
"Huaammmmm..." Lana terbangun sedikit agak siang dari biasanya. Ia segera beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya dan bersiap ke sekolah seperti biasa.
Selama Lana bersiap senyumannha tak pernah hilang dari bibir imutnya, bahkan sejak baru bangunpun ia sudah tersenyum.
"Pagi Om.." sapa Lana, Doni hanya tersenyum kikuk karen kembali mengingat kecupan singkat dari keponakannya.
"Waah, Om Doni masaka?" tanya Lana menatap nasi goreng bakso di atas meja makan sekilas lalu menatap Doni yang mengangguk juga tersenyum tipis saat melihat keponakannya yang kini sudah bersikap ramah tamah padanya.
"Keknya enak nih!" Lana segera duduk dan mulai menyantap nasi goreng miliknya. Sejenak Lana meresapi nasi goreng buatan Om Doni, ia bahkan memejamkan mata dan membukanya perlahan hingga beberapa kali sampai akhirnya ia membuka matanya dan menatap Doni yang masih memperhagikan keponakannya yang berbeda.
"Enak..." puji Lana, dan mulai menikmati sarapannya dengan nikmat. Om Doni kembali tersenyum, ia juga segera makan sarapannya yang sudah ia buat dengan penuh cinta.
"Lana berangkat Om!" ujar Lana yang hendak membuka pintu namun tangan kecilnya segera di tahan oleh tangan Doni. Lana menoleh pada Doni yang jaraknya begitu dekat dengannya, tatapan mereka bertemu dan saling mengunci dengan posisi yang sangat dekat.
"Om antar.." ujar Doni setelah ia tersadar dan hampir mencium bibir keponakannya yang sangat menggoda dirinya.
"Tapi-" Doni kembali menatap Lana, ia hanya tak ingin ada oenolakan dari keponakannya itu.
"Gak mau?" tanya Doni, Lana menggeleng namun juga mengangguk membuat Doni mengerutkan keningnya.
"Ah! maksud Lana mau tapi Kak Arin udah nunggu di mobil." Lana mencoba menjelaskan dan Doni tersenyum tipis karena ternyata keponakannya tidak menolak permintaannya.
"Kamu ikut mobil Om, dan Arin akan ikutin kita di belakang karena Om juga gak bisa jemput kamu nanti." ucap Doni, Lana hanya mengangguk setuju.
Doni membuka pintu dan keluar dari sana di ikuti Lana yang berjalan di belakangnya. Mereka terlihat seperti Ayah dan Anak saja, yang satu pria dewasa yang tampan dan berkarisma dan yang satu lagi gadis muda yang sangan manis dan imut memakai seragam sekolah.
"Lan.." panggil Om Doni saat mereka berada di dalam lift berdua dan berdiri berdampingan.
"Ummm.." jawab Lana menoleh pada Om Doni dan sedikit mendongak karena Omnya itu lebih tinggi darinya, sedang dirinya hanya sebatas dada Doni.
"Kamu merahasiakan sesuatu dati Om?" tanya Doni namun ia masih menatap pintu lift dan belum menoleh pada Lana yang sejak tadi menatapnya.
Lana mengerutkan keningnya. "Kenapa?" tanya Lana
Doni menoleh pada Lana dan melihat gadis itu sedang menatapnya.
"Om merasa ada yang sedang Lana sembunyikan dari Om!" ungkap Doni juga menatp ke arah Lana.
"Hmmmmm, Om benar!" jawab Lana, ia tersenyum tipis namun masih terlihat di pandangan Doni meskipun sedikit tertutupi oleh rambut Lana yang hari itu sengaja di biarkan tergerai dan di beri dua jepit kecil di sisi kanan dan kirinya.
"Tapi belum saatnya Om tahu, jika sudah waktunya Om akan tahu sendiri." lanjutnya, bertepatan dengan itu pintu lift terbuka dan Lana segera keluar lebih dulu meninggalkan Doni yang masih diam di dalam lift.
"Om.." panggil Lana yang sudah agak jauh dari lift dan memutar balik badannya untuk melihat Om Doni yang ternyata masih berada di dalam lift.
Doni terperanjat, ia segera menyadarkan dirinya dan keluar dari lift berjalan mendekati keponakannya yang tersenyum simpul melihat Omnya itu.
"Om kenapa?" ganya Lana saat Om Doni sudah di hadapannya, namun Doni hanya menggeleng dan berjalan menuju mobilnya.
Doni membiarkan Lana masuk lebih dulu setelahnya barulah ia juga mashk dan duduk do samping keponakannya yang meresahkan hatinya. Arin juga sudah di beritahu dan akan mengikuti mobil mereka di belakang hingga ke sekolah Lana.
Setengah perjalanan suasana di dalam mobil masih jening, hingga Doni melirik sekilas pada Lana dan kembali mempertanyakan maksud dari keponakannya saat di lift.
"Kenapa harus nanti! bukan sekarang?" tanya Doni. Lana yang sejak tadi sibuk berbalas pesan menoleh dan menatap Doni.
