Gadis Manis Ternyata Suhu

Gadis Manis Ternyata Suhu
Identitas Doni yang Sebenarnya


__ADS_3

"Jadi kau paman Ragil?" tanya Lana, ia menatp pria paruh baya di hadapannya yang sedang terbaring lemah dengan perban di kepala serta tangannya juga wajah serta tubuh yang di penuhi luka.


"Siapa kalian?" ujar pria itu menatap Lana juga Arin dengan penuh selidik.


"Paman, jawab dulu pertanyaanku.." ucap Lana, wajahnya sangat manis membuat pria paruh baya itu mengerutkan keningnya karena wajah Lana bisa berubah semanis dan secepat itu dari sebelumnya.


"Ya, aku Ragil dan kau!" jawab pria yang bernama Ragil itu tetap menatap waspada pada Lana juga Arin.


Lana tersenyum simpul karena mendapatkan jawaban yang memuaskan juga tatapan Ragil.


"Paman sungguh tak mengenaliku?" Lana kembali bertanya ia berjalan mendekati Paman Ragil yang mulai merasa takut dan hendak bngun dari pembaringannya.


"Jangan mendekat! siapa kalian sebenarnya?" Paman Ragil semakin gelisah, sedangkan Lana justru tersenyum manis dan duduk di sebelah Pama Ragil yang sudah duduk bersandar dan mencondongkan tubuhnya ke belakang. Tatapannya penuh kewaspadaan.


"Ternyata Paman benar benar melupakanku ya!" ucap Lana menggelengkan kepalanga oelan dan menunduk.


"Aku adalah putri dari orang yang selama puluhan tahun telah Paman lindungi.." ujar Lana menatap Paman Ragil yang masih belum mengerti dengan ucapannya dan mencerna kata kata dari gadis itu.


"Kau-" Paman Ragil membuka matanya sangat lebar setelah ia berhasil mencerna ucapan gadis di hadapannya, wajah terkejutnya tak bisa di sembunyikan di hadapan Lana yang semakin melebarkan senyumannya.


"Paman ingat?" tanya Lana.


"I-ini sungguh No-Nona?" tanya Paman Ragil terbata, ia ingin memastikan namun kewaspadaan tetap melekat di wajah dan matanya. Lana hanya mengangguk sekali namun anggukannya sangat dalam dan mampu menjawab pertanyaan Paman Ragil yang seketika menjatuhkan air matanya karena keturunan Angkara ternyata masih hidup.


"No-Nona-" Paman Ragil hendak membungkukan tubuhnya yang sedang terluka parah akibat siksaan dari Kakek Erick dan anak buahnya yang kejam.


"Tidak, jangn lakukan itu Paman!" ointa Lana dengan sangat sopan, ia juga memegng bahu Paman Ragil dan mengangkatnya agak kembali duduk tegap.


"Aku akan malu pada Ayah dan Bunda jika Paman melakukan hal itu.." lanjut Lana kembali tersenyum lembut pada Paman Ragil yang sudah berjatuhan air mata. Paman Ragil tak menyangka jika Lana atau keturunan keluarga Angkara masih hidup, karena yang ia tahu jjk gadis kecil itu telah di lenyapkan oleh Kakeknya yaitu Erick yang ingin merebut seluruh kekayaan Keponakannya.


"Bagaimana mungkin? mereka bilang Anda sudah tiada!" tanya Paman Ragil menatap wajah Lana yang jika di perhatikan sangat mirip dengan Bundanya bahkan jauh lebih cantik dari sang Bunda.


"Om Doni, sebelum Ayah pergi Paman Donu bersama kami dan di membawa Lana ke suatu tempat." jawab Lana.


"Doni!" ulang Paman Ragil mengerutkan keningnya mendengar nama yang cukup familiar di telingnya.


"Ya Om Doni.." jawab Lana, wajahnya sedikit berbeda karena orang di hadapannya tak mengenali nama yang ia sebut.


"Ternyata Doni yanga membantu Nona ya, syukurlah.." ujar Paman Ragil merasa lega, namun ada yang aneh dengan panggilannya pada Omnya itu karena tak menyertakan Tuan di depannya.


"Berapa lama Paman bekerja dengan keluarga Angkara?" tanya Lana menatap Paman Ragil.


"Cukup lama Nona, bahkan saat Ayah Anda masih di dalam kandungan saya sudah bekerja dengan keluarga Angkara." jawab Paman Ragil tersenyum, ia belum memahami pertanyaan Lana.


"Jika begitu, Paman tentu tahu siapa Paman Doni bukan?" pertanyaa Lana sontak membuat Oaman Ragil terperanjat kaget karena ia melupakan sesuatu.

