
Doni sedang sibuk di kantor, ia bahkan memilih untuk tidur di kantornya karena sudah terlalu lelah jika jarus pulang ke apartemen meskipun ada supir yang selalu menemaninya.
"Ah.." Doni merebahkan tubuhnya di sofa dalam ruang kerja.
"Kakak sedikit lagi..." ujar Doni memandang langit langit di ruang kerja miliknya.
Hingga beberapa saat ia sudah terlelap tanpa mengingat kondisi keponakannya di apartemen.
Doni memang sengaja jarang pulang dan memilih tidur di kantor, karena jika ia di apartemen dan bertemu Lana seerti ada sesuatu yang ganjal di hatinya apalagi saat melihat keponakannya itu tertawa atau bahkan hanya berbicara dengan akrab pada Setya rasa ia ingin sekali mau ngamuk namun iansendiri bingung dengan perasaannya. Maklum terlalu lama menjomblo jadi gitulah..
Baru beberapa jam Doni terlelap dari tidurnya, Lana muncul dalam mimpinya dan berpamitan padanya untuk pergi dari dunia meninggalkannya seperti Kakak juga Ayahnya yang pergi meninggalkan dirinya.
"Tidak, jangan pergi..."
"Tidak Lana......" teriaknya hingga terbangun dan duduk di sofa panjang yang ia jadikan tempat tidur.
Doni melirik jam dinding di ruangan itu, dan menunjukkan pukul tiga pagi, pada akhirny ia memutuskan kembali ke apartemen untuk mengecek keponakannya yng akhir akhir sangat dingin dan cuek terhadapnya.
"Tuan..." ucap supirnya yang terbangun dari tidurnya saat Doni mengetuk kaca mobil di mana ia tertidur.
"Pulanglah, aku akan pulang sendiri.." perintah Doni pada supirnya saat ia sudah keluar dari mobil.
"Baik Tuan..."
Doni segera masuk ke dalam mobil dan melajukannya menuju apartemen dengan cepat, entah mengapa ia selalu memikirkan mimpi yng baru saja ia alami.
Doni sudqh tiba di Apartemennya, ia segera menuju kamar keponakannya, dan untunglah kamar Lana tidqk di kunci sehingga ia bisa dengan bebas masuk ke sana.
"Lana..." Doni tersenyum. saat melihat wajah keponakannya yang semakin yerlihat cantik saat tidur. Ia segera mendekati Lana yang tertidur dengan sangat pulas kemudian duduk di pinggir kasur masih terus memperhatikan wajah Lana.
__ADS_1
"Maaf, Om terlalu sibuk.." ujar Doni mengelus rambut Lana yang sama sekali tak terusik.
"Om gak bisa nemenin kamu kayak dulu, tapi percayalah ini semua harus Om lakukan demi Ayah dan Bundamu juga dirimu sendiri." Doni semakin berani kini bukan hanya rambut yang ia elus, tapi juga wajah cantik keponakannya, namun Lana masih bisa tidur dengan nyenyak.
"Om janji akan segera menyelesaikannya, dan kita bisa sama sama membalaskan dendam.." lanjutnya.
Tangan Doni semakin turun kebawah hingga menyentuh bibir mungil dan indah milik Lana, terkadang ia mencubit pelan bibir itu membuat yang empunya menggeliat kecil.
"Astagaaa, apa yang aku fikirkan..." ujar Doni segera menjauhkan tangannya dari bibir keponakannya kemudian ia memperbaiki selimut Lana yang turun sampai batas lutut barulah ia beranjak dari sana dan keluar.
"Ahhh, rasanya di sini ada yang gak beres!" ujar Doni sambil memegang dadanya yang berdegup kencang saat ia sudah berada di luar kamar Lana dan menuju ke kamarnya.
"Kayaknya aku harus periksa ke Dokter..." ujarnya karena merasa jantungnya yang bermasalah.
Doni segera masuk ke dalam kamar kemudian ia membersihkan dirinya barulah ia merebahkan tubuhnya di atas kasur yang nyaman.
"Setelah urusan perusahaan selesai, aku dan Lana pasti akan segera menghabisi mereka semua yang menyebabkan kematian Kakak." ujar Doni berapi api.
