
Malam hari di apartemen, Doni dan Lana sedang makan malam bersama setelah beberapa bulan belakangn mereka sama sama saling menghindari satu sama lain, namun Lana yang kini sudah mengetahui identitas Omnya itu berniat ingin memperbaiki hubungan mereka.
"Tumben..." ujar Doni mengerutkan keningnya terus memperhatikan Lana yang baru saja menyelesaikan masakannya dan menata di atas meja makan.
Lana hnya tersenyum. "Kenapa? ada masalah?" tanya Lana setelah ia duduk berhadapan dengan Doni dan menatapnya.
"Tidak-" jawab Doni, ia hanya merasa bingung dengan sikap keponakannya yang tiba tiba berubah sangat hangat padanya. Lana tersenyum membut hati Doni merasa sesuatu yang aneh saat melihat senyuman ity namun segera ia tepiskan karena Lana adalah keponakannya.
"Makan Om, ini spesial but Om Doni.." ujar Lana terus mengembangkan senyuman termanisnya pada Doni yang semkin mengerutkan keningnya tapi juga tak membantah ataupun bertanya lebih lanjut pada keponakannya.
Doni mulai makan begitu Lana, hening tak ada pembicaraan antara keduanya hanya saja terkadang Doni mencuri curi pandang pada Lana yang terlihat sangat menikmati makan malam buatannya sendiri.
"Kenapa Om?" tanya Lana tanpa menoleh saat ia merasa jika Omnya terus saja melirik padanya.
Doni agak gelagapan mendengar oertanyaan Lana yang jelas jika gadis itu tahu kalau ia sedang memperhatikannya. "Tidak ada.." jawab Doni berusaha tenang dan menyelesaikan makan malamnya lebih cepat.
"Pelan oelan aja Om, gak usah buru buru, masakan Lana emang enak dan semu ini but Om kok tenang aja." ucap Lana saat ia melihat Doni yang terlihat sangat buru buru, namun nada candaan di dalam ucapannya.
"uhuk uhuk uhuk..." Doni tersedak makanannya, setelah ia mendengar ucapan Lana barusan.
"Tuh kan. Nih minum dulu!" Lana dengan sigap memberikan air minum pada Omnya yang segera menyambutnya dan menenggak habis air minum di tangannya hingga habis.
"Hah..." Doni merasa lega pada tenggirokkannya, bahkan ia sampai menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. Lana tersenyum melihat ekspresi wajah Doni saat seperti itu terkihat sangat lucu tapi juga tetap terkihat tampan di matanya.
"Om kenapa! dari tadi lihatin Lana?" tanya Lana setelah merasa Omnya itu sudah lebih baik, ia bahkan memberikan tatapan menyelidik.
Doni masih berusaha aetenabg mungkin. "Tidak, hanya saja Om merasa agak aneh dengan sikapmu ini." jawab Doni.
"Benarkah?" tanya Lana lagi, ia tersenyum miring dan terus menatap Doni yang terlihat tetap tenang dengan posisi menyandar di sandaran kursi makan.
__ADS_1
"Hmm." Doni hnya berdehem dan membalas tatapan Lana. Tatapan keduanya semakin dalam, hingga beberapa detik namun dengan segera Doni mengalihkan pandangannya ke arah lain dan segwra beranjak dari sana. Lana masih diam dengan senyumannya, ia hanya memperhatikan Om Doni yang mulai berdiri dan hendak meninggalkannya hingga beberapa langkah Lana baru membuka mulutnya dan membuat Doni menghentikan langkannya dan berbalik menatap Keponakannya.
"Lana ingin segera menyelesaikan segalanya Om!" ujar Lana matanya menatap Doni yang masih memunggunginya.
"Lana ingin segera mengakhiri segalanya, secepatnya!" lanjut Lana, Doni berbalik ia melihat keponakannya yang sudah menjatuhkan air mata di hadapannya walaupun hanya beberapa tetes, untuk pertama kali setelah kepergian orang tuannya juga latihan yang berat saat ia melatihnya dulu.
"Lana sudah cukup lelah, dan ingin hidup dengan damai." ujar Lana menundukkan pandngannya, ia menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi makan.
"Sampau kapan kita akan terus bersembunyi dan merahasiakan identitas kita yang sebenarnya!" lanjutnya kini ia kembali menatap Doni yang masih diam dan berdiri di hadapannya.
Terdenganr helaan nafas berat dari Doni, ia juga sudah lelah. "Secepatnya kita akan mengakhiri kejahatan paman Erick. Om berjanji padamu Lana!" ucap Doni oenuh dengan keyakinan, ia juga menatap Lana yang sudah tersenyum tipis mendengar perkataan Omnya.
