
Keesokkannya, Lana dan Doni pamit pada Ragil untuk kembali ke kediaman Angkara, awalnya Foni juga menolak namun atas saran dari Ragil Pamannya lah akhirnya ia mau sefanfkan Ragil sudah di ajak oleh Lana namun dir nya tak ingin tinggal di sana dan hanya ingin menikmati hari tuanya di rumah itu saja.
Lana tak bisa memaksa, dan ia berjanji akan menemuinya jika ada waktu luang.
"Kakek Lana pamut dulu ya, nanti Lana main ke sibi lagi.." ucap Lana sambil memeluk erat Ragil yang sudah ia anggap seperti Kakeknya sendiri. Ragilpun membalas pelukan Lana yang jjga sudah ia sayangi layaknya cucunya sendiri.
"Hmm, berhati hati lah meskipun kalian sudah memusnahkan Erick, tapi musuk Angkara bukan hanya dia tapi ada banyak yang lainnya yang mungkin belum muncul ke permukaan." nasehat Ragil sebagai orang tua.
"Um, Lana akan ingat itu Kakek.." jawab Lana dengan senyum termanis membuat siapaoun yang melihat akan langsung jatuh cinta, ya seperti Doni yang saat ini sedang terpaku menatap Lana yang masih bercengkrama dengan Ragil Pamannya.
"Doni..." panggil Ragil sedikit berteriak karena jeponakannya itu hanya bengong sambil menatap Lana yang kini senyum senyum mengejek.
"Ah! Paman, Doni gak budek jadi gak perlu teriak!" kesal Doni, ia menatap Paman dengan wajah masam karena Lana mengetahui jika ia sedang memandang gadisnya.
"Diamlah! kau jafa cucuku dengan baik dan jika Lana terluka sedikit saja maka kau tahu apa akibatnya!" ancam Ragil dengan tatapn tajam, Doni mengerutkan keningnya.
"Keluarga Paman itu aku apa Lana? kenapa sepertinya aku tak di anggap ya!" pikir Doni, ia membuang wajahnya ke arah lain. Lana sendiri semakin mempelebar senyumannya membuat Doni kian kesal saja.
"Baiklah kami pulang dulu, Kakek istirahat yang baik dan jangan makan makanan yang pedas karena Kakek punya Magh yang harus di jaga pola makannya.." ucap Lana mengingatkan sang Kakek, Ragil hanya tersenyum dan mengangguk melihat tatapan tajam namun penuh kasih dari Lana.
"Dah Kakek..." Lan melambaikan tangannya saat ia dan Doni sudah berada di mobil yang sama. Ragilpun melakukan hal yang sama, sampai mobil Lana keliar dari pekarangan rumahnya dan semakin jauh meninggalkan kediamannya.
Di jalan, Doni dan Lana hanya diam sedang di depan mereka ada Setya dan Arin. Lana sama sekali tak menghiraukan Doni dan sibuk dengan handpone yang ada di tangannya, terlihat jika gadis itu tengah sibuk berkirim pesan pada seseorang dan sambil tersenyum saat sudah membacanya.
'Dia selalu sibuk dengan handponenya, tanpa memperdulikan orang di sekitar!' gumam Doni sambil terus melirik Lana yang masih setia. membalas pesan yang masuk ke handponenya.
Dua jam perjalanan, karena Setya memang membawanya agak sanati atas permintaan Lana sendiri sedang yang lain hanya bisa menuruti Nona Mudanya itu termaksud Doni.
Lana turun lebih dulu tanpa menunggu Setya atau Arin membukakan pintu mobilnya, ia berjalan dengan cepat ke arah kamarnya. Doni hanya mendengus kesal menatap Lana yang sudah jauh berjalan di depannya.
Setya dan Arinpun hanya bisa saling pandang tanpa bicara sepatah katapun. Mereka berduapun hanya menunggu perintah selanjutnya dari Nona Muda mereka dengan menunggu di depan rumah Lana.
__ADS_1
Belum beberapa menit handpone Arin berdering, ia segera melihat siapa yang Menelponenya.
"Nona!" gumam Arin dan Setya melirik Arin karena mendengar gumaman Arin yang berdiri di sampingnya.
"Kenapa?" tanya Setya, Arin hanya menggeleng dan segera mengangkat telpone dari Lana.
"Halo Nona.." sapa Arin sopan.
"Kak Arin sama Kak Setya pulang saja, hari ini kalian free. Lana mau istirahat seharian di kamar..." ucap Lana memberikan perintah dan Arin hanya mengiyakan saja. Sambungan telpone di putus oleh Lana.
"Kenapa?" tanya Setya lagi menatap Arin yang menunjukkan wajah bingung.
"Nona menyuruh kita pulang, karena ia mau istirahat seharian di kamarnya." jawab Arin juga menatap pada Setya seolah meminta pendapatnya akan perintah Lana.
