Gadis Manis Ternyata Suhu

Gadis Manis Ternyata Suhu
Kekecewaan Farid


__ADS_3

Sehari sebelum Doni menemui Paman Ragil, Farid datang ke kediaman Lana dengan penuh keyakinan untuk melamat gadis itu. Ia datang sendiri dan hendak menemui Doni yang ia tahu adalah Om Lana karena memang belum ada yang akan status Doni yang sebenarnya.


Doni yang di beritahu jika Farid menunggunyapun segera turun ke bawah dan menemuinya di ruang tamu dengan wajah datar dan dinginnya.


Lana sendiri masih di kamar, ia baru selesai mandi dan mengganti pakaiannya lalu segera turun untuk menemui tamunya karena tadi pelayan mengatakan jika ada Farid yang ingin bertemu dengannya.


"Loh Kak Farid sama Om Doni kelihatan tegang banget!" gumam Lana menatap dua orang yang saling pandang dengan tatapan tajam masing masing. Lana semakin memeprcepat langkahnya menuruni tangga hingga tiba di hadaoan Farid juga Doni yang segera mengalihkan pandangannya pada Lana yang masih berdiri dengan wajah bingung atas tatapan kedua pria dewasa di hadapannya kini.


"Hei... kalian menatapku seperti itu seperti seorang pedofil tahu!" pekik Lana, bahkan tanpa segan ia menutup kedua dadanya yang tidak begitu besar tapi maaih bisa terlihat dengan jelas karena baju Lana yang sedikit ketat.


Doni memutar bola matanya malas, namun dengan cepat ia meraih tangan Lana dan membawanya duduk di sebelahnya sedng Farid yang sejak tadi memandng Lanapun hanya bisa diam saja dengan tatapan penuh makna.


Hening, tak ada satu katapun yang keluar baik itu dari Doni ataupun Farid, mereka sibuk dengan tatapan tajam masing masing. Lana yang bosan pun akhirnya membuka suara.


"Kak Farid ada apa ke sini?" tanya Lana dengan suara lembutnya, membuat Doni mengerutkan keningnya menatap Lana tak suka atas sikap lembutnya pada Farid sang rival.


Farid mengalihkan pandangannya pada Lana, dan merubah tatapan tajamnya menjadi tatapan penuh cinta dan kehangatan. Doni semakin kesal saat melihat Lana yang tersenyum lembut pada Farid.


'Sial, dia justru menunjukkan senyuman pada pria sialan ini..' gumam Doni masih menatap Lana yang tak menoleh ke arahnya sama sekali.


"Kakak mau melamar kamu An, tapi..." jawab Farid tersenyum, namun saat ia kembali mengingat perkataan Doni beberapa saat lalu saat Lana belum tiba ia kembali menatap tajam pada Doni yang menatapnya datar.


Lana mengerutkan keningnya, ia juga menoelh pada Doni yang terlihat biasa saja. "Apa yang di katakan Om Doni Kak?" tanya Lana dengan wajah penasarannya. Doni dengan cepat menatap Lana dengan tatapan tak menyangka, bagaimana mungkin gadis itu tetap tenang dan malah bertanya seperti itu bahkan apa tadi! Om! gadis itu memanggilnya Om di depan oria yang ingin melamarnya.


"Dia bilang bahwa kalian akan menikah!" jawab Farid serius, namun senyum sinis ia berikan pada Doni yang masih menatap Lana menunggu jawaban apa yang akan di ucapkan gadisnya.


Lana diam sesaat, ia seperti memikirkan sesuatu sedang kedua pria di sana harap harap cemas menunggu jawaban darinya.


"Kak kita bicara berdua di atas, ada yang ingin An katakan!" akhirnya Lana kembali mengeluarkan suaranya dan itu membuat Doni meradang karena oerkataan Lana yang hanya ingin bicara berdua dengan Farid, dan itu artinya ia tak akan ikut mendengarkan apa saja yang akan mereka bicarakan.


Farid tersenyum, ia tsegera mengangguk dan mengikuti langkah Lana yang sudah naik ke atas menuju ruang pribadinya. Doni hanya bisa. mngepalkan kedua tangannya menatap. kepergian Lana juga Farid yang berjalan di belakangnya.

__ADS_1


"Akhh, sial... awas saja kamu Lana, Om akan menghukummu nanti karena mengacuhkan Om." gumamnya dengan suara tertahan karena menahan amarah juga cemburu.


Doni memilih menunggu di ruang tamu, dengan wajah kesal dan marah ia tetap setia berada di sana bahkan ia terus melirik ke arah pintu ruang pribadi Lana yang sudah tertutup rapat. Sungguh Doni sangat merasa gelisah dengan apa saja yang sedang di lakukan dua orang yang ada di dalam sana.


Sedangkan di dalam ruangan pribadi Lana, Farid masih diam sambil menatap Lana yang juga masih diam dengan wajah yang tenang sangat berbeda dengan saat ia berada di bawah.


"Sebekumnya Ana minta maaf, karena Ana gak bisa menerima lamaran Kakak." ucap Lana membuat Farid melebarkan matanya menatap tak percaya pada Lana.


"Kenapa?" tanya Farid dengan wajah kecewanya, ia kembali mengingat perkataan Doni beberapa saat lalu membuat dirinya merasakan sesak.


