
Lana terus berusaha memperbaiki caranya meracik setiap ramuan dari tumbuhan herbal yang bila di camour maka bisa menjadi obat atau bahkan racun yang berbahaya.
"Bagaimana Lana?" Tanya Doni sat melihat keponakannya yang sedang berkutat dan fokus pada buku resep yang di berikan Doni sejak setengah jam lalu, dan masih belum bisa ia pahami.
"Lana agak bingung Om!" ungkap Lana masih tetap menatap buku resep di tangannya
"Bingung! bagian mana?" Doni semakin mendekat ke arah Lana dan ikut melihat buku resep turun temurun
"Yang ini Om.." jawab Lana menunjuk satu bahan yang tak pernah ia dengar sebelumnya.
"Oh, itu namanya daun kehodupan.." jawab Doni setelah melihat bahan yang Lana maksud.
"Daun kehidupan?" tanya Lana kini menatap, Omnya yang segera mengangguk dan tersenyum.
"Daun kehidupan adalah bahan paling di cari untuk bisa di racik menjadi obat tradisional yang bisa menghilangkan racun pada tubuh seseorang, dan sangat sulit untuk mendapatkannya.." jelas Doni
"Tapi ingat, jika kamu salah dalam meramunya maka daun itu bisa menjadi racun yang bisa membunuh tanpa ada yang bisa mengetahuinya bahkan lebih berbahaya dari yang kamu pelajari selama ini.." Doni menatap keponakannya dengan wajah serius, agar kelak Lana tak salah saat mempraktekannya.
"Baik Om, akan Lana ingat.." jawab Lana tak kalah serius.
Lana kembali fokus pada buku nya, ia terus membaca hingga bab terakhir. Sekarang Lana sudah menghafal juga memahami bagaimana cara yang benar untuk meracik semua bahan untuk membuat obat kehidupan aeperti yang Om Doninya maksud, akan tetapi ia tak segera mempraktekannya karena kini sudah hampir malam dan iapun butuh istirahat.
"Ah, lelahnya mata ini..." lirihnya saat melihat keluar jendela yang ada di rungan tempat ia membaca sekarang sudah hampir gelap. Lana segwra menutup jendela dan kemudian berlalu meninggalkan tempat nya menuju kamar untuk membersihkan tubuhnya.
"Lana, makan malam... " panggil Doni sambil mengetuk pintu kamar Lana pelan.
"Ya Om, sebentar..." jawab Lana yang baru selesai bercermin dan memuji dirinya yang semakin terlihat cantik dan manis.
__ADS_1
"Om..." panggil Lana saat mereka sedang menikmati makan malam dengan nikmat. Jujur saja, makanan yang di buat Doni benar benar nikmat bagi Lana bahkan ia bisa sampai menambah.
"Besok Lana mau mencoba membuat ramuan kehidupan. Boleh?" Lana sekilas menatp Om Doni kemudian beralih ke piringnya saat memasukkan nasi ke dalam mulut imutnya.
"Tentu." jawab Doni setelah nasi yang ia sendok sudah mendarat ke dalam mulutnya.
"Makasih Om. Lana sudah selesai.." ucap Lana dan mencuci piringnya.
"Lana masuk kamar dulu, selamat malam Om.." Lana berjalan ke arah kamarnya meninggalkan Doni yang hanya berdehem saja. Doni yang sudah selesaipun segera masuk ke dalam kamarnya untuk melakukan rutinitasnya.
"Selain Lana, aku juga harus semakin kuat agar bisa melindunginya.." ujar Doni sambil pushup dengan satu jari dan satu kaki hingga seratus kali.
"Hah, ternyata aku masih belum sekuat Kakak.." Doni kembali mengulang dan kali ini di tambah menjadi seratus lima puluh kali.
"Ya, kurasa untuk malam ini cukup.." ucapnya kemudian beranjak menuju kamar mandi untuk membersihkan badannya yang sudah penuh dengan keringat.
Lana sudah bangun sangat pagi, ia sudah bersiap dan sedang menuju ke ruangan lab tempat membuat segala macam ramuan,bahkan ramuan yang selama ini ia racikpun di simpan ileh Doni di tempat yang berbeda dan di beri stempel nama samarannya.
