
Setelah kejadian di taman beberapa hari yang lalu, Perusahaan Doni justru mendapatkan berkahnya. Doni belum mengajukan kerja sama pada Perusahaan milik keluarga Dirgantara, namun Perusahaan itu juatru yang lebih dulu mengajukan kerjasama dengan perusahaan yang di oimpin Doni.
Terkejut dan tak menyangka jika Perusahaan incarannya justru datang kepadanya padahal mereka belum pernah bertemu, dan lebih mengejutkan lagi jika kerja sama yang mereka ajukan sebagai tanda terima kasih mereka pada An atau Lana keponaknnya.
"Tuan..." panggil Setya yang tiba tiba masuk ke dalam ruangan Doni
"Ada apa Setya?" tanya Doni menatap wajah serius Setya
"Perusahaan keluarga Dirgantara ingin mengajukan kerja sam mereka, dan mereka hendak mengundang Tuan dan Nona muda untuk makan malam bersama di rumah mereka." jelas Setya, Doni cukup tercengang mendengar kabar baik yang Setya bawa, namun ia bingung mengapa mereka bisa mengenal Lana.
"Baiklah, tentukan saja waktunya kapan!" jawab Doni masih berusaha santai dan tenang
"Mereka sudah menentukan waktunya Tuan." ujar Setya ragu
"Kapan?" tanya Doni dengan sebelah alisnya ia tarik ke atas
"Malam ini.." jawab Setya. Doni makin terkejut, secepat ini!
"Baiklah siapkan semuanya, dan aku akan segera pulang untuk memberitahukan pada Lana." ucap Doni segera beranjak dari kursinya dan keluar dari ruangannya di ikuti Setya di belakangnya.
Doni sudah sampai di apartemennya, ia segera mencari Lana di kamarnya.
"Lana, kamu di dalam?" tanya Doni dari balik pintu kamar Lana, ia tak langsung masuk karena ia merasa Lana sudah dewasa dan tak ingin melihat sesuatu yang tak ingin ia lihat.
"Ya..."jawab Lana segera membuka pintu kamarnya dan keluar dari sana.
"Ikut Om malam ini." ujar Doni menatap Lana
Lana memicingkan alisnya menatap Omnya tak mengerti.
"Malam ini kita akan di undang untuk makan malam bersama keluarga Dirgantara, dan mereka adalah sahabat Ayah kamu." jelas Doni, Lana tersenyum tipis ternyata secepat ini keluarga Dirgantara membalas budi pada nya.
"Kau merencanakan sesuatu Lana?" tanya Doni curiga saat melihat senyuman Lana.
"Tidak. Aku akan siap siap.." jawab Lana cepat dan segera masuk kembali ke kamarnya.
Doni hanya diam dan berharap semiga keponakannya itu tidak mengacaukan segalanya nanti malam.
Malam tiba, Doni sudah siap dengan jas berwarna Biru dongkernya serasi dengan celana senada serta tshirt berwarna putih tak lupa sepatu panthopel hitamnya. Ia masih menunggu Lana yang tak kunjung keluar, sedangkan Setya yang bertugas untuk mengantar merekapun sudah menunggu mereka di bawah sana.
"Lana..." panggil Doni dari balik pintu kamar Lana yang tertutup rapat bahkan di kunci dari dalam. Donipun masih sibuk merapikan jasnya juga jam tangan yang ia pakai.
krek....(Suara kunci ceritanya kan hehe)
"Ayok Om.." ucap Lana kini ia sudah muncul di hadapan Doni yang mentapnya dari bawah sampai atas.
Doni terdiam terpaku melihat keindahan yang sedang berdiri dihadapannya, dan siapa lagi jika bukan Lana.
__ADS_1
Gadis itu terlihat sangat mempesona, dengan gaun berwana senada dengan yang Doni pakai di tambah riasan tipis di wajahnya juga rambutnya yang sengaja di urai dan di beri jepit kecil di kedua sisinya, ah menambah aura kecantikannya bertambah saja.
"Om.." panggil Lana sambil melambaikan tangannya di depan wajah Doni.
"Ayok.." jawab Doni segera saat ia sadar dari rasa kagumnya terhadap Lana, membuat debaran di dadanya kian menjadi. Doni berjalan lebih dulu karena ia ingin menghindari Lana yang sangat mempesona malam ini.
