
Lana terbangun dari tidurnya, dan merasa anek dengan tempat yang sedang ia tiduri karena terasa begitu nyaman baginya padahal yang ia tahu biasanya jika tidur di sofq akan terasa pegal.
"Eh..." Lana terkejut saat melihat kamar yang ia tiduri
"Inikan kamar Om Doni, tapi kok aku bisa di sini!" fikirnya, ia segera bangun dan beranjak dari sana menuju kamarnya sendiri untuk mengecek keadaan Setya, namun saat sampai di ruang tamu ia melihat Omnya sedang tertidur dengan badan di tekuk seperti orang kedinginan. Melihat itu Lana kembali masuk ke dalam kamar dan mengambil selimut kemudian menyelimuti tubuh Doni dengan hato hati barulah ia berlaku menuju kamarnya.
"Syukurlah panas tubuh Kak Setya mulai turun.." ucap Lana melihat jam dinding di kamarnya yang baru menunjukkan pukul tiga dini hari.
Lana tak kembali ke kamar Doni dan memilih tidur di kamarnya sendiri meskipun ia harus tidur dengan posisi duduk di tepi ranjang.
Pagi menjelang, Doni orang pertama yang terbangun, ia kaget karena ada selimut yang menghangatkan tubuhnya pantas saja ia tak merasa kedinginan semalam padahal hawanya sangat dingin.
Doni beranjak dari sofa hendak ke dapur, namun matanya menatap tak suka saat melihat Lana yang tertidur di sisi Setya dengan tangan menggenggam tangan Setya. Sungguh pemandang seperti itu di pagi hari membuat panas dan gerah bagi Doni. Ia segera masuk ke dalam kamarnya dan menghempaskan pintunya keras hingga terdengar ke telinga Lana yang terperanjat dan terbangun.
"Ada apa dengan Om Doni! pagi pagi udah marah marah aja?" ucap Lana kesal karena tidurnya yang merasa terganggu. Lana segera bangun kemudian ia kembali memeriksa kondisi Setya setelah ia rasa jauh lebih baik barulah Lana menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya yang terasa mulai tak nyaman.
"Aishhh, lupa bawak baju ganti pula.." lirih Lana menepuk jidatnya karena melupakan hal yang seharusnya ia bawak sekalian tadi. Dengan terpaksa Lana keluar hanya dengan menggunakan handuk yang sedikit pendek hingga paha mulusnya terlihat jelas, belum lagi bagian ataanya.
"Ah, untung Kak Setya belum bangun.." ucap Lana saat ia mengintip di pintu kamar mandi. Cepat cepat Lana mengambil baju ganti juga ********** di lemari dan kembali berlari menuju kamar mandi untuk berganti di sana.
Tanpa Lana sadari sebenarnya Setya sudah bangun sejak ia mandi, namun ia berpura pura tidur karena takit jika nanti Lana keluar dan akan membuat matanya melotot dan benar saja apa yang di takutkan justru terjadi.
"Hah, Nona kau menguji ku..." lirih Setya memegang dadanya yang berdetak kencang.
Lana yang sudah selesai dengan drama gnti pakaiannyapun segera keluar dari kamar mandi dan kembali memeriksa kondisi Setya.Ia tersenyum puas saat merasakan suhu tubuh Setya yang sudah kembali normal tak lupa ia juga mengecek perut Setya yang terluka dan mengoleskan dengan obat yang baru kemudian ia tutup dengan kapas dan plester besar agar kapasnya tak lepas saat Setya bangun nanti.
Lana segera ke dapur dan membuat sarapan nasi goreng untuknya dan Om Doni sedangkan untuk Setya ia membuat bubur agar mudah di cerna.
"Selesai..." ucap Lana setelah ia menaruh sarapan untuk Doni di meja makan sedangkan miliknya dan Setya ia bawak ke kamarnya.
"Kak kau sudah bangun?" tanya Lana, wajahnya begitu dekat dengan wajah Setya.
__ADS_1
"No..na..." Setya membuka matanya dan tepat saat itu mata Lana dan matanya bertemu, Setya yang gugup sedangkan Lana malah tersenyum.
"Syukurlah.." ucap Lana segera menjauhkan wajahnya dari Setya.
"Makan dulu Kak, sini biar aku suapi ya.." Lana segera menyondokkan bubur panas yang ada di mangkuk kemudian ia tiup sebentar barulah ia sodorkan pada Setya yang terdiam.
"Kak..." pqnggil Lana membuyarkan lamunan Setya yang segera membuka mulutnya dan menerima suapan dari Lana yang kembali tersenyum.
"Nona, biar saya makan sendiri saja.." pinta Setya hendak mengambil mangkuk yang ada di pangkuan Lana, namun dengan cepat di tahan oleh Lana.
"Tidak, biar aku saja.." jawab Lana kembali menyuapi Setya yang hanya bisa pasrah dan nurut saja.
Doni kembali melihat kedekatan Lana dan Setya bahkan kali ini semakin membuat tubuhnya panas dingin, padahal ia baru saja mandi.