"ini, di campur dengan ini. Ok..." Lana mulai mengambil satu persatu bahan yang ia perlukan kemudian mencampurkannya sesuai dengan petunjuk buku yang ia baca kemarin. Hingga di ramuan terakhir yaitu daun kehidupan, Lana menarik nafasnya dalam kemudian mencampurkannya secara perlahan. Air yang sudah tercampur dengan semua bahan herbal yang Lana masukkan pun berbuih hingga sedikit tumpah karena wadah yang Lana pakai tidak terlalu besar.
Lana segera mengecilkan apinya saat melihat ramauan yang ia buat melebar ke luar dari tempatnya.
Butuh waktu hingga tiga jam agar air yang ada dalam wadah itu menyusut dan menyisakan sedikit air yang sudah berubah warna menjadi biru muda...
"Berhasil..." ucapnya bahagia karena berhasil menghasilkan ramuan kehidupan di percobaan pertamanya. Lana memperhatikan dengan seksama ramuan miliknya dan melihat jika ia baru bisa menghasilkan lima puluh persen saja.
"Lumayanlah, lain kali aku harus bisa membiat yang lebih dari pada ini..." ujarnya tetap semangat, lagi pulakan ini baru percobaan pertama baginya jadi wajar jika tak sesempurna Doni atau Ayahnya.
__ADS_1
Doni yang melihat Lana keluar dari ruang labpun segara masuk dan mengecek ramauan yang keponakannnya buat barusan.
"Lima puluh persen, untuk percobaan pertama!" Wajah terkejut Doni sangat jelas, bagaimana tidak jika seorang anak seperti Lana mampu membuat ramuan yang bahkan dulu ia dan Kakaknya harus berusaha keras hanya untuk mendapat tiga puluh persen saja, tapi Lana...
"Ku rasa dia benar benar anak genius, seperti yang pernah Ayah katakan.." ungkpnya mengingat perkataan Ayahnya saat masih hidup dan waktu itu Bunda Lana yang baru mengandung Lana dua bulan.
"Aku harus lebih serius melatihnya, agar kelak ia bisa menjadi orang yang pernah Ayah katakan..." Doni semakin yakin jika Lana keponakannya bukan anak biasa. Doni menyimpan ramuan milik Lana di dalam lemari kaca dan di beri nama samaran 'An'itu adalah singkatan dari nama keluarganya Angkara.
Lana yang sudah kembali kedalam kamarnyapun segera istirahat karena ia sangat lelah saat membuat ramuan yang harus menunggu hingga berjam jam lamanya.
"Ah, ternyata membuat ramauan kehidupan sanagt melelahkan dari membuat ramuan lain.." lirhnya, ia segera menjatuhkan tubuh nya ke atas kasur dan menghadap ke arah lemari. Sejenak ia menayap lemari di hadapannya, meski terlihat kuno namun masih sangat indah di mata Lana.
Lana mendekat ke arah lemari itu dan membuka salah satu laci yang paling atas. Sebuah buku terlihat di dalam laci itu dan segera Lana ambil karena penasaran.
"Buku apa ini, lusuh dan kuno sekali.." ucap Lana memandangi buku yang sudah ia pegang sambil memutar mutarkannya.
Lana hendak membuka buku itu namun gerakan tangannya terhenti saat Doni memanggilnya. Lana segera manaruh kembali buku itu ke dalam laci kemudian berjalan menuju pintu.
Saat Lana yang sudah benar benar keluar dan menutup pintunya, buku kecil yang Lana taruh kembali ke dalam lemari kuno itu bersinar, namun sinarnya tidak terlalu terang dan hanya beberapa detik saja kemudian menghilang.
Malam hari seperti biasa, saat Lana sudah selesai makan ia langsung kembali ke dalam kamarnya untuk istirahat dan bangun lebih awal untuk melakukan pemanasan sebelum mlatih fisik atau otaknya...
Ok lanjut....
Semoga selalu suka ya, maaf kurang baik dalam penulisannya.
Makasih yang udah mampir baca, jangan lupa like dan dukungannya ya....
__ADS_1
Makasih orang baik...
🙏🙏🙏