Gadis Manis Ternyata Suhu

Gadis Manis Ternyata Suhu
Kembali Teringat Masa Kelam


__ADS_3

Doni sedang sibuk dengan urusannya hingga beberapa hari belakangan jarang melihat keponakannya yang cantik. Lana hanya bisa mencoba memahami kesibukkan Omnya karena ia tahu jika mereka sedang menjalankan sebuah misi rahasia yang entah apa.


"Om Doni sekarang sangat sibuk..." ucap Lana saat ia sedang sarapan sendirian, kwbeyulan hari ini adalah hari minggu dan Lana sedang libur.


Doni sendiri sudah lebih dulu berangkat ke kantor karena ada rapat penting untuk membahas bagaimana caranya agar perusahaan yang sedang berkembang atas kepemimpinannya itu semakin jaya.


"Selamat pagi Nona Muda!" sapa Setya yang baru tiba dan melihat Lana yang masih duduk termenung tanpa menyentuh sarapannya sama sekali.


"Kak Setya..." ucapnya bahagia. Lana segera mengajak Setya untuk sarapan bersama meskipun awalnya ia menolak namun atas ancaman yang di berikan Lana ia akhirnya menuruti keinginan Lana.


"Selamat makan Kak.." Lana segera memakan makanannya yang sudah dingin karena sejak setengah jam yang lalu ia hnya membiarkan sarapannya itu menganggur di hadapannya.


"Se..selamat makan.." jawab Setya sedikit gagap pasalnya tak pernah ada sejarah bagi seorang pengikut sepertinya makan bersama dengan Tuan ataupun Nona di keluarga Angkara, selain dirinya saat ini.


"Habisin Kak.." ujar Lana saat melihat Setya yang masih bengong tak percaya jika ia sedang makan bersama dengan Nona Mudanya itu.


"I..iya..." Setya segera memakan makanannya hingga habis. Lana segera mengambil piring Setya kemudian mencucinya.


"Nona jangan, biar saya saja!" pinta Setya karena merasa sangat tak sopan jika membeiarkan Nonanya mencuci piring sendiri bahkan juga miliknya.


"Diamlah, Kakak duduk saja di sana.." jawab Lana yang sudah mulai membasuh piring kotor bekas makan mereka berdua.


"Ta..tapi Nona.." Setya sangat gugup, jika saja Tuan Doni tahu mungkin saja ia sudah di pecat sebagai anggota Angkara sekarang.


"Diam, dan duduk saja. Ini perintah.." ucap Lana sedikit keras menatap Setya.


"Ba..baik.." Setya segera menuruti perintah Lana yang sangat tak masuk di akalnya. Lana tersenyum melihat wajah Setya yang gugup seperti itu, sangat lucu baginya. Lana segera menyelesaikan pekerjaannya.


"Kak, bisa antar aku jalan jalan ke suatu tempat gak?" tanya Lana menatap Setya sedang yang di tatap hanya mengangguk dan tersenyum.


"Yes, makasih Kak.." Lana sangat bahagia, setidaknya ia ada yang menemani meskipun ia berharap jika Om Doni bisa pulang cepat dan menemaninya di hari minggu ini.


"Mau di antar ke mana Nona?" tanya Setya saat mereka sudah berada di dalam mobil.


"Taman Sakura Kak.." jawab Lana, Setya mengangguk kemufian melajukan mobilnya menuju tujuan yang di sebut Lana.


Satu jam perjalanan mereka sudah tiba di Taman Sakura yang Lana bilang tadi. Setya segera keluar dan membukakan pintu mobil untuk Lana yang langsung keluar dan berjalan ke arah pohon besar dan terdapat kursi panjang dari kayu yang sudah lapuk dan usang.


"Nona..." panggil Setya saat Lana termenung sambil memegang kursi itu dan senyuman tipis tersemat di bibirnya yang indah.


Lana tersadar, namun ia tak menjawab panggilan Setya dan kembali berjalan menuju pohon yang sudah kering tanpa daun daun di atasnya. Setya selalu setia mendampingi Lana di belakangnya.

__ADS_1


("Ayah Bunda Lana sudah kembali.") batin Lana, cairan bening keluar dari matanya dan jatuh mengenai sesuatu di bawah kaki Lana.


"Apa ini..." ucap Lana sedikit menunduk dan mengambil benda yang ia injak.


"Ini..." Lana terkejut melihat benda yang kini sudah ada di tangannya. Benda yang sudah sangat jelek dan penuh dengan tanah.


"Ternyata masih ada..." lirihnya, kini air mata benar benar sudah tumpah dan membasahi pipinya bahkan ia sampai sesenggukan karena sejak tadi menahan tangisnya.


Setya yang sejak tadi mengikuti Lana kaget karena tiba tiba Nona Mudanya itu menangis sambil memegangi benda usang di tangannya yang terlihat seperti sebuah boneka.


"Bona, Anda kenapa?" tanya Setya namun tak ada jawaban dari Nonanya.


Lana masih menangis dalam tundukannya sambil memeluk benda kotor yang tak lain adalah boneka kesayangannya saat ia masih kecil dulu.


"Kak, kita pulang..." ucap Lana setelah ia mengangkat kepalanya, namun air mata masih mengalir dari pelupuk mata indahnya.


"Baik..." jawab Setya tanpa bertanya lagi.


Mereka berdua kembali ke apartemen, rencana yang sejak di perjalanan tadi sudah Lana rancangpun batal karena ia tak mood untuk pergi kemanapun setelah menemukan benda kesayangannya yang rupanya masih ada di sana.


