
"Diego!" lirih Lana saat matanya mendapati pria yang cukup ia kenal berada di depan gedung sekolahnya, dan seperti menunggu seseorang.
Lana baru tiba di sekolah, ia tanpa sengaja melihat Diego yang berdiri sambil menyandarkan tubuhnya pada mobil dengan sebelah tangan yang sibuk. memainkan handpone sedang yang satunya ia masukkan ke dalam saku celananya.
Lana turun dari mobil, ia masih terlihat biasa saja dan mulai berjalan mendekati Diego yang juga sudah melihatnya namun tetap pada sikap tenang dan wajah datar.
"An..." panggil Diego
"Sedang apa kau di sini?" tanya Lana saat mereka sudah saling berhadapan, ada banyak pasang mata yang memeprhatikan Lana juga pria tampan yng sedang berbicara dengannya.
"Adik manis!" panggil gadis yang baru keluar dari dalam gedung sekolahnya. Lana menoleh ke arah sumber suara, tentu saja ia masih ingat dengan panggilan itu untuknya.
"Eh..." Lana menatap Amira Kakak perempuan Diego, kemudian ia beralih menatp pria tampan di hadapannya.
"Ah! benar.." ujar Lana, ia kembali menatap Amira yang kini sudah di sampingnya dan tersenyum. Lanapun memberikan senyuman termanisnya pada Amira.
"Hmm, Kakak kangen banget sama kamu.." ucap Amira langsung memeluk Lana yang hanya diam, namun sedetik kemudian ia membalas pelukan Amira.
"Kakak kok bisa di sini?" tanya Lana, wajahnya berubah hangat saat berhadapan dengan Amira atau Bu Misya, bedanya jika dengan Amira tulus karena ia memang menyukai Amira dan juga keluarganya adalah sahabat baik orang tuanya bahkan sampai saat ini, sedangkan Bu Misya ia juga tulus hanya saja ada sedikit maksud terselubung di dalamnya.
"Kakak kangen kamu jadi Kakak. ajak Diego buat temenin Kakak ke sini deh!" jawab Amira menatap Diego sekilas yang masih berdiri dengan wajah dinginnya dan kedua tangan yang ia lipat di depan dadanya.
"Ah! Kakak terlalu berlebihan, seharusnya Kakak. kasih tahu An saja jadi, An saja yang pergi menemui Kakak." ujar Lana lembut, semua orang yang melihat sikap dan tutur kata Lana yang lembut pada gadis di depannya sangat terkejut, mereka bahkan mulai bergosip tentangnya.
"Ya, tapi Kakak mau lihat kamh sebentar sebelum Kakak pergi!" ucap Amira, wajahnya berubah sedih. Amira sudah sangat menyayangi Lana seperti saudaranya sendiri, terlebih setelah ia kehilangan saudara perempuannya beberapa tahun yang lalu dan kini bertemu dengan Lana yang sangat imut membuat dirinya sedikit banyak melupakan kejadian buruk yang menimpa saudaranya juga keluarga dulu.
"Emang Kakak mau ke mana?" tanya Lana, ia mengerutkan keningnya menatap Amira.
"Ke Ney York.." jawab Amira semakin sedih.
"Ney York!" ulang Lana meyakinkan pendengarannya, dan Amira hanya mengangguk bahkan air matanya sudah jatuh.
"Eh! Kak jangan nangis!" ujar Lana memegang jedua bahu Amira yang naik turun karena sudah menangis.
"Kakak gak tahu, tapi Kakak ngerasa sedih buat pisah sama kamu." jawab Amira, Lana tersenyum lembut menatap Amira yang begitu tulus sayang padanya hingga ia merasa seperti memiliki seorang Kakak yang begitu menyayanginya.
"Kak.." panggil Lana lembut, Amira segera mengangkat kepalanya dan menatap Lana.
"An akan tunggu Kakak kembali, dan kita bisa bertemu lagi." ucap Lana ia menatap lembut pada Amira yang sudah menghentikan tangisannya sedangkan Diego hanya diam memperhatikan mereka berdua.
"Dan ya, Kakak juga harus janji buat kembali ke sini dan bertemu An!" lanjut Lana, Amira mengangguk cepat.
"Tentu.." jawab Amira langsung memeluk Lana, sedangkan Lana kembali tersenyum hangat juga membalas pelukan sayang dari Amira.
"Oh ya, berapa lama Kakak di sana? terus sama siapa?" tanya Lana, hampir saja ia meluoakan hal itu.
"Hmm, mungkin dua sampai tiga tahun!" jawab Amira kembali sedih karena harus berpisah dengan gadis manisnya yang sudah sangat ia sayangi.
"Ah! lumayan lama Kak." ucap Lana.
