
Beberapa hari setelah ciuman panas antara Doni dan Lana.
Gadis manis dan imut itu sama sekali tak merubah sikapnya pada Doni, hanya saja ia masih merasa malu begitupun Doni yang agaknya merasa canggung saat berhadapan dengan keponakannya.
"Sarapan Om!" ucap Lana yang sudah duduk dengan nyaman di tempatnya. Doni mendekati Lana dan ikut duduk berhadapan dengan sang keponakan.
"Hari ini Om gak bisa antar, karena ada rapat penting di kantor!" tutur Doni menatap Lana yang masih menikmati sarapannya.
"Um.." jawab Lana dan terus makan hingga isi di piringnya habis tak tersisa.
"Yakin?" tanya Doni meyakinkan dan terus menatap Lana tanpa memperdulikan sarapannya yang masih banyak.
"Umm." jawaban itu keluar lagi dari bibir Lana yang kini sedang mencuci piringnya sendiri.
Doni mengerutkan keningnya merasa aneh dengan sikap keponakannya.
"Dia gak lagi marah kan?" pikir Doni masih menatap bingung dengan sikap keponakannya.
"Om.." panggil Lana yang sudah duduk lagi di kursinya.
"Om..." ulang Lana karen panggilan yang pertama sama sekali tak di respon Omnya itu.
"Ah!" Doni tersadar dari lamunannya saat Lana memanggil dirinya yang kedua kali.
"Om kenapa bengong?" tanya Lana bingung.
"Gak papa.." jawab Doni memaksakan senyumannya dan kembali menyantap sarapannya hingga habis, Lana kembali mencuci piring milik Omnya.
"Lana yakin kan?" tanya Doni lagi memastikan.
"Ya, Om. Lagian ada Kak Arin yang bisa anter Lana!" jawab Lana tersenyum lembut pada Doni yang bernafas lega karen keponakannya tidak sedang marah padanya.
"Ya sudah, hati hati.." ujar Doni mereka berpisah di depan apartemen setelah Doni mengantar Lana ke mobil di mana Arin sudah menunggu, kemudian barulah ia masuk ke dalam mobilnya sendiri.
Diperjalanan menuju sekolah, Lana di hadang dengan tiga mobil yang menghalangi tepat di jalan yang akan ia dan Arin lewati.
Senyuman sinis terukir di bibir imutnya, namun kini terlihat seperti seorang penjahat cantik.
"Nona.." panggil Arin, ia juga tersenyum sama seperti Lana.
"Hmmm.." jawab Lana pandangannya lurus ke depan di mana ada 10 orang yang sudah keluar dari mobil mereka dan menuju ke arah mobilnya.
"Sepertinya ada yang ingin mencari masalah dengan Anda!" ujar Arin sedikit melirik Nonanya yang semakin tersenyum.
__ADS_1
"Biarkan, kita lihat sebatas mana kemampuan mereka!" jawab Lana tetap tenang duduk di dalam mobil.
Sepuluh orang tadi sudah mengelilingi mobil Lana, mereka membawa senjata masing masing. Satu pria sedikit lebih tua dari Arin menggedor jendela kaca bagian depan di mana Arin tengah duduk dan masih memegang stir mobil.
"Woy keluar kalian..." teriak pemuda itu.
"Bagaimana Nona, kita habisi mereka atau di buat ke rumah sakit saja?" tanya Arin tersenyum sambil merenggangkan otot tangannya.
"Habisi, tapi sisakan satu agar kita tahu siapa yang menyuruh mereka!" jawab Lana tetap santai, bahkan ia masih sempat membalas pesan singkat dari Om juga sahabatnya yang menanyakan dirinya.
"Baik Nona..." Arin hendak membuka pintu mobil miliknya, hingga pemuda tadi sedikit mundur dan berdiri di samping kawan kawannya yang lain.
Lana juga ikut turun, meskipun ia tak langsung bergabung dengan Arin, namun ia tak ingin kejadian yang menimpa Setya juga di alami oleh Arin.
Arin maju ke depan mobilnya dan menatap kesepuluh orang yang kini sudah berada tepat di hadapannya. Lana duduk di atas mobil dengan menyilangkan kakinya menatap Arin yang sudah memulai pertarungan mereka.
"Ah, Kak Arin sangat hebat.." pujinya masih terus menatap Asistennya yang lumayan baik dan tak kalah hebat dari Setya.
Arin sendiri mulai menghajar satu persatu dari mereka, walau sedikit lama namun itu cukup baik bagi Lana yang masih memeperhatikan.
Mata Lana menatap tajam pada salah satu dari mereka yang mengeluarkan senjata tajam, ia tak akan membiarkan orang itu menyentuh orang orangnya termaksud Arin yang maaih sibuk menghadapi kesembilan pria di depannya saat ini.
"Mau bermain curang rupanya!" gumam Lana, ia sudah berdiri tegap dan berjalan menuju Arin yang sedikit mundur untuk menghindari pukulan pria muda yang tadi mengetuk kaca mobil.
Lana menatap setiap orang yang tersenyum mengejek padanya, padahal mereka sudah di hajar oleh Arin hingga terlihat lebam di bagian wajah mereka.
"Nona cantik, sebaiknya Anda menyerah saja dan meminta maaflah pada Ketua!" teriak pemuda yang berdiri tepat di hadapan Lana.
