Gadis Manis Ternyata Suhu

Gadis Manis Ternyata Suhu
Pelajaran Baru


__ADS_3

Doni sedang sarapan sendiri karena Lana yang terlihat belum bangun dari mimpi indahnya, hingga Doni selesaipun Lana masih velum ada tanda tanda jika ia akan bangun.


"Anak ini.." ucap Doni saat mengintip Lana yang masih tidur dengan nyenyak dengan posisi tengkurap bahkan ia mendengkur.


"Mentang mentang hari ini gak latihan, tidur udah kayak mayat.." rutuknya masih mengintip keponakannya dengan kepala yang semakin memasuki kamar Lana, namun iapun tak berniat untuk masuk.


Doni beranjak dari kamar Lana dan segera keluar Villa menuju tempat di mana ia telah berjanji untuk bertemu dengan seseorang.


"Bagaimana situasi sekarang?" tanya Doni saat ia sudah tiba di suatu tempat tak jauh dari Villa dan mendapati seorang pria yang berpakaian sama seperti ia saat keluar beberapa waktu lalu.


"Masih belum terkendali Tuan! bahkan sekarang mereka sedang gencar gencarnya mencari Nona Muda." jelas orang di hadapannya dengan serius namun tetap menaruh hormat pada Doni yang mengangguk mengerti.


"Bahkan sekarang medeka sedang berusaha untuk bisa menguasai milik Tuan juga Nona Muda setelah Tuan dan Nyonya besar di makamkan." jelasnya lagi membuat Doni sedikit tercengang.


"Mereka sudah bergerak cepat rupanya!" ujar Doni menutup matanya memikirkan sesuatu.


"Benar, hanya saja mereka belum bisa melakukan apapun karena belum bisa menemukan Tuan juga Nona muda sebagai pemilik sah yang di ketahui selama dari pembantaian waktu itu.." Dini kembali mengangguk dan membuka matanya menatap ke arah orang yang berdiri tepat di hadapannya.


"Terimakasih atas informasimu, sekarang kembalilah dan tetap awasi mereka.." ujar Foni tersenyum ke arah orang itu


"Baik Tuan, sudah menjadi tugas kami untuk tetap bisa setia dan menjaga penerus yang sah keluarga Angkara.." ucap orang dihadapan Doni dengan menundukan wajahnya. Doni tersenyum mendengar penuturan orang itu.


"Untuk itu aku sangat berterimakasih." ujar Doni tulus sambil menepuk pundak orang yang sangat menghormatinya


"Sekarang aku dan Lana masih belum bisa kembali, tapi kami pasti akan segera medebut apa yang menjadi milik kami dan membalaskan kematian orang orang yang kami sayangi.." Doni menggenggam erat kedua tangannya dan menatap lurus ke arah depan dengan mata menyala, membuat orang yang selalu memanggilnya Tuan merasa senang karena akhirnya salah satu Tuan Muda keluarga Angkara telah kembali meskipun Tuan mereka Ayah Lana sudah tiada.


"Kami pasti akan selalu membantu Tuan..." ucapnya ikut semangat.


"Sekarang sebaiknya kau kembali Setya, jngan sampai ada yang curiga.." ujar Doni kembali menatap orang yang didepannya yang selalu setiamemberikan informasi padanya.


"Baik Tuan, saya undur diri.." ucapnya kemudian berlalu meninggalkan Doni yang masih berdiri di sana menatap kepergian orang yang bernama Setya.


"Tunggu dan lihat saja, aku dan Lana akan menghancurkan kalian hingga ke akar.." ujar Doni penuh amarah yang membucah.


"Sebaiknya aku juga segera kembali karena sudah cukup lama aku keluar meninggalkan gadis ingusan itu.." Doni segera kembali ke Villa setelah mengingat keponakannya yang ia tinggal saat masih tidur.


