
"Kak bisa ke aartemen sekarang?" tanya Lana saat sambungan telponnya di angkat oleh Setya
"Baik Nona, saya akan sampai setengah jam lagi." jawab Setya kemudian ia berlari menuju mobil yang terparkir dengan rapi di tempat, kebetulan ia memang akan keluar dan bertepatan dengan Nona Muda yang menelpon.
Seperti yang ia katakan, Setya sudah sampai di apartemen milik Doni, ia segera masuk ke lift dan menekan angka menuju apartemen di mana Nonanya sedang menunggu
"Nona.." panggil Setya dan hendak membuka knop pintu namun sudah di dahului oleh Lana hingga mereka hampir bertabrakan.
"Eh, maaf Kak.." ujar Lana segera mundur begitupun Setya
"Maaf Nona." Setyapun mengatakan hal yang sama.
"Ayok Kak.." ajak Lana menarik tangan Setya yang hanya pasrah dan mengikuti langkah Nona Mudanya tanpa bertanya hingga mereka sampai di mobil.
"Kita mau ke mana Nona?" tanya Setya akhirnya saat keduanya sudah duduk di dalam mobil.
"Aku mau ke markas dan mencari Asisten untukku sendiri." ujar Lana menatap ke arah Setya yang juga menoleh ke arahnya dengan mengerutkan dahinya
"Nona ingin mencari Asisten?" tanya Setya mengulng ucapan Nonanya
"Hm, aku ingin punya Asisten sendiri dan bisa aku andqlkan setiap saat kayak Kak Setya sama Om Doni." jawab Lana. Setya hnya mengangguk mengerti, ia segera melajukan mobilnya menuju markas yang cukup jauh dari lokasi apartemen.
"Markas cukup jauh dari sini Nona, mungkin akan memakan waktu hampir tiga jam perjalanan." jelas Setya melirik Lana dari kaca kecil di atas kepalanya
"Hmm." jawab Lana tetap fokus pada layar handponenya. Setya tak lagi bicara ia tetap fokus mengendarai mobilnya hingga tiba di sebuah rumah yang terlihat kecil ssperti gubuk yang akan roboh.
"Kita sudah sampai Nona.." ujar Setya, ia sudah lebih dulu turun dan membukakakn pintu untuk Lana yang juga segera turun dari sana.
"Apa Om Doni tahu aku akan ke sini?" tanya Lana menatap Setya yang menggelengkan kepalanya pertanda jika ia belum memberitahukan pada Bosnya itu
"Bagis, jangan sampai Om Doni tahu, aku gak mau ada yang ikut campur dengan urusanku sendiri." penjelasan Lan barusan membuat Setya sedikit bimbang, pasalnya ia adalah bawahan Doni dan Tuannya itu mengatakan agar dirinya selalu melaporkan apapun yang di lakukan keponakannya.
"Baik Nona." pada akhirnya Setya hanya bisa mengiyakan perkataan Lana
Mereka berdua masuk, Lana dengan wajah dinginnya masuk lebih dulu dengan Setya yang berjalan di belakangnya.
"Nona! Anda kemari?" sapa seorang pemuda tampan tak kalah tampan dari Setya, hanya saja ia tak pandai bertarung karena keahliannya adalah di otak geniusnya.
"Hmm, aku ingin merekrut beberapa orang untuk menjadi bawahanku." ujar Lana mengatakan keinginannya dan tujuannya datang ke markas.
Pemuda tadi segera undur diri dan memanggil semua kandidat yang akan di uji coba langsung oleh Lana. Dalam beberapa menit Pemuda tadi kembali dengan dua puluh orang yang akan di jadikan Lana pengikutnya, namun sebelum itu ia akan menguji mereka semua.
Ada lima belas pria dengan tubuh besar dan tegap serta wajah yang berupa rupa, ada yang tampan dan ada yang biasa saja, dan lima orang adalah wanita cantik dan se xi yang akan menemani Lana.
"Kalian berlima maju lebih dulu.." ujar Lana yang kini sudah siap bertatung, ia menunjuk lima wanita yang jelas lebih tinggi dan besar darinya yang terlihat imut dan menggemaskan.