__ADS_1


"Astagaaa..." lirihnya melirik Lana yang kini menatapnya tajam dan penuh selidik.


"Hah.." Paman Ragil menghembuskan nafasnya kasar.


"Pada akhirnya aku juga yang harus mengatakan hal ini.." ujar Paman Ragil tersenyum getir dengan mata terpejam, Lana hanya memperhatikan sikap Paman Ragil yang menurutnya agak aneh ia juga menghilangkan tatapan tajamnya pada pengikut setia keluarga Angkara.


"Paman, ada apa?" tanya Lana, nada suaranya mulai kembali lembut layaknya gadis SMA yang manis dan imut.


"Apa Paman tahu sesuatu tentang Om Doni? kenapa Paman tidak memanggilnya Tuan seperti yang lain?" tanya Lana bertubi tubi, Arin yang berada di belakang Lanapun sangat antusias mendengar tentan pria yang dulu begitu dekat dengannya bahkan sempat menjalin hubungan singkat.


"Sangat tahu Nona.." jawab Paman Ragil, senyumannya menghilang.


"Doni bukanlah keturunan dari keluarga Angkara seperti yang di ketahui bnyak oranga, karena memang hanya saya, Kakek Anda juga Ayah Anda saja yang tahu tentang kebenaran ini agar Doni tetap merasa jika ia adalah anak dari Kakek Anda.." jawab Paman Ragil matanya kembali terpejam.


Lana dan Arin sangat terkejut, bahkan Lana sampai menutup mulutnya dengan kedua tangankarena hampir saja ia berteriak tak percaya


"A-apa Paman yakin?" tanya Lana setelah beberapa detik terdiam dengan mata melotot dan mulut yang ia bekap dengan tangannya sendiri.


"Tentu saja Nona, untuk aoa saya berbohong!" jawab Paman Ragil penuh keyakinan.


"La-lalu si-apa orang tua Om Doni?" tanya Lana terbata, ia sungguh sangat tak menduga jika ia dan Om Doni bukanlah saudara sesungguhnya, dan itu berarti Lana benar benar sebatang kara saat ini.


"Dia adalah putra dari sahabat dekat Kakek Anda, dan saat itu mereka baru saja kembali dari pertemuan, namun sayang mereka di serang oleh suruhan Tuan Erick yang tak lain adalah Adik kandung Kakek Anda." Paman Ragil meraup udara sebanyak mungkin karena saat ia kembali mengingat masa itu ia juga akan sangat merasa sedih dan bersalah.


Lana masih setia mendengarkan dan tidak berencana untuk menyela ucapan Paman Ragil.


"Sayangnya mereka kalah, dan dengan senang hati Adik juga ipar saya menyelamatkan Kakek juga Nenek Anda serta Ayah Anda dengan berharap agar mereka mau menjaga dan merawat Doni kecil, anak mereka dengan baik." jelasnya membuat Lana semakin terkejut atas penjelasan Paman Ragil.


"I-itu artinya Anda!" ucapan Lana terhenti karena Paman Ragil segera mengangguk padahal ia belum menyelesaikannya ucapannya.


"Saya adalah Paman Doni, namun saat itu saya sedang menjalankan misi rahasia hingga baru kembali saat Doni sudah sangat besar bahkan saat itu Kakek dan Nenek Anda sudah menganggap Doni seperyi putra mereka sendiri juga Ayah Anda yang sangat bahagia karena memiliki adik meskipun ia tahu jika Doni bukanlah adik kandungnya." ujar Paman Ragil menatap Lana yang belum bisa menghilangkan wajah terkejutnya.


"Kakek Anda juga meminta agar saya tetap merahasiakan tentang identitas Doni pada siapapun termaksud pada angkota Angkara sekalipun." ujar Paman Ragil


"Kecuali yang memang sudah mengetahuinya sejak lama." lanjutnya kembali menatap Lana yang berusaha untuk tidak terlihat seterkejut tadi.


"Begitu ya..." lirih Lana, ia sangat sedih juga berterima kasih pada orang tua Om Doni karena dengan rela mengorbankan diri mereka demi Kakek dan Neneknya meskioun saat itu ada Om Doni kecil yang tentu saja membutuhkan kehadiran mereka.


"Terima kasih.." ujar Lana tulus bahkan ia sudah berdiri dan membungkukan sebagian tubuhnya untuk menunjukkan ketulusannya pada Paman Ragil.


"Nona, jangan lakukan itu!" pinta Paman Ragil merasa tak enak pada Nona Mudanya. "Tidak Paman, sungguh keluarga Angkara sangat berhutang budi pada kalian juga Om Doni.." ucap Lana saat ia mengangkat tubuhnya lagi dan berdiri tegap di hadapan Paman Ragil.