"Tuan..." lirih Setya saat melihat Doni yang berdiri di ambang pintu sedang memperhatikan mereka berdua. Lana hanya menoleh sekilas kemudian kembali menyuapi Setya yang hanya menurut dan menyambut sendok yang berisi bubur itu ke mulutnya meskipun matanya terus menatap Doni dengan hati cemas.
("Mati aku") batin Setya.
Doni tak berbicara apapun dia berlalu meninggalkan Lana juga Setya, dan menuju ke dapur untuk membuat sarapannya sendiri, namun saat sampai ia melihat sepiring nasi goreng yang sudah berada di atas meja makan.
"Lana sudah makan tadi.." lanjut Lana sebelum Doni membuka mulutnya. Doni kembali menutup bibirnya dan duduk di kursi kemudian mulai memkan sarapannya tanpa suara, sedangkan Lana masih sibuk dengan cucian piring kotor miliknya juga Swtya. Ya, tadi saat Lana menyuapi Setya ia juga sekalian makan itulah sebabnya Setya menawarkan diri agar makan sendiri tapi di larang oleh Lana.
Lana sudah selesai dengan pekerjaannya, ia kembali menuju ruang tamu dan bersantai di sana sambil menonton televisi karena pasti akan ada berita yang sudah ia tunggu sejak semalam.
'Melaporkan dari lokasi kejadian, di temukan delapan mayat yang bagian tubuhnya terpisah bahkan ada yang kepalanya menghilang serta tiga mobil yang terbakar hangus dan di pastikan jika semua isi yang ada di dalamnya pun ikut hangus terbakar..' jelas repoter di tv yang Lana tonton.
'Saat ini poliai masih menyelidik kasusnya, karena di tempat kejadian tidak terpasang cctv.' jelasnya lagi kemudian laporan selesai.
Lana mematikan tvnya bibirnya tersenyum puas, setelah mendengar berita barusan.
"Ini baru permulaan, tunggu kejutan selanjutnya Kakek..." ujar Lana dengan senyum sinis yang menakitkan. Doni memperhatikan Lana sejak tadi tak menyangka jika jiwa pembunuh dalam diri keponakannya jauh lebih kuat di bandingkan dirinya sendiri.
__ADS_1
Doni berjalan menuju kamar Lana di mana Setya masih terbaring tak berdaya, ia kemudian duduk di tepi ranjang menatap tajam pada Setya.
"Bisa jelaskan Setya?" tanya Doni dengan tatapan tajam
"Maaf Tuan, saya tak menyangka jika Nona akan senekat ini." jawab Setya dengan kepala tertunduk.
"Jelaskan saja dengan detail.." pinta Doni tak mengalihkan tatapannya sama sekali dari Setya
Setya mulai menceritakan awal mula mereka masuk kembali ke Rumah peninggalan Ayah Lana, dan selama satu minggu itu Nona Muda selaku datang ke sana. Barulah Setya. mengatakan segalanya pada Lana jika rumah itu adalah peninggalan sang Ayah. Lana yang marah akhirnya mengambil keputusan untuk mengambil haknya dan mengahabisi orang orang yang ingin membantu Kakeknya untuk mengambil miliknya, hingga terjadi penusukkan pada dirinya dan itu semakin membuat Lana murka.
"Hah..." Doni membuang nafasnya kasar, tak menyangka jika keponakannya akan sangat mengerikan jika marah.
"Mulai hari ini kau harus melaporkan apapun padaku Setya,sekecil apapun itu." ucap Doni kembali menatap Setya tajam
"Baik Tuan, maafkan saya..." Setya kembali menunduk tak mampu menatap mata tajam milik Doni.
Doni segera keluar dari sana dan bertepatan dengan Lana yang akan masuk, namun keponakannya itu sama sekali tak menoleh ke arahnya bahkan menegurpun tidak sama sekali. Berubah, keponakannya kini sangat berubah sikap terhadap dirinya, dan itu cukup membuat hatinya terasa perih. Di abaikan dan seperti tak di anggap.
("Maaf") batin Lana, saat ia melewati Doni begitu saja dan berjalan mendekati Setya.
Lana juga terpaksa menjauhi Doni, karea setiap kali ia berdekatan dengan Omnya itu ada rasa yang aneh dalam hatinya bahkan dadanya terasa berdegup sangat kuat membuat ia merasa sangat tak nyaman, karena itulah Lana memilih untuk bersikap dingin dan cuek pada Om Doni.
"Sudah lebih baik?" tanya Lana tersenyum hangat. Setya hanya mengangguk dan membalas senyuaman Nonanya meski matanya sesekali melirik takut pada Doni yang masih berdiri di amabang pintu dan memperhatikan mereka.
Doni yang tak bisa menahan rasa di hatinya segera keluar dan meninggalkan Lana juga Setya di sana, ia memilih pergi ke kantor meskipun sebenarnya ini hari minggu.
Lanjut nih, kebetulan otak Author lagi berisi.. he he
Makasih yang masih setia sama Karya Author satu ini ya, maaf kalo kurang menarik soalnya baru pertama buat karya tenatang bunuh bunuhan.. hi hi
Pokoknya semoga tetep suka lah, makasih yang dah mampir baca dan jangan lupa buat likenya sama dukunganya ya...
__ADS_1
Makasih orang baik....
🙏🙏🙏