("Ayah Bunda, Lana rindu kalian..") batin Lana, meski tak ada lagi air mata yang keluar, namun wajah Lana terlihat sangat murung bahkan selama di perjalanan Lana tak bicara sama sekali.


"Makasih Kak.." ujar Lana dan segera masuk ke dalam kamarnya meninggalkan Setya yang bingung juga sedikit khawatir dengan sikap Nona nya yang terlihat murung setelah kembali dari Taman Sakura.


Lana sudah di dalam kamarnya, ia kembali menangis bahkan suara tangisnya terdengar sangat memilukan bagi siapa saja yang mendengarnya.


"Kenapa! kenapa harus kalian yang pergi.." lirih Lana


"Kenapa?" Lana kembali mengingat kejadian beberapa tahun yang lalu dan merenggut nyawa kedua orang tua yang sangat ia sayangi.


"Lana, Lana tersiksa Ayah Bunda, Lana tersiksa tanpa kalian...." Lana semakin menangis sambil memeluk bonekanya juga liontin pemberian Ayahnya dulu yang ia ambil dalam kotak kecil yang ia simpan di lemari.


Di kantor, Doni sedang sangat sibuk karena sejak tadi rapat yang di pimpin langsung olehnya belum selesai padahal ini sudah lebih dari tiga jam yang lalu. Keluarga Angkara atau keluarganya sendiri adalah keluarga yang menempati peringkat satu se Asia jadi pasti akan sangat sulit untuk bisa menyaingi keluarga itu dan Donipun tahu akan hal itu.


Doni sebenarnya tak bermaksud untuk menyaingi keluarga nya sendiri, akan tetapi setidaknya ia bisa menyingkirkan perusahaan lain dan semakin dekat dengan tujuannya untuk mengambil hati dari orang yang saat ini menguasai kekayaan milik keluarganya.


"Tuan, kita berhasil menyingkirkan satu lagi dan mengambil posisinya.." ucap salah satu bawahan Doni sambil memperhatikan laptop di hadapannya.


"Bagus, kau memang selalu bisa aku andalkan Roger.." puji Doni, tersenyum smirk.


Pria bernama Roger itupun hanya tersenyum. menatap Doni sekilas kemudian kembali menatap layar laptopnya yang memperlihatkan jika perusahaan mereka kini sudah naik dua tingkat dan menempati peringkat ke tiga.

__ADS_1


"Sekarang perusahaan Tuan sudah menduduki peringkat tiga, namun kita masih belum bisa menggeser posisi satu perusahaan di bawah perusahaan Angkara Tuan.." ujarnya serius sambil terus mengotak atik laptopnya.


Doni mengernyitkan dahinya mendengar penuturan pria yang bernama Roger itu, bahkan senyumnya menghilang.


"Perusahaan siapa itu?" tanya Doni penasaran, sesulit itukah..


"Perusahaan itu milik keluarga Dirgantara Tuan.." jawab Roger menatap ke arah Doni.


"Benar, keluarga itu juga memiliki hubungan yang cukup baik dengan keluarga Angkara dahulu." ucap Doni mengingat jika kedua keluarga itu selalu akrab dan menjalin hubungun cukup baik.


"Lalu apakah keluarga Angkara dan Dirgantara masih menjalin hubungan setelah kematian Kakak?" tanya Doni semakin serius.


"Tidak Tuan, mereka telah memutus hubungan dengan keluarga Angkara setelah kematian Tuan Besar dan menjalin hubungan dengan perusahaan lain meskipun perusahaan itu kecil dan tak sebanding dengan keluarga Angkara.." jawab Roger tak kalah serius saat memberikan informasi pada Doni.


"Benar benar keluarga yang bisa di percaya kesetiaannya.." ujar Doni kembali tersenyum.


"Biarkan, kita tak perlu menggesernya dari peringkat kedua." Roger hanya mengangguk


"Melisa, segera hubungi perusahaan yang di pegang oleh keluarga Dirgantara agar aku dan Tuan Adam bisa bertemu.." ucap Doni tanpa melihat ke arah sekretarisnya.


"Baik Tuan.." jawab Melisa


Jika di kantor Melisalah yang akan menjadi sekretarisnya dan mengurus semua berkas berkas juka pekerjaannya, namun jika di luar kantor maka Setyalah yang akan selalu berada di samping Doni.


"Tuan..." Setya yang tiba tiba datang segera menghampiri Tuannya dan membisikkan sesuatu ke telinganya membuat Doni terbelalak kaget hingga berdiri dan mendorong kursinya cukup kuat sampai membentur dinding di belakangnya.


"Kalian selesaikan semua yng aku perintahkan dan segera hubungi Setya. jika sudah beres.." ucap Doni, wajahnya terliha panik dan cemas.


"Baik Tuan..." jawab semua orang yang ada di ruangan itu merekapun berdiri dan menundukkan kepala untuk menghormati Tuan juga Bos mereka.


"Kita pulang sekarang Setya.." Doni dan Setya segera meninggalkan rungan itu, suasana. mencekampun menghilang setelah kepergian Doni dan Setya sekertaris juga kepercayaan Doni selama ini, membuat semua yang ada di sana merasa lega.


"Hampir aku jantungan.." ujar Melisa kembali duduk di kursinya sangking tegangnya saat berhadapan dan melihat wajah Doni yang tampan tapi menyeramkan.


"Cepat selesaikan pekerjaan kita agar Tuan tak marah!" ucap Roger yang kembali fokus pada laptopnya begitupun semua irang yang ada di sana segera melanjutkan pekerjaan mereka dengan serius.


Lanjut up...


Yok jangan lupa like nya ya, sama dukungannya karena akan sangat berharga buat Author...


Makasih orang baik...

__ADS_1


🙏🙏🙏


__ADS_2