Gadis Manis Ternyata Suhu

Gadis Manis Ternyata Suhu
Kebersamaan yang tak Berarti


__ADS_3

Pagi menjelang, Lana yang terbangun lebih dulu terkejut karena saat ini posisi antara dirinya dan Om Doni amatlah dekat tanpa jarak sedikitpun, dan lagi jantungnya kembali berdetak sangat cepat. Ia mendongak sedikit hingga wajah Doni bisa ia lihat dengan jelas.


Lana tersenyum saat melihat wajah tenang Omnya, biasanya saat Om Doni sadar ia hanya akan memasang wajah kaku dan dingin membuat Lana merasa tak nyaman. Namun seketika Lana tersadar kemudian dengan pelan pelan ia mulai menarik kepalanya dari pundak Doni agar Omnya itu tak terganggu hingga membuatnya terbangun


"Hah, akhirnya..." ucap Lana merasa lega, ia kembali menatap wajah damai Doni yang masih tertidur.


("Andai kau bukan Omku, pasti sudah ku jadikan pacar.") batin Lana bibirnya tersenyum tipis. Sesegera mungkin ia menjauhkan wajahnya dari Doni dan beranjak dari sana untuk membuat sarapan di dapur.


Lana masih berkutat membuat sarapan, sejak jaraknya dengan Doni kian menjauh, gadis itu selalu memasak sendiri belum lagi Doni yang selalu pulang larut malam.


"selesai..." ucapnya tersenyum puas, kemudian meletakkan tiga piring nasi goreng sosis di atas meja. Lana kembali ke kamarnya untuk mandi, dan tak lupa membawa baju ganti agar tak seperti kemarin.


"Kak..." panggil Lana dengan wajah yang ia dekatkan dengan wajah Setya yang maaih tertidur.


"Hmmmm.." Swtya menggeliat mengangkat kedua tangannya ke atas dengan wajah yang menggemaskan membuat Lana tersenyum lucu.


"No..na..." lirih Setya merasa malu, bahkan wjahnya sudah memerah. Lana hanya tersenyum melihat ekspresi wajah Setya yang kaget.


"Lana tunggu di meja makan Kak, kita sarapan bersama.." ujar Lana segera keluar dari kamarnya dan membiarkan Setya membersihkan dirinya.


"Aish, kenapa aku bisa lupa kalo lagi di apartemen Nona.." gumamnya merasa bodoh.


Setya segera bangun, tubuhnya sudah tak merasa sakit yang berarti seperti kemarin bahkan ia merasa jauh lebih segar meskipun di bagian perutnya masih agak perih karena obat oles dari daun daun yang ia sendiri tak tahu daun apa itu.


"Duduk Kak..." ujar Lana saat melihat Setya yang sudah muncul dari kamar dan berdiri di hadapannya. Setya hanya mengikuti ucapan Lana dan duduk tepat di sebelahnya.


"Tuan mana Nona?" tanya Setya karena tak melihat Tuannya


"Lagi mandi mungkin.." jawab Lana ia sudah mulai memakan sarapannya dengan nikmat. Setya tak mengikuti Nonanya dan leboh memilih menunggu Tuan Doni.


"Selamat pagi Tuan.." sapa Setya segera berdiri saat melihat Doni yang baru muncul dengan baju kantornya.


"Duduklah Setya.." jawab Doni melirik Lana yang tetap fokus dengan makanannya tanpa perduli dengan kedatangannya. Setya kembali duduk dan mulai makan sarapannya setelah Doni juga mulai memakan sarapannya.

__ADS_1


Hening, tak ada yang bicara hingga sarapan mereka bertiga habis tak tersisa. Lana segera mengambil piring piring kotor dari kedua pria dewasa di yang masih duduk saling diam, sedangkan ia dwngan telaten mencuci piring dan setelah selesai segera kembali ke kamarnya meninggalkan Doni dan Swtya yang setia dengan tundukkan kepalanya.


"Apa kau sudah lebih baik?" tanya Doni setelah ia memperhatikan Lana yang sejak tadi hanya diam tanpa ekspresi.


"Lebih baik Tuan..." jawab Setya


"Apa kau sudah bisa ke kantor hari ini?" Doni kembali bertanya dengan ekor matanya melirik ke arah pintu kamar Lana yang kembali terbuka.


"Sudah Tuan.." jawab Setya, Doni kembali menatap Setya dan berdiri diikuti Setya yang segera berdiri.


"Kalau begitu kita ke kantor bersama.." ujar Doni mulai berjalan dan Setya mengekor di belakangnya.


