
"Terserah saja..." jawab Lana dan mereka kembali berciuman saling bertukar saliva hingga senja....
...ΩΩΩΩΩΩΩ...
Benar setelah hari itu, tiga hari berikutnya Doni mengatakan niatnya pada Paman Ragil dan tentu saja Ragil menyetujui keinginan Keponakan juga Lana yang ia anggap seperti cucunya.
"Akhirnya..." gumam Doni memeluk Lana dari belakang, mereka sedang berada di balkon dalam kamar Lana ke mbali menikmati senja yang akan tiba.
"Kenapa?" tanya Lana tangannya memegang tangan Doni yang melingkar di pinggang rampingnya.
Doni mencium ceruk leher Lana yang harum membuat yang empunya merasakan sensasi lain di tubuhnya. "Karena akhirnya Om akan memiliki kamu seutuhnya dan tak akan yang bisa merebut kamu dari Om.." Ucap Doni ia membalik tubuh Lana hingga kini menghadap ke arahnya.
Doni mengecup bibir Lana sekilas, pandangan mereka saling bertemu dan mengunci. Doni semakin mengeratkan pelukannya pada Lana hingga tak ada lagi jarak di antara tubuh mereka karena sudah menyatu. Doni kembali mencium dan melu mat bibir manis Lana karena itu sudah menjadi candunya. Lana sendiri segera membalas dan sangat menikmati permanan lembut dari Doni tangannya ia lingkarkan di leher Doni yang semakin dalam menye sap bibir manisnya.
"Jangan pernah tinggalin Om Lana!" ucap Doni dengan suara serak setelah ia melepaskan pagutannya pada bibir Lana yang selalu membuatnya candu dan menggoda.
"Ummm.." jawab Lana dengan anggukkan kepala sekali namun sangat dalam membuat Doni menyunggungkan senyuman hangat pada gadisnya.
Mereka kembali saling menautkan bibir hingga malam tiba dan memilih masuk ke dalam kamar Lana karena hari yang dingin jika malam hari.
"Omm.." panggil Lana dengan wajah yang menggemaskan di mata Doni, ia bahkan tanpa segan mencubit pipi Lana dan mengecup sekilas bibirnya.
"Hmm." jawab Doni hanya dengan deheman, pelukannya tak pernah ia lepaskan sejak masuk ke dalam kamar hingga mereka saling berbaring dan saling berhadapan di atas kasur yang berukuran king siza milik Lana.
"Kenapa Om bisa cinta sama Lana? padahal kan ada banyak wanita dewasa di luar sana yang lebih cantik dari Lana?" pertanyaan Lana membuat Doni tersenyum tipis.
"Karena kamu sangat cantik dan se xi.." jawab Doni dengan senyum menggoda.
"Ishhhh, Om selalu saja mesum awas aja ya kalo sampe bobol Lana sekarang!" ucap Lana kesal dengan wajah dan tatapan mengancam bahkan ia sedikit memundurkan tubuhnya dan menjauh dari pelukan Doni yang tersenyum miring menatap pergerakan Lana.
"Kalo Om mau bagaimana sayang?" tanya Doni dengan suara yang serak dan menggoda, sebenarnya ia memang sudah tak tahan akan tubuh Lana yang selalu menantang kelelakiannya namun ia selalu menahannya agar tak sampai merusak wanita yang begitu ia cintai hanya karena nafsu belaka.
__ADS_1
"Apa? tidak tidak Lana gak mau ya Om..." teriak Lana ia segera bangun dan menjauh dari Doni yang juga segera bangun dan hendak menangkap Lana, jadilah malam itu kedua insan yang sedang di mabuk asmara itu saling kejar kejaran hingga keduanya lelah dan kembali membaringkan tubuh lelah mereka di atas lantai setelah Doni yang lelah menggelitik Lana dan Lana yang hanya bisa berteriak kegelian karena ulah Omnya.