Lana tersenyum manis membuat kesepuluh orang tadi terpesona akan senyumannya, namun sekian detik berikutnya senyuman Lana tergantikan dengan wajah dingin juga tatapan tajam yang mengarah pada mereka membuat orang orang itu sedikit terkejut dengan perubahan sikap Lana yang secepat itu.
"Kalian bukanlah tandinganku.." ujar Lana tersenyum sinis.
"Kuranga ajar, gadis kecil seperti mu berani mengatakan itu!" ucap Pemuda itu dengan kesal dan marah karena di remehkan oleh seorang gadis kecil seperti Lana.
"Hajar dia.." perintahnya pada kesembilan orang yang berdiri di samping kanan kirinya. Mereka semua mengangguk dan mulai berlari hendak menghajar Lana.
"Habislah kalian!" lirih Arin yang memperhatikan Nonanya juga kesepuluh orang yang mulai mengarah pada Lana yang tetap diam dengan tenang.
Lana hanya menghindari serangan mereka tanpa bergerak dari tempatnya, hingga membuat mereka semua kesal karena gadis kecil itu terus saja menghindari serangan mereka dengan mudahnya.
Setelah puas mengerjai kesepuluh orang itu, Lana tersenyum dan mulai serius. Lana menghajar mereka semua bahkan ada yang sampai patah kaki serta tangan juga kepala yang pecah dan merenggang nyawa di tempat.
"Ada lagi.!" tantang Lana menatap sisa dari mereka yang kini hanya tinggal tiga orang sedang sisanya sudah tiada..
__ADS_1
Tiga orang di hadapan Lana menatap takut pada gadis yang sempat mereka remehkan. Mereka hendak kabur, namun Lana melempar pisau kecil dan mengenai kaki ketiganya hingga mereka berteriak kesakitan karena pisau itu bukanlah pisau sembarangan karena Lana sudah memberikan racun mematikan di sana.
Lana berjalan mendekati ketiga orang yang memohon ampunan padanya, Lana tersenyum senang mendengar permohonan ketiga orang itu dan semakin dekat.
"Ampuni kami Nona, jangan bunuh kami!" mohon pemuda yang menjadi ketua.
"Kenapa aku harus mengampuni kalian?" tanya Lana menatap tajam pada ketiga orang di hadapannya dengan kedua tangan yang ia lipat di depan dada.
Salah satu dari mereka mulai kejang kejang, dan beberapa detik berikutnya mulutnya mengeluarkan busa dan tewas seketika. Kedua rekannya semakin merasa ketakutan mereka juga sudah mulai merasakan tanda tanda yang sama dengan rekan mereka yang baru saja mati.
"Aku punya penawarnya! tapi kalian harus memberikanku imbalan yang setimpal untuk nyawa kalian!" ujar Lana memberikan penawaran.
"A-apa Yang An-da ing-inkan?" tanya Pemuda itu yang mulai terbata karena semakin merasa sakit di seluruh tubuhnya. Sedangkan rekan satunya lagipun akhirnya harus merenggang nyawa karena racun yang sudah menyebar keseluruh tubuhnya, ia juga mati dengan cara yang sama seperti rekannya yang sebelumnya.
Lana tersenyum miring, ia sedikit berjongkok dan menatap pemuda di hadapannya yang terlihat tampan, tak kalah tampan dari Setya.
"Siapa yang menyuruhmu? Kakek Erick?" pertanyaan serta tebakan Lana berikan pada Pemuda di hadapannya. Pemuda itu sempat berdiam mendengar pertanyaan Lana.
"Waktunya tinggal sedikit!" ucap Lana menakuti pemuda tampan itu. Pemuda itu pun mulai sadar.
"Ya.." jawabnya, namun sedetik kemudian mulutnya mulai mengeluarkan busa karena racunnya pun sudah menyebar keseluruh tubuhnya, ia juga kejang kejang dan saat di ujung nyawanya, pemuda tampan itu menatap tajam pada Lana dan akhirnya ia mati dengan mata terbuka masih menatap pada Lana yang tersenyum dan segera berdiri.
"Nona..." panggil Arin yang berlari mendekati Lana.
"Anda baik baik saja?" tanya Arin, meskipun ia tahu jika Nona Mudanya itu pasti baik baik saja. Lana hanya mengangguk dan tersenyum.
"Kakek Erick sudah tahu identitasku, seperti yang aku duga ia pasti berusaha menghabisiku.." ujar Lana masih dengan senyumannya.
"Benar, Nona saat ini dalam bahaya." ucap Arin, ia mulai merasa khawatir karena Doni sendiri belum tahu soal ini.
"Bukan aku, tapi Kakek Erick lah yang dalam bahaya sekarang.." jawab Lana menatap Arin yang juga menatapnya bingung.
"Ayok, Kak." ajak Lana yang sudah berjalan mendahului Arin yang masih bungung dengan ucapan Nonanya.
"Ternyata Nona Lana lebih misterius dari pada Tuan Besar dan Tuan Muda dulu!" gumam Arin, namun masih bisa di dengar oleh Lana yang tersenyum.
Mereka kembali melanjutkan perjalanan menuju sekolah, karena hari yang makin siang dan untunglah Lana segera menyelesaikan orang orang tadi dengan cepat bahkan masih sempat bermain main sebelum akhirnya ia mengirim mereka semua ke alam ba ka...
Lanjut lagi....
Makasih....
😊🙏🙏
__ADS_1