
Lana dan Om Doni sudah berdiri tepat di atas tebing. Lana yang masih takut terus berada di samping Omnya sambil memegangi lengan Doni.
"Sekarang Om akan ajarkan Lana bagaimana cara menembak burung burung itu." ujar Doni memecah keheningan yang sejak setengah jam lalu mereka hanya saling diam.
"Hm..." Lana mengangguk memgerti namun genggamannya pada Doni tak ia lepaskan.
"Lana..." panggil Doni saat Lana masih belum melepaskan lengannya
"hm.." lagi lagi Lana hanya berdehem saja
"Mau sampai kapan Lana pegang tangan Om! kita harus berlatih sekarang.." ujar Doni menengok ke arah sampin namun ia sedikit menunduk karena Lana yang jauh berada di bawahnya.
"Mm, ehehe..." Lana hanya cengengesan kemudian melepaskan pegangannya.
Doni dengan telaten mengajarkan keponakannya namun ia sangat tegas, jika Lana tak bisa mengenai targetnya maka satu pukulan akan ia layangkan pada kaki Lana dengan ranting kecil yang ada dalam genggaman yang selalu ia bawa.
"Lana, kmu harus fokus!" ujar Doni saat melihat Lana yang tidak bisa fokus pada target karena selalu melihat ke bawahnya.
"Lana, kemana fokusmu!" Doni kembali memukulkan ranting kecil itu pada kaki Lana yang sudah memerah, namun tak ada suara rintihan yang Lana keluarkan ia hanya memejamkan matanya ketika Om Doni memukulnya, itu karena ia yanh sudah terbiasa dengan hukuman yang di berikan Doni.
Lana terus berusaha, namun hasilnya tetap nihil karena gadis kecil itu tak mampu memfokuskan fikirannya pada target yang akan ia tembak. Doni sedikit kecewa, namun karena ini adalah hari pertama bagi Lana maka ia maklumi.
"Kita pulang, ingat Lana kamu harus bisa fokus.." ujar Doni kemudian memimpin jalan mereka menuju Villa. Lana hanya mengangguk, sebenarnya iapun kecewa karena tak ada satupun target yang ia kenai.
Pelatihan kali ini cukup sulit bagi Lana yang memiliki trauma pada pistol dan suaranya, membuat Lana membutuhkan waktu hingga tiga bulan untuk bisa menguasai.
"Hari ini kamu latihan sendiri, Om ada urusan sebentar.." ujar Doni yang sudah rapi dengan jaket kulit yang ia kenakan serta topi dan masker yang sudah melekat di bagian kepala juga wajahnya.
__ADS_1
"Om mau kemana?" tanya Lana memperhatikan Om Doni dari atas sampai bawah.
"Om harus keluar sebentar karena ada yang ingin Om lakukan." jawab Doni sambil membenarkan topinya yang terasa agak miring..
"Ingat Lana, besok Om mau kamu bisa mengenai target yang lebih banyak.." ucap Doni dengan nada tegas menatap Lana yang segera menganggukkan kepalanya.
"Hati hati Om, cepat kembali!" Lana takut jika Doni tak kembali. Doni memgerti dengan tatapan itu, ia memegang kepala Lana dan mengusapnya lembut.
"Om pasti kembali, berlatihlah.." setelah mengatakan itu Doni segera pergi dan berjalan menuju luar hutan. Sedangkan Lana menuju lapangan luas untuk melatih menembaknya.
Lana sedang melakukan latihan dengan menaruh beberapa botol di sekelilingnya kemudian menaruh buah apel di atasnya untuk menjadi target. Lana menembak buah apel satu persatu dan tepat mengenai sasarannya. Setelahnya Lana menggantung buah apel di pohon yanh besar dan cukup tinggi kemudian ia goyangkan sekencang mungkin, ia memfokuskan fikirannya kemudian...
Dorrrr..
"Yes, kena. Aku harus terus berlatih dengan cara ini agar bisa mengenai target lebih banyak besok.." ujar Lana cukup senang dengan hasilnya.
Lana terus melakukan latihan menembak buah yang ia gantung dan di goyang agar seperti burung burung yang akan menjadi targetnya besok. Hingga sore hari Lana baru menghentikan latihannya karena merasa lapar. Ia segera masuk ke dalam Villa guna mengisi perutnya yang sudah berbunyi karena belum ia isi sejak tadi siang.