__ADS_1
"Haishh, kenapa sekarang Om jadi sangat kepo ya!" ucap Lana dengan wajah malasnya.
"Karena kamu lebih suka merahasiakan sesuatu dari Om sekarang!" ujar Doni, Lana lagi lagi tersenyum ia mengalihkan pandangannya ke arah jendela di sampingnya.
"Ya, mungkin karena Lana sudah sedikit dewasa.." jawab Lana semakin mempelebar senyumannya, tapi Doni tak bisa melihat senyuman Lana sepenuhnha karena gadis itu sedang duduk miring hingga hanya sebagian wajahnya saja yang terlihat.
Doni tak lagi bergeming, ia kembali diam hingga mobilnya berhenti tepat di depan gedung sekolah Lana.
"Makasih Om, dahhh..." ujar Lana dengan senyuman termanisnya, ia juga melambaikn tangan saaf akan memasuki gedung bertingkat bersama Rosa dan Crish yang sudah menghampiri dirinya.
Doni tetap diam dan tak membalas lambaian tangan Lana yang singkat saja. Doni hanya memperhatikan keponakannya yang semakin jauh dan kemudian menghilang dari pandangannya.
Mobil Fonipun kembali meninggalkan sekolah Lana dan menuju ke kantor.
"Apa yang gadis itu rahasiakan dariku?" pikir Doni masih mengingat perkataan keponakannya saat di dalam lift.
"Arggh, gadis itu semakin dewasa semakin membuat hatiku tak nyaman saja.." lanjutnya, ia menyandarkan punggungnya di sandaran kursi mobil dengan tangannya yang menekan di bagian pelipisnya yang terasa agak sakit karena terlalu keras berfikir.
"Anda tidak apa apa Tuan?" tanya Supir pribadi Doni yang agak khawatir dengan kondisi Tuannya yang sejak tadi merasa gelisah.
"Umm..." jawab Doni tetap pada posisinya, dan sang supirpun tak. lagi bertanya namun sesekali melirik Doni dari kaca di atas kepalanya.
Doni segera masuk ke dalam kantor dan hendak menuju ruangannya, namun saat akan memasuki lift langkahnya terhenti karena melihat pria yang tidak ia kenal sudah berdiri di dalam lift khusus untuknya, namun Doni kembali melangkah dan tetap. memasuki lift yang sama dengan pria muda di hadapannya.
"Anda Tuan Doni?" tanya Pria itu yang kini sudah berdiri berdampingan dengan Doni.
Doni mengerutkan keningnya dan menatap pada orang di sampingnya.
"Cukup lama, dan Anda akhirnya kembali membawa orang yang sangat penting bagi keluarga Anda rupanya!" perkataan pria muda itu semakin membuat Doni memperdalam kerutan di keningnya. Doni menggeser tubuhnya dan menghadap pada pria muda yang juga melakukan hal yang sama dengannya, kini mereka sudah saling berhadapan dan saling menatap sagu sama lain.
"Anda yang sudah membawa Lana dan menyembunyikannya selama ini!" ujar pria itu. Doni sangat terkejut karena ada orang lain yang mengetahui rahasia identitas mereka, namun ia berusaha agar tetap terlihat tenang meskipun Doni cukup mewaspadai orang di hadapannya.
"Siapa kau?" tanya Doni menatap tajam pada pria itu, namun bukannya takut pria muda itu justru tersenyum tipis.
"Anda tak akan mengenaliku Tuan, tapi keponakan Anda sangat mengenal diriku.." jawabnya.
"Bahkan kami cukup dekat dulu, sebelum akhirnya kami harus terpisahkan karena dirimu yang tiba tiba membawanya pergi dan menghilang selama bertahun tahun." lanjutnya ekspresi wajahnya berubah saat ia mengatakan hal itu dan kembali mengingat perpisahan antara keduanya.
"Tapi!"
"Terima kasih, jika Tuan tidak membawanya mungkin saja ia juga akan mati bersama dengan orang tuanya dan aku tidak akan pernah bisa memaafkan diriku sendiri." lanjutnya. Doni masih diam ia mendengarkan semua perkataan orang yang berdiri di hadapannya dan tanpa ragu mengatakan apa yang ada di isi hatinya juga kepalanya.
"Sekarang, biarkan aku yang menjaganya Tuan!" ujar pria muda itu menatap Doni seolah meminta restu kepadanya untuk memberikan keponakannya kepada pria itu.
Doni kembali mengerutkan keningnya, bahkan kedua alisnyapun saling bertautan ekspresi wajah Doni tak bisa di tebak.
"Siapa kau! hingga aku harus merelakan Lana padamu?" tanya Doni, ia masih berusaha tenang meskipun saat ini ia sangat ingin marah dan memukul pria di hadapannya. Dalam benak Doni, enak saja dia meminta orang yang ia cintai!
"Aku adalah Farid, pria yang sejak dulu mencintai Lana kenponakan And dan bahkan kedua orang tuanyapun tahu akan hubungan kami yang sangat dekat dulu." jawab Farid tanpa ragu. Doni kembali terkejut, kali ini rasa terkejutnya tak bisa di tutupi.
