
Lana sedang berjalan jalan di taman, tak sengaja ia melihat lima orang pria dengan badan kekar hendak melakukan pelecehan terhadap seorang wanita cantik yang tak berdaya dengan pkaian yang sudah compang camping, membuat darahnya serasa mendidih. Lana mulai berjalan mendekati mereka dengan wajah yang memerah karena serta tatapan tajam.
"Hentikan.." ujar Lana dengan menahan tangan pria yang wajahnya penuh dengan luka sabetan saat ia hendak menarik baju yang di pakai wanita yang sudah tak bertenaga karena terus di pukuli sejak tadi.
"Siapa kau? beraninya menahan tanganku.." ucap Pria yang tangannya di tahan oleh Lana, namun saat melihat wajah Lana yang cantik membuat ia tersenyum mesum.
"Gadis manis, lepaskan tangan Om.." Pria itu hendak memegang tangan Lana dengan tangan satunya, namun siapa sangka jika tiba tiba saja tangannya sudah patah karena terlalu keras di putar oleh gadis manis yang ingin ia goda barusan.
krekkkk... (bunyi tulang patah)
"Akhhhh, tanganku..." teriaknya mundur ke belakang sambil memegang sebelah tangannya yang sudah patah dan tak mungkin bisa di gunakan lagi.
"Menyingkir atau mati?" ucap Lana mengancam dengan suara pelan namun terdengar menyeramkan di telinga lima orang yang berdiri di hadapannya termaksud irang yang kini tangannya sudah patah dan wajahnya kian pucat.
"Kau gadis kecil berani sekali mengancam kami hah! " ucap pria lain yang berdiri di samoin oria yang masih meringis kesakitan. Lana tersenyum smirk, senyumannya terlihat menakutkan sekali.
"Kita serang bersama.." perinta pria tmyang bersiri di tengah. Mereka berlima menyerang Lana bersamaan, namun dengan cepat dan mudah Lana sudah memukul mundur mereka semua hingga ada yang sudah jatuh tekapar setelah menerima tendangan maut dari Lana yang masih terlihat santai dan tak tersentuh sama sekali.
Kelima pria itupun segera lari tunggang langgang setelah merasakan pukulan serta tendangan dari Lana.
"Kaka gak papa?" tanya Lana pada wanita yang kini sudah terduduk meskioun tubuhnya masih terasa lemas.
"Ya, terimakasih adik manis.." jawabnya, menahan sakit di bagian lengannya yang terluka akibat benda tajam. Melihat itu Lana segera mengeluarkan sesuatu dari dalam tas kecilnya kemudian mengoleskannya pada wanita cantik di hadapannya.
"Akhh, sakit..." lirih wanita itu menahan rasa sakit di bagian lengannya dengan mata tertutup.
"Tahan Kak.." ujar Lana kemudian ia menyibek sedikit bagian baju yang di pakai wanita itu untuk ia ikatkan di lengannya sendiri.
"Eh.." ucap wanita yang Lana tolong melihat Lana yang menyobwk ujung bajunya.
"Maaf Kak, aku gak bawak handsaplas jadi baju Kakak aja ya!" ujar Lana tersenyum manis, wanita ity hanya mengangguk dan memperhatikan jari kecil dan lentik Lana saat mengikatkan sobekkan bajunya ke lengannya.
"Terimakasih.." ujarnya lagi merasa beruntung karena bisa bertemu dengan gadis baik dan hebat seperti Lana jika tidak mungkin saja sekarang ia sudah di nodai oleh lima orang tadi.
"Siapa nama Kaka?" tanya Lana menatap wanita yang masih berusaha menahan rasa sakit
"Namaku, Amira. Kamu siapa?" jawaban sekaligus pertanyaan ia lontarkan pada Lana
"Aku An.." jawab Lana
"Terimakasih An, kamu sudah nolongin aku.." ucap Amira lagi
"Hm, sekarang katakan di mana rumahmu biar aku bisa antar pulang sekarang!" ujar Lana
"Rumahku lumayan jauh dari sini.." jawab Amira
"Sebaiknya kita cari tempat nyaman buat duduk dulu." ucap Lana kemudian matanya mencari tempat yang nyaman untuk mereka mengobrol sejenak.
"Di sana! kita ke sana aja Kak.." ujar Lana setelah melihat tempat yang pas menurutnya. Lana sehmgera membantu Amira berdiri dan berjalan menuju tempat di dekat danau.