"Lan tunggu Om, jangan kecewakan Lana." ujar Lana ia juga bangkit dari duduk nya dan berjalan mendekati Omnya yang masih berdiri di tempatnya hingga hadis itu sudah tepat di depannya.
"Jika Om berhasil, Lana akan memberikan sesuatu buat Om Doni, dan mungkin tak akan ernah Om. lupakan seumur hidup." ucap Lana dengan senyum tipis, terus menatap mata Doni yang terlihat menyipit juga kedua alisnya yang saling menaut mendengar ucapan Keponakannya yang kini berdiri begitu dekat dengannya.
"Ada apa ini Lana! kau merencanakan sesuatu?" tanya Doni merasa curiga pada keponakannya.
cup...
Satu kecupan Doni terima dari Lana di pipinya. Doni membulatkan matanya sempurna setelah merasakan kecupan singkat di pipinya.
"Makasih Om.." ujar Lana sedikit berbisik pada Doni yang masih terdiam terpaku atas perlakuan keponakannya itu.
Lana tersenyum simpul, ia sedang bahagia saat ini di tambah lagi kebenaran Doni yang ternyata bukanlah Omnya. Lana segera pergi dan masuk ke dalam. kamarnya.
"I-ini.." gumam Doni memegang pipinya dengan deru nafas tak karuan juga jangan lupakan jantung Doni yang berdetak sangat cepat seolah akan keluar dari dalam sana.
Doni berbalik, ia masih memegang pipinya yang baru saja mendapatkan kecupan manis dari sang keponakan. Ia menatap pintu kamar Lana yang baru saja tertutup setelah pemiliknya masuk.
__ADS_1
"Gadis ini, lama lama akan membuat aku gila." lirihnya, ia juga segera kembali ke kamarnya.
"Ah, ****. Kalau seperti ini terus lama lama aku bisa kalap sama keponakanku sendiri. Sial.." umpatnya, ia mulai merasa semakin tak nyaman, apalagi dengan sikap Lana barusan membuat ia semakin gelisah.
"Oh, Kakak! kenapa harus Lana yang menjadi putri kalian." lirih Doni menatap langit langit kamarnya dan merebahkan tubuhnya di atas kasur yang berukuran jumbo.
Doni kembali memegang pipinya, tanpa sadar senyuman kecil terpaut di bibir merah muda alaminya. "Sangat lembut.." gumamnya masih tersenyum dan mengelus elus pipinya.
"Astaga, apa yang aku.." ujarnya setelah sadar dengan yang baru saja ia ucapkan.
"Arggggghh, sial." umpatnya lagi semakin kesal. Doni kembali duduk di atas kasur, ia mengambil sesuatu dari dalam laci di dekat tempat tidur.
"Kak.." Doni menatap selembar foto yang memperlihatkan seorang pria muda dan tampan sedang melatih anak kecil seusia Lana hanya saja anak kecil itu seirang pria dan tak kalah tampan dengan pria yang lebih besar darinya.
"Maaf, aku harus menyukai anakmu yang juga keponakanku sendiri!" lirihnya menatap sendu pada foto itu yang ternyata adalah foto Ayah Lana juga dirinya yang masih kecil saat itu dan sedang berlatih pedang bersama Kakaknya.
"Tapi, siapa yang tahu! hati ini justru memilih putrimu untuk di cintai, dan aku tak bisa berbuat apapun." lanjutnya, ia mengusap foto di bagian wajah Kakaknya.
"Tapi, aku berjanji tak akan menyakitinya dan akan terus menjaganya. Hanya saja...." ucapan Foni menggantung, ia mengangkat sedikit wajahnya dan mengalihkan pandangannya ke arah samping.
"Hanya saja, tolong bantu aku untuk tetap menjaga perasaan ini agar tak semakin dalam mencintainya.." Doni memejamkan matanya, karena ia merasa berat saat mengatakan hal itu yang jelas jelas jika ia sudah tahu akan perasaannya pada Lana bukan sekedar perasaan sayang terhadap keponakannya tapi sayang dan cinta sebagai seorang pria kepada seorang wanita.
"Hahhh..." Helaan nafas berat kembali terdengar. Doni kembali berbaring telentang dan meletakkan foto kecil itu ke atas dadanya dengan kedua tangan yang ia letakkan di atas foto.
"Bantu aku Kak, aku tak bisa melakukan apapun tanpamu!" gumamnya, mata Doni mulai terpejam karena rasa kantuk yang mulai mendera juga rasa lelah yang ia rasakan membuat pria tampan itu tertidur dengan memeluk foto sang Kakak dan perasaan campur aduk kayak es campur.
Lana sendiri, ia sudah terlelap dengan wajah bahagia juga senyuman yang terpaut di bibir mungil dan imutnya.
Lanjut up Kak...
__ADS_1
Makasih orang baik...
😊🙏🙏