
"Pah, jangan terus paksa Crish buat nerima Hana karna itu gak akan oernah terjadi dan gak akan pernah bisa." Crish nampak sangat marah, wajah putihnya memerah karena amarah yang sejak pulang sekolah ia redam karena langsung mendapatkan ceramah dari sang Papah dan Mamahnya.
"Dengar Crish, Papah gak mau tahu kamu harus putusin pacar kamu itu." jelas Papah Crish dengan nada tinggi membuat Crish sedikit terperanjat.
"Gak akan Pah." bantah Crish
plakk..
"Berani kamau bantah Papah! hah.." satu tamparan mendarat di pipi mulus Crish yang putih, kini cap. lima jari dari sang Papah nampak jelas di pipinya. Crish justru tersenyum sinis memandang Papah dan Mamahnya bergantian tak percaya akan mendapat tamparan keras dari sang Papah hanya karena ancaman dari rekan bisnisnya karena ia yang tak bisa menerima Hana.
"heh, ternyata Papah dan Mamah hanya menyayangi harta di banding Crish anak kalian sendiri.." Crish menjauh dari kedua orang tuanya dan menuju kedalam kamarnya, dan ia sedikit membanting pintu saat menutup hingg terdengar ke telinga Papah dan Mamah yang sedikit tersentak atas perkataan Putra bungsu mereka.
Crish adalah anak bungsu dari keluarga Subagio sedangkan anak sulung mereka berada di luar negri bersama sang nenek untuk menemani masa tuanya dan baru saja seminggu yang lalu nenek meninggal.
"Papah terlalu memaksakan kehendak pada Crish tanpa memikirkan perasaannya.." Papah dan Mamah Crish segera menoleh ke arah sumber suara yang tepat berada di belakang mereka.
"Farid.." ucap keduanya serempak. Pria yang di panggil Farid semakin mendekati kedua orang tuanya dan tersenyum kecil.
"Kalian masih belum berubah.." lanjut Farid menatap bergantian kedua orang tuanya dan berlalu begitu saja melewati mereka anik ke atas tangga menuju kamar adiknya.
Farid Subagio, pria muda berusia 27 tahun dan baru saja kembali dari inggris setelah kematian sang nenek. Mata biru dan kulit putih serta tubuh tinggi menambah pesona pria itu.
"Crish.." panggilnya saat ia sudah berada di deoan pintu kamar sang adik
"Kakak.." lirih Crish, baru saja ia hendak menelpon sang Kakak, eh sekarang malah sudah berada di depan pintu kamarnya. Dengan cepat ia melompat dari kasur dan membuka pintu.
"Kakak.." ulangnya setelah memastikan jika suara yang memanggilnya tadi benar benar Kakaknya yng sangat ia rindukan.
"Bisa bicara!" ujar Farid. Crish segera mengangguk dan mempersilahkan Kakaknya masuk ke dalam kamar. Farid duduk di sofa panjang yang ada di kamar Crish, ia juga melihat foto seorang gadis cantik yang tengah tersenyum bahagia bersamanya. Foto itu di ambil saat ia baru saja jadian dengan Rosa dan Lana yang sengaja memotretnya di hp Crish kemudian ia segera mencuci saat pulang sekolah tadi.
"Cantik! apa dia pacarmu?" tanya Farid sedikit memiringkan kepalanya melirik pada sang adik yang duduk di sampingnya.
"Hmm, dia memang cantik." jawab Crish tersenyum bahagia hanya dengan melihat foto kekasihnya
"Kau sangat menyukainya ya!" ujar Farid kembali menatap foto di tangannya, Crish hnya mengangguk kemudian merebut foto itu dari tangan sang Kakak yang nampak tersenyum.
"Hah, aku takkan merebutnya darimu, lagi pula dia masih sangat kecil untukku Crish.." ucap Farid yang mengerti dengan tatapan adiknya dan Crish hanya bisa bernafas lega tentunya.
