
Lana dan Doni telah kembali ke kediaman turun terumun dari keluarga Angkara. Lana memandangi semua benda yang sudah ia gantikan dengan yang lama dan meletakkan foto foto keluarganya di tempat yang seharusnya.
"Sudah selesai Ayah, Bunda." lirih Lana, saat ini ia sudah berada di kamarnya yabg sudah lama ia tinggalkan dan menjadi kamar tantenya Misya yang saat ini sudah ia kirim jauh dari kediamannya dengan kondisi yang terbilang sangat buruk.
Lana tengah duduk di balkon kamarnya, ia memandang ke arah depan dan menikmati hembusan angin yang menerpanya secara lembut.
"Tenang, dan sangat nyaman..." gumamnya senyuman manis Lana kembali terukir setelah bertahun tahun ia selalu memendam dendqm yang selalu bergejolak di hatinya dan sangat ingin ia selesaikan dan sekarang ia telah menuntaskan segalanya.
"Hahhhh...." hembusan nafas panjang dari Lana pertanda jika gadis itu sedang nelepaskan segala penat di dadanya. Mata yang sebelumnya terpejam kini terbuka perlahan dan menjadi lebar menatap orang orang yang ada di bawah sana termaksud Omnya Doni yang baru kembali dari kantor untuk mengurus semua berkas yang harus berpindah pada Lana karena keturun Angkara yang sesungguhnya telah kembali.
"Nona..." panggilan dari seseorang di luar kamarnya membuyarkan tatapn Lana pada Doni yang sudah menghilang dan masuk ke dalam rumah.
"Tunggu di bawah! aku segera turun." perintah Lana dan suara irang yang memanggilnya tadipun telah menghilang. Lana segera turun setelah ia mengganti pakaiannya.
"Om..." panggil Lana yang baru menuruni tangga satu persatu dengan sangat anggun layaknya seorang bangsawan sesungguhnya dengan dress selutut berwarna pink menambah keanggunannya yang tak di ketahui orang jika gadis itu sangat kejam dan berdarah dingin.
Doni terpaku, ia menatap Lana tanpa berkedip matanya mengikuti Lana yang semakin dekat dengannya yang masih berdiri diam di dekat tangga. Senyuman Lana semakin menghipnotis siapapun yang ada di sana tentu saja termaksud Doni juga Setya bahkan Arin.
"Bisa ikut Lana?" tanya Lana meminta persetujuan Omnya agar mau ikut dengannya.
"Om!" panggil Lana karena tak mendapat jawaban ataupun respon dari Doni yang masih berdiam menatapnya.
"Om Doni!" ulang Lana, ia melambaikan telapak tangannya di hadapan wajah Doni yang langsung sadar dan sumpah ia sangat malu sekarang begitu juga dengan Setya dan Arin.
"Khemmm, maaf kenapa Lan?" tanya Doni yang berusaha mengatur nafasnya karena gugup dan merasa canggung. Lana tersenyum membuat Doni lagi lagi terpanah namun dengan cepat ia mengatur wajahnya agar tak seburuk tadi.
"Mau ikut Lana ke suatu tempat?" Lana mengulang pertanyaannya, suara lembutnya membuat siapaoun akan langsung luluh.
"Kemana?" tanya Doni, kini matanya menyipit.
"Ada, nanti Im juga tahu! mau kan?" Lana menunjukkan wajah imut dan manisnya membuat Doni tak bisa menolak dan mengangguk. Lana kembali tersenyum, ia segera menarik tangan Doni yang hanya pasrah dan menatap sekilas pada tangannya yang di genggam oleh Lana sambil berjalan berdampingan menuju mobil Doni.
"Om yang bawak ya!" ucap Lana lembut menatap Doni dan lagi lagi Omnya itu hanya mengangguk menyetujui keinhinan keponakannya.
Mereka sudah pergi menuju ke tempat yang Lana maksud, selama perjalanan Lana hanya diam dan sibuk dengan ponselnya, sedangkan Doni selalu melirik keponakannya yang terlihat terkadang tersenyum saat membaca dan memlas pesan di handponennya.