"Baik Nona.." jawab kelimanya tanpa ragu, dan mulai mendekati Lana yang tetap tenang bahkan ia menunjukkan senyum simpul pada kelima wanita di hadapannya.
"Kalian sudah menikah? atau punya kekasih?" tanya Lana sebelum pertarungan di mulai
"Belum Nona.." jawab kelimanya serempak membuat Lana melongok, bagaimana mungkin gadis gadis secantik mereka belum punya keluarga ataupun kekasih.
"Baik, sekarang serang aku.." perintah Lana dan segera di ikuti oleh kelimanya yang mulai menyerang Lana secara bersamaan.
__ADS_1
"Hmmm..." Lana memperhatikan kelimanya yang semakin mendekat ke arahnya, namun ia masih tetap berdiri di tempat membuat Setya dan Pemuda tadi melongok.
Tiba tiba dalam waktu singkat Lana sudah menjatuhkan kelima wanita tadi, bahkan gerakan Lana tak mampu di baca oleh kelimanya juga Setya yang menonton.
"Apa! bagaimana mungkin Nona melakukan gerakan yang sangat cepat, bahkan itu lebih cepat fari Tuan Doni ataupun Tuan Besar!" ungkap Setya sangat terkejut
Lana tersenyum menatap kelima wanita yang sudah jatuh dan kembali bangkit, ia memang tak melakukan serangan yang akan membuat mereka berlima terluka.
"Anda sangat hebat Nona!" ujar salah satu dari mereka yang paling cantik dan tinggi
"Tidak juga." jawab Lana jujur, karena ia merasa. masih sangat lemah jika harus berhadapan dengan Kakek, adik dari Kakek kandungnya.
"Sekarang kalian berlima belas sekaligus." ujar Lana membuat Setya khawatir dan hendak mencegah Nonanya itu, namun Lana segera mengangkat tangannya di hadapan Setya yang berdiri di belakngnya.
"Jangan ikut campur Kak.." terang Lana
Kelima belas pria yang jelas tubuh mereka jauh lebih besar dari Lana sudah berdiri tepat di hadapn gadis imut nan manis itu.
"Maju..." perintahnya, kemufian kelima belas pria besar tadi menunduk sebentar dan mulai berlari bersamaan menuju Lana dengan tangan yang terkepal siap menghajar Nona mereka.
"Kalian terlalu ceroboh.." Ujar Lana, kini ia sudah bergerak secara horizontal memukul perut pipi juga kaki dafi mereka, dan satu persatu terpental dan berjungkir balik karena tendangan Lana.
"Nona sangat kuat!" ujar Pemuda yang memiliki IQ hampir sama dengan Lana namun masih jauh dari Nonanya jika mereka di sandingkan.
"Lagi.." perintah Lana, sebenarnya ia bukan hanya ingin mencari pengikutnya sendiri, tapi kuga ingin menguji kemampuannya. Senyuman Lana kembali muncul saat kelima belas pria tadi kembali menyerang Lana secara bersamaan, bahkan kelima wanita cantik yang juga berada di sana ikut menyerang atas perintah Lana sendiri.
"Hehhhh..." Lana kembali tersenyum dan mulai mengambil ancang ancang, daannnnn.
bug bug bug....
Semuanya ambruk, bahkan ada yang sampai sedikit terluka karena pukulan Lana yang tepat mengenai wajahnya.
"Cukup..." ujar Lana saat ia melihat dua puluh orang tadi kembali ingin bangkit.
"Hahhhh.." mereka semua mulai bernafas lega karena tak sampai harus masuk rumah sakit akibat meladeni Nona mereka yang awalnya sempat di ragukan.
"Nona, kami siap. melayani Anda!" ujar Wanita cantik yang lebih tinggi dan ialah pemimpin dari mereka.
"Hmm, Kakak sangat cantik." ujar Lana menatap buah da da wanita itu yang jelas jauh lebih besar dari miliknya yang sedikit agak rata.
"Ehh.." wanita itu mengangkat kepalanya menatap Lana yang tersenyum sangat manis membuat ia merasa gemas tapi juga takut karena ia juga sudah merasakan pukulan gadis manis di hadapannya.