"Dasar kau ini.." Farid menjitak kening sang adik yang langsung meringis sambil memegang keningnya.
"Kaaakk, berhentilah melakukan itu! aku bukan anak kecil lagi." Cris tak terima Kakaknya itu masih saja memperlakukan dirinya seperti anak kecil padahal usiannya sudah 18 tahun.
__ADS_1
"Bagiku kau masih anak kecil.." jawab Farid kembali tersenyum dan hendak menjitak kening Crish lagi, namun adiknya itu lebih dulu menjuh dan berpindah ke sisi ranjang.
"Tapi Papah selalu memaksa Crish buat nerima Hana, padahal Crish selalu bilang kalo Crish gak pernah suka.." Crish nampak sedih
"Tapi Paoah dan Mamah hanya memikirkan perusahaan mereka saja, tanpa perduli dengan perasaan Crish anakmereka sendiri.." Ctis begitu sedih, ia mencurahkan semuanya pada sang Kakak karena hanya Faridlah yang bisa mengerti perasaannya saat ini bahkan sejak dulu.
"Ya, aku sudah tahu seperti apa Papah dan Mamah bukan." Farid kini berpindah duduk di samping sang adik yang masih menatap foto kekasihnya Rosa.
"Aku tahu.." jawab Crish
"Tapi aku juga punya kehidupan sendiri." lanjut Crish menatap Kakaknya sekilas kemudian kembali menatap foto di tangannya
"Apa yang kau tahu tentang kehidupan, kau itu masih sangat kecil.." ujar Farid tersenyum mengejek membuat Crish semakin kesal.
"Haishhhh..." Crish kembali menatap tajam pada sang Kakak yang semakin tersenyum puas melihat wajah kesal sang adik.
"Sudahlah, aku ingin mandi. Apa kau ingin ikut?" tanya Farid dan kembali ia mendapatkan tataoan tajam dari Crish adiknya
"Tidak mau! ya sudah.." lanjut Farid kemudian ia beranjak dari tempatnaya menuju pintu.
"Jika kau menyukainya perjuangkan Crish, jangan pernah menyerah." ujar Farid menoleh sekilas kemudian ia benar benar keluar dati dalam kmar adiknya yang masih menatap pintu yang sudqh tertutup kembali.
"Benar, aku akan memperjuangkan hidupku sendiri dan juga cintaku.." Crish seolah mendapatkan semangatnya lagi, ia tersenyum dan mengingat Kakaknya yang selalu membuatnya kesal tapi juga selalu bisa membuat dirinya tenang dan memberikan jawaban dari apa yang ia resahkan.
"Kami akan berusaha untuk. membujuk Crish Pak." ujar Papah Crish dengan nada cemasnya
"Baik baik."ujarnya lagi sambil mengangguk anggukkan kepalanya saat orang di sebrang sana sedang bicara
"Baik..."
"Selamat siang.." sambungan telpon pun terputus dan Papah segera menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur sedangkan istrinya nampak terlihat khawatir dengan wajh suaminya yang juga terlihat kacau
"Apa kata mereka Pah?" tanya Mamah yang kini sudah duduk di sebelah sang sumi dan menghadap ke arah Papah
"Mereka akan menarik semua dana yang telah mereka berikan pada perusahaan kita jika Crish masih menjalin hubungan dengan gadis itu." jawab Papah dengan mata terpejam memikirkan bagaimana caranya agar putra bungsunya itu mau mendengarkan ucapannya
"Dan Pak Baron ingin agar Crish menerima Hana dan bertunangan dengan anaknya itu.." lanjut Papah wajah frustasi terpampang jelas di mata sang istri yang juga ikut stres.
"Bagaimana ini Pah!" Mamah ikut bersandar di sandaran sofa dan menjatuhkan kepalanya di bahu Papah.
