Gadis Manis Ternyata Suhu

Gadis Manis Ternyata Suhu
Misi Pertama 'Sekolah'


__ADS_3

Lana dan Doni sudah kembali ke kota, mereka berdua terpaku melihat perubahan yang sangat siknifikan dari beberapa tahun yang lalu.


"Sangat berubah..." ujar Doni sebelum mereka benar benar masuk ke dalam apartemen yang sudah di persiapkan oleh Setya.


"Aku meeasa sedang berada di tempat lain.." Lana tak kalah takjub dengan kondisi kota saat ini sangat berbeda saat ia masih menginjakan kaki di kota penuh kenangan manis dan duka sekaligus baginya.


"Selamat datang Tuan Nona Muda!" ucap Setya namun hanya mereka berdua yang mendengar.


Lana dan Doni sudah tiba di dalam apertemen, mereka segera masuk ke kamar masing masing guna mengistirahatkan tubuh mereka untuk persiapan besok.


Doni lebih dulu memasuki kamarnya dan beriatirahat, kemudian di susul Lana yang juga masuk ke dalam kamar.


"Ah lelah, ini akan menjadi istirahat ternyaman ku yang terakhir setelah kami benar benar menjalankan misi ini.." ujar Doni sambil berbaringan di kasurnya menghadap langit langit kamarnya.


Beberapa menit kemudian, Doni sudah terlelap dan masuk ke dalam mimpi indahnya di mana tiba tiba Lana datang dengan senyuman termanis.


Di kamar lain, Lana juga sudah berbaring di kamarnya yang sudah di dekor sedemikian rupa, bahkan orang yang mendekorpun tahu warna kesukaannya membuat Lana tersenyum menatap langit kamarnya yang penuh dengan bintang bintang hiasan yang sudah di tempel dengan sangat rapi..


"Kak Setya memang yang terbaik..." ya, Setyalah yang sudah mendekor kamar Lana, meskipun sang pemilik kamar tak meminta karena itu semua ia lakukan atas dasar tertarik dan suka terhadap Lana Nona Mudanya.


"Malam ini aku akan tidur senyenyak mungkin, karena mulai besok entah kapan aku akan bisa tidur nyenyak lagi.." Lana mengubah wajah senyumnya dengan wajah datar.


"Ayah, Bunda tunggu dan lihat saja Lana pasti tidak akan pernah mengecewakan kalian berdua.."


"Ahhh, aku harap mimpi itu tidak muncul malam ini.." Lana menutup wajahnya dengan bantal berbentuk hati dan bertuliskan nama samarannya.


Pagi hari menjelang, sebuah cahaya menyilaukan mata Lana yang masih terpejam dan enggan terbangun hingga ia menutup seluruh tubuhnya hingga kepala dengan selimut. Namun cahaya itu semakin terang hingga dengan terpaksa Lana membuka matanya.


"Oh, aku masih sangat mengantuk..." lirih Lana dengan wajah dan suara khas bangun tidur namun tak mengurangi kecantikannya, justru di saat seperti itu Lana semakin terlihat sanagt cantik dan mempesona.


Doni diam sejenak menatap Lana yang baru terbangun dan belum menyadari kehadirannya karena Lana masih terpejam meskinpun kini ia sudah duduk di atas tempat tidurnya. Doni sangat kagum akan kecantikan yang di miliki keponakannya ity, bahkan Bundanya yang terkenal akan kecantikannya kalah dengan yang Lana miliki saat ini, karena ia adalah ciptaan Tuhan terindah yang pernah Doni lihat selamat hidupnya.


"Huwaaaaaa, Om Doni ngapain di kamar Lana.." teriak Lana membuyarkan lamunan panjangnya karena terlalu terpesona akan diri keponaknnya itu.


"Bangun, kita harus bersiap..." jawab Doni berusaha setenang mungkin saat menjawab Lana.


"Ya ya, aku tahu. Om Doni bisa keluar aku mau bersiap.." ucap Lana segera beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi. Donipun segera keluar dan kini menunggu Lana di meja makan.


