
"Selamat pagi Nona!" sapa Arin yang sejak pagi pagi sekali sudah menunggunya di luar pintu apartemen
"Kak Arin kok gak masuk?" tanya Lana saat ia baru membuka pintu apartemen
"Tidak apa apa Nona.." jawab Arin tersenyum canggung. ("Gimana mau masuk, orang pintunya aja di kunci.") batin Arin
"Berangkat Kak..." ujar Lana berjalan melewati Arin yang menunduk hormat pada Lana dan mengukuti Nona Mudanya dari belakang.
"Lana..." Doni yang baru bangun dan hendak ke dapur melihat Lana yang akan berangkat sekolah sepagi ini
Lana menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Omnya yang berjalan mendekati mereka berdua. Tatapan Dini beralih pada Arin yang juga menatapnya seakan ada sesuatu di antara mereka berdua, dan ya tentu saja Lana menyadari hal itu meskipun Doni segera mengalihkan pandangannya ke arah Lana lagi
"Mau berangkat sekolah?" tanya Doni yang kini sudah berada di hadapan Lana dan Arin yang berpindah posisi ke sisi kanan Lana sedikit kebelakang
"Hmm." Lana hanya berdehem
"Sepagi ini!" Doni mengerutkan dahinya, tak biasanya Lana berangkat sekolah sepagi ini.
"Ya, ada sesuatu yang harus Lana urus bersama Kak Arin.." jawab Lana, Doni kian mengerutkan keningnya
"Urusan apa?" tanya Doni
"Ini urusan Lana dan Kak Arin." jawab Lan ketus dan berbalik
"Lana berangkat.." Lana meninggalkan Doni begitu saja dengan tatapan nanarnya ke arah Lana yang kian menjauh dan menghilang di balik lift.
"Kenapa kau semakin berubah Lana!" lirih Doni. Ia pun kembali masuk ke dalam apartemen menuju kamarnya untuk bersiap siap ke kantor
"Aku merasa kita semakin jauh.." Doni menatap dirinya di cermin, terlihat tampan di usianya yng menginjak 30 tahun.
"Apa mungkin aku bisa bersama denganmu terus Lanaku!" monolog Doni masih menatap pantulan dirinya di cermin besar yang ada di kamarnya
"Tapi aku tahu kita tak mungkin bersama, karena kau adalah keponakanku dan tak akan mungkin ku miliki." Doni menundukkan pandangannya entah apa yang ia rasakan hanya saja kini ia tak ingin berjauhan dengan gadis manis itu juga tak bisa melupakannya.
Doni beranjak dari sana dan keluar apartemen. Setya sudah menunggunya di luar apartemen dan segera membukakan pintu mobil untuk Doni saat ia melihat Tuan Mudanya keluar dari gedung apartemen.
"Selamat pagi Tuan.." sapa Setya sedikit menundukkan kepalanya memberi hormat
"Hmm." Doni hanya berdehem dan segera masuk ke dalam mobil
"Pagi ini kita akan bertemu dengan Tuan Dirgantara Tuan." ujar Setya saat ia sudqh menjalankan mobilnya
"Kapan di mana?" tanya Doni tanpa melihat lawan bicaranya, karen kini ia sedang fokus menatap layar handpone yang memperlihatkan wajah cantik dan imut sang keponakan
"Di Kantor Anda Tuan, dan jam dua siang nanti." kawab Setya melirik sekilas Tuannya lewat kaca kecil di atas kepalanya
"Di kantorku?" tanya Doni meyakinkan pendengarannya
"Benar Tuan dan Tuan Dirgantara sedniri lah yang memintanya." jawab Setya kembali melirik Doni
"Hmm, baiklah.." ujar Doni tak lagi melihat layar handponenya yang kini sudah ia masukkan ke dalam saku jasnya
Di tempat lain, Lana dan Arin serta anak buahnya sedang mengadakan pertemuan dadakan atas permintaan Nona Muda mereka.
"Aku ingin kalian selalu mengawasi keluarga mereka dan juga menjaga kedua temanku." ujar Lana memberi perintahnya.
__ADS_1
"Baik Nona.." jawab mereka serempak membuat senyuman di bibir Lana meskipun sangat tipis.