"Hah hah hah..." kedua saling mengatur nafas yang masih tersengal sengal, dan sesaat kemudian keduanya saling tatap dan melemparkan tawa kecil.
Doni menggerakkan tubuhnya dan menimpa tubuh kecil Lana yang seketika menegang saat Doni yang sudah berada di atasnya walaupun kedua tangan pria dewasa itu menahan agar tak benar benar menimpa Lana.
"O-m..." lirih Lana gugup, ia tak mampu menatap mata Doni yang terus memandangnya tanpa berkedip, dengan posisinya yang berada di atas Lana, ia bisa melihat dengan jelas jika wajah Lana sudah memerah karena malu.
"Kamu sangat cantik sayang!" ucap Doni, ia mendekatkan wajahnya pada Lana yang hanya diam membeku di bawah Doni.
cup...
Sagu kecupan mendarat di bibirnya, walau hanya sekilas tapi ia bisa merasakan kehangatannya. Lana yang tadi memejamkan mata kini ia sudah membukanya kembali dan melihat Doni yang tersenyum ke arahnya.
"I Love You My Litle Girl..." ucap Doni dan kembali mencium bibir Lana, kali ini sangat lama bahkan ia sampai melu mat dan menye sap bibir manis Lana yang sejak tadi hanya diam tanpa membalas, namun Lana jelas menikmati permainan cantik dari Doni yang selalu bisa membuatnya terbuai.
Cukup lama adegan ciuman keduanya hingga Doni mengakhirinya dengan mengecup kening Lana. Ia kembali menatap Lana yang sudah tersipu malu atas perlakuan manisnya.
Doni bangkit dari atas tubuh Lana dan dengan cepat pula ia mengangkat tubuh ramping Lana menuju kasur dan membarungkannya secara perlahan dan penuh kelembutan barulah ia ikut berbaring dan membawa Lana kedalam dekapannya menenggelamkan kepala Lana di dada bidangnya yang kekar.
"Terus apa? Kakak! hm hm..." tanya Lana namun ia jawab sendiri, namun dengan cepat ia menggeleng membuat Doni mengerutkan keningnya menatap Lana.
"Om terlalu tua kalo di panggil Kakak.." lanjutnya dengan senyum mengejek. Benar Doni cukup tua jika Lana harus memanggilnya Kakak, karena Doni kini sudah berusia 30 tahun..
Doni semakib mengerutkan keningnya mendapat ejekan dari Lana dan menyinggung usianya yang sudah sangat matang.
"Tapi Om masih terlihat tampan dan muda!" jawab Doni dengan wajah masam mengalihkan pandangannya pada Lana yang sedang menahan senyumannya.
"Terus apa?" tanya Lana lagi tetap mendongak demi melihat wajah kesal Doni yang kini sedang berfikir.
"Hmmm, sayang! atau mungkin Habby juga boleh!" jawab Doni, dan lagi Lana kembali menggeleng. Doni menatap Lana dengan alis yang sling bertautan.
__ADS_1
"Lalu apa Lana?" tanya Doni akhirnya, sungguh ia kesal sekali karena apa yang ia sarankan selalu di tolak oleh gadis kecilnya. Lana tersenyum tipis mendapati wajah kesal Doni.
"Hmm, Lana mau panggil...." Lana menggantung ucapannya, ia nampak berfikir keras dan setelah mendapatkan nama panggilan yang menurutnya cocokpun kembali menatap Doni dengan mata berbinar.
"Bagaimana kalo Lana panggil Om saja!" lanjtnya dengan nada gembira namun tidak dengan Doni yang justru menatapnya tajam bahkan sangat tak menyukai usulan Lana yang akan kembali memanggilnya Om, tentu saja Doni akan keberatan.
"Ah! mana bisa gitu sayang, Om gak mau ya kalo kita udah nikah kamu masih panggil Om, apa nanti kata orang!" kesal Doni menatap Lana dengan tataan tak suka. Lana kembali tersenyum puas karena bisa mengerjai Doni.
