan.
"Lana rindu kalian.." Lana tertidur setelah mengatakan kalimat terakgurnya, karena rasa kantuk yang sudah menguasai dirinya sampai sampai ia tertidur di bawah tempat tidur sambil memeluk kedua benda yang ada dalam gemnggaman juga pelukannya.
Pagi, Lana terbangun dengan badan yang pegal pegal karena semalaman ia tertidur di bawah dengan kaki yang di tekuk.
"Haish, gara gara semalam aku jadi tidur di bawah, mana sakit banget lagi nih kaki.." ujarnya mencoba naik ke tempat tidurnya dan meluruskan kakinya.
Setelah merasa lebih baik, Lana segera masuk kamar mandi untuk membersihkan diri dan setelahnya ia memakai pakaian sekolah dan keluar kamar menuju meja makan.
"Hah, aku jadi gak bisa menghindari Om Doni lagi kalo gini, kan sekarang Om Doni yang nganterin sekolah. Kesel..." monolog Lana saat berjalan menuju meja makan.
Lana melihat sekitarnya dan tak menemukan Omnya di sana, ia segera duduk dan tak memperdulikan itu, Lana segera mengambil sarapannya dan. memakannya dengan cepat.
Doni baru tiba di meja makan dan melihat Lana yang sudah selesai dengan sarapannya, saat ia akan duduk Lana segera bangkit.
"Lana udah selesai, Lana tunggu di mobil.." ucap Lana kemudian berlalu meninggalkan Omnya yang hanya memandangi dirinya.
"Hah.." Doni segera sarapan dan menyusul Lana saat sudah selesai.
Doni masuk ke dalam mobil dan duduk bersebelahan dengan keponakannya yang hanya diam sambil memainkan hpnya tanpa melihat keberadaan dirinya.
"Berhenti bermain hp terus Lana!" ujar Doni menatap Lana. Mendengar ucapan Omnya Lana tetap diam namin tangannya segera. menyimpan hpnya ke dalam tas dan mengalihkan pandangannya keluar jendela menampkkan pepohonan yang ia lewati karena mobil yang mereka naiki sudah melaju cukup kencang.
Hingga sampai ke sekolah Lana tetap diam, tak menyapa ataupun berpamitan pada Omnya. Lana segera masuk ke dalam kelas bersam Rosa yang memang sudah menunggu dirinya.
__ADS_1
"Wey, itu siapa? pacar kamu ya?" tanya Rosa tanpa. menyaring dulu ucapannya. Lana mendelik menatap Rosa kemudian matanya beralih menatap Omnya yang masih di sana dengan kaca mobil yang di buka penuh menampakan wajah tampan dan rupawan.
"Dia Om aku.." jawab Lana segera beranjak dari sana dan meninggalkan Rosa yang masih terpesona dengan ketampanan pria yang di bilang Omnya Lana..
"Om kamu ganteng banget, Pak Peter mah lewat.." ujar Rosa jujur.
"biasa aja." jawab Lana kemudian masuk ke dalam kelas dan duduk dengan nyaman di sana hingga guru mereka masuk.
"Pagi semua..." sapa guru mereka yang baru masuk..
"Pagi Buuuu..." jawab semua siswa termaksud Lana yang sudah kembali ceria saat melihat wajah tenang Bu Misya.
"Baik, kita absen dulu..." kemudian Bu Misya mulai mengabsen semua muridnya hari ini dan memulai pelajaran dengan santai dan tenang membuat para murid merasa nyaman dan paham akan penjelasan darinya.
"An, coba maju sini kamu kerjakan soal ini!" panggil Bu Misya menatap Lana dengan lembut.
Lana segera beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri Bu Misya yang sudah menyambutnya dengan senyuman menenangkan.
Lana mengerjakan soal yang di minta Bu Misya di papan tulis, tanpa kesulitan sedikitpun. Bu Misya sangat kagum dengan kecerdasan yang di miliki Lana ia bahkan samai bertepuk tangan atas jawaban yang telah Lana tulis di sana hingga membuat para siswa lainnya mengikuti Bu Misya.
"Kamu memang sangat pintar An, Ibu sangat bangga denganmu.." ujar Bu Misya. menghampiri Lana yang sudah tersenyum puas karena di puji oleh guru Cantiknya, padahal biasanya Lana tak pernah seperti itu jika guru lain yang memujinya.
"Makasih Bu.." jawab Lana kemudian kembali ke tempatnya setelah di persilahkan oleh Bu Misya.
"Baik pelajaran hari ini cukup sampai sini.." ujar Bu. Misya smbi lmembereskan barang barangnya. juga buku pelajarannya.
"Terima kasih Bu..." ucap semua siswa, Bu Misya hnya tersenyum kemudian berlalu meninggalkan kelas Lana dan menuju kelas lainnya.
Lana masih tersenyum, entah mengapa jika di dekat Bu Misya hatinya selalu bahagia.
"Pagi..." ucap guru pria yang masuk ke kelas Lana.
"Pagi Pak ganteng..." ujar semua siswi perempuan kecuali Lana dan Rosa juga siswa pria. Lana masih membayangkan Bu Misya karena itu ia masih tersenyum hingga senggolan Lengan Rosa menyadarkannya.
Peter yang baru masuk dan melihat Lana tersenyum seketika ikut tersenyum simpul, namun saat melihat perubahan wajah Lana yang sudah kembali seperti biasa ia baru sadar jika gadis itu tak tersenyum kepadanya tapi pada orang lain, dan ia meyakini jika gadis itu pasti sedang tersenyum pada guru wanita yang baru saja keliar dari ruang kelas yang sudah ia masuki...
"Gadia aneh..." fikirnya...
Lanjut up...
Makasih orang baik...
🙏🙏🙏
__ADS_1