Lanapun tak banyak bicara, ia hanya mengikuti langkah Doni yang sudah masuk ke dalam lift. Mereka berdua hnya diam, sesekali Doni mencuri pandang pada keponakannya yang sibuk dengan handpone di tangannya.
"Selamat malam Nona!" sapa Setya membukakan pintu mobil untuk Lana setelah Doni yang sudah masuk lebih dulu.
"Malam Kak.." jawab Lana tersenyum manis, seolah senyumannya itu menyembunyikan tentang kebengisan dirinya.
"Anda sangat cantik Nona.." lanjut Setya jujur, ia sama sekali tak mampu mengontrol ucapannya karen terlalu terpesona pada. Nona Mudanya itu
"Makasih Kak.." jawab Lana semakin tersenyum merekah, membuat Doni kesal melihat senyumannya pada Setya.
"Cepat Setya.." tegur Doni, Setya segera menutup pintu mobil setelah Lana masuk. Iapun mengendarai mobilnya dengan dua penumpang bak Raja dan Ratu namun sama sama dingin.
Hanya butuh waktu aatu jam saja mereka sudah tiba di kediaman keluarga Dirgantara, kedatangan merekapun langsung di sambut oleh Tuan rumah yaitu Tuan Adam Dirgantara dan Nyonya Susan Dirgantara serta kedua anak mereka Amira dan Diego Dirgantara.
"An..." panggil Amira yang segera mendekati Lana yang tersenyum ke arahnya. Doni kian penasaran akan kedekatan antara keponakannya dengan keluarga Dirgantara.
"Mari Tuan Kar, makan malam sudah siap.." ucap Tuan Adam mengajak Doni yang segera mengangguk serta tersenyum dan berjalan beriringan.
Diego masih terpaku, sama seerti Doni saat melihat penampilan Lana, ia juga sangat terpesona akan kecantikan Lana bahkan senyumannya yang sangat menawan.
"Apakah dia pria yang di sukai Nona ya!" gumam Setya saat melihat tatapan Nona Mudanya pada pemuda yang tak lain anak dari sahabat Ayah Lana.
"Kami sangat senang Tuan Kar bisa datang bersama Nona An.." ucap Tuan Adam tulus
"Tidak, seharusnya kami lah yang merasa terhormat atas undangan makan malam ini Tuan." jawab Doni sedikit menundukkan kepalanya. Tuan Adam tersenyum.
"Jika saya boleh tahu, apa hubungan Anda dengan Nona An! apakah dia putrimu?"pertanyaan Tuan Adam. membuat Lana tersenyum namun dengan segera ia menjawab pertanyaan Tuan Adam sebelum Omnya yang menjawab
"Saya adiknya Kak Kar Tuan.." jawab Lana, Doni menoleh pada Lana yang tetap tenang dan tersenyum ramah pada Tuan Adam yang segera mengangguk menegrti
"Andai Anda tahu betapa kami sangat berterima kasih pada adik Anda Tuan Kar.." ujar Tuan Adam menatap Lana sengan penuh rasa terimakasih begitun keluarga mereka yang lain.
"Maksud Anda apa Tuan?" tanya Doni tak mengerti
"Adik Anda telah menyelamatkan putri kami Amira dari orang orang yang ingin melukainya." jawab Tuan Adam
"Begitu.." ucap Doni kembali menoleh pada Lana yang sedang tersenyum pada Amira dan Diego yang sebagai bahan godaan mereka, dan saat melihat itu hati Doni kembali panas.
"Baiklah makanannya sudah tersaji, sebaiknya kita makan malam dulu dan lanjut mengobrol di depan untuk membicarakan kerja sama yang akan kita jalin." ucap Tuan Adam dan semua irang hanya mengangguk dan mulai menyantap makan malam yang sudah dihidangkan oleh pelayan rumah Tuan Adam.
Setelah selesai dengan makan malam, kedua keluarga itu kembali mengobrol di ruang tamu yang besar, Doni di temani oleh Setya yang sudah masuk ke dalam rumah Tuan Adam dan Tuan Rumah sendiri bersama asistenya, sedangkan istrinya sudah lebih dulu masuk ke dalam kamar karena kondisinya yang kurang sehat. Amira, Lana dan Diego berada di sisi lain dari ruang tamu, mereka sedang bercengkrama bahkan terdengar tawa dari kedua gadis beda usia itu sedangkan Diego selalu jadi bahan godaan mereka berdua.
__ADS_1
"Ku rasa Diego menyukaimu An!" ujar Amira menatap Lana dan Diego secara bergantian, ia sudah sangat sering memergoki adiknya itu menatap Lana.