"Om..." panggil Lana yang berdiri di samping pintu saat melihat Doni masuk ke dalam Villa. Mendngar panggilan Lana yang berada di belakangnya membuat ia sediki kaget dan menoleh ke belakang menatap Lana dengan kesal.


"Kau, sejak kapan di sana?" tanya Doni setelah melihat Lana yang berdiri sambil melipat kedua tangannya di depan dadanya yang masih rata.


"Sejak Om masih jauh di sana." jawab Lana menoleh ke belakangnya dan menunjuk arah Doni datang tadi.


"Om dari mana? pergi gak bilang bilang sama Lana!" rutuk Lana memandang kesal Om Doni yang pergi tanpa memberitahukannya atau membangunkannya.

__ADS_1


"Eh, sejak kapan kamu kepo sama urusan Om?" Doni tak menjawab ia malah berbalik bertanya menatap keponakannya dengan tatapan menyelidiki.


"Sejak saat inilah, pokoknya Lana gak mau tahu kalo Om mau pergi harus izin dulu sama Lana." ucap Lana lantang. Doni memicingkan matanya menatap keponakannya yang terdengar posesif seperti seorang wanita pada kekasihnya.


"Kenapa Om harus izin?" tanya Doni sambil berbalik meninggalkan Lana yang segera mengejar Omnya dan menghadangnya dengan merentangkan kedua tangan di depan Doni yang segera berhenti.


"Karena, karena...." Lana berfikir keras untuk memberikan alasannya pada Doni yang sudah menunggu jawabannya.


"Itu karena Lana wanitanya Om Donilah.." jawab Lana yang ia fikirkan hanya kata kata itu.


"Apa?" ujar Dkni kaget mendengar ucapan keponakannya yang masih belum cukup umur untuk bisa. mengatakan hal itu..


"Ulangi!" perintah Doni masih menatap Lana tak percaya.


"Karena Lana wanitanya Om Doni.." Lana menekankan setiap katanya. membuat Doni semakin pusing.


"Lana tahu artinya 'wanita Om'? " tanya Doni mencoba sabar menghadapi keponakannya yang terlalu polos dan ceplas ceplos. Lana hanya menggeleng.


"Pokoknya Lana mau Om izin kalo pergi. titik.." lanjut Lana kemudian berlalu meninggalkan Doni yang masih tercengang dengan mulut terbuka menatap keponakannya yang sudah kembali ke dalam kamarnya.


"Lana, dari mana anak itu dapat kata kata macam itu?" monolog Doni pada dirinya sendiri, ia memegang kepalanya yang terasa pusing karena ulah Lana.


"Sepertinya aku perlu berendam agar otakku normal." lirih Doni segera menuju kamarnya dan segera berendam dengan air hangat yang sudah ia tuangkan sabun serta wewangian yang bisa membuat tubuh juga otaknya refresh.


"Om..." panggil Lana menggedor pintu kamar Doni


"Om Doni buka pintunya..." teriak Lana lebih keras membuat Doni yang sedang menikmati masa berendamnyapun mendengus kesal mendengar teriakkan keponakannya yang semakin membuatnya pusing.


"Om Doni..." teriak Lana lagi, ia terus menggedor pintu kamar Doni dengan keras. Doni yang sudah berpakaian santaipun segera membuka pintu kamar dan melihat Lana dengan kesal.


"Kenapa?" tanya Doni saat ia sudah di hadapan gadis kecil yang sudah tumbuh lebih tinggi sedikit.


"Lana bosan, kita latihan aja Om.." ajak Lana menunjukkan wajah manisnya.


"Tumben, biasanya males.." ledek Doni menutup pintu kamar dan berjalan mendahului Lana yang tersenyum sambil mengikuti langakah Doni menuju lapangan luas.


"Kita mau latihan apa Om?" tanya Lana antusias.


"Keliling lapangan ini sebanyak lima puluh kali." perintah Doni, Lana hanya melongo menatap Doni.


"Cepet katanya mau latihan." ujar Doni saat melihat Lana yang hanya diam di sampingnya.