"Kak, kau lihat dan tersenyumlah saat hari itu tiba aku dan Lana pasti akan menghancurkan mereka semua.."
Jam sudah menunjukkan pukul lima pagi, namun ia masih belum bisa tidur lagi karena mimpi yang tadi ia alami serta wajah keponakannya yang selalu menghantui dirinya.
"Ah, shitt..." Doni terbangun dan duduk di pinggir ranjang karena merasa percuma saja ia tetap di sana karena matany sama. sekali tak ingin tidur.
Doni beranjak dari sana menuju balkon, meski cuaca malam itu sangat dingin namun tak berarti bagi Doni yang perasaannya sedang kalut karena keponakannya dan tetap berdiri di sana sambil memandangi gedung gedung bertingkat yang menjulang tinggi di hadapannya.
"Apa ini, kenapa perasaan ini sangat tak nyaman?" monolog Doni bertanya pada dirinya sendiri dengan tangannya yang ia letakkan di dada sedang matanya terpejam merasakan degupan kencang di sana.
"Apa yang terjadi sebenarnya! apakah aku punya penyakit jantung?" lanjutnya membuka mata dan menatap dadanya yang masih ia pegang.
__ADS_1
"Tapi aku tak pernah merasakan sakit di sini!" Doni menunjuk dadanya sendiri.
"Ahhh, aku lelah tapi mata ini sama sekali tak bisa di ajak kerja sama.." Doni sangat lelah karena seharian ia terus bekerja bahkan ia melewatkan makan malamnya karena masih sibuk dengan pekerjaan yang semakin menumpuk demi balas dendam yang sudah mereka rencanakan.
"Kak, mengapa anakmu itu sangat membuat aku frustasi.." ujar Doni memandang langit yang masih gelap.
"Bantu aku Kak, agar tetap bisa berfikit positif..." Doni sadar saat ia melihat Lana, hasrat dalam dirinya selalu muncul apalagi saat melihat gadis itu tersenyum atau tertidur rasanya ia sangat ingin mencium bibirnya, akan tetapi ia selalu membuang jauh jauh fikiran buruk itu karena Lana adalah keponakannya sendiri.
"Jangan biarkan aku menyakitinya Kak, kau tahu dia pasti akan sangat membenciku nanti dan aku tak ingin itu sampai terjadi.." ujar Doni merasa gila dengan fikirannya sendiri.
Selama ini selain sibuk di kantor sehingga membuat ia jarang sekali pulang cepat, ada hal lain yang membuatnya untuk tetap berada di kantor dan itu adalah Lana, keponakannya.
Doni berusaha menghindari Lana, dan secara tak sadar Lanapun selalu menghindari dirinya sehingga semakin membuat jarak bagi mereka berdua. Doni menyibukkan dirinya di kantor dan pulang saat larut malam, namun saat ia melihat keponakannya yang semakin dingin dan cuek kepadanya membuat ia sadar jika selama ini ia sudah salah tapi sayangnya Lana sudah sangat berubah bahkan ia bisa melihat jika keponakannya itu sangat bahagia saat bersama Asistennya yang tak lain adalah Setya.
Doni berusaha menjauhkan Lana dari Setya, namun hal itu justru malah membuat keponakannya semakin jauh darinya.
"Kakak Ipar, mengapa kau harus melahirkan Lana dan bukan gadis lain, jika begini aku yang susah sekarang.." lirihnya semakin pusing, ia mengacak acak rambutnya hingga berantakan namun itu malah semakin membuat ia terlihat semakin tampan di tambah dengan sinar rembulan yang bersinar, meski tak begitu tarang tapi masih bisa membuat wajah tampan pria dewasa itu terlihat indah.
"Sudahlah, sebaiknya aku bergegas mandi kemudian berangkat ke kantor lagi.." ucap Doni ia segera beranjak dari sana...
Lanjut Up....
Mas Doni pusing mikirin Mbak Lana terus...
Makasih yang dah mau mampir baca ya, jangan lupa kasih like sama dukungannya dong men temen...
Makasih orang baik.....
🙏🙏🙏
__ADS_1