"Benarkah?" tanya Lana menatap Diego yang langsung gelagapan dan gerogi sendiri.
"Tidak.." jawab Diego berusaha setenang mungkin meskipun dadanya kini sudah berdegup kencang
"Ha ha ha, lihat wajahmu Diego sangat lucu, bahkan memerah.." tawa Lana dan Amira kembali pecah membuat Diego kian kesal, dan akhirnya ia memutuskan untuk meninggalkan kedua gadis di hadapannya dengan tawa yang masih belum berhenti.
Pemandangan itu tak luput dari mata Tuan Adan dan Doni serta kedua sekertaris mereka masing masing. Tuan Adam sangat bahagia melihat keceriaan putrinya, ia juga tersenyuk melihat putranya Diego yang tak pernah sekesal itu pada seirang gadis.
Sementara Doni menatap kesal pada Lana yang terlihat sangat dekat dengan putra Tuan Adam, bahkan ia terus saja tersenyum bahkan tertawa bersama kedua anak Tuan Adam itu.
"Ku rasa Adikmu sangat cocok dengan Putraku Tuan Kar!" ujar Tuan Adam tetap menatap ke arah Lana dan Amira serta Diego yang kembali duduk di antara kedua gadis yang kembali tersenyum.
"Ya.." jawab Doni, meskipun hatinya mengatakan tidak sama sekali.
"Baiklah Tuan Adam, tetimakasih atas waktu dan makan malamnya." ujar Doni saat mereka sudah menyelesaikan tanda tangan kontrak untuk kerja sama mereka.
"Ya saya juga Tuan Kar, sangat berterima kasih pada Adik Anda.." jawab Tuan Adam. Merekapun bersalaman sebagai tanda telah terjalinnya kerja sama antar perusahaan mereka.
"Baiklah, kalau begitu kami permisi.." lanjut Doni segera berdiri dan di ikuti oleh Tuan Adam.
Doni dan Lana kembali ke apartemen, setelah mereka berpamitan pada Tuan Rumah.
"Dah Adik Manis.." ucap Amira melambaikan tangannya sementara Diego melipat kedua tangannya di depan dada dan menatao kesal pada Lana. Lana hanya membalas lambaian tangan Amira dan tersenyum manis sesuai dengan panggilan Amira padanya. Adik Manis
Saat mobil kian menjauh dari kediaman keluarga Dirgantara, wajah Lana kembali ke bentuk semula, dingin cuek dan tak bersahabat sama sekali membuat Doni semakin kesal dan gerah saja.
"Lebih cepat Setya!" ujar Doni dengan tatapan kesalnya, namun Lana sama sekali tak perduli dan tetap sibuk. dengan gedgetnya.
Setya mempercepat laju mobil, dan tetap fokus pada jalanan yang makin renggang. Hingga mereka tiba di apartemen lwbih cepat dari saat mereka berangkat tadi.
Doni segera turun lebih dulu dan meninggalkan Lana di belakangnya karena gadis itu sempat mengobrol dulu dengan Setya sebelum Asistennya itu kembali mengendarai mobil dan pulang ke kediamannya sendiri.
"Lana, Lana, Lana, kenapa kau selalu muncul si kepalaku hah.." Ucap Doni memukul kepalanya, kini ia sedang di kamar mandi berendam dengan air dingin agar tubuh dan kepalanya yang terasa panas bisa dingin kembali.
"Ahhh, lelahnya..." ujar Lana segera merebahkan tubuhnya di atas kasur, ia kembali teringat dengan keluarga hangat Amira, ingin rasanya ia merasakan keluarga seperti itu.
"Ayah, Bunda, jika kalian di sini pasti Lana juga akan bahagia kayak Kak Amira.." lirih Lana.
"Sudahlah, tak ada gunanya aku terus berfikir hal yang tak mungkin terjadi, sebaiknya aku segera mengatur rencana agar sesegera mungkin bisa medebut Rumah leninggalan Ayah juga semua hal yang telah mereka renggut dariku." ujar Lana penuh semangat, ia duduk di tepi ranjangnya.
"Maaf Kakak Cantik, karena mungkin aku akan menyakitimu demi ambisiku.." lanjut Lana mengingat wajah anggun Kakak Cantiknya yang tak lain adalah Bu Misya.
Lajut up...
Makasih orang baik.....
__ADS_1
🙏🙏🙏