"Nona." lirih Paman Ragil terharu akan sikap Lana barusan, sungguh ia merasa telah melihat kedua majikannya terdahulu dari diri Lana sang keturunan terakhir keluarga Angkara.


"Saya merasa melihat Tuan Besar juga Tuan Muda di diri Anda Nona." ujar Paman Ragil, ia kembali menjatuhkan air matanya menatap Lana yang tersenyum hangat padanya.

__ADS_1


"Maaf, saya tidak mengenali Anda sebelumnya!" ujar Paman Ragil menundukan wajahnya, namun Lana dengan cepat memegang kedua bahunya dan menaikan kembali bahunya agar Paman Ragil bisa menatapnya.


"Kita akan segera membereskan merwka yang telah merenggut nyawa keluargaku juga keluarga Paman, dan juga aku berjanjinakan menghajar mereka yang telah menyakiti Paman." ujar Lana, matanya ber api api saat mengatakan itu membuat Paman Ragil membuka matanya lebar menatap Lana.


"Nona.." lirih Paman Ragil, ia menundukkan pandangannya dan terisak setelah mendengar perkataan Lana yang sangat menyentuh perasaannya.


"Terima kasih.." lanjut Paman Ragil kembalk memgangkat kepalanya dan tersenyum menatap Nona Mudanya. Lana hanya tersenyum dan kembali berdiri.


"Beriatirahatlah Paman, Lana akan segera membereskan mereka semua secepatnya dan Lana juga akan segera membawa Om Doni untuk bertemu dengan Paman." ujar Lana membuat Paman Ragil merasa bahagia, karena ia akan bertemu dengan keponakannya.


"Sudah waktunya bagi Om Doni tahu segalanya, larena Paman adalah keluargany." ujar Lana dan Paman Ragil mengangguk setuju.


"Lana pergi dulu, istirahatlah Paman.." Lana keluar dari dalam ruangan yang terlihat seperti kamar dengan berbagai macam peralatan yang lengkap di dalamnya.


"Kalian jaga tempat ini sengan baik, jangan sampai Paman Ragil terluka sedikitpun atau kekurangan sesuatu. Paham.." ucap Lana memberikan perintahnya pada anak buahnya yang segera mengangguk.


"Baik Nona.." jawab mereka serempak. Lana tersenyum sekilas kemudian beralih menatao Arin yang juga menatapnya seolah ia ingin tahu apa saja yang di bicarakan oleh Lana juga Paman Ragil di dalam beberapa waktu lalu.


Arin memang di perintahkan oleh Lana untuk meninggalkan Nonanya dan Paman Ragil tadi, sehingga Arin tidak bisa mendengar masa lalu Doni yang ia sendiri baru tahu.


Lana hanya tersenyum, Lana segera masuk ke dalam mobil sstelah Arin membukakan pintu untuknya.


"Nona.." panggil Arin ragu ragu, namun rasa penasarannya tentan Doni sangat membuatnya tak tenang.


"Hmm.." Lana hanya berdehem, namun seyuman tipis terpaut di bibirnya. Lana sangat tahu jika wanita di depannya ini pasti ingin tahu apa yang ia bicarakan bersama dengan Paman Ragil tentang masa lalu Doni.


Arin terdiam, ia sendiri bingung harus bertanya seperti apa dan bagaimana.


"Ada apa Kak?" tanya Lana tatapannya tetap fokus pada jalanan di hadapannya.


"A-anu itu T-Tuan Doni..!" ucapan Arin terbata bata karena takut jika Nonanya tersinggung.


"Jika waktunya tiba Kak Arin akan tahu dengan sendirinya.." Lana sama sekali tak tersinggung, ia tersenyum menatap Arin yang duduk di depannya sedangkan Arin yang selalu melirik Lana dari balik kaca kecil di atasnya.


"Baik Nona.." jawab Arin pasrah.


Arin terus melajukan kendaraan ke apartemen atas perintah Lana, karena ia memang tak ingin ke sekolah hari itu.


Mobil yang di naiki Lana berhenti saat lampu merah menyala di atas sana. Lana menoleh pada jendela di sampingnya dan memperlihatkan anak kecil yang sedang tersenyum bahagia bersama kedua orang tuanya yang baru saja membelikan anak kecil itu kue yang di jual di pinggir jalan.


"Bahagia.." lirih Lana senyumannya tipis kembali terukir di bibir imutnya, namun segera hilang saat mobil kembali berjalan dan ia tak lagi melihat keluarga kecil yang bahagia di tengah, kesederhanaan mereka.


Lanjut up..


Makasih orang baik...

__ADS_1


😊🙏🙏🙏


__ADS_2