
"Mau kemana? bukan kah seharusnya kalian menikmati jamuan dari ku para tamu tak di undang!" suara seorang pria di belakang mereka mengagetkan mereka semua dan sontak saja Setya juga Doni merasa panik dan khawatirkan akan yang terjadi nanti.
Lana menoleh ke arah belakang nya dan melihat siapa orang yang telah menyakiti kekasih juga Setya.
"Kau-" Lana tak mampu berkata setelah melihat siapa yang ia lihat saat ini.
"Halo Baby..." ujar pria itu dengan senyum mirk nya
Darah Lana semakin mendidih saat melihat siapa dalang di balik penyiksaan Doni juga Setya, ia semakin membenci orang di hadapan nya kini.
"Kalian pergi lah dan bawak Om Doni dari sini, dan juga Kak Setya..." ucap Lana memberi perintah pada Arin juga salah satu keercayaan nya.
"Tapi Nona-" Arin menghentikan ucapan nya saat melihat tatapan tajam dari Lana.
"Pergi, dan jangan membantah..." ucap Lana tegas
Doni dan Setya menggeleng tak setuju bahkan Doni menggenggam tangan Lana dengan erat.
"Aku akan kembali..." ujar Lana lembut, ia pun memukul bagian belakang leher Doni hingga pria itu pingsan dan segera di bawa oleh kepercayaan Lana
"Pergi sekarang..." ucap Lana kembali menatap Arin juga Setya yang terpaksa ia buat tak sadarkan diri juga agar tak membantah ucapan nya.
"Ba-baik Nona..." jawab Arin ragu untuk meninggalkan Nona Muda nya sendirian di sana bahkan seluruh anak buah nya pun di suruh pergi tanpa ada yang menemani nya di sana.
Setelah kepergian Doni juga yang lain nya, Lana dengan santai kembali menaiki anak tangga menuju lantai atas di mana pria tampan yang terus menatap nya sedang berdiri.
"Ikuti aku..." ucap Pria itu saat Lana sudah berdiri tepat di hadapan nya.
Lana hanya diam saja dengan mata yang menunjukkan kebencian yang mendalam, ia mengikuti langkah pria itu dan masuk ke sebuah ruangan yang cukup besar.
Lana masih diam dengan memperhatikan ruangan yang baru saja ia masuki. Ada meja makan mewah juga hidangan mewah di sana bahkan ada pelayan yang berdiri di setiap sudut ruangan.
"Duduklah, kita nikmati hidangan malam ini sebelum sesuatu terjadi..." ucap Pria itu yang lebih dulu duduk dan tersenyum miring ke arah Lana.
Lana duduk dengan tenang tepat di hadapan pria yang terus menatap nya. 'Racun...' batin Lana saat mencium aroma yang sangat familiar dari makanan yang terhidang di hadapan nya.
"Kenapa?" tanya pria itu dengan wajah polos
Lana tersenyum tipis kemudian menggelengkan kepala nya agar pria di hadapan nya tak curiga jika sebenar nya ia sudah tahu kalau di hidangan nya itu terdapat racun yang mematikan.
"Nikmatilah.." ucap pria itu kembali tersenyum miring
"Siapa kau sebenarnya?" tanya Lana tanpa memggubris ucapan pria itu
"Aku! kau tahu aku siapa bukan!" jawab nya dengan menyandarkan punggung nya di sandaran kursi
__ADS_1
"Tidak.." jawab Lana juga melakukan hal yang sma membuat pria tampan itu nerasa kesal.
"Aku Hendrik, dan bukan kah kita adalah teman masa kecil Baby! apa kau juga melupakan itu?" tanya nya dengan wajah seolah olah sedih
Lana tersenyum. "Benar, bagaimana aki bisa melupakan hal itu..." jawab Lana masih tenang
"Lalu, apa yang kau inginkan?" lanjut Lana kembali menatap tajam ke arah Hendrik
"Kau, aku hanya menginginkan diri mu..." jawab nya serius tanpa ada nya senyuman lagi
"Aku! kenapa? apa kau ingin menikah denganku Kak Hendrik yang terhormat?" tanya Lana dengan senyum mengejek.
"Ah, aku rasa tidak karena kita sama sama tahu jika kau dan aku adalah saudara bukan!" lanjut Lana tak memberi kesempatan pada Hendrik bicara.
"Berhenti bicara dan nikmati saja hidangan nya..." ucap Hendrik yang mulai tersulut emosi.
Lana semakin tersenyum, ia sangat mengenal Hendrik yang memang sangat mudah marah dan ini akan menjadi peluang bagi nya.
"Kenapa! ini pertemuan pertama kita setelah puluhan tahun tak bertemu bukan! dan aku yakin kau pasti sangat merindukan aku Kak Hendrik sayang..." ucap Lana terus memancing kemarahan Hendrik yang kesabaran nya setipis tissu.
Hendrik memejamkan mata nya, ia menghentikan gerakan tangan nya yang hendak menyuapi satu potong steak ke dalam mulut nya.
"Berhenti bermain main dengan ku gadis sialan..." ucap Hendrik menatap tajam ke arah Lana yang bukan nya takit tapi justru semakin memperlebar senyuman nya.
"Oh hooo, jangan marah Kak nanti kau tidak terlihat tampan lagi..." ujar Lana semakin memancing
"Umm, ini sangat enak kau begitu mengenal diriku rupa nya Kak..." ujar Lana memuji minuman yang baru saja ia tenggak meski sebenar nya tak benar benar ia minum.