"Hm, dan Kakak akan ke sana bersama Mami dan Papi sedangkan Diego harus mengurus perusahaan yang ada di sini." lanjut Amira menoleh pada Diego sekilas dan kembalih menatap Lana yang juga melirik ke arah Diego sekilas.
"Oh, ya." ucap Lana, ia kembali tersenyum.
"Kak, An harus sekolah sebaiknya kita pulang!" ajak Diego setelah mereka mendengar bel masuk sekolah.
"Ya.." jawab Amira, ia kembali memeluk Lana cukup lama seolah ini adalah oertemuan terakhurnya dengan gadis di hadapannya ini.
"Kakak pulang dulu ya, nanti kalo Kakak berangkat kamu bisakan anter Kakak?" tanya Amira penuh harap dan Lana segera. mengangguk dan tersenyum hangat membuat Amira lega dan ikut tersenyum.
Amira dan Diego sudah pergi, Lanapun segera masuk ke dalam kelas dan langsung di sambut oleh kedua sahabatnya yang tadi sempat melihat dirinya juga Amira serta Diego.
"Hmm, yang di apelin.." ujar Rosa melirik Lana yang baru memasuki kelas dan menuju mejanya.
"Siapa? kamu?" tanya Lana santai dan duduk di kursinya tanpa menoleh ke arah Rosa yang kini justru terlihat kesal dengan bibirnya yang mengerucut.
"Kamu An!" ujar Rosa kesal.
"Aku, gak tuh.." jawab Lana masih santai
__ADS_1
"Kalo gak terus tadi siapa?" tanya Rosa masih menatap kesal ada Lana
"Kak Amira!" ucap Lana menaikan satu alisnya menatap Rosa
"Ya, terus yabg bersamanya!" ujar Rosa semakin memperdalam tatapannya pada Lana yang kini menautkan kedua alisnya.
"Diego!" ucap Lana dan Rosa mengangguk dengan senyuman penuh arti.
"Bukan siapa siapa, lagian aku hnya dekat dengan Kak Amira Kakaknya dan bukan pria itu." jawab Lana mengalihkan pandangannya ke arah buku novel yang hendak ia baca.
"Ah! sayang banget padahal ganteng loh An!" ucap Rosa seolah menyayangkan jika pria setampan Diego tak menjadi apa apa bagi sahabatnya itu.
"Ambil aja kalo mau!" ujar Lana sekenanya. Rosa menatap Lana namun seketika tatapannya teralihkan ada Crish yang duduk di depannya dans sedang menatapnya tajam.
"Eheh, sayang aku bercanda..." ucap Rosa tersenyum masam melihat Crish yang menatapnya dengan kesal, sedangkan Lana justru tersenyum tipis dan sibuk dengan buku novel percintaannya.
"Ah! sialan kamu. An!" gumam Rosa melirik Lana yang semakin memperlebar senyumannya, sedang Rosa segera berpindah dan bergelayut manja di lengan Crish yang masih merasa kesal, namun tak butuh waktu lama bagi Rosa membujuk kekasihnya itu karena Crish yang juga percaya dan sangat mencintai Rosa.
("Semiga klian bisa selalu bahagia dan bersama.") batin Lana memperhatikan keromantisan kedua sahabatnya, senyuman manisnya kembali terpaut di bibur imutnya namun segera ia hilangkan saat Guru mulai masuk ke kelas dan memulai pelajaran.
"An, aku masih penasaran dengan yang kamu lakukan sama Papah dan Mamah! sampai mereka bisa berubah 180 derajat dan tak lagi mendesak aku untuk tetap menerima Hana?" tanya Crish, ia sungguh masih penasaran dengan perubahan sikap kedua orang tuanya, bahkan sekarang orang tuanya sudah terang terangan merestui hubungannya dengan Rosa.
"Tidak ada!" jawab Lana, wajah tenang dan dingin tak pernah berubah saat di sekolah kecuali saat ia sedang bersama Rosa sahabatnya.
"Hah.." terdengar helaan nafas kasar dari Crish.
"Kau selalu mengatakan hal yang sama saat aku bertanya An!" ujar Crish akhirnya menyerah, meskioun ia masih sangat penasaran tapi ia juga tak mungkin memaksa sahabatnya itu menjawab pertanyaannya, lagi pula karena Lanalah hubungan dirinya dengan Rosa bisa berjalan lancar juga hubungannya dengan keluarganyapun semakin membaik.
"Tapi, aku tetap berterima kasih karena aku tahu itu semua karena dirimu." ucap Crish tulus dan Lana hanya mengangguk sekali seolah ia menerima ucapan terima kasih dari kekasih sahabatnya.
"Kalian ngomongin apa?" tanya Rosa yang baru datang karena tadi ia pergi ke toilet sebentar.
"Kamu!" jawab Lana menatap Rosa sekilas.
"Aku!" ulang Rosa dengan wajah bingung.