Hingga hampir tengah malam Doni baru tiba di Villa, ia segera masuk sambil melepaskan topi, masker juga kacamata yang ia kenakan saat keluar tadi.
"Lana..." ujar Doni pelan saat melihat keponakannya yang sedang tidur di sofa.
"Dia menungguku rupanya!" Doni tersenyum menatap wajah manis dan imut keponakannya itu saat sedang tidur, dengan hati hati ia menggendong Lana dan membawanya ke kamar.
"Selamat malam sayangnya Om.." ujar Doni saat ia sudah meletakkan Lana di tempat tidur dan menyelimutinya. Ia segera keluar setelah mematikan lampu kamar dan menutup pintu kamar keponakannya.
"Sekarang aku bisa fokus pada Lana dan pelatihannya.." ucap Doni saat ia sudah di dalam kamarnya dan memandang ke arah luar jendela yang ia buka.
__ADS_1
Doni memandangi setiap tempat dari kamarnya, ia bisa melihat taman yang luas dengan penuh bunga, danau yang tidak terlalu lebar dengan satu pohon besar yang sengaja tidak di tebang oleh Kakaknya agar Doni bisa istirahat saat lelah ketika latihan. ia memperhatikan setiap tempat dan mengenang masa masa ketika ia sedang berlatih bersama dengan Kakaknya yang tegas. Seketika Doni tersenyum saat mengingat dimana ia sering kali di pukuli Kakaknya ketika terlambat bangun atau ketika melakukan kesalahn saat berlatih hingga kaki dan tubuhnya mengalami luka ringan karena di pukul dengan ranting kecil yang selalu di bawa ketika Kakaknya melatih dirinya.
Saat sedang asik memandangi danau, matanya berhenti di pohon besar yang masih rindang. Doni kembali menyunggingkan senyumannya saat melihat seorang anak kecil laki laki yang seusia Lana sedang tertidur dengan nyaman di bawah pohon, namun seketika terperanjat kaget saat seorang laki laki muda memukul bokongnya.
"Bangun, Kakak nyuruh kamu latihan bukan tidur.." teriak Laki laki muda pada anak kecil yang segera berdiri dengan kesadaran yang belum sepenuhnya.
"Doni ngantuk Kak.." ujar anak kecil yang ternyata dirinya sendiri dengan mata yang masih tertutup sedang tangangannya mengucek ngucek mata.
"Dasar pemalas, kalo kamu kayak gini Kakak gak mau ngelatih kamu lagi.." jawab Kakak Doni kesal yang hendak pergi meninggalkan adiknya yang sudah sepenuhnya sadar.
"Kak, maaf janji gak gitu lagi.." Doni kecil segera menghentikan langkah Kakaknya dengan merentangkan kedua tangan.
"Latihan. sekarang.." bentak Kakaknya kesal. Doni kecil segera berlatih seperti yang di lakukan Lana selama ini, bahkan sebenarnya Lana jauh lebih cepat di bandingkan dirinya yang butuh dua bulan hanya untuk mengisi bak saja. Sangat lambat. Doni tertawa kecil setelah yang ia lihat barusan menghilang
"Ternyata aku sangat lambat ya Kak!"
"Maaf, dulu selalu merepotkan Kakak.." Doni menelusuri setiap sudut di mana ia dan Kakaknya selalu bersama. Bercanda dan tertawa serta menangis kemudian saling menguatkan, semua itu sangat Doni rindukan.
"Kak, aku pasti akan membalas mereka yang sudah memisahkan keluarga kita." lirih Doni menatap langit malam yang penuh bintang.
Malam yang terang dengan bintang bintang yang bersinar serta bulan yang menambah penerangan di malam itu, membuat Doni terlena akan kenangan kengannya nersama Kakak yang selalu menjaga dirinya saat orang tua mereka pergi untuk selamanya.
"Aku akan menjaga Lana, seperti Kakak yang selalu menjaga Doni dulu. Doni janji akan menyelesaikan semuanya bersama Lana anak Kakak.." Doni meneteskan air matanya. Cukup lama ia berdiri di dekat jendela, setelah hatinya lebih tenang Doni segera menutup jendelanya dan tidur agar besok ia bisa kembali fresh saat melatih Lana keponakannya.
Lanjutkan...
Jangan lupa like nya...
__ADS_1
Makasih Orang baik....
🙏🙏🙏