
"Om.." panggil Lana dari balik pintu kamar Doni.
Doni yang mendengar namanya di panggil segera keluar ia sangat penasaran apa yang membuat Keponakannya itu mau memanggil dirinya bahkan di jam malam seperti ini.
"Kenapa Lana?" tanya Doni, alisnya mengkerut menatap Lana yang terlihat sangat serius.
"Ada yang mau Lana bicarakan. Penting!" ucap Lana menekankan kata terakhirnya, ia berbalik dan menuju ruang tamu lalu duduk di sofa dengan tenang, sedangkan Doni segera mengikuti langkah keponakannya dan duduk di hadapannya.
"Ada apa?" Doni bertanya kali ini tatapan juga serius.
"Kapan kita akan bergerak Om, Lana sudah cukup lama menunggu?" tanya Lana tanpa basa basi dan langsung pada inti pembicaraannya.
"Kenapa?" Doni justru balik bertanya, ia merasa ada sesuatu yang terjadi hingga membuat Keponakannya itu menanyakan tentang balas dendam
"Jawab saja pertanyaan Lana! kalau memang Om Doni gak mau jawab maka, jangan salahkan Lana jika bertindak duluan!" ujar Lana tatapannya begitu serius, ia sungguh merasa bosan dengan sandiwara yang selama ini ia lakukan.
"Hah..." Doni menghembuskan nafasnya kasar.
"Baiklah, hanya tinggal beberapa bulan lagi kita bisa bertindak karena Paman Erick sudah mulai kewalahan dengan kekangan dari perusahaan Om dan juga kita akan segera melakukan penyerangan di markas mereka yang sudah di temukan oleh Setya beberapa waktu lalu." penjelasan Om Doni tidak begitu memuaskan karena ia sudah sangat ingin membalaskan semua yang oernah Kakek Erick lakukan pada kedua orang tuannya dulu.
"Tidak.." bantah Lana semakin dalam menatap. Omnya
"Aku ingin secepatnya, jika bisa aku ingin sebulan lagi." lanjutnya membuat Doni terperanjat kaget mendengar perkataan Lana.
"Itu tidak mungkin Lana, kita butuh oersiapan yang matang karena lawan kita bukan hanya Oaman Erick taoi juga ada banyak antek anteknya.." jelas Doni ia sangat tidak setuju dengan permintaan Keponakannya itu.
"Sudah Lana bereskan, sekarang Lana akan segera menyerang markas mereka dengan atau tanpa Om Doni.." ujar Lana tetap tenang, ia bahkan menunjukkan senyuman jahatnya. Om Doni mengerutkan keningnya menatap Lana yang terlihat seperti sosok orang jahat seperti di Novel.
"Hah.." Doni kembali menghembuskan nafas beratnya menatap Lana yang sudah menunjukkan sikap dinginnya.
"Baiklah, Om akan usahakan secepatnya tapi jangan melakukan apapun tanpa seengetahuan Om, karena itu akan sangat berbahaya! kau paham!" ujar Lana dan Lana hny mengangguk menyetujui perkataan Doni.
__ADS_1
Lana hendak pergi ke kamarnya, namun saat ia baru beberapa langkah Lana kembali berbalik dan menatap Doni dengan tatapan yang penuh arti.
"Ingat Om, jika setelah sebulan ini Om Doni masih belum bertindak, Lana benar benar akan melakukan apa yang ingin lakukan meski tanpa Om Doni." ucapan Lana terdengar mengancam, namun Doni hanya mengangguk sekali demi meyakinkan keponakannya yang mulai kerasa kepala.
Lanapun pergi dari sana meninggalkan Doni dengan berbagai pertanyaannya di benaknya.
"Apa yang terjadi, hingga anak itu sangat ingin balas dendam bahkan secepat ini? atau jangan jangan...!" Doni nampak berfikir dan setelah mendapatkan jawabannya mata Doni terbuka lebar.
"Mungkinkah Lana juga sudah tahu tentang Paman Erick juga markasnya?" monolog Doni, ia menatap kamar Lana yang sudah tertutup rapat bahkan di kunci dari dalam.
"Ah, sial..." Doni mengusap wajahnya kasar
"Aku lupa, sekarang Lana juga sudah memiliki anak buahnya sendiri dan aku tahu betapa hebatnya mereka." gumam Doni kembali teringat akan Arin.
