
Doni dan Lana hanya saling tatap dalam keheningan setelah mereka berdua menjauh dari Arin juga Setya.
"Jadi, Om mau bicara apa?" tanya Lana membuka suara. Doni semakin dalam menatap Lana.
"Sejak kapan kamu tahu Lan?" Doni balik bertanya, ia menatap Lana seksama mengunci mata Lana dengan matanya.
"Apa?" Lana tak mengerti, ia tak menjawab.
"Aku yang bukan Tuan Muda keluarga Angkara!" jawab Doni.
"Itu, hmmm." Lana bingung sendiri.
"Sejak kita berciuman! apa kamu sudah tahu Lan?" tanya Doni, tentu saja Lana mengangguk meski malu tapi tak mungkin ia berbohong bukan.
Doni mengerutkan keningnya. "Saat itu kamu gak nolak! kenapa?" Doni terus memojokkan Lana yang semakin malu, namun tetap berusaha tenang.
"Entah, tapi Lana juga bingung gimana caranya mau nolak sebab itu juga pertama bagi Lana.." jawab Lana sedikit bohong meskioun selebihnya adalah kejujuran.
"Hanya itu?" Doni maju dua langkah hingga jarak anatara dirinya dengan Lana sangat dekat, jika maju selangkah saja lagi maka di pastika ciuman ketiga mereka akan terjadi.
"Apa yang Om harapkan?" Lana yang guguo namun tetap berusaha tenangpun berusaha memancing Doni, ia menatap Doni dengn tatapan penuh arti.
"Banyak!" jawab Doni, kini wajahnya di dekatkan pada wajah Lana namun gadis itu sama sekali tak menghindari.
"Bagaimana dengan ciuman yang kedua?" tanya Doni, sekarang tangan kekarnya sudah merangkul pinggang Lana yang diam mematung atas perlakuan Doni. Susah payah Lana menelan salivanya yang terasa kering, namun dengan cepat pula ia merubah wajahnya agar tetap tenang setenang mungkin.
Lana tersenyum miring, juga kepalanya yang ia miringkan sedikit tapi tetap menatap Doni yang mengerutkan keningnya. "Jika ingin mengatakan sesuatu katakan saja, sangat terlalu berbelit belit." ucap Lana, ia yang sudah berada dalam genggaman Doni tak berniat untuk menjauh tapi semakin mendekatkan tubuhnya pada Doni yang malah gugup sendiri.
"Kau belum menjawab oertanyaan Om Lana!" ujar Doni serius, ia semakin mengeratkan rangkulannya pada pinggang Lana hingga gadis itu semakin menempel di tubuhnya.
__ADS_1
Lana kembali tersenyum miring, ia menunduk sambil menggelengkan kepalanya pelan.
"Om tahu jawabannya, tapi tetap saja bertanya!" ucap Lana, ia kembali mengangkat kepalanya dan menatap lekat Doni. Sekian detik mereka saling tatap dan mengunci, hingga Lana memberanikan diri untuk mencium Doni walau hanya sekilas.
Dini yang terkejut atas tindakan Lana yang tiba tiba tak mampu berkata, ia hnya menatap Lana dengan tatapan penuh tanya dengan maksud dari ciuman gadis itu.
Lana kembali tersenyun tipis melihat tatapan Doni juga wajah terkejutnya. "Sekarang bagaiamana?" tanya Lana dengan wajah polos dan lugu.
"Om gak paham Lan, dengan sikap kamu yang tiba tiba berubah juga ciuman kamu barusan!" ujar Doni.
"Ck! Om Doni bodoh.." cercar Lana, dengan kasar ia melepaskan dirinya dari Doni yang tak ounya kesiapan hingga tangannya terlepas dari pinggan Lana yang sudah mundur hingga beberapa langkah membuat jarak cukup jauh.
Doni menautkan kedua alisnya menatap Lana yang sudah ngambek, dan ia jelas tak tahu mengapa gadis itu sampai sekesal itu padanya.
"Lana..." panggil Doni, namun Lana sama sekali tak ingin menoleh dan menatap padanya gadis itu melipat kedua tangannya di depan dada dengan wajah yang di tekuk.
"Lan.." Doni kembali memanggilnya namun Lana tetap tak bergeming dan masih membuang muka ke arah lain. Doni hendak mendekati Lana namun dengan cepat Lana mundur.
"Jauh jauh dari Lana, dan sebelum Om tahu jawabannya jangan temui Lana karena Lana gak mau ketemu Om..." ucap Lana penuh ketegasan, ia sangat kesal karena Doni masih belum memahami perasaannya, dan gak mungkinlah ia mengatakannya lebih dulu.
