Gadis Manis Ternyata Suhu

Gadis Manis Ternyata Suhu
Perasaan yang Aneh


__ADS_3

Satu bulan lagi terlewati, kini Lana sudah semakin mahir dalam permainan pedangnya bahkan Doni semakin kewalahan saat menghadapi keponakannya itu.


"Bagus Lana.." ucap Doni saat mengakhiri latihan mereka.


"Kau semakin kuat bahkan aku saja sulit untuk bisa menyeimbangi dirimu.." jujur Doni mengakui jika Lana semakin kuat dan mungkin lebih kuat dan hebat darinya.


"Aku yang semakin kuat atau Om Doni yang semakin tua.." ledek Lana dengan tawa mengejek ke arah Doni yang sudah melotot menatap tajam ke arahnya.


"Dasar ponakan kurang asem.." ujar Doni dengan nada kesal hendak menangkap keponakannya yang sudah berlari lebih dulu ke arah danau.


Akhirnya Lana dan Doni sedang saling kejar kejaran, sesekali Lana mengitari pohon ketika menghindar dari Doni yang akan menangkapnya dengan kedua tangan yang ia rentangkan.


"Mau lari ke mana kamu Lana!" ujar Doni dengan senyuman mengejek. Namun saat Doni sudah semakin dekat dan akan menangkap Lana yang terpojok di pohon, Lana segera menundukkan badannya al hasil Doni justru memeluk pohon di depannya sedangkan Lana sudah berlari lagi hendak memasuki Villa.


"Lanaa......." teriak Doni semakin kesal. Ia menyul Lana masuk ke Villa dan melihat jika keponakannya itu sedang asik minum jus dengan santai bahkan setelah menhmgejek dan menghina dirinya dengan kata kata tua. Walau benar seharusnya Lana tidak mengatakan hal seperti itu bukan...


"Enak ya?" Doni yang sudah berada di belakang keponakannya itupun segera mengkap Lana yang hendak berlari ke dalam kamrnya, namun sayang ia sudah lebih dulu tertangkap oleh tangan besar Doni.


"Ampun Omm..."teriak Lana saat Doni menggelitiki dirinya yang merasa geli karena ulah Omnya


"Ampunn, tidak semudah itu..." jawab Doni semakin gencar menggelitiki Lana.


"Om ampun, gak lagi..." teriak Lana sambil tertawa karena rasa geli yang ia dapat dari tangan Doni


"Minta maaf. cepat..." ucap Doni terap dengan kegiatannya


"Iya, maafaaf gak lagi.." ucap Lana lemas, bahkan air matanya sampai menetes karena terlalu tertawa.


"Bagus, lain kali gak akan Om kasih ampun..." ucap Doni melepaskan Lana yang masih terbaring lemas di atas sofa akibat ulah Omnya yang tak berhenti menggeloyiki dirinya.


"Dasar tua..." lirih Lana saat melihat Om Doni yang hendak meninggalkannya.


"Apa?" tanya Doni berbalik dan kembali melotot ke arah Lana.


"Nggak ada, Lana bilang Om baik kok..." ucap Lana segera berdiri dan hendak berjalan mendahului Doni, namun siapa sangka kaki Lana tersandung hingga membuatnya terhuyung ke depan dan menabrak Doni yang berdiri tepat di depannya.


"Ahhhh." lirih Lana saat ia sudah jatuh dan menimpa Doni di bawahnya. Doni terpaku saat melihat wajah cantik yang di miliki Lana, belum lagi lesung pipi di kedua pipinya membuat Lana semakin manis, namun dengan cepat Doni mengalihkan pandangannya ke arah samping..


"Lana cepat bangun, kamu berat sekali..." ujar Doni saat ia sudah memalingkan wajahnya


"Apa? berat!" Lana segera bangkit, dan memperhatikan tubuhnya yang langsing bahkan menurutnya bentuk tubuh yang ia miliki sangatlah sempurna.


"Perasaan aku gak gemuk kok." ucap Lana dan menatap Doni yang ikut memperhatikannya.