"Nama Kakak siapa?" tanya Lana mulai mendekati wanita cantik itu yang terlihat gugup dan kembali menundukkan wajahnya.
"Saya Arin Nona..." jawabnya
"Hmm, kalian semua masih bisa berdiri kan?" tanya Lana menatap semua bawahan wanita bernama Arin.
"Ya Nona.." jawqb mereka serempak mulai berusaha bangkit dan berdiri di belakang Arin.
"Kakak di belakang siapa?" tanya Lana menatap empat wanita lainnya
"Saya Kai..." jawab yang di pinggir paling kanan
__ADS_1
"Saya Suzan.." jawab yang di sebelah Kai
"Saya Zee.." jawab yang di sebelah Suzan
"Dan saya Lisa.." jawab wanita yang paling terakhir, sedangkan di belakang mereka semuanya laki laki dan Lana tak ingin menanyai nama mereka semua karena itu akan sangat membuatnya pusing.
"Baik, aku sudah menguji kalian dan aku rasa kalian cukup baik." ujar Lana menatap Arin pemimpin mereka
"Jadi aku akan merekrut kalian, dan mulai hari ini kalian hanya akan mengikuti perintahku saja." jelas Lana dengan menatap ke semua bawahannya kini
"Siap Nona.." jawab semuanya serempak dan membungkukkan badan mereka di hadapan Lana yang tersenyum.
"Kak Arin.." panggil Lana
"Siap Nona..." jawab Arin
"Mulai hari ini kau yang selaku bersamaku." ujar Lana menatap Arin yang segera mengangguk
"Baik Nona." Arin kembali membungkukkan tubuhnya
"Kak Setya..." panggil Lana, kini ia sudah memakai jaketnya juga tas kecil
"Kita pulang, dan mulai besok Kakak gak perlu nemenin Lana lagi karena sudah ada Kak Arin.." jelas Lana membuat Setya tersentak karena ucapan Nonanya, itu berarti ia akan sangat susah bertemu dengan Nona Mudanya lagi.
"Baik Nona.." jawab Setya lesu. Lana segera keluar dari markas dengan hati senang, dan Setya justru kebalikannya.
"Ah ya..." Lana kembali berbalik karena merasa melupkan sesuatu.
"Kak Arin, besok datang ke apartemen buat jemput Lana sekolah ya!" ujar Lana dengan wajah imutnya, membuat Arin dan semua bawahannya merasa gemas dan tak percaya dengan wajah Lana yang sebelumnya ia lihat.
"Ba..baik Nona.." jawab Arin terbata. Lana kembali tersenyum manis dan mulai keluar meninggalkan markas mereka yang jauh dari perkotaan.
"Apakan Nkna memiliki dua wajah?" monolog Arin namun terdengar oleh rekannya sesama wanita di belakang.
"Mungkin.." Kai lah yang menjawab
Pemuda yang memanggil merekapun tak kalah kaget melihat Nona Mudanya yang terkenal lembut dan sangat manis itu akan menghajar orang orang yang ia rekomendasikan untuk Nonanya itu.
"Aku tidak akan mau jika harus berhadapan dengan Nona, dia terlihat manis namjn sangat kejam.." lirih Pemuda tampan dan segera kembali ke ruangannya dengan bulu kuduk yang berdiri setelah melihat Lana bertarung seperti tadi.
Lana dan Setya sudah di jalan menuju apartemen, dan Setya merasa bimbang dan bjngun bagaimana mengatakan hal ini pada Doni Tuannya.
"Kakak gak usah khawatir, nanti Lana sendiri yang akan bicara sama Om Doni." ujar Lana yang mengerti akan fikiran Setya karena sejak tadi ia melihat jika Pria di hadapannya itu terlihat gelisah
"Eh, baik Nona.." jawab Setya melirik Lana yang tetap tenang dan fokus dengan layar handpenenya dan sesekali ia melihat jika Nonanya itu sedang berkirim pesan bahkan terkadang tersenyum.
("Setidaknya aku masih bisa melihat Nona jika bersama Tuan..") batin Setya selalu memperhatikan Lana dari kaca kecil di atas kepalanya
Lanjut up Kakak..
Makasih...
🙏🙏🙏
__ADS_1