"Kirain mau latihan nembak, eh malah di suruh lari.." lirih Lana tetap melakukan perintah Om Doni. Hanya butuh waktu dua jam bagi Lana menyelesaikan latihan larinya, karena itu sudah sangat biasa baginya.

__ADS_1


"Sudah Om..." ucap Lana saat sudah berada di hadapan Doni.


"Sekarang pushup seratus kali.." lagi lagi Lana hanya menuruti perintah Doni meski wajahnya terlihat kesal.


"Sekarang apa?" Lana yang sudah selesai dengan pushuonya segera berdiri dengan nafas yang mulai ngos ngosan.


"Sekarang berenang mengelilingi danau ini sebanyak dua puluh kali!" ujar Doni tetap santai duduk di bawah pohon rindang di dekat danau.


"Apa? Om bercanda kan!" ucap Lana tak percaya dengan perintah Om Doni satu ini, berenang dua puluh kali di danau yang selebar itu. Latihan atau mau membunuh sih!


"Cepat jangan banyak ngoceh.." ucap Doni menatap Lana yang hanya bisa pasrah dan segera lompat ke danau kemudian ia mulai berenang memutari danau yang cukup luas.


"Cepat Lana!" ucap Doni saat melihat Lana yang berhenti. Sebenarnya Doni hanya ingin mengerjai keponakannya itu, karena ia sudah di buat kesal dengan tingkah Lana.


("Dasar Om gila, masa iya berenang kelilingi danau seluas ini.") batinnya merutuki Doni. Lana kembali berenang memutari danau meskipun kakinya mulai terasa keram dan tubuhnya yang mulai kedinginan, namun ia ak berhenti hingga dua puluh putaran ia selesaikan.


"Sudah.." ucap Lana yang basah kuyub ketika sudah naik dari danau dan berdiri di hadapan Doni, dengan tubuh yang sudah kedinginan ia tetap berlatih bahkan pakaian yang tadi basah sampai kering di tubuhnya.


Sekarang Lana sedang belajar mengenali tumbuh tumbuhan yang bisa di jadikan obat atau bahkan racun mematikan. Dengan sabar Doni memberi tahu Lana, jika setiap tumbuhan yang ada di hadapannya bisa berpengaruh besar jika ia bisa mencampurkannya dengan bahan yang tepat.


Lana yang memang memiliki otak di atas rata ratapun segera mengerti, ia mencoba mencampurkan beberapa jenis tumbuhan dan membuatnya menjadi sebuah obat yang cukup baik untuk pemula seperti Lana, dan itu tak lepas dari pengawasan Doni.


"Berhasil..." ucap Lana melihat air rebusan hasil dari campuran beberapa bahan yang ia dapatkan dari resep yang telah Doni berikan padanya.


"Bagus..." ucap Doni saat melihat cairan berwarna hijau pekat di tangan Lana.


"Ini ada racun, siapa saja yang meminumnya pasti langsung tiada tanpa ada yang tahu,bahkan dokter hebat sekalipun tak akan bisa mendetekai jika tak teliti.." ujar Doni saat memberikan penjelasan pada Lana yang hanya mengangguk mengerti


"Akan tetapi ini masih belum sempurna, kamu harus lebih serius saat membuatnya." lanjut Doni setelah meneliti dengan memperhatikan warna dari cairan di tangannya.


"Baik Om..." jawab Lana serius.


"Sekarang istirahatlah, biar Om yang akan menyimpan ini ke dalam lab.." ujar Doni. Lana kembali mengangguk dan berjalan meninggalkan Doni yang masih berdiri di tempatnya.


"Kamu memang anak genius Lana.." ujar Doni kembali menatap cairan yang Lana buat barusan dengan bangga.


Lanjut....


Beguyur ya upnya....


Makasih yang udah mampir baca, jangan lupa like dan dukungannya ya, biar author juga makin semangat...


Makasih orang baik...

__ADS_1


🙏🙏🙏


__ADS_2