"Ya, itukan kata kamu kalo, tapi Om yang kamu tindih tadi ngerasa berat.." jawab Doni ketus.

__ADS_1


"Apaan sih Om gak jelas.." Lana berjalan melewati Doni yang menatapnya entah dengan perasaan apa tapi yang pasti beda dari yang sebelumnya.


"Tidak tidak, dia. keponakanku.." lirih Doni saat melihat Lana yang sudah masuk ke dalam kamarnya.


Donipun segera masuk ke dalam kamar, ia mulai membersihkan tubuhnya juga pikirannya dengan berendam di air hangat.


"Ahh.." Doni sedang menikmati sensasi hangat yang menjalar di seluruh tubuhnya juga mencium aroma yang nyaman dari hidungnya membuat otaknya refrash..


"Om Doniii Lana lapar..." teriak Lana dari dalam kamarnya. Doni terperanjat kaget saat mendengar suara teriakan Lana yang begitu dekat.


"Jangan jangan..." pikir Doni, ia segera beranjak dari pemandiannya dan segera. memakai handuk kemudian keluar dari kamar mandi.


"Kau, kenapa bisa masuk?" tanya Doni tak percaya dengan kelakuan keponakannya itu


"Wow...." bukannya. menjawab, Lana malah terfokus pada badan Doni yang kayak roti sobek.. ha ha ha


"Keluar..." teriak Doni sambil menutup badannya dengan kedua tangan.


"Iya iya, biasa aja kali..." jawab Lana cuek. Sebenarnya Lana memang sangat menganggumi tubuh yang di miliki Omnya, akan tetapi tak begitu tertarik hanya saja ia ingin sedikit ngerjain Doni dengan membuat nya malu seperti tadi.


Lana segera keluar dari kamar Doni, ia tertawa kecil saat sudah di luar dan mendengar pintu yang di tutup dengan suara yang cukup keras.


"Kena.. Ha ha ha..." ucap Lana pelan sambil tertawa kecil di sepanjang jalannya menuju meja makan.


"Dasar bocah mesum..." rutuk Doni saat ia sudah memakai pakainnya lengkap. Iapun segera menyusul Lana ke meja makan karena tadi keponakannya itu mengatakan lapar dan sebenarnya dia juga lapar.


"Hmmm, nasi goreng pake ayam goreng spesial..." jawab Lana tersenyum penuh. Doni tak lagi berucap ia segera memasak sesuai dengan permintaan Lana sang Tuan Putri.


Satu jam berlalu, Doni selesai dengan masakannya dan membawa dua piring nasi goreng lengkap dengan ayam goreng spesial di dalamnya ke hadapan Lana yang menunggu di ruang tamu. Akan tetapi Doni kembali di kejutkan dengan Lana yang justru tertidur dengan pulas di sofa, ia menatap masakannya dan berbalik lagi ke arah dapur untuk menyimpan hasil masakannya dan kembali melihat Lana.


"Anak ini, tadi bilang lapar dan sekarang malah tidur nyenyak di sini. Ck..." decak kesal Doni saat ia sudah di hadapan Lana.


Doni menundukkan sedikit badannya hendak mengangkat Lana ke kamarnya, namun Lana justru menarik lengannya hingga ia jatuh dan hampir menimpa dirinya jika saja Doni tak sigap menahan tubuhnya dengan berpegangan di samping sofa.


Lagi lagi Doni harus di hadapkan dengan posisi seperti ini membuat ia benar benar frustasi. Siapa yang tidak terlena dengan wajah cantik juga tubuh **** yang di miliki Lana termaksud dirinya karena iapun seorang manusia yang berjenis kelamin laki laki.


"Bisa gila aku lama lama..." lirih Doni segera bangkit dari posisinya karena semakin tak nyaman. Namun Lana tak melepas genggamannya pada lengan Doni sehingga ia tak bisa berdiri dan menjauhkan tubuhnya dari Lana.


Doni kembali menatap wajah Lana, ia melihat jelas jika Lana sedang bermimpi bahkan ia melihat jika Lana ketakutan. Entah apa yang ada dalam mimpi gadis itu hingga membuat dirinya sangat takut.