"Ya kita pulang saja, lagi pula kita juga butuh istirahat." ujar Setya dan Arin hanya mengangguk setuju. Mereka berduapun akhirnya memutuskan pulang bersama dengan membawa mobil Lana atas perintah Nonanya karena tadi Lana sempat mengirim pesan pada Setya.
Di dalam kediaman Angkara, Doni masih duduk termenung sambil menatap ke arah luar jendela di kamarnya yang sudah ia tempati selama puluhan tahun.
"Akhhh, kenapa. aku sangat lemah jika iru mengenai perasaan, apalagi saat berhadapan dengan gadis itu rasanya aku hanya ingin marah marah saja..." ujarnya, Doni mengusap wajahnya kasar.
"Biarlah, nanti siang aku akan mengatakannya tak perduli apa yang akan dia fikirkan..." lanjutnya, ia beranjak dari sana dan menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang terasa gerah karena sejak di dalam mobil hanya di cueki Lana, bahkan sampai di kediamannyapun Lana sama sekali tak mempedulikan dirinya.
Lana sendiri sedang sibuk berkirim pesan dengan seseorang di handponenya, ia terlihat bahagia dengan senyum yang terus mengembang di bibirnya belum lagi lesung pipi di kedua pipinya menambah kecantikan serta kemanisan Lana.
"Hai...." sapa Lana pada seseorang yang sedang vidio cal dengannya, Lana sedang berbaring telentang di atas kasurnya.
"Bagaimana kabarmu?" tanya orang itu dengan nada suara yang lembut.
"Baik! Kakak bagaimana mana?" tanya Lana dengan senyum manisnya.
"Kakak Baik, rasanya Kakak ingin cepat pulang setelang melihat senyumanmu itu adik manis..." ucaporang itu lagi dan Lana semakin mengembangkan senyumannya.
__ADS_1
"Maka cepatlah pulang Kak, jangan lama lama di sana An akan sangat merindukan Kak Amira..." ucap Lana dengan wajah yang mengemaskan membuat Amira ingin sekali mencubit pipi chabby Lana.
Lana belum mebuka identitasnya karena ia masih belum ingin ada yang mengetahui dirinya yang ternyata keturunan terakhir keluarga Angkara dan Doni hanya menyetujuinya saja.
"Baiklah Kak, An tutup dulu karena An mah mandi.." ucap Lana hendak memtus sambungan vidio calnya bersama Amira.
"Umm, baik baik kamu di sana sayang, kalo ada apa apa langsung hubungi Diego karena di ada di Indonesia..." ucap Amira penuh sayang dan Lana kembali tersenyum dan mengangguk.
"Um." jawab Lana dengan anggukan kepalanya.
Sambungan vidio cal pun terputus, siapa lagi jika bukan Lana yang memutuskannya. Lana segera masuk ke dalam kamar mandi dan membersihkan tubuhnya yang terasa agak lengket.
Butuh waktu sekitar satu jam lamanya bagi Lana menyelesaikan ritual mandinya. Lana keluar dari dalam kamar mandi dengan tubuh yang dililit kanduk sebatas dada dan sebatas paha sedang kepalanya pun ia lilitkan handuk kecil agar rambutnya yang basah tak mengalirkan air yang akn jatuh ke lantai.
"Segerrrrrrrr...." ucapnya saat membuka pintu kamar mandi dengan kedua tangan yang ia silangkan di depan dadanya karena merasa sedikit dingin.
krukk krukkk.... (ya anggaplah ya kek gitu bunyinya)
Suara bunyi perut Lana yang tiba tiba saja berbunyi, ia memegang perutnya yang terasa sangat lapar karena tak sempat sarapan saat di rumah Ragil.
Lana bergegas memakai dress mini di atas lutut berwarna biru muda, sangat cantik di tubuh Lana yang putih mulus dengan bulu bulu halus.
Lana segera turun kelantai bawah dan menuju ke meja makan sambil memegang perutnya yang kian meronta ronta saat melihat makanan yang sudah tertata rapi di atas meja. Tanpa menunggu siapaoun, Lana segera duduk dan mulai meminta kepala pelayan mengambilkan nasi juga lauk pauk untuknya. Lana mulai makn dengan lahap tanpa memperdulikan orang orang di sekitarnya yang tersenyum menatap dirinya yang seperti orang kelaparan saja.
"Hmmm, enyak enyak enyak..." gumam Lana dengan mulutnya yang penuh dengan nasi dan lauknya.
Lana terus makan hingga hampir habis dan menyudahi makannya saat merasa perutnya sudah penuh, iapun segera kembali ke dalam kamarnya dengan meminta agar kepala pelayan membawakannya cemilan juga minuman untuknya karena seharian ini ia hanya akan berdiam diri di dalam kamar dan tak ingin ada yang mengganggu.
Lanjut up...
Makasih orang baik....
__ADS_1
😊🙏🙏