"Pasti anak buah Arin juga sudah menemukan markas Paman Erick dan sudah memberitahukannya pada Lana.." Doni terlihat kacau malam itu, hingga tak bisa tidur dengan nyenyak.
Pagi pagi Lana sudah pergi dari apartemen, hingga Doni tak menemui keponakannya.
Doni segera pergi dari apartemennya, ia menuju ke perusahaannya yang semakin melesat sejak bekerja sama dengan keluarga Dirgantara salah satu sahabat Ayah Lana.
"Setya, kau atur secepatnya penyerangan ke markas Paman Erick, dan ingat! jangan sampaj melakukan kesalahan karena kemungkinan keponakanku akan ikut." perintah Doni membuat Setya ternganga dengan mata yang membuka lebar menatao Tuannya tanpa ragu.
"T-Tuan Anda yakin!" ulng Setya meyakinkan ucapan Tuannya.
"Hmm, Lana semakin berani aku takut dia akan bertindak sesukanya dan membahayakan dirinya sendiri." ucap Doni memejamkan matanya agar bisa. mengendalikan perasaan khawatir nya.
"Tapi bukankah itu akan sangat berbahaya bagi Nkna Tuan?" tanya Setya, ia kembali sedikit menunduk untuk. menunjukkan rasa hormatnya
"Aku tahu, karena itu aku mengatakan agar kau lebih berhati hati saat menyusun rencananya dan jngan sampai gegabah saat penyerangan.." jelas Doni, ia menatap lekat Setya yang mengangguk mengerti.
"Baik Tuan, saya sendiri yang akan menjaga Nona.." jawab Setya dengan penuh keyakinan meakioun ia sendiri tahu betapa hebat Nonanya itu, dan bahkan jauh lebih hebat darinya.
__ADS_1
"Bagus, sekarang kau bisa keluar dan persiapkan segalanya.." ujar Doni dan Setya kembali mengangguk.
"Saya permisi Tuan.." Setya berjalan mundur beberapa langkah, kemudian keluar dari ruangan Doni yang terlihat sangat tidak baik.
"Kak, aku merasa putrimu sekarang sangat berbeda dari yang aku kenal!" lirih Doni menatap langit langit kantor.
"Dia semakin dewasa dan semakin sulit di tebak, aku sendiri tidak pernah tahu apa yang gadis itu inginkan dan lakukan karena oergerakannya sangat rapi." Doni agak stres saat mengingat Lana, ia takut jika sesuatu terjadi pada keponaknnya itu sedangkan ia sudah berjanji pada Kakaknya yaitu Ayah Lana, untuk selalu menjaga putrinya itu.
"Bantu aku Kak, agar aku bisa memenuhi janjiku padamu.." gumam Doni masih menatap. langit langit ruangannya.
"Hah..." terdengar helaan nafas berat dari Doni.
"Semoga semuanya berjalan lancar.." lirihnya kemudian kembali memfokuskan fikirannya pada pekerjaan yang semakin banyak.
...*****...
"Bagaimana Kak?" tanya Lana pada Arin saat mereka berada di mobil, bukan untuk ke sekolah melainkan ke tempat persembunyian salah satu pengikut setia Ayahnya dahulu yang sempat menghilang.
"Sudah kami temukan Nona, dan sekarang saya sudah menempatkan Beliau di tempat teraman." jawab Arin dengan senyumannya.
"Bagus, kita ke sana sekarang." jawab Lana tegas. kini ia benar benar menjadi seorang Nona Muda yang sesungguhnya meskipun panggilannya pada Arin atau Setya tetap menggunakan Kakak.
"Baik Nona.." ujar Arin, ia melajukan kendaraannya ke tempat yang di maksud untuk menemui seseorang.
"Ku harap orang ini benar benar orang yang ku cari." gumam Lana, tatapannya mengarah pada jalanan yang agak sepi.
"Paman, ku harap kaulah orangnya. Aku sungguh membutuhkanmu Paman.." Lana terus memperhatikan jalanannya, fikirannya terus terarah pada sosok orang yang akan mereka temu.
Lanjut up...
Makasih....
__ADS_1