Crish dan Lana tersenyum tipis melihat wajah Rosa yang terlihat lucu di mata mereka.
"Crish..." tegur Rosa merasa malu, ia. memukul pelan lengan Crish yang semakin tersenyum.
Kedekatan dan kebahagiaan ketiga orang itu tak luput dari pandangan Hana yang sejak lama menyukai Crish, namun karena ancaman dari Lana ia harus merelakan cintanya. Tatapan Hana begitu tajam mengarah pada Rosa juga Lana, namun saat menatap Crish tatapannya berubah menjadi sendu karena ia harus melepaskan cintanya untuk orang lain.
"Kenapa kau sama sekali tak bisa melihatku Crish?" lirih Hana masih menatap sedih ke arah Crish. Hana meninggalkan kantin tanpa menyentuh makanannya, sungguh ia tak sanggup melihat kemesraan antara Crish dan juga Rosa, hatinya sangat sakit.
Lana bisa melihat tatapan sedih Hana, ia tahu persis perasaan itu karena ia juga mencintai seseorang.
"Gadis itu, sepertinya ia sangat mencintai Crish tapi sayang tak mungkin terbalaskan!" gumam Lana, ia kembali menatap Crish dan Rosa yang terlihat semakin dekat dan romantis di setiap harinya.
Lana menggelengkan kepalanya pelan hingga tak di sadari oleh kedua orang di hadapannya yang sedang bucin bucinnya. Lana juga segera menghabiskan makanannya dan pamit duluan untuk kelas.
"Kalian lanjutkan, aku akan ke kelas duluan!" ucap Lana dan meninggalkan kedua sahabatnya yang menatap kepergiannya tanpa sempat mereka jawab.
Lana hendak menuju kelas namun ia melihat Hana yang menaiki tangga dengan cepag sambil menangis. Lana yang penasaranpun akhirnya mengikuti Hana dan berjalan sedikit lambat dari gadis di depannya.
Hana sudah sampai di gedung tertinggi di sekolah, lantai 5.
Hana semakin menangis kencang ia berdiri tepat di pinggir dan terlihat ingin melompat.
"Aku tak bisa terus terusan melihat kebahagiaan orang yang aku cintai bersama orang lain!" lirihnya, air mata terus berjatuhan dan membasahi pipinya.
"Aku mencintaimu Crish, tapi kau tak pernah sedikitpun melihat cintaku.." Hana semakin terisak, ia mengingat masa masa di mana dirinya yang selalu mengejar cinta Crish namun selalu terabaikan.
Lana yang sudah tiba di sana dan mendengarkan keluah kesah Hana ikut tersentuh, ia tak menyangka jika gadis itu begitu mencintai Crish.
"Bodoh..." umpat Lana berjalan perlahan ke arah Hana yang terkejut akan kehadiran dirinya.
"Kau-" Hana menautkan kedua alisnya menatap Lana yang tersenyum sinis padanya.
"Selemah itu dirimu ternyata!" Lana kembali mengatakan hal yang membuat Hana kesal.
__ADS_1
"Sedang aoa kau di sini?" tanya Hana tak kalah sinis menatap Lana tak suka. Lana kembali tersenyum miring dan menatap lekat manik mata Hana.
"Tentu saja. menyaksikan kematianmu!? jawab Lana santai dan duduk di sisi lain gedung sambil terus memperhatikan Hana yang wajahnya terlihat masam.
"Ya! kau dan sahabatmu itu akan merasa bahagia jika aku tida bukan!" ucap Hana, nada suaranya melemah seiring matanya yang mental ke arah bawah gedung.
"Tidak juga, tapi ya sedikit ada benarnya!" jawab Lana masih menatap Hana yang juga beralih menatapnya.
"Apa maumu An? kenapa kau lakukan ini padaku?" tanya Hana pada akhirnya, ia menatap Lana meminta penjelasan. Air matanya kembali menetes bahkan lebih memilukan.
Lana terdiam sejenak, ia memperhatikan Hana yang masih berdiri di atas seakan ingin melompat.
"Tidak ada! hanya saja aku ingin membuatmu sadar jika cinta tak bisa di paksa dan terkadang memang menyakitkan." jawab Lana, wajahnya terlihat sedikit serius. Hana tersenyum getir mendengar perkataan Lana barusan.
"Ya! dan sekarang kau sudah menyadarkan aku jika aku bukanlah orang yang di cintai Crish." ucap Hana semakin terisak.
"Kau tahu An! aku sangat mencintainya dan melihat dia bersama irang lain membuat dadaku sesak dan sakit." lanjut Hana, suaranya bergetar dan terdengar memilukan. Lana hanya diam dan tetap mendengarkan ucapan Hana.
"Kau tak akan tahu rasanya, karen kau tak pernah mencintai seseorang!" ucap Hana menatap Lana yang justru tersenyum, Hana mengerutkan keningnya melihat senyuman tipis Lana.