Seperti biasa, butuh waktu bagi gadis seperti Lana untuk bersiap membuat Doni selalumenunggu dengan kesal.


"Ngapain sih di kamar lama banget!" ucap Doni saat melihat Lana berjalan ke meja makan dan duduk tepat di hadapannya dengan senyuman manis.

__ADS_1


"Oh, ayolah Om Doni, aku ini seorang gadis cantik tentu saja banyak yang harus aku lakukan..." puji Lana pada dirinya sendiri.


"ckkk.." Doni hanya berdecak mendengar ucapan keponakannya yang terlalu pede meskipun semua yang di katakn Lana memang benar.


Merekapun makan tanpa ada suara hingga selesai, seperti biasa Lana ataupun Doni mencuci piring masing masing.


"Tuan, Nona kalian sudah siap?" tanya Setya yang baru saja tiba dan menghampiri mereka berdua yang segera menganggukkan kepala.


"Mari, mobil sudah siap kita bisa berangkat sekarang.." Setya mempersilahkan Tuan dan Nona Mudanya. Doni berjalan lebih dulu kemudian di ikuti Lana di belakangnya di susul Setya di belakang Lana.


Setya selalu mencuri curi pandang pada Lana, di setiap ia sedang bersama gadis itu tanpa sepengetahuan siapapun. Namun bukanlah Lana jika ia tidak tahu segalanya. Meskipun ia lama hidup di hutan akan tetapi ia selalu membaca buku buku tentang percintaan membuat ia menjadi orang yang peka pada sekitarnya termaksud perasaan yang di miliki Setya untuknya.Tapi entah kenapa ia tak pernah bisa mengerti dengan perasaan Omnya karena ia merasa Doni terlalu misterius.


Mobil yang mereka naiki mulai meninggalkan apartemen, kemudian berhenti di sebuah perusahaan cukup besar.


"Kamu mau ke mana?" tanya Doni saat ia melihat Lana yang ikut membuka pintu mobil di sebelahnya.


"Om mau kemana?" Lana berbalik bertanya dengan ekspresi ketidak mengertiannya.


"Kau tetap di sini dan ikut bersama Setya." jawab Doni namun jawabannya tak mewakili pertanyaan Lana yang. kembali memakai sabuk pengamannya dengan wajah yang ia tekuk.


"Dasar ABG tua..." teriak Lana saat mobil yang ia naiki sudah berjalan menjauh dari Doni yang segera berbalik menatap tajam ke arah Lana yang tertawa sambil memasukkan kepalanya.


"Gadis gila, aneh.." cercar Doni, bahkan semua orang yang melihat itu sudah menertawai dirinya yang segera memasang wajah seramnya meski tak mengurangi ketampanan yang ia punya.


Setya kembali memberhentikan mobilnya di sebuah gedung besar mirip seperti hotel tapi bukan!


"Nona akan bersekolah di sini, saya juga sudah mengatur segala sesuatunya dan nama Nona akan berganti sesuai dengan permintaan Tuan." jelas Setya saat mereka sudah tiba di sekolah yang sangat megah, terlihat seperti bukan sekolah tapi hotel mewah...


"Ini sekolah apa hotel Kak Setya!" Lana sangat takjub juga heran melihat sekolah yang sangat mirip dengan hotel menurutnya.


Lana memang memanggil Setya dengan panggilan Kakak ketika hanya berdua atau ketika bersama Doni tapi akan berubah saat mereka sedang mengadakan perkumpulan. Lana sengaja memanggilnya dengan Kakak karena jarak usia yang tak terlalu jauh dengannya. Setya baru berusia dua puluh tiga sedangkan Lana baru berumur delapan belas tahun, namun wajahnya justru terlihat seerti anak lima belasan. Setya memang anggota termuda di keluarga Angkara, namun keahliannya jangan di tanya itulah kenapa ia menjadi kaki tangan dan sangat di percaya oleh Doni juga anggota lain.


"Ya seperti itulah..." jawab Setya tersenyum ke arah Lana


"Jadi kapan Lana akan masuk sekolah?"


