
Malam yang sepi, namun kediaman Ragil masih tampak ramai di dalamnya karena Lana juga Doni yang menginap di sana. Lana yang terus saja menempel pada Ragil bak cucuk kesayangan sedangkan Doni semakin kesal dengan tingkah dan sikap Lana yang sejak seharian ini selalu mengacuhkannya.
"Kakek sungguh tak ingin tinggal di kediaman Lana?" tanya Lana, ia sungguh ingin Ragil yang sudah ia anggap seperti Kakeknya sendiri bisa tinggal bersamanya di kediaman Angkara.
"Tidak Nak, Kakek akan tetap di sini saja dan Doni yang akan menemaniu di sana. hmmm.." ucap Ragil, ia tahu jika keponakannya itu menyukai Lana dari tatapan Doni pada Lana.
"Tidak usah Kek, Lana bisa tinggal sendkri saja lagipun ada banyak