"Kau salah!" jawab Lana, matanya terpejam sesaat kemudian kembali terbuka dan menatap Hana hangat. Hana terkejut dengan tatapn hangat Lana, baru kali ini ia melihatnya dan langsung tertuju padanya.
"Aku juga pernah mencintai seseorang, dan aku tahu seperti apa rasanya berpisah dengan orang yang kita cintai." ucap Lana, ia. kembali mengingat masa lalunya bersama Farid pria oertama yang Lana cintai padahal saat itu usianya baru 10 tahun.
Hana tercengan mendengar kejujuran Lana padanya, gadis itu sampai mundur kebelakang hingga hampir membuatnya jatuh jika saja Lana tak segera menarik tangannya.
"Hati hati, aku tahu kau tak sungguh sungguh inhin mati bukan!" ucap Lana saat ia dan Hana jatuh bersama.
"Kenapa kau menyelamatkanku An?" tanya Hana tatapan kembali sendu.
"Karena aku memang tak berniat membunuhmu!" jawab Lana, ia meluruskan kakinya dan meletakkan kedua tangannya di belakang untuk menopang tubuhnya.
"Lalu apa yang kau inginkan?" Hana masih terus bertanya, namun nadanya sedikit berubah lebih lembut.
"Aku hanya ingin membuatmu sadar, cinta itu datang dari hati bukan dari paksaan seperti yang kau lakukan selama ini." jawab Lana, ia juga menatap Hana yang kembali terkejut dengan tatapan hangat Lana serta senyuman manisnya.
"Kau benar!" ucap Hana yang baru sadar akan kesalahannya, bahkan karena kesalahan serta kebodohannya itu ia hampir saja mengakhiri hidupnya sendiri.
"Bagus jika kau sadar, sekarang hiduplah dengan damai dan sia siakan hidupmu yang berharga itu." ujar Lana ia menepuk pundak Hana sekali dan metapnya hangat. Hana merasa lega, karena ia bisa berkata jujur dan seluas ini pada Lana yang ia kira adalah musuhnya.
"Maaf An, selama ini aku sudqh membencimu!" jujur Hana merasa menyesal karena telah membenci orang yang salah.
"Ya, aku maafkan." jawab Lana, mereka sekilas saling tatap kemudian saling tersenyum.
"Terima kasih!" ucap Hana tulus saat Lana yang sudah berdiri dan membantunya berdiri dengan memberikan tangannya yang segera ia raih.
"Hm, jangan pernah ulangi kesalahan yang sama!"ujar Lana memberikan nasihat, Hana mengangguk dan tersenyum. Medekapun segera pergi dari sana dan menuju ke kelas bersama sama hingga mengundang perhatian para siswa yang sejak dulu tahu akan kebencian Hana pada gadis dingin yaitu Lana.
Hana dan Lana sama sama cuek dan tak perduli akan tatapan semua siswa, mereka tetap berjalan bersama menuju kelas dan berpisah karena tempat mereka yang berbeda, nmun saat Hana sempat tersenyum singkat pada Lana yang hanya mengangguk dan menuju mejanya sendiri.
"An..." panggil Rosa yang juga melihat pemandangan langka barusan.
"Hmm." Lana hanya berdehem tanpa menoleh
"Apa yang kalian lakukan, hingga kalian bisa berjalan bersama?" tanya Rosa penasaran bahkan Crish pun menoleh ke belakang dan ikut menatap Lana.
"Tidak ada, mungkin gadis itu mulai menyadari kesalahannya." jawab Lana santai, Rosa. kembali ingin bertanya namun ia urungkan karena guru wanita yang sudah masuk ke kelas. mereka dan akan memulai pelajaran. Hingga jam pulang sekolah Lana tetap diam dan hanya menjawab pertanyaan Rosa dengan taka teki yang tak ia mengerti.
Lana sudah berada di mobil, ia kembali tersenyum, setidaknya ia bisa menyelamatkan nyawa seseorang yang memang sejak awal niatnya hanya ingin membuat Hana sadar dan bisa hidup bahagia dengan kehidupannya sendiri, tanpa bayang bayang Crish yang sangat ia cintai namun harus bertepuk sebelah tangan.
Lana juga membayangkan Farid yang memang pernah ia cintai, namun sekarang sudah tergantikan oleh Doni yang sepenuhnya telah mengisi hatinya. Lana semakin mempelebar senyumannya saat membayangkan wajah Doni baik saat sedang marah atau kesal padanya juga senyuman Doni yang selalu ada di benak Lana.
"Aku harap Om Doni juga memiliki perasaan yang sama denganku, agar kisah cintaku tak seperti Hana!" gumam Lana.
Lanjut lagi...
Semoga makin suka ya...
Makasih....
__ADS_1
😊🙏🙏