"Kenapa Kakak bisa sampai ke sini?" tanya Lana saat mereka sudah duduk dengan kaki di selonjorkan.
__ADS_1
"Tadinya Kakak hanya ingin bermain, dan ada pengawal bersama Kakak tapi siapa kira ternyata orang orang tadi lebih hebat dari pada oengawal Kakak sampai mereka kalah dan hendak menangkap Kakak tapi Kakak terus berlari sampai ke sini.." jelas Amira kembali sedih saat mengungat kejadian yang baru saja ia alami dan hampir merenggut kehormatan dan mjngkin saja nyawanya juga.
"Lalu di mana rumah Kakak?" tanya Lana karena Amira belum juga memberitahukan alamatnya.
"Dijalan xxxxxx no lima dek.." jawab Amira menatap ke arah Lana yang seperti sedang berfikir
"Ayok biar aku antar Kakak pulang sekarang, mungkin di depan sana ada taxi." ujar Lana kembali membantu Amira berdiri.
"Tapi Kakak akan lambat berjalan dek.." ucap Amira merasa tak enak
"Gak papa, biar aku bantu.." jawab Lana tersenyum manis.
"Kamu sangat manis, tapi siapa sangka jika ternyata kamu sangat hebat. Adik Manis..." ujar Amira jujur menatap Lana yang hanya tersenyum dengan panggilan Amira padanya.
hampir setengah jam mereka berjalan dan akhirnya ada mobil berwarna biru muda berhenti tak jauh dari mereka.
"Amira..." panggil pria paruh baya yang baru saja keluar dari dalam mobil dan berlari mendekati mereka
"Papi..." ucap Amira merasa lega dan senang melihat Papinya sudah datang
"Amira, sayang..." Papi Amira segera memeluk anaknya, ia merasa sangat lega melihat putrinya baik baik saja meskipun ada banyak luka di tubuhnya
"Ya Tuhan, siapa yang berani menyakiti putiku.." ujarnya penuh amarah memperhatikan anaknya yang masih menangis. Lana hanya diam memperhatikan anak dan Ayah yang kembali bertemu namjn bibirnya sedikit tersenyum.
"Pi, An yang sudah nolongin Mira bahkan dia juga yang menghajar orang orang yang mau menodai Mira..." ucap Amira menunjuk Lana yang berdiri di sampingnga.
"Terima kasih Nak! jika tak ada kamu aku tak akan pernah bisa memaafkan diriku sendiri jika sesuatu terjadi padanya.." ujar Papi Amira menundukkan sedikit kepalanya saat menatap Lana sebagai ketulusannya berterima kasih.
"Kamu anak yang baik, siapa namamu nak?" tanya Papi Amira menatap Lana, ia merasa sangat mengenali gadis yang berdiri di samping putrinya itu
"An..." jawab Lana tetap merahasiakan identitasnya.
"Kalau begitu biar Aman antar kamu pulang!" tawar Papi Amira.
"Gak usah Paman, terimakasih tapi saya belum ingin kembali ke rumah.." jawab Lana
"Kalo gitu kamu ke rumah Kakak aja! gimana?" tanya Amira memegang tangan Lana berharap gadis manisnya mau ikut ke rumahnya. Lana diam sejenak dan memutuskan untyk ikut dengan Amira.
Akhirnya Lana ikut bersama Amira dan Papinya menuju ke kediaman Amira yang baru saja ia kenal, itupun karena tak sengaja setelah ia membantu gadis itu dari orang orang yang ingin melecehkannya.
Dua jam perjalanan, mereka sudah sampai. Seorang wanita paruh baya yang usianya tak terpaut jauh dari Papi Amira menunggu kedatangan mereka dengan wajah khawatir dan saat melihat mobil yang merwka naiki wanita itu segera berlari dan mendekat kemudian memeluk Amira yang sudah turun lebih dulu..
"Amira sayang, anakku." ujar wanita itu yang ternyata Mami Amira
"Aw..." ringis Amira saat lengannya yang terluka kesenggol dengan tangan Maminya yang tiba tiba memeluk dirinya
"Kamu terluka sayang..." ucap Mami Amira semakin panik melihat luka di tangan anaknya yang di balut kain bekas sobekan bajunya sendiri
"Ya, tapi tadi udah di obati sama An Mi.." jawab Amira
"An!" ulang Maminya bingung
__ADS_1
"Ini An Mi, dia yang nolongin Amira." jawab Amira merangkul Lana yang sudah berdiri di samoingnya sedangkan Papi Amira sudah berdiri di samoing istrinya
"Tetima kasih Nak.." ucap Mami memeluk Lana.