"Baiklah, kalian bisa pergi dan kerjakan perintahku sekarang." semua pengikut Lana yang baru kemarin ia rekrut segera beranjak dari temlat mereka dan masuk ke mobilmasing masing untuk menuju ke tempat yang sudah di beritahukan oleh Nona Muda mereka
"Kita berangkat ke sekolah Kak." Lana dan Arin segera berangkat ke sekolah setelah semua bawahan mereka pergi dan menjalankan tugas darinya
"Nona.." panggil Arin yang agaknya penasaran dengan Nona Mudanya
"Ya Kak." jawab Lana
"Ada sangat memperhatikan kedua teman Anda! mengapa Nona?" tanya Arin, meskipun ragu namun ia tetap mengatakannya
"Karena mereka orang terdekatku, dan aku tak ingin ada yang mengganggu orang orang yang dekat denganku." jawab Lana, tatapannya tajam ke arah depan a kembali mengingat kematian Ayah dan Bundanya. Lana hnya tak ingin harus kehilangan orang oranga yang ia sayangi. Arin terdiam mendengar ucapan Lana, ia merasa kagum pada sosok Nona Mudanya yang begitu memperhatikan orang sekitarnya
"Kak, Lana juga ingin menanyakan sesuatu!" kali ini Lana yang mendahului pembicaraan
"Ya Nona silahkan." jawab Arin tersenyum melirik Lana di belakangnya melalui kaca kecil di atasnya
"Kak Arin pernah ada hubungan sama Om Doni?" tanya Lana tanpa basa basi, menatap punggung Arin yang terlihat sedikit terangkat ke atas setelah mendengar pertanyaannya dan Lana yakin Kak Arin pasti terkejut.
"I..iya Nona, tapi itu masa lalu.." jawab Arin sedikit terbata, ia sangat terkejut atas pertanyaan Nona Mudanya
"Masa lalu?" Ulang Lana. Arin memperbaiki duduknya, ia kembali masa masa saat masih bersama Doni.
"Dulu saya dan Tuan Doni sempat memiliki hubungan, namun karena saya yang hanya sebagai pengawal biasa sedangkan Tuan Doni adalah Tuan Muda di keluarga Angkara jadi saya harus memutuskannya meskioun Tuan Doni dulu tetap ingin memeprtahankan hubungan kami." Arin nampak sedih saat mengingat itu dan menceritakan kembali masa lalunya pada orang lain dan irang itu Nona Mudanya
"Saya tak ingun membuat Tuan Doni sulit karena itu saya memilih menikah dengan pilihan orang tua saya, dan ikut pindah ke kota lain." Lana mendengarkan dengan seksama, ia tak menyangka jika Omny adalah orang yang begitu setia, Lana pun mengambil. kesimpulan jika selama ini Om Doni tak ingin menjalin hubungan dengan wanita manapun itu karena masa lalunya bersama Kak Arin.
"Begitu ya! lalu kenapa sekarang Kak Arin kembali ke sini?" tanya Lana yang masih penasaran
"Jadi Kak Arin punya anak?" tanya Lana lagi
"Ya, tapi anak saya juga meninggal Nona karena jelainan jantung sejak lahir dan tak mampu bertahan." Lana sangat terkejut atas kisah Asistennya. Kisah cinta juga kehidupannya sangat memilukan hati.
"Kak Arin sangat hebat ya!" ujar Lana tersenyum lembut menatap Arin yang duduk di depannya
"Tak sehebat Nona Muda." jawab Arin juga tersenyum melirik Lana dari kaca di atas kepalanya
"Tidak, Kak Arin hebar karen bisa melewati semuanya dengan baik dan bahkan Kak Arin tetap bertahan.." jawab Lana menepuk pundak Arin yang kaget karena tepukannya
"Terima kasih Nona." jawab Arin, merasa lega setelah menceritakan kisah hidupnya pada orang lain yang selama ini selalu ia rahasiakan dengan sangat baik.
Arin memakirkan mobilnya di tempat parkir, kemudian ia turun dan membukakan pintu mobil untuk Lana yang juga segera keluar dari mobil dengan senyuman termanisnya pada Arin yang sangat mengagumi Nona Mudanya.