"Kak Farid orang baik, dan Ana yakin Kak Farid bisa mendapatkan gadis yang baik dari Ana.." Lana tak menjawab pertanyaan Farid, wajah tenang masih terlihat di mata Farid yang kini sudah semakin merasakkan sesak di dadanya atas penolakan halus dari Lana.


"Kamu gak menyukai Kakak An?" tanya Farid lagi, wajahnya sangat terlihat kecewa dan tetap setia menatap Lana


"Jika Kak Farid menanykannya beberapa tahun lalu, mungkin Ana akan menjawab jika Ana juga menyukai Kak Farid, tapi sekarang berbeda perasaan Lana sama Kak Farid hanya sekedar perasaan teman di masa kecil saja." jawab Lana tegas. Farid menundukkan wajahnya, tak mampu lagi menatap wajah tenang Lana.


"Jadi apa yang di katakan Doni benar An, kalian akan menikah?" Farid kembali menatap Lana dwngan senyum getir.


"Tapi kalian....!" Farid menggantung ucapannya, ia menatap Lana meminta penjelasan atas hubungan hmgadis itu dengan Doni.


"Aku dan Im Doni tak punya hubungan darah, karena di bukan anak dari Kakek dan bukan keturunan Angkara." ujar Lana yang mengerti arah pertanyaan Farid. Farid cukup terkejut, matanya kembali terbuka lebar, namun dengan cepat ia merubah wajahnya menjadi sangat datar.


"Baiklah, Kakak mengerti. Kakak hanya berharap kalian bisa bahagia...." ucap Farid akhirnya...


Farid segera berdiri tanpa menatap Lana yang masih setia dengan wajah tenangnya, dan juga sudah berdiri. Farid sedikit menundukkan sedikit wajahnya kemudian berlalu meninggalkan Lana yang hanya diam saja di tempatnya. Ia sedang mengatur perasaannya sendiri, bohong jika Lana mengatakan jika perasaannya pada Farid benar benar sudah hilang karena perasaan itu masih ada walau tak sebesar dulu karena kini sudah ada Doni di dalam hatinya.


Farid keluar dari ruangan Lana dan sudah menuruni tangga. Doni yang melihat rivalnya sudah turunpun berdiri dan menatap wajah Farid yang terlihat kecewa. Farid sekilas menatap Doni ia mendekati pria yang dua tahun lebih tua darinya.


"Jaga Ana, jika kau menyakitinya aku astikan akan segera merebutnya darimu!" ucap Farid dengan tegas dan ada ancaman di dalamnya, Doni tak menjawab ia hanya menunjukkan wajah bingung.


Farid tak berharap Doni menjawab pertanyaannya, ia segera berlalu meninggalkan Doni yang masih bingung dengan ucapannya. Tak lama Lanapun ikut keluar dan mulai menuruni tangga dengan anggun.

__ADS_1


"Kenapa dengannya?" tanya Doni saat Lana sudah berada di sampingnya.


"Semoga Kak Farid selalu bahagia dengan wanita yang bisa. mencintainya.." jawab Lana tanpa. menoleh ke arah Doni yang dengan cepat menatap Lana.


"Kau menolaknya Lana?" tanya Doni dengan wajah penuh harap. Lana hanya mengangguk tanpa menoleh.


Doni refleks memeluk Lana erat, ia mencium kening Lana dan sangat bahagia.


"Terima kasih..." gumam Doni masih memeluk Lana hang masih diam saja dengan senyum hangat namun matanya masih menatap. ke arah pintu di mana Farid baru saja keluar dari sana.


Doni dan Lana yang sedang bahagia bahagianya selalu menghabiskan waktu bersama di dalam kamar, walaupun tak terjadi sesuatu yang melewati batas keduanya, namun itu cukup membuat keduanya sangat bahagia.


Farid sendiri sedang kacau kacaunya, ia berhari hari tak pernah keluar dari apartemennya bahkan apartemennya terlihat sangat kacau dengans egala barang barang yang hancur berantakan dan berserakan di mana mana.


"Bahagialah Ana, aku mungkin takkan bisa melupakanmu dan akan pergi sejauh mungkin dari negara ini di mana kamu akan bahagia bersama pilihanmu." lirihnya, air mata terus saja mengalir membasahi pipi mulusnya. Bahkan wajahnya terlihat sangat buruk dengan mata sembab dan lingkaran hitam di setiap matanya.


Farid sudah bertekat untuk meninggalkan Indonesia, sampai hatinya benar benar bisa lepas dari perasaan cinta pada Lana. Ia akan berusaha melupakan Lana dan pergi sejau mungkin agar tak mendapat kabar dari Lana.


"Selamat tinggal Ana..." lirihnya, kini ia sudah berada di dalam pesawat yang akan mengantarkannya ke negara lain yang jauh dari Indonesia.


Pesawat yang di tumpangi Farid sudah meninggalkan bandara, ia masih menatap ke arah bawah lewat kaca jendela. Rasa sesak di dadanya kembali terasa saat ia. memejamkan mata dan mengingat Lana yang sudah menolaknya dan memilih bersama Doni.


"Bahagialah Ana ku..." gumamnya, bsrtepatan dengan itu pesawatnya semakin terbang meninggi dan Farid meloloskan air matanya hingga menetes mengenai tangannya.


Lanjut lagi...


Makasih orang baik, kalian sudah selalu setia menanti kabar dari kisah ini...


Semoga selalu suka ya, jangan lupa buat kasih like, vote dan juga komentar yang mendukung ya...


Makasih semua....

__ADS_1


😍😊🙏


__ADS_2