
Lana sedang berdiri tepat di atas tebing d mana di bawah ada banyak batu batu yang tajam menunggu dirinya, namun karena sudah terbiasa Lana bisa mengatasi rasa takut yang pernah ia rasakan sebelumnya. Lana sedang membidik targetnya, dengan fokusnya mengarahkan pistol yang ia genggam dengan kedua tangannya ke arah salah satu burung yang sedang terbang.
"Kemarilah sayang..." ucap Lana dan kemudian...
Dorrr...
Lana menarik pelatuknya dan tepat mengenai sasaran.
"Yes..." Lana berhasil mengenai salah satu sasarannya seperti saat ia latihan kemarin. Lana terus melakukan hal yang sama hingga tak terhitung berapa jumlah yang ia tembak dan berjatuhan ke bawah.
"Cukup, besok kamu harus lebih cepat dari yang sekarang." Doni yang datang ke arahnya kemudian melihat ke bawah mereka memperlihatkan mayat burung yang bergelatakan. Doni tersenyum saat melihat target yang Lana tembak, sesuai dengan harapannya namun untuk bisa melampaui orang yang saat ini menjadi target mereka maka Lana harus lebih dari ini.
"Baik Om..." jawab Lana semangat. Ia tak lagi mengeluh, bahkan sekarang pistol di tangannya sudah menjadi sahabat baginya dan selalu membawa ke manapun ia pergi, seperti halnya boneka teddy bear yang ia tinggalkan di tempat Ayah dan Bundanya meninggal.
("Ayah Bunda, Lana berhasil...") batin Lana saat mereka kembali menuju Villa.
"Malam hari seperti biasa, Lana dan Om Doni sedang menikmati makan malam mereka. Begitu banyak cerita Lana malam itu dan Doni menjadi pendengar yang baik, bahkan sesekali mereka tertawa.
"Selamat malam Om.." ucap Lana hendak kembali ke kamarnya
"Malam..." jawab Doni tersenyum menatap Lana.
Lana dan Doni kembali ke kamar masing masing untuk istirahat karena besok mereka harus kembali berjuang. Namun setiap malam Doni tak serta merta tidur karena iapun selalu melatih kemampuannya. Lanapun sama ia tak langsung tidur. Lana mengambil kotak kecil dan mengambil benda kecil dari dalamnya, saat ini Lana sedang menatap liontin pemberian Ayahnya.
"Ayah, bantu Lana agar bisa mencapai tujuan Lana dan Om Doni.." lirih Lana setelah membuka liontin berbentuk love dan menampakkan foto kedua orang tuanya.
"Lana akan berusaha lebih keras lagi Yah, Bun." lanjutnya mencium kedua foto itu kemudian menutupnya dan memasukannnya kembali ke dalam kotak kecil lalu ia simpan di dalam lemari. Lana segera tidur setiap malam Lana pasti akan melakukan hal itu sebelum istirahat, dan kegiatan itu sudah menjadi kebiasaan barunya.
Pagi menjelang, Lana sudah bersiap dan hendak keluar dari dalam Villa. Kini Lana bisa bangun bahkan sebelum Om Doni bangun dan menunggu Omnya itu sembari berlatih di lapangan luas.
"Kita berangkat.." ucap Doni yang sudah tiba dan berjalan mendahului Lana yang segera mengikuti langkahnya yang lebar menuju tempat latihan mereka.
Butuh waktu cukup lama bagi Lana untuk benar benar bisa menguasi latihan satu ini, karena trauma yang ia miliki sedikit menghambat pelatihannya akan tetapi itu tak menjadi rintangan besar baginya, karena keinginannya jauh lebih besar di bandingkan rasa trauma meskipun rasa itu tetap ada dan masih menghantui tidurnya.
"Kemana semua burungnya?" monolog Doni saat melihat tak ada lagi burung yang berterbangan seperti hari hari sebelumnya...
"Eh, kurasa mereka takut Lana tembak Om!" Lana yang sudah berdiri di samping Doni menjawab pertanyaan Doni yang sebenarnya bukan untuk dirinya jawab. Doni menoleh ke arah Lana sejenak kemudian kembali menatap ke depan.
__ADS_1
"Mungkin..."
"Terus kita mau latihan di mana yang banyak burungnya Om?" tanya Lana sedikit mendongakan kepalanya menatap Doni.
"Ikut Om... " ucap Doni memutar badannya dan berjalan ke arah berlawanan dengan Villa mereka, karena tujuan mereka memang bukan ke Villa.
"Om kita mau ke mana?" tanya Lana penasaran namun ia tetap mengikuti langkah Doni bahkan sesekali ia harus berlari kecil agar tak tertinggal jauh.
"Ikut saja, nanti juga tahu..." jawab Doni terus berjalan menelusuri rumput yang tidak terlalu tinggi baginya, namun untuk Lana ia harus berjuang agar bisa melewati rumput rumput itu karena tubuhnya yang masih sedikit pendek..
Sampailah mereka di lapangan luas tak juauh dari hutan, namun juka jauh dari jalanan.
"Eh, ada lapangan seluas ini di hutan?" Lana tercengang melihat lapangan yang cukup luas padahal mereka tak keluar dari hutan sama sekali.
