
Sore hari Doni baru kembali dari kantor.
"Om.." panggil Lana yang baru keluar dari kamar setelah ia membersihkan tubuhnya dan melihat Om Doni yang baru kembali dari kantor dengan wajah muram dan juga lelah.
Doni menghentikan langkahnya dan menoeh pada Lana yang sudah berjalan mendekati dirinya dengan senyuman merekah, namun sesaat kemudian berubah menjadi khawatir saat melihat salah satu tangannya yang di perban.
"Tangan Om!" ucap Lana melihat tangan Doni, ia segra menarik Omnya untuk duduk di sofa ruang tamu, dan Doni hanya menurut saja dengan tatapan nyamannya pada Lana yang memperlakukan dirinya dengan sangat baik.
Lana berlari ke dapur dan mengambil kotak obat lalu memeriksa tangan Doni, ia juga membuat obat oles sendiri seperti yang di pakai Setya dulu.
"Kok bisa kayak gini sih Om?" tanya Lana, tangan mungilnya sangat telaten saat mengoleskan obat buatannya dan membalutnya dengan perban, mata Doni terus terarah pada keponakannya itu tanpa berjedip sejak tadi.
"Om!" panggil Lana, sejak tadi dia hanya mengoceh sendiri sedangkan Doni sibuk dengan fikirannya sendiri dan terus menatapnya.
"Ya!" jawab Doni
"Om kenapa? kok tangannya bisa. luka kayak gini?" Lana mengulang pertanyaannya, tatapannya terlihat sangat khawatir dengan Om Doni.
"Ah! ini!"ujar Doni, ia menatap tangannya dan membolak balikkannya dan tersenyum saat melihat perban baru yang sudah di pakaikan oleh Lana.
"Gak papa." jawab Doni, meletakkan tangannya di atas paha dan menatap Lana lagi.
"Gak papa apanya! ini lukanya lumayan parah loh Om!" bantah Lana yang sudah melihat luka Omnya yang cukup parah dan banyak.
"Om gak papa." ujar Doni tersenyum melihat wajah Lana yang membuat hatinya merasa tenag dan damai.
"Hishh, dasar orang dewasa emang suka nyebelin dan suka bohong!" ujar Lana, ia membalikkan tubuhnya hingga Doni tak lagi bisa melihat wajah Lana yang sudah membelakangi dirinya.
"Ngambek?" tanya Doni, dan Lana justru mengangguk membuat Om Doni tersenyum karena tingkah lucu keponakannya.
"Jangan ngambek, nanti cepat tua loh!" ucap Doni menakut nakuto Lana.
"Mana ada, yang ada Om Doni yang udah tua." jawab Lana tetap membelakangi Omnya. Doni mengerutkan keningnya mendengar ucapan Lana yang mengatakan dirinya tua, padahal umurnya baru 30 tahun lagipun ia masih terlihat tampan dan gagah pastinya.
__ADS_1
"Eh!" Doni mendorong kepala Lana pelan dengan telunjuknya. Lana semakin kesal dengan Omnya, ia membalik tubuhnya lagi hingga kini mereka saling tatap.
"Apa Om terlihat tua?" tanya Doni, kini ia memajukan tubuhnya hingga wajahnya sangat dekat dengan Lana.
Lana memundurkan badannya seiring dengan Doni yang semakin mendorong tubuhnya untuk maju ke depan, sampai pada batas Lana yang berbaring di atas sofa panjang.
Doni hanya ingin mengerjai keponakannya itu, namun justru ia juga malah merasa gugup dan jantungnya seakan mau lepas, tapi jika ia mundur makan dia sendiri yang akan malu.
Lana sendiri jangan di tanya, matanya tak berkedip saat Omnya itu semakin dekat dengannya, jantung Lana pun tak kalah cepat berdegup hingga bisa ia rasakan.
"Khemmm..." Lana berdehem, ia mengalihkan pandangannya ke arah lain.
Doni yang sudah semakin dalam menatap keponakannya itu memegang pipi Lana dan menggerakannya dengan lembut agar kembali menoleh dan menatap ke arahnya.
Lana kian gugup berhadapan dengan Omnya ini, apa lagi setelah ia tahu jika Om Doni bukanalah Omnya yang sesungguhnya, karena Doni hanya anak angkat di keluarga Angkara.
"Om sudah tua?" pertanyaan Doni ia ulang kembali, dan Lana hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan karena Om Doni sudah sepenuhnya berada di atasnya.