"Nanti di depan belok kanan ya Om, terus lurus sekitar 300 meter." arahan Lana saat nereka sudah hampir sampai di perempatan jalan. Doni mengangguk menegrti dan kembali fokus pada mobil yang ia kendarai.
Doni mengikuti arahan Lana dan setelah 300 meter Lana memerintahkan Omnya untuk berhenti di sebuah rumah minimalis bertingkat, tidak begitu besar tapi cukup besar dan bagus. Lana turun lebih dulu dan diikuti Doni yang segera mengikuti langkah Lana memasuki kediaman itu yang Doni sendiri tidak tahu milik siapa.
"Kalian!" ujar Doni kaget melihat beberapa anggota Angkara yang berjaga di depan pintu masuk saat mereka berdua sudah di depan pintu.
"Selamat datang Nona Muda dan Tuan Doni..." salam mereka bersaman dan menundukkan kepala memberi hormat. Doni terdiam, biasanya ia akan di panggil Tuan Muda oleh mereka keningnya mulai mengerut hingga kedua alisnya saling bertautan.
"Om, masuk nanti Lana kenalin seseorang yang spesial!" ajak Lana, ia menggandeng tangan Doni yang kembali pasrah meski wajah penasarn juga bingung jelas terlihat.
"Kakek..." panggil Lana pada seorang pria tua yang seusia dengan Kakek kandungnya. Lana melepaskan genggamannya pada Doni yang menatap kepergian Lana menuju pria yabg di panggil Kakek oleh Lana.
"Nona..." ujar pria paruh baya itu yang ternyata Paman Doni Kakak dari Ayah kandungnya yaitu Ragil salah satu pengawal juga pengikut setia keluarga Angkara.
"Kakek, bukankah aku bilang jangan panggil Nona! sekarang aku ingin jadi cucumu bukan Nonamu!" rengek Lana, tatapan manja ia tunjukan pada Ragil yang segera tersenyum melihat tingkah kenak kanakan Lana.
"Baiklah baiklah, cucuku yang manis dan imut." jawab Ragil mengalah. Doni hanya memperhatikan keduanya tanpa bicara ia masih setia berdiam diri di tempatnya tanpa berniat mendekati Lana juga Ragil.
"Om, sini!" panggil Lana saat ia melihat Doni hanya diam memperhatikan mereka. Doni berjalan santai menuju Lana juga Ragil, dengan tatapan penuh tanya.
__ADS_1
"Ini Kakek Ragil!" Lana memperkenalkan Ragil pada Doni yang sudah jelas jika ia mengenali sosok itu.
"Om tahu!" jawab Doni melirik sekilas pada Lana kemudian kembali menatap Ragil yang juga menatap padanya.
"Om gak sopan sama Paman sendiri!" ucapan Lana membuat Doni kembali melirik padanya, ia mengerutkan keningnya dengan sebelah alis yang terangkat.
"Paman!" ulang Doni dan Lana mengangguk dengan senyum cerah.
"Doni.." panggil Ragil dengan suara yang agak bergetar. Mendengar namanya di panggil, Doni menatap Ragil ia bahkan mendengar getaran dari suara pria yang ia kenal sangat baik.
"Duduk dulu, ada yang harus kita bicarakan!" pinta Ragil lembut, ia mempersilahkan keponakannya untuk duduk lebih dulu. Tanpa membantah Doni menuruti ajakan Ragil ia duduk di sofa panjang dengan wajah dinginnya dan tatapan yang tak pernah teralihkan pada Ragil yang juga duduk di hadapannya sedangkan Lana masih berdiri.
"Baiklah, sebaiknya Lana keluar saja dan kalian bisa bicara berdua.." ucap Lana yang hendak pergi dari sana, namun saat melewati Doni tangannya di tahan oleh Omnya itu hingga ia menghentikan langkah dan menatap Doni yang juga menatap padanya.
"Tetap di sini!" ucap Doni seolah memberi perintah pada keponakannya, namun Lana segera menggeleng dan melepaskan pegangan Doni dengan lembut.
"Lana gak mau ikut campur, sebaiknya Lana keluar dulu." jawab Lana tetap lembut dan tenang. Ia segera keluar dan Doni tak lagi menahannya.
"Apa yang ingin Anda bicarakan?" tanya Doni langsung pada intinya.