"Ya tentu, kau lihat di sini ada banyak burung yang bisa kau jadikan target, tapi ingat hanya burung yang bisa di kita makan yang boleh kau tembak. Paham Lana!" jelas Doni menatap keponakannya yang tersenyum menatap burung yang sangat banyak sedang berterbangan di hadapannya, namun ia tetap harus bisa memilih burung mana yang hanya boleh ia tembak dan bisa di makan tentunya..
Lana segera melakukan tugasnya, sedangkan Doni sedang sibuk membuat tenda dari daun dan ranting ada di sekitar mereka. Malam itu mereka akan menginap di sana, karena jarak dari tempat mereka saat ini dengan Villa cukup jauh dan akan memakan banyak waktu nantinya, sebab itulah Doni memutuskan agar mereka tetap di sana hingga latihan Lana selesai.
"Om..." teriak Lana memanggil Om Doni dengan tersenyum bahagia pasalnya di kedua tangannya ada banyak burung yang ia bawa.
"Apa kau akan memakan semua ini Lana!" ucap Doni menepuk jidatnya.
"Eh, kan Om bilang harus menangkap sebanyak mungkin jadi Lana tembak aja yang Lana lihat.." jawab Lana dengan kepolosannya sebagai anak kecil.
"Astaga Lana..." Doni hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat keponakannya yang terlalu polos.
"Berikan..." ucap Doni dan segera beranjak dari tempatnya untuk membersihkan burung burung yang Lana tangkap di sungai.
"Om..." panggil Lana saat mereka sedang duduk berdampingan sambil membakar burung di api unggun.
"Hmm..." Doni hanya berdehem, namun ia tetap fokus pada burung yang sedang ia bakar untuk di jadikan makan malam mereka.
"Kenapa kita gak pulang ke Villa aja?" tanya Lana juga sedang memegang burung yang ia bakar sambil memutar mutar.
"Selama pelatihan kamu, kita akan tetap di sini.." jawab Doni, Lana segera menatap Omnya.
"Tapikan Lana gak bawak baju dan perlengkapan lain Om..." terang Lana
__ADS_1
"Gak perlu, kita cuma satu miggu di sini.." jawab Doni santai dan tersenyum saat melihat makan malamnya sudah matang dan tercium bau yang enak.
"Apa?" teriak Lana tepat di samping Omnya yang langsung terperanjat kaget hingga burung bakar miliknya ia lepaskan saat akan memakannya.
"Burungku..."lirihnya menatap sedih burung bakar miliknya yang sudah kotor karena jatuh ke tanah. Lana hanya terdiam tak lagi bicara, namun bibirnya sedang menahan tawa melihat Doni yang meratapi makan malamnya.
"Punya Lana udah mateng..." ucap Lana keras kemudian beranjak dari tempatnya dan duduk di dekat tenda mereka. Doni mendengus kesal melihat keponaknnya yang sedang asik menikamti makan malam miliknya, sedang ia harus kembali membakar burung baru dan itu butuh waktu cukup lama di saat kondisi perutnya yang semakin meronta ronta ingin di isi.
"Mmmm,, enak nya.." ujar Lana terus menggit bagian lain dari makanannya hingga hanya menyisakan sedikit lagi membuat Doni menelan liurnya karena ulah Lana.
"Dasar keponakan gak ada sopan sopannya, Omnya sedang kelaparan dia malah sibuk makan sendiri.." rutuk Doni menatap jengah ke arah Lana yang sudah menghabiskan makan malamnya.
"hah, Kenyangnya..." Lana memegang perutnya yang sudah kenyang setelah menghabiskan satu ekor burung.
"Akhirnya..." Doni segera memakan burung bakar kedua miliknya dengan rakus, karena memang ia sudah sangat lapar. Jika saja Lana tidak teriak seperti tadi mungkin sekarang ia sudah tidur seperti Lana yang sekarang sudah terlelap karena kekenyangan.
"Kenyang juga..." ucap Doni membuang sisa tulang ke arah lain.
Doni beranjak dari tempatnya menuju tenda darurat yang ia buat tadi siang dan melihat jika keponakannya saat ini sedang tidur sambil memeluk tubuhnya karena dingin. Dengan sigap, Doni melepas jaketnya dan memberikannya pada Lana untuk di jadikan selimut hingga gadis kecil itupun tak terlalu merasa dingin.
"Selamat malam keponakan Om.." ujar Doni mengelus rambut Lana kemudian tidur di sampingnya.
Selama seminggu mereka di sana, Lana terus berlatih tanpa lelah bahkan ia juga sering kali menangkap ikan di sungai untuk di jadikan makan malam jika merasa bosan dengan burung bakar. Doni, jangan di tanya ia hanya melihat keponakannya itu, dan akan istirahat malam hari untuk menikmati tangkapan Lana.
Setelah seminggu berlalu, Lana dan Doni kembali ke Villa mereka segera masuk ke kamar masing masing untuk membersihkan tubuh yang sangat bau karena sudah seminggu tak berganti pakaian. ihhh jorok bangetlah...
"Ah, akhirnya bisa ganti baju juga aku.." ucap Lana menatap dirinya di cermin besar sambil berputar putar.
"Cantiknya, Lana kan memang selalu cantik.." puji Lana pada dirinya sendiri, kemudian ia tertawa sambil menutup mulutnya dengan tangan, Lana naik ke tempat tidurnya dansegera memejamkan matanya hingga tertidur.
Lanjut up...
Makasih yabg dah mampir baca ya, jangan lupa like dan dukungannya, suapaya author semakin semangat...
Makasih orang baik....
🙏🙏🙏
__ADS_1