"Maaf.." ujar Doni, kemudian ia mencium bibir Lana yang masih tertutup rapat, ia juga me lu mat bibir manis Lana dan sedikit menggigit bagian bawahnya agar Lana membuka bibirnya, dan benar karena gigitannya itu Lana sontak membuka sedikit bibirnya dan kesempatan itu di manfaatkan oleh Doni yang dengan lincah mengabsen barisan gigi Lana dengan lidahnya. Lana hanya bisa diam pasrah dengan kelakuan Omnya itu, bahkan tubuhnya terlihat sangat kaku juga matanya yang masih terbuka sangat lebar memperhatikan wajah Omnya yang sangat menikmati permainannya sendiri dengan mata terpejam.
Satu menit Doni masih me nye sap bibir Lana, hingga gadis itu mendorongnya karena kehabisan nafas. Doni yang tak sigap langsung terdorong mundur dan Lana menghirup nafas sedalam dalamnya, ia hampir kehabisan nafas karena ulah Omnya itu.
Doni segera menjauhkan dirinya dari Lana, ia memperbaiki duduknya. Lana yang sudah bisa bernafas lega juga memperbaiki duduknya juga bajunya yang sempat di tarik sedikit ke atas oleh Doni saat ia mencium panas bibirnya.
"La-Lana ke kamar Om!" ujar Lana ia segera bangkit dari duduknya dan meninggalkan Omnya yang hanya diam dan memperhatikan dirinya yang sudah berjalan menuju kamar hingga tak lagi terlihat di pandangan Om Doni.
"Arghhh, shitt." umpat Doni setelah Lana benar benar telah masuk ke kamarnya dan menutup pintu bahkan ia juga bisa mendengar kunci kamar Lana yang di putar.
"Aku kelepasan!" gumamnya, ia juga segera bangkit dari duduknya dan masuk ke dalam kamarnya, sungguh Doni sangat malu dan mungkin tak akan mampu menatap keponakannya setelah kejadian yang ia buat sendiri.
"Arghhhhh.."
"Apa Lana akan berubah lagi setelah ini?" pikirnya, ia nerasa tak akan sanggup lagi jika keponakannya itu menjauhinya lagi.
__ADS_1
"Ah! dasar bodoh!" Doni terus mengumpati dirinya sendiri. segera masuk ke dalam kamar mandi karena ada sesuatu yang sudah bangkit di bawah sana dan harus ia tuntaskan.
Di kamar Lana, gadis itu masih syok dengan apa yang ia alami barusan. Ciuman oertamanya telah di renggut oleh Om Doni, tapi ia justru tersenyum puas karena orang pertama yang melakukan itu adalah Om Doni dan dengan sangat kebetulan orang yang ia suka.
"Ah! rasanya kayak Nano Nano..." gumam Lana senyumannya semakin melebar.
"Ciuman pertama, Cinta pertama!"ucapnya pelan, Lana memegang bibirnya dan mengusap ngusapnya pelan, bibir itu yang baru saja di cium bahkan di lu mat oleh Om Doni...
"Ah! senangnyaaaaaa...." ujar Lana merasa bahagia.
"Tapi-"Lana mulai berfikir.
"Apa Om Doni merasa menyesal setelah melakukannya ya? kan dia tahunya aku keponakannya sendiri!" Lana kembali berfikir sesuatu yang baru ia sadari jika Omnya itu belum tahu apapun tentang Identitas Om Doni.
"Hmmmm..." Lana berdehem ia merebahkan tubuhnya di atas kasur dengan kedua tangab yang ia rentangkan.
"Hah..." Lana menghembuskan nafasnya kasar, matanya mulai menerawang menatap langit langit kamarnya yang baru saja ia merubah warnanya menjadi biru langit.
"Setelah semuanya selesai dan Om Doni tahu segalanya, aku pasti akan mengatakan perasaanku sama Om Doni." pikirnya penuh keyakinan.
"Terserah apa kata orang yang jelas aku hanya mencintai Om Doni." lanjutnya, Lana kembali tersenyum manis. Ia benar benar sudah jatuh cinta pada Om Doni.
Berbeda dengan Lana yang sedang bahagia karena ciumannya, Doni justru merasa bersalah dan takut jika keponakannya yang kini mulai berubah hangat padanya akan kembali dingin dan cuek terhadapnya atas ulahnya tadi. Doni bahkan terus memikirkan ciuman tadi yang membuat ia jadi susah tidur.
"Aku akan minta maaf." lirih Doni, wajahnya terlihat sangat kacau. Ia juga segera merebahkan tubuhnya di atas kasur dan mulai memejamkan matanya karen hari yang semakin larut. Doni baru bisa tidur pukul satu dini hari.
Lanjut up...
gak tentu ya up nya, pokonya tungguin aja deh terus dan semoga selalu suka....
makasih....
😊🙏🙏
__ADS_1