Ragil menghembuskan nafasnya kasar dan terdengar oleh Doni, ia melihat wajah tegang dari Ragil.
"Keponakan ku..." lirih Ragil menatap Doni yang manutkan alisnya menatap Ragil.
"Siapa?" tanya Doni yang belum mengerti jika ialah keponakannya.
"Kau!" jawab Ragil. Doni tersentak mendengar jawaban Ragil yang jelas terdengar di telinganya, ia menatap Ragil tajam.
"Anda bercanda dengan saya!" ucap Doni dengan suara menahan marah, bahkan wajahnya sudah memerah.
"Tidak!" jawab Ragil, ia juga menggelengkan kepalanya dengan wajah tertunduk.
"Kau keponakan kandungku, dengan artian kau bukanlah keturunan Angkara..." lanjut Ragil saat melihat tatapn tak percaya juga kaget dari Doni yang kini bungkam. Doni menatap Ragil mencari kebohongan di sana, namun hanya kebenaranlah yang ia dapatkan membuat kepalan berdenyut pening memikirka semua kebenaran itu.
"Jika benar! mengapa Anda tak pernah mengatakannya?" tanya Doni, kini tatapannya ia alihkan ke bawah.
"Itu karena Tuan Besar juga Tuan Muda yang sangat menyayangimu dan tak ingin jika ada yang tahu akan identitasmu yang sebenarnya." jawab Ragil, ia kembali menghela nafasnya yang terasa berat.
Doni mengangkat kepalanya menatap Ragil yang sudah meneteskan air mata.
"Saat itu, aku sangat ingin mengatakannya padamu tapi, Tuan Besar melarangnya dan mengatakan jika saat itu kau akan menjadi putra keduanya." lanjut Ragil, Doni masih menyimak dengan serius.
"Tuan Besar bilang, jika ia sangat berutang nyawa pada Ayah juga Ibumu yang telah menyelamatkan nyawa mereka dan akan menjaga dirimu dan merawatmu dengan baik, karena itu mereka mengangkat dirimu sebagai putranya dan hanya sedikit orang yang mengetahuinya termaksud diriku pamanmu." Ragil kembali menatap Doni yang kian terkejut, bajkan matanya mulai berkaca kaca setelah mengetahui segalanya dan kisah hidupnya yang sebenarnya.
"Lalu kenapa kau datang sekarang?" tanya Doni lirih, suaranyapun terdengar bergetar menahan tangis agar tak sampai jatuh, ia bahkan kembali menundukan wajahnya menatap lantai berkeramik putih.
"Itu karena Nona Muda, ia ingin menyatukan kita sebagai keluarga yang sesungguhnya." jawab Ragil, ia berdiri dan berjalan mendekati Doni dan memeluknya dari samping setela ia duduk di sebelah keponakannya.
Doni yang sempat kaget mendapatkan pelukan hangat dari Pamannya hanya diam, ia merasakan kehangatan juga nyaman saat Paman memeluknya. Air matapun lolos begitu saja dari matanya dan mulai mengalir di pipinya.
"Aku menangis!" gumam Dini pelan, hingga tak terdengar Ragil yang masih setia memeluknya rindu.
"Paman!" panggil Doni, ia melepaskan pelukan mereka dan menatap Ragil yang juga menatapnya.
"Sdlama ini Paman di mana?" tanya Doni, ia tak pernah melihat Ragil selama ini dan berfikir jika pengawal Ayah angkatnya itu juga telah meninggal.
__ADS_1
"Aku di kurung di bawah tanah oleh Erick, bahkan ia menyiksaku tanpa berniat membunuh karena ia fikir aku tahu akan keberadaan Nona Muda saat itu." jawab Ragil ia kembali teringat saat Eric menyiksanya. Doni kaget, ia tak menyangka akan hal itu.
"Lalu anak buah Nona Muda menemukanku dan menyelamatkanku atas perintahnya." lanjut Ragil, ia tersenyum saat mengingat pertama kali bertemu Lana yang sangat menyebalkan menurutnya namun ia tak menyangka jika gadis muda itu adalah Nonanya. Doni kembali terkejut, hari ini ia selalu di buat terkejut dengan kenyataan kenyataan yang diluar kepala. Sangat membuatnya pusing.