"Apa Lana juga menyukaimu?" tanya Doni setelah ia berusaha kembali tenang.
Farid terdiam sesaat, ia juga ragu dengan perasaan Lana padanya namun ia juga yakin jika gadis itu memiliki perasaan yang sama seperti dirinya.
__ADS_1
"Akan aku tanyakan! tapi jika dia benar benar menyukaiku apakah Anda akan merelakannya untukku Tuan?" tanya Farid.
"Hmm, aku akan membiarkan Lana memilih jalannya sendiri juga kehidupannya karena aku hanyalah Omnya dan bukan Ayahnya.." jawab Doni dengan santai, membuat senyuman Farid terukir di bibirnya.
Farid segera keluar dari dalam lift setelah pintu terbuka lebar, ia juga sedikit menundukkan wajahnya memberi hormat pada Doni lalu bergegas masuk ke dalam lift yang lain.
Doni yang kini sudah berada di dalam ruangannya dan tengan duduk bersandar dengan mata terpejam juga menghadapa ke arah jendela kaca besar yang terpampang jelas di hadapannya. Ia masih memikirkan ucapan pria muda yang ia tahu bernama Farid.
"Arggghh, ****." umpatnya, melempar satu fas bunga kecil yang ada di atas meja kerjanya. Tatapannya sangat tajam, bahkan ia juga mengeluarkan tatapan membunuh yang besar.
"Sial..." umpatnya lagi, ia berdiri dan berjalan ke arah jendela kaca lalu berdiri tegap di sana sambil menatap jalanan jjga gedung bdrtingkat di hadapannya.
"Aku bahkan merasa terbakar saat melihat Lana bersama Setya! dan sekarang pria itu datang dan meminta gadisku!" gumamnya, ia tersenyum sinis.
"Tapi, bagaimana jika Lana juga menyukainya! bukankah aku memang harus melepaskannya?" pikir Doni.
"Arghh, sial. kenapa dia harus terlahir menjadi keponakanku bukan kekasihku saja.." Doni sangat kesal dan marah, kesal kenapa harus ia yang menjadi Omnya dan marah karena ternyata ada begitu banyak pria yang menyukai keponakannya dan dia tak bisa menahan gadis itu untuk tetap bersamanya.
"Lana..." lirihnya, kedua tangannya terkepal.
"Maaf, tapi sepertinya Omnya tak bisa melepaskan dirimu dan hidup dengan pria lain." ujarnya.
Kekesalan Doni, ia lampiaskan dengan memukul jendela kaca di hadapannya hingga membuat tangannya terluka dan mengeluarkan darah cukup banyak, namun Doni bukannya merasa sakit justru ia tersenyum masam karena lagi lagi ia harus di sadarkan dengan kenyataan jika dirinya dan Lana adalah Om dan juga keponakan dan mustahil untuk bisa bersama.
"Arghhhhhh...." Doni kembali menghantamkan kepalan tangannya ke arah jendela kaca yang belum pecah karena kaca itu memang kaca khusu dan sangat mahal tentunya.
Setya yang memang ingin menemui Tuan Doni mendengar suara keras dari dalam dan ia tanpa ragu segera masuk dan melihat Tuannya yang trrlihat sangat kesal dan marah.
Setya hendak keluar lagi, namun saat matanya beralih pada tangan Doni yang sudah mengeluarkan darah cukup banyak, ia segera berlalri medekati Tuannya dan mengambil kotak obat untuk mengobati luka Tuan Mudanya itu.
"Tuan! Anda!" ujar Setya
Doni hanya diam, ia tak mengatakan apapun pada Setya yang kini sedang mengobati luka di tangannya, tatapannya tetap mengarah pada jendela kaca yang masih utuh tanpa retakan sedikitpun padahal tadi ia sudah memukulnya dengan sekuat tenaga untuk melampiaskan kekesalannya, hanya tangannyalah yang justru terluka hingga mengeluarkan darah bahkan sampai meninggalkan bekasnya di hendela kaca itu.
"Tuan!" panggil Setya menatap Doni, kini ia sudah selesai dengan tangan Doni.
"Keluarlah, dan tetima kasih.." ucap Doni mengalihkan pandangannya dari Setya yang menatap Tuannya khawatir, namun Setya juga tak bisa membantah dan dengan keraguan ia meninggalkan Tuannga itu.
"Permisi Tuan..." ucap Setya membungkukkan sebagian tubuhnya memberi hormat pada Doni yang hanya melambaikan tangannya yang kini sudah terbalut perban.
Sstya keluar dengan rasa cemasnya pada sang Tuan Muda, sedangkan Doni menatap tangannya dan tersenyum masam.
"Bodoh!" umpatan itu ia berikan untuk dirinya sendiri.
"Lagi lagi aku harus kecewa. karena wanita!" gumamnya senyumannga semakin masam, kemudian tergantikan dengan tatapan tajam dan senyum sinis.
lanjut up...
Mas Farid mentalnya kuat banget demi si Lana manis, sampe datengin Omnya lagi trus mintak restu.😀
Makasih orang baik masih setia baca...
😊🙏🙏
__ADS_1