"Ehmm, sama sama Tante.." jawab Lana merasa aneh di peluk seseorang, namun ia juga merasa nyaman.
"Kita masuk, biar Amira bisa segera di obati lagi." ujar Papi Amira dan segera di anggukan kepala oleh istrinya. Mereka masuk ke rumah besar milik keluarga Amira walaupun tak sebesar rumah peninggalan Ayah Lana yang sudah pernah ia lihat sebelumnya.
"Amira sayang.." ucap Mami saat Amira baru selesai menceritakan kronologi kejadian hingga Lana yang tiba tiba muncul dan menyelamatkannya.
"Terimakasih banyak sayang.." Mami kembali memeluk Lana yang kembali terdiam mendapatkan pelukan seorang ibu.
"Kakak...." panggil seorang anak laki laki dari arah belakang Lana, sontak saja semua mata menatap ke arah sumber suara tak terkecuali Lana.
"Diego.." gumam Lana dengan mata terbuka. lebar menatap orang yang ia kenal. Sama seperti Lana, Diego juga sangat terkejut melihat Lana ada di rumahnya.
"Diego sini Nak!" panggil Mami, Diego segera berjalan mendekat ke arah Amira namun sesekali matanya melirik Lana yang masih menatap ke arahnya
"Kakak gak papa?" tanya Diego menatap Kakaknya
"Gak papa, semua ini berkat An.." jawab Amira tersenyum menatap Lana yang juga tersenyum.
"An!" Diego memicingkan alisnya
"An yang sudah menyelamatkan Kakak kamu dari orang orang yang ingin mencelakainya Diego.." Papi mereka yang menjawab rasa penasaran Diego yang justru kembali tercengang tak percaya tapi itulah kenyataannya.
"Terimakasih An.." ucapnya tulus. Diego sangat menyayangi Kakak perempuannya, dulu ia pernah kehilangan Kakak pertamanya bahkan di hadapannya langsung dengan kasus yang hampir sama dengan Amira.
Lana hanya tersenyum, menatap Diego yang juga menatap ke arahnya.
"Maaf, sepertinya saya harus segera pulng, karena hari yang makin sore.." ucap Lana setelah ia merasa sudah cukup lama berada di kediaman milik Dirgantara.
Lana sudah mengetahui nama Diego yang selama ini selalu ia sembunyikan, dan namanya adalah Diego Putra Dirgantara. Entah alasan apa dia menyembunyikan identitasnya dari teman temannya, dan Lana sama sekali tak ingin tahu.
Diego bertugas mengantar Lana pulang karena tak mungkin membiarkan gadis manis sepertinya pulang sendiri di sore hari meskipun mereka semua sudah tahu akan kemampuan gadis itu.
"Terimakasih, sudah mau nganterin aku.." ucap Lana tulus setelah ia turun dari mobil dan membungkukan sedikit badannya agar bisa menatap lawan bicaranya, dan Diego membuka kaca mobilnya hingga wajah tampannya terlihat.
"Aku yang berterima kasih padamu, karena sudah menyelamatkan Kakakku.." jawab Diego. Lana tersenyum manis dengan matanya yang bekedip pelan membuat jantung Diego seakan berhenti saat melihat itu.
"Khmmm, kalau begitu aku pamit.." ucap Diego segera melajukan mobilnya saat mendapat anggukan dari Lana.
Lana sudah masuk ke dalam apartemennya, ia tak melihat Doni ataupun Setya di sana, jadi ia memutuskan untuk langsung masuk ke kamarnya dan istirahat karena hari ini lumayan melelahkan, namun ada hikmah besar yang akan ia dapatkan dari kejadian yang baru saja ia alami...
Lanjut up...
Alhamdulillah otak Author lagi ada isinya jadi ngegas deh.. he he...
Semoga tetep suka sama ceritanya ya, jangan lupa buat like sama kasih dukungannya ya biar Author juga selalu semangat nih...
Makasih orang baik....
__ADS_1
🙏🙏🙏