"Mulai besok Nona sudah bisa masuk ke sekolah, dan ingat Nona akan masuk di kelas sebelas.." jelas Setya mengingatkan Lana.


"Hmm, baiklah. Sekarang kita mau ke mana?" Lana kembali bertanya


"Sekarang saya akan mengantar Nona ke tempat les.." Jelas Setya segera melajukan mobilnya ke tempat tujuan berikutnya.

__ADS_1


"Les! les apa?" tanya Lana


"Nona akan ikut les bahasa.." Lana memajukkan duduknya hingga wajahnya begitu dekat dengan Setya yang mulai tak fokus karena jarak mereka yang terlalu dekat baginya.


"Se..segala bahasa.." jawab Setya terbata namun ia segera menetralkan perasaannya. Lana kembali memundurkan tubuhnya ke posisi semula.


"Ternyata aku masih harus belajar rupanya!" ucap Lana sambil memejamkan mata


"Ya, karena setelah kita berhasil merebut kembali milik Tuan Besar, ah maksud saya Ayah Nona maka semua akan di kendalikan oleh Nona muda dan Tuan.." penjelasan Setya membuat kepala Lana terasa pusing hingga ia memutuskan untuk tidur.


"Nona bangun kita sudah sampai.." panggil Setya saat ia membuka pintu mobil untuk Lana.


"Sudah sampai!" Lana segera keluar dan melihat sekelilingnya yang ramai dengan berbagai jenis manusia yang rata rata seusia dirinya namun ada juga yang masih anak anak.


"Mari Nona!" Setya memimpin jalan menuju ruangan Lana.


"Eh kok sepi Kak?" tanya Lana saat mereka sudah sampai di sebuah ruangan dan hanya ada lima orang saja padahal ruangan nya cukup besar.


"Ya, itu karena hanya orang orang penting saja yang bisa masuk kelas ni termaksud Nona Muda.." Setya tak pernah memberikan penjelasan pada Lana ia sangat sabar saat menghadapi gadis yang kini bsrdiri di sampingnya.


"Nona Muda An!" pnggil seorang wanita paruh baya dari dalam kelas saat melihat Setya dan gadis di sampingnya yang ia segera kenali jika itu adalah murid barunya.


Semua murid menoleh ke arah Lana, bahkan dua dari tiga pria yang belajar di kelas itu langsung memuji kecantikan Lana berbeda dengan kedua wanita cantik di depan mereka yang memandang sinis ke arah Lana yng tampak biasa saja.


"Kemari.." Lana mengikiti perintah wanita yang akan menjadi guru Lana atas persetujuan Setya, karena sebelum ia masuk Lana menoleh ke arah Setya yang langsung mengangguk.


"Lana masuk dulu Kak." ucap Lana kemudian masuk ke dalam kelas.


"Anak anak, ini adalah Nona Muda An.." guru wanita memperkenalkan Lana yang hanya diam dengan wajah yang biasa.


"Sekarang Nona bisa bergabung bersama mereka.." Lana segera menuju kursi yang kosong dan itu tepat di samping seorang pemuda tampan yang sebelumnya tak melirik Lana, namun Lanapun tak perduli.


Lana pun duduk dan mulai mengikuti pelajaran pertamanya, di hari pertama sekolah ia sudah membuat guru wanita yang mengajarnya justru sangat mengagumi kecerdasan yang di miliki Lana bahkan membuat siswa lain tercengang akan kecerdasan Lana, membuat kedua wanita yang juga seorang Nona Muda menjadi semakin tak menyukai Lana, berbanding terbalik dengan kedua pria yang sejak awal memang sudah menyukai Lana. Pemuda di sebelah Lanapun sebenarnya sangat mengagumi Lana namun ia tetap bersikap biasa saat di hadapannya.


Setelah selesai Lana dan Setya yang memang menunggunya di mobil segera kembali ke rumah karena hari semakin sore...


Meluncurrrrr.


Mohon dukungannya ya...


Makasih orang baik....

__ADS_1


🙏🙏🙏


__ADS_2