Dari atas, Farid yang baru saja keluar dari kamar adiknya mendengar semua pembicaraan kedua. orang tuanya, dan ia memiliki firasat buruk akan hubungan adiknya dengan kekasihnya. Farid menatap tak suka pada kedua orang tuanya, ia pulang bukan karena ia ingin tinggal bersama mereka melainkan karena Crish.
__ADS_1
"Aku takkan membiarkan Mamah dan Papah mengahncurka hidup adikku seperti mereka yang menghancurkan hidupku dulu." Farid nampak kecewa dengan kedua orang tuanya yang sampai sekarang tak pernah berubah, bahkan setelah bertahun tahun ia pergi meninggalkan rumah mereka sama sekali tidak pernah merasa bersalah atas apa yang sudah mereka. lakukakn padanya dulu.
Farid segera menuju kamarnya untuk membersihkan diri. Setelah selesai ia segera merebahkan tubuhnya di atas kasur yang sudah lama ia tinggal. Farid mengambil sebuah buku kecil dan di dalamnya ada sebuah foto gadis kecil yang imut dan menggemaskan. Ia tersenyum sekilas kemudian menatap sendu fotu itu.
"Di mana kamu? aku sangat merindukanmu.." gumamnya memeluk foto gadis kecilnya di dada hingga ia tertidur
Dari kejauhan, dua orang pria berpakaian serba hitam sedng mengawasi kediaman Crish seperti yang sudah di perintahkan atasan mereka Setya.
"Tuan kami melihat seirang pemuda tampan masuk ke dalam rumah sejak tadi dan belum keluar." salah stu oria sedang melaporkan pengintaiannya sejak sing tadi.
"Cari tahu siapa orang itu dan segera hubungi aku lagi." jelas Setya, ia segwra menutup telfonnya saat mendengar ketukan pintu.
"Tuan di panggil Tuan Doni ke ruangannya.." Setya segera keluar dan menuju ruangan atasannya setelah di beri tahu oleh sekertarisnya. Setya juga memiliki sekertaris pribadi, sedangkan ia adalah asisten pribadi Doni.
"Tuan.." Setya menundukkan kepalanya memberi hormat.
"Duduklah Setya!" perintahtah Doni, Setya segera duduk sedangkan Doni masih membelakanginya
"Lana melakukan sesuatu Setya?" tanya Foni tanpa basa basi
"Tidak Tuan, taoi Nona menyuruh saya untuk mengawasi kedua temannya." jawab Setya tetap memandang punggung Doni yang berdiri di depan jendela kaca besar yang menampakkkan gedung gedung tinggi juga jalanan
"Teman? untuk apa?" tanya Doni, ia mengerutkan keningnya
"Saya kurang tahu Tuan, taoi sepertinya Nona sedang mengkhawatirkan kedua temannya itu." jelas Setya. Doni berbali ia berjalan menuju kursinya dan duduk di sana menatap lekat Setya yang kembali menundukkan wajahnya
"Siapa?" tanya Doni semakin oenasaran
"Satu orang wanita dan satu orang pria, namun sepertinya mereka sedang menjalin hubungan." jawaban Setya barusan membuat hati Doni sedikit merasa lega.
"Baik, lakukan pa yang Lana inginkan dan terus laporkan padaku." jelas Doni kemudian menyuruh Setya keluar dari ruangannya dengan mengibaskan tangannya.
"Permisi Tuan.." ujar Setya berdiri dan berjalan. mundur hingga setengah jalan ia baru berbalik dan keluar dari sana dengan hati yang lega karena tak kena bentakan Doni.
"Hah, lega.." gumamnya sambil mengelus dadanya yang terasa agak sesak.
"Lana..." Doni kembali senyum senyum sendiri saat mengingat wajah ponakannya..
Lanjut lagi Kakak...
Makasih buat yang masih setia, jangan lupa kasih like sama dukungannya ya, karena semua itu akan sangat berarti buat Author.. hee
__ADS_1
Makasih orang baik...
🙏🙏🙏