"Lana ke kelas dulu Kak." ujar Lana. Arin hnya mengangguk
"An..." panggil Rosa yang juga baru sampai dan turun dari mobilnya
"Bareng yok.."ajak Rosa, Lana hanya mengangguk sekali kemudian mereka berjalan berdampingan
"Kok Crish belum samoe ya! tumben." ujar Rosa menatap ke arah parkiran mencari sang kekasih yang belum kelihatan
"Masih di jalan kali.." ucap Lana namun matanya pun seolah sedang mencari keberadaan kekasih sahabatnya.
Lana dan Rosa berjalan masuk menuju kelas dan menunggu kedatangan Crish yang sampai guru tibapun dia masih belum kelihatan
__ADS_1
"An, kayaknya Crish gak masuk kali ya? gak biasanya kok dia terlambat!" bisik Rosa, Lana hnya diam dan tetap fokus menatap ke depan di mana guru mereka yaitu Bu Cantik sedang menjelaskan mata pelajaran hari ini
"Mungkin." jawab Lana singkat. Meskipun matanya tertuju ke depan namun fikirannya mengarah pada Crish dan keluarganya yang mungkin saja sedang terjadi sesuatu.
("Akan ku tanyakan Kak Arin nanti") batin Lana.
Sejak ia mengetahui jika Bu Misya adalah anak dari Kakeknya atau adik dari Kakek kandungnya, membuat ia sedikit menjauh meskipun terkadang ia masih tersenyum manis ke arah Bu Misya.
Pelajaran Bu Misya telah usai, dan tiba jam istirahat. Lana segera mengirim pesan pada Kak Arin untuk menanyakan perkembangan keluaga Crish.
"Bagaimana keadaan keluarga Crish Kak?" pesan singkat ia kirimkan pada Arin
"Sedang terajadi keributan Nona, mereka juga mengatakan jika seorang pria mengatakan kan membawa Crish kembali ke inggris jika kedua irang tuanya tetap memkasakan kehendak mereka pada adiknya." jawaban Kak Arin membuat Lana mengerutkan keningnya, ia kembali mengirim pesan pada Arin
"Adik?" tanya Lana
"Ya Nona, Crish memiliki seorang Kakak yang juga baru kembali dari inggris beberapa hari yang lalu." jawab Arin, Lana mengerti
"Baiklah Kak, katakan pada mereka untuk terus mengawasi keluarga Crish dan juga cari tahu tentang Kakaknya." balas Lana kemudian ia menyimpan handponenya ke dalam saku rok yabg ia pakai
"Ros." panggil Lana menatap Rosa yang baru selesai membereskan buku bukunya
"Ya.." jawab Rosa menatap Lana
"Kamu tahu tentang Crish yang punya Kakak?" tanya Lana
"Hmm, ya Crish semalam cerita sama aku katanya Kakak dia baru pulang dari Inggris dan kamu tahu An Kakaknya sangat tampan." jawab Rosa mengingat wajah tampan Kakak dari kekasihnya sendiri
"Jangan serakah kamu, udah punya Crish juga." ujar Lana mengetuk kepala Rosa yang meringis memgang kepalanya yang terasa sakit
"Aduhh, sakit An, lagian aku gak bakalan mau lah sama Kak Farid.." terang Rosa menatap kesl pada sahabtnya
"Kenapa? bukannya kmu bilng dia tampan!" tanya Lana
"Ya itu karen Kak Farid Kakaknya Crish dan juga dia sudah terlalu dewasa buat aku An.." jawab Rosa
"Tua?" ulang Lana
"Ya, umurnya sudah 25 tahun." jawab Rosa masih merasa kesal pada Lana
"Gak terlalu tualah.." ujar Lana, entah ada angin apa hari ini gadis itu banyak bicara membuat Rosa sedikit kaget karen biasanya sahabatnya itu tak akan banyak bicara dan hanya diam saja.
Lana kembali diam karena Rosapun masih tampak kesal padanya.
(" Farid, aku seperti mengenal nama itu!") batin Lana mencoba mengingat nama yang di sebutkan oleh Rosa barusan namun tak ada jawaban yang ia dapatkan.
("Siapa Farid, kenapa rasanya tak asing!") batin Lana lagi semakin penasaran dengan pemilik nama itu.
Lanjut up
Jangan bosen ya buat nunggu Mbak Lana sama Om Doni dan ya tambahan saingan nih, Mas Farid.. he he
Yang jelas mah, Makasih orang baik...
😊🙏🙏🙏
__ADS_1