Lana yang baru saja berganti pakaian dengan kaos putih polos dan celana pendek di atas lututnya hendak keluar setelah ia selesai memakai sepatu dan membawa tas kecil di punggungnya.


"Maj kemana?" tanya Doni saat melihat keponaknnya hendak membuka pintu apartemen.


"Taman..." jawab Lana tanpa berbalik dan segera keluar dari pintu yang sudah ia buka lebar meninggalkan Doni yang kini rahangnya mengeras karena kesal dan marah selalu di abaikan Lana.


Doni juga keluar dari apartemennya bersama Setya yang selalu setia berada di belakangnya dengan wajah dingin seperti biasa. Doni berencana mengejar keponakannya namun ternyata Lana sudah pergi jauh dan tak mungkin tekejar pada akhirnya ia memuuskan untuk pergi ke kantor.


"Apa kau menyukai keponakanku Setya?" tanya Doni tanpa menjawab pertanyaan Setya barusan.


"Apa Tuan?" Setya sangat terkejut bahkan ia samapi mengerem mendadak membuat Doni sampai maju kedepan dan hampir saja kepalanya menabrak kursi di depannya.


"Maaf Tuan..." ujar Setya saat melihat tatapan tajam Doni dari balik kaca kecil di atas kepalanya.


"Ya, saya memang menyukai Nona tapi sebelum saya menyatakannya Nona sudah lebih dulu menolak saya Tuan.." ungkap Setya tanpa ada yang ia rahasiakan lagi.


"Kenapa? bukankah kalian sangat cocok?" tanya Doni tak percaya menatap Setya, meski begitu ada senyuman kecil di bibirnya saat mendengar jika Setya sudah di tolak Lana.


"Tidak Tuan, Nona sudah punya orang lain di hatinya dan itu bukan saya.." jawab Setya kembali fokus dengan jalanan di depannya


"Siapa?" tanya Doni semakin penasaran.

__ADS_1


"Kalo itu saya juga kirang tahu Tuan, Nona tak memberitahukan pada saya." jawab Setya apa adanya. Doni hanya diam mendengar perkataan Setya ia tak lagi bertanya dan memilih bungkam hingga mobil yang di bawa Setya berhenti di depan gedung yang megah dan bertingkat.


Setya turun lebih dulu, kemudian ia memutar menuju arah Doni dan membukakan pintu mobil untuknya barulah Doni keluar dengan gaya khas coll dan wajah dinginnya tentu saja.


"Bagaimana dengan sekolah Lana?" tanya Doni saat mereka sudah berada di ruangan Doni.


"Sangat baik Tuan, bahkan Nona menjadi siswa populer di sekolah karena kepintarannya juga kecantikannya.." jawab Setya tersenyum, namun segera ia hilangkan saat melihat tatapan tajam dari Doni.


"Les Bahasa?" hari ini hanya Lana yang ia tanyakan pada Setya.


"Nona sudah menguasai semua bahasa yang seharusnya ia pelajari Tuan.." jawab Setya


"Secepat itu ternyata!" ujar Doni tak menyangka jika keponakannya itu bisa memahami beberapa bahasa penting hanya dalam waktu kurang dari enam bulan.


"Benar Tuan, Nona di anggap sebagai anak Genius baik di sekolah maupun di tempat lesnya.." jawab Setya. Doni kembali mengangguk, ia tersenyum bangga atas apa yang sudah Lana raih dalam waktu yang singkat, memang sejak awal ia pun tahu jika keponakannya itu bukanlah anak biasa karena selama bersama denga Lana di Villa, keponakannya itu memang sudah sangat pintar dalam memahami segala hal yang pernah ia ajarkan.


"Kau bisa kembali ke tempatmu, dan ingat tentang misi kita untuk membuat kerja sama dengan perusahan Dirgantara bagaimanapun caranya.." ujar Doni menatap serius pada Swtya yang segera mengangguk mengerti akan keinginan Tuannya itu.


"Saya permisi Tuan.." ucap Setya sedikit menundukkan kepalanya memberi hormat.


"Hmmm." deheman Doni sebagai tanda izinya.


Doni kembali memikirkan Lana, entah mengapa Lana selalu saja muncul di waktu yang tak tepat, sedangkan gadis itu selalu bersikap dingin dan sangat cuek padanya membuat hatinya terasa sakit dan nyeri.


Lanjut up....


Mas Doni makin terjerat akan perasaannya sendiri guys....


Makasih yang masih setia sama karyaku satu ini ya...


Jangan lupa buat like sama dukungannya biar Author terus semangat memutar otak... he he


Makasih orang baik....

__ADS_1


🙏🙏🙏


__ADS_2