"Tapi-" belum sempat Doni menyelesaikan ucapannya, Lana sudah beranjak dari sana dan menajuh darinya. Doni tak tinggal diam, ia berusaha mengejar Lana dan meminta penjelasan dari gadis yang sudah bersamanya selama bertahun tahun belakangan ini sebagai keponakan hingga rasa cinta justru tumbuh di hatinya untuk Lana.
"Dasar bodoh, bego, gitu aja gak paham!" rutu Lana, ia sangat kesal sesekali ia melirik ke arah belakang di mana Doni yang masih mengejarnya hingga mereka sampai di temoat Arin dan Setya yang sudah menunggu keduanya sejak satu jam tadi.
"Nona, Tu...." ucapan Setya dan Arin terputus, mereka saling pandang karena bingung untuk memanggil Doni sekarang sedang mereka sudah tahu akan status Fini yang bukan lagi Tuan Muda di keluarga Angkara meskipun Doni juga sudah memiliki perusahaan sendiri yang sudah ia kelola sejak beberapa tahun belakangan ini meskioun tak sehebat dan sebesar milik keluarga Angkara bahkan masih tak sebanding dengan keluarag Dirgantara keluarga Diego.
"Tuan Doni..." ucap Lana menatap tegas pada Arin juga Setya yang segera mengangguk mengerti.
"Tuan Doni..." sapa mereka kemudian. Doni hanya tersenyum tipis.
__ADS_1
"Mulai hari ini, kamu bukan lagi pengikutku Setya karena aku bukanlah Tuan Muda keluarga Angkara." ucap Doni, ia menepuk pundak Setya yang segera mengangkat kepalanya dan menggeleng dengan cepat.
"Tidak Tuan, izinkan saya untuk tetap bersama dengan Anda namun saya akan tetap setia pada keluarga Angkara." ucap Setya, ia sudah sangat suka bersama dengan Tuannya.
"Tidak masalah.." ujar Lana tersenyum hangat menatap Setya yang ikut tersenyum, sedng Doni sedikit agak tak suka saat melihat Lana yang tersenyum manis pada pria lain.
"Baiklah, jika itu yang kau inginkan Setya." ucap Doni menerima kembali Setya untuk tetap menjadi Asistennya.
"Terima kasih Tuan.." ucap Setya tulus, ia sedikit menunduk untuk memberi hormatnya. Dobi hanya menepuk pundak Setya yang segera mengangkat kepalanya kembali.
Doni beralih menatap Lana yang sedang berbicara dengan Arin dan sesekali tersenyum, bahkan gadis itu terlihat biasa saja seolah tak terjadi apapun pada mereka, namun satu yang pasti Lana tak pernah melihat ke arahnya atau sekedar meliriknyapun tidqk sama sekali.
"Dia benar benar marah kah?" gumam Doni terus menatap Lana yang semakin asik berbicara dengan Arin yang terlihat sangat sungkan, secara Lana Nona Mudanya.
"Tuan mengatakan susatu?" tanya Setya yang masih berdiri di samoung Doni.
"Tidak. aku akan kembali ke dalam saja." ucap Doni dan Setya hanya mengangguk sambil menundukkan wajahnya memberi hormat sampai Tuannya itu semakin jauh. Iapun ikut bergabung dengan Lana juga Arin yang masih asik bicara walaupun di dominan oleh Lana.
"Kak Setya sini gabung!" ajak Lana sambil menepuk sisi kirinya agar Setya duduk di sana. Dengan ragu ragu Setya mengikuti perintah Lana dan duduk di sana dengan perasaan canggung.
Mereka bertiga nampak sangat bahagia dengan Lana yang terus bercerita bahkan sampai tertawa membuat Arin dan Setya ikut tertawa.
Tak jauh dari tempat mereka mengobroo santai, Doni yang sudah kembali ke kediaman Paman Ragil tengah duduk di salah satu kamar dekat jendela dan sialnya, arah jendela itu tepat menghadap di mana Lana sedang terawa bersama Arin juga Setya membuat darahnya seakan mendidih.
"Lana, kau benar benar menyebalkan ya!" gumam Doni kesal, ia mengepalkan tangannya menatap tajam ke arah Lana yang masih setia dengan tawanya.
"Tunggu saja!" ujarnya kesal dan segera berlalu dari sana menuju kamar mandi, karena rasa gerah dan panas mulai menyelimuti tubuhnya setelah melihat Lana yang sedang tertawa bersama pria lain di sisinya meskipun masih ada Arin juga di sana.
Lanjut....
__ADS_1
Makasih dan maaf baru up lagi...
😊🙏🙏