"Om, Om, Om.... Lana maunya panggil Om... wleere..." ucap Lana semakin meledek, ia menjulurkan lidahnya ke arah Doni yang semakin menajamkan tatapannya dan semakin mengeratkan pelukannya hingga tubuh Lana kini sudah sangat menempel pada tubuh Doni bahakan pria itu bisa merasakan lekuk tubuh Lana yang membuat gairahnya meningkat drastis, namun dengan cepat ia menetralkannya dengan memejamkan mata sejenak.
"Awas aja kalo kamu sampe melakukannya, Om pastikan kamu gak akan bis keluar dari kamar ini sampai kamu hamil anak Om..." ancam Doni, Lana melengos tiba tiba saja bulu kuduknya merinding setelah mendengar perkataan Doni barusan.
"Dasar Om Doni mesum, pedofil..." umpat Lana, Doni ganya tersenyum mendapati umpatan dari Lana ia malah semakin mengeratkan pelukannya di pinggang Lana. Keduanya pun tertidur dengan posisi berpelukan. Selama beberapa hari inipun Doni dan Lana sudah tidur sekamar meski begitu Doni masih menjaga batasan agar tak sampai merusak Lana yang sebentar lagi akan menjadi miliknya, biarlah ia tahan sampai Lana benar benar bisa ia miliki seutuhnya nanti. .
Lana sudah tertidur setengah ham. lalu, sementara Doni, ia masih asik memandangi wajah teduh dan cantik Lana apalagi saat tertidur. Sekilas Doni mencium bibir juga kedua pipi Lana sekilas, barulah ia juga memejamkan matanya hingga ikut tertidur dengan pulas sambil memeluk tubuh Lana yang sudah sangat candu baginya.
Di tempat lain, tepatnya di apartemen Farid. Pria itu sangat kecewa akan keputusan gadis kecil yang ia cintai dengan menolaknya dan menerima Doni yang baru ia ketahui jika mereka berdua bukanlah Om dan Keponakan kandung hingga benih cinta tumbuh di antara keduanya dan memilih bersama.
"Aaaaaaaaa, ****..... sial....." umpatnya dengan suara keras menggelegar di seluruh ruang apartemennya, untunglah ia hanya tinggal sendirian hingga tak ada yang merasa terganggu atas tetiakannya barusan...
Semua barang yang ada dilam apartemenpun hancur berantakan, tak ada satupun yang utuh di sana hanya ada bekas pecahan baik itu kaca, guci gels sampai piringpun ada. Farid juga terlihat sangat kacau karena berhari hari tak pernah keluar dari apartemnnya yang sudah kacau seperti kapal pecah, bukan tapi hancur.
"Ana, kenapa! kenapa kau menolakku! aku fikir kau juga menyukaiku dulu tapi kenapa kau menolakku dan malah memilih Om Doni mu itu..." lirihnya, ia menjatuhkan tubuhnya di bawah tempat tidur dan menyandarkan punggungnya di sana juga kakinya yang ia selonjorkan dengan kedua tangan yang terkepal.
Farid memang merasa sangat hancur, namun tak ada niat baginya untuk merusak hubungan antara Lana dan juga Doni hanya saja ia butuh waktu yang cukup lama untuk bisa menerima semuanya. Dan ya kalian tahu! beginilah cara Farid melampiaskan kemarahan juga kekecewaannya yang sangat dalam tanpa perlu menyakiti wanita yang begitu ia cintai, dan setelahnya ia akan berusaha untuk bisa melupakan Lana gadis yang sudah ia cintai cukup lama.
Lanjut lagi...
Makasih orang baik, kalian sudah selalu setia menanti kabar dari kisah ini...
Semoga selalu suka ya, jangan lupa buat kasih like, vote dan juga komentar yang mendukung ya...
__ADS_1
Makasih semua....
😍😊🙏