Hendrik tersenyum puas, ia tahu meski hanya sedikit akan tetapi efek dari racun itu akan sangat berbahaya bagi yang meminum nya.
Hendrik kembali menyandarkan punggung nya dengan hati yang bahagia, ia menatap intens pada Lana.
"Ada apa? apa sekarang kau benar benar telah jatuh hati padaku? hmm...." tanya Lana dengan nada menggoda namun terdengar menjengkelkan bagi Hendrik.
"Jangan pernah bermimpi aku menyukai mu gadis bodoh." jawab Hendrik
"Lalu!" Lana memasang wajah polos nya
"Aku hanya ingin berterimakasih padamu, karena telah menghabisi tua bangka itu dan sekarang aku akan hodup damai tanpa bayang bayang diri nya..." ucap Hendrik, dan kali ini ucapan nya adalah kebenaran karena selama ini ia harus bersembunyi atas perintah Erick agar tak ada yang tahu jika diri nya memiliki cucu yang tak di inginkan.
"Ah, tak masalah aku juga sangat tak menyukai pria tua bangka itu jadi aku juga di untungkan..." jawab Lana masih berusaha sedantai mungkin meskipun ia mulai merasa tak nyaman sebab air yang ia minum tadi ternyata sedikit tertelan oleh nya
"Baiklah, kau boleh pergi dan nikmatilah hidup mu itu..." ucap Hendrik dengan begitu tenang dan senyum yang mengembang.
Lana masih berusaha menahan rasa sakit yang mulai di timbulkan, ia juga memberikan senyuman termanisnya kemudian beranjak dari sana.
__ADS_1
"Baiklah, aku pergi dan semoga hari mu menyenangkan Kakak..." jawab Lana kembali tersenyum.
Perlahan Lana mulai berjalan dengan anggun keluar dari sana meninggal Hendrik yang kemudian tertawa bahagia karena ia yakin jika gadis itu pasti akan segera tiada.
"Pada akhir nya aku yang akan menjadi pemenang nya. ha ha ha ha....." tawa nya yang menggelegar dan memenuhi seluruh ruangan nya.
Lana masih terus berusaha menahan rasa sakit, ia berjalan tertatih menuju mobil nya dan mulai mengendarai ke arah berlawanan dari kediaman nya.
"Aku harus segera menemukan penawarnya..." lirih Lana semakin merasa kan panas di dada nya.
"Akhh, sial aku bahkan tak tahu racun apa yang aku minum saat ini..." lanjut nya putus asa
Lana tiba di tempat biasa ia meracik setiap ramuan, dan ia mulai mencari sesuatu untuk mengulur waktu, saat ia menemukan ramuan yang bisa mengurangi rasa sakit, tanpa fikir Lana segera meminumnya dan beberapa. menit berikut nya rasa sakit juga panas di dada nya mulai berkurang.
"Aku tak bisa terus di sini, aku yakin Hendrik pasti ingin mengambil semua aset ku setelah kematian ku nanti karena ia juga adalah salah satu pewaris.." gumam Lana berfikir keras dan akhir nya ia memutuskan kembali ke kediaman nya untuk menemui semua orang termaksud Doni
Lana kembali mengendarai mobil nya menuju rumah, ia juga sudah menelpon pemgacara juga Kakek Ragil agar datang ke kediaman nya. Lana tak akan membiarkan siapapun menghancurkan bisnis keluarga nya.
Lana tiba dengan selamat, ia segera masuk ke dalam rumah dan melihat jika semua orang sudah berkumpul di sana kecuali Doni karena masih belum sadarkan diri dan masih dalam perawatan.
"Nona...." Setya berjalan tertatih menuju ke arah Lana
Lana tersenyum tipis. "Aku baik baik saja Kak..." jawab Lana yang mengerti akan kekhawatiran Setya pada nya.
"Duduk lah, aku ingin mengatakan sesuatu..." ucap Lana dan lebih dulu duduk di sofa
"Dengar, aku ingin pernikahan ku dan Om Doni di laksanakan satu minggu lagi dan setelah itu aku ingin semua aset milikku di serahkan pada nya karena aku ingin dia yang mengelola semua nya.." ucap Lana tanpa keraguan dan penuh ketegasan
semua orang terkejut, namun mereka hanya diam saja tanpa bisa membantah.
"Tapi Nona-" pengacara Lana hendak bisa namun terhenti saat melihat tatapan Lana.
"Jangan membantah dan buat saja apa yang aku perintahkan..." ucap Lana semakin tegas
"Dan jangan biarkan Om Doni tahu akan hal ini..." lanjut nya kemudian tanpa berkata kata lagi segera naik ke lantai atas menuju kamar Doni
Semua orang hanya bisa diam dan mengikuti apa yang di katakan oleh Nona Muda mereka, lagi pula mereka sudah mengenal siapa Doni. Namun, tidak dengan Kakek Ragil yang pasti merasa aneh akan sikap Lana.
'Aku yakin pasti telah terjadi sesuatu pada Nona!' batin Ragil menatap kepergian Lana yang mulai menghilang di balik pintu kamar keponakan nya.
"Cepat lah bangun, aku merindukan mu..." ucap Lana dengan air mata yang mulai jatuh membasahi pipi nya.
'Aku akan pergi, dan aku berharap kamu bisa tetap bahagia tanpa ku nanti...' batin Lana, ia pun tidur di samping Doni sambil memeluk pria yang ia cintai
Makasih orang baik....
__ADS_1
😊🙏🙏