"La-Lana!" Ragil mengangguk.
Terdengar helaan nafas kasar dari Doni, ia memegang kepalanya yang terasa akan pecah saja.
"Anak itu, selalu bertindak semaunya!" gumam Doni yang merasa frustasi akan tingkah Lana, ia lupa jika saat ini dirinya hanya seorang pengikut Angkara dan bukanlah keturunan Angkara.
"Nona ingin menyatukan kita sebagai keluarga yang sesungguhnya, sungguh Nona adalah gadis yang sangat baik." ucap Ragil, ia sangat berterima kasih pada Lana karena telah menepati janjinya.
"Benarkah!" Doni merasa agak kecewa, ia merasa jika Lana sudah tak ingin menjadi keluarganya dan tak ingin lagi bertemu dengannya karena itulah ia ingin agar dirinya mengetahui segalanya.
"Iya." jawab Ragil yang tak mengetahui isi hati keponakannya, karena Doni yang berusaha tersenyum bahagia.
Setelah puas saling bercengkrama dan saling bercerita tentang masa. lalu Doni dan asal usulnya yang sebenarnya, Ragil pamit ke kamar karena harus istirahat bahkan ada Dokter yang menjaga di khususkan oleh Lana demi kesehatan Ragil.
Doni tak menyangka jika Lana akan sangat baik pada keluarganya.
Doni segera keluar kediaman Ragi dan mencari Lana yang ternyata sedang ngobrol santai dengan Sstya dan Arin, bahkan terlihat jelas kebahagiaan Lana saat dekat dengan Setya.
Cemburu, ya tentu saja Doni cemburu apalagi setelah ia tahu segalanya jika sekarang ia bukanlah lagi Omnya dan tak bisa mengatur Lana seperti sebelumnya.
"Nona..." panggil Doni, ya kini dirinya mulai membiasakan memanggil Lana dengan Nona.
Lana menoleh dan melihat Doni yang berada di belakangnya.
"Sepertinya Kakek sudah mengatakan segalanya ya!" ucap Lana, ia selalu menunjukkan senyumannya.
"Om..." panggil Lana lembut, ia menatap dalam. manik mata Doni.
"Bisa bicara Nona!" izin Doni, ia tak lagi bisa memerintah. Lana mengangguk setuju dan mulai berjalan lebih dulu meninggalkan ketiga orang yang menatap kepergiannya.
Setya dan Arin beralih menatap Doni yang segera menyusul Lana. Sstya sangat terkejut saat mendengar Tuannya memanggil keponakannya Nona, namun Arin yang sudah tahu sebelumnya hanya bersikap biasa.
"Kau tahu sesuatu Rin?" tanya Setya menatap Arin yang terlihat biasa saja.
"Sedikit!" jawab Arin
"Apa yang kau tahu?" tanya Setya semakin penasaran
"Doni bukan keturunan Angkara.." jawab Arin. Setya terperanjat ka bahkan hampir jatuh dari tempatnya duduk.
"Ka-kau jangan b-bercanda Rin!" ucap Setya mengingatkan dengan terbata bata bahkan kedua matanya membola menatap Arin yang tetap santai dan menggelengkan kepalanya.
"Bahkan Nona tahu akan hal itu setelah kami menemukan Paman Ragil yang mengatakan jika Doni bukanlah anak dati Kakek Nona." jawab Arin, ada sedikit kekecewaan di wajahnya karena tak bisa mendengar segalanya saat itu.
"Tapi aku juga gak tahu hubungan apa antara Paman Ragil juga Doni." lanjutnya. Setya yang selalu di buat terkejut dengan penjelasan Arin hanya bisa melebarkan kedua matanya, dengan sebelah tangan ia letakan di depan dada.
"Astagaaaa, jadi selama ini Tuan Doni juga tidak tahu ya!" lirih Setya, kini ia memandang ke arah depan. Arin mengangguk membenarkan ia juga memandang ke arah yang sama dengan Setya.
Hening mereka sama sama terdiam dalam fikiran masing masing hingga Doni dan Lana kembali ke sana....
Lanjut up....
__ADS_1
Makasih orang baik....
😊🙏🙏