"Ah, sial..."


"Jika kau bukan keponakanku, aku pasti sudah menerkammu.." lirih Doni lagi semakin menahan gejolak yang ada pada dirinya.


Doni masih bertahan dengan posisinya hingga beberapa menit, karena Lana yang terus memegang lengannya dengan erat. Namun tiba tiba Lana mengendurkan pegangannya dan berteriak saat melihat wajah Doni yang sangat dekat dengannya bahkan hidung merekapun saling bersentuha.

__ADS_1


"Aaaaaaaaa, Om Doni mau apa?" teriak Lana sambil mendorong Omnya agar menjauh dari tubuhnya yang ia tutup dengan kedua tangan sambil membenarkan duduknya.


"Dasar gadis aneh.." cercar Doni saat ia terdorong mundur hingga terjatuh ke lantai dan membuat bokongnya terasa sakit.


"Om Doni ngapain?" tanya Lana dengan tatapan menyelidik.


"Lana tadi tidur jadi Om mau angkat Lana ke kamar.." jawab Doni berusaha naik ke sofa dan menaruh pantatnya di sana dengan pelan.


"Tapi tadi Om gak angkat Lana..." ucap Lana melihat wajah Doni yang kesakitan..


"Gimana Om mau angkat kalo Lana pegang Lengan Om kuat sampe jatuh hampir nimpa badanmu yang kurus, untung aja Om pegangan di situ.." jawab Doni dengan segala kekesalannya karena selalu menjadi korban jika berurusan dengan. keponakannya itu.


Lana terdiam sejenak, kemudian ia menjauhkan tangan dari dadanya.


"Oooo, iya Lana tadi ngantuk nunghuin Om Doni masak gak selesai selesai..." ucap Lan mengingat jika dia memang tertidur saat menunggu Doni.


"Ingatkan, sekarang siapa yang akan bertanggung jawab..." lirih Doni dengan wajah kesakitannya memegangi bokongnya yang masih sangat sakit..


"Ya udah sini biar Lana yang tanggung jawab.." jawab Lana mendekat ke arah Doni dengan. kedua tangan hendak menyentuh bokongnya.


"Tidak..." jawab Doni segera berdiri seakan bokongnya yang tadi sakit sembuh seketika. Lana hanya diam memperhatika Omnya yang berlalu meninggalkannya di ruang tamu.


"Aneh..." ucap Lana.


"Ah, laper. Om Doni udah selesai masak belum sih.." Lana beranjak dari duduknya dan berjalan menuju dapur untuk mencari makanan.


"Eh udah jadi..." ucapnya saat melihat pesanannya tadi yang di taruh Doni di atas meja makan. Lana segera mengahabiskan makanannya hingga yang tersisa hanya tulang ayam saja, kemudian ia mencuci piringnya dan kembali ke kamar untuk istirahat karena hari semakin malam.


"Ah lelahnya..." Lana segera memejamkan matanya lagi karena tadi tidur nya sempat terganggu, dengan cepat Lana sudah kembali tertidur karena rasa kantuknya.


Doni yang sudah di kamarpun hanya bisa meringis menahan sakit di bokongnya. Ia mencoba memejamkan matanya agar tertidur tapi bayangan wajah Lana justru muncul di fikirannya hingga ia kembali terjaga.


"Oh, tidak..." Doni menggelengka kepalanya cepat berharapa jika wajah Lana menghilang dari kepalanya.


"Dia keponakanmu Doni, ingat dia anak dari Kakakmu.." monolog Doni pada dirinya sendiri sambil memukul kepalanya pelan.


Doni kembali berusaha tidur, ia berguling guling di kasur beberapa kali. Hingga malam yang semakin larut barulah ia bisa tertidur dengan segala macam usahanya.


Kelanjutannya....


Semangat berjuang...


Makasih yang dah mampir baca, jangan lupa like dan dukungannya ya biar semangat author makin meningkat....


Makasih orang baik.....

__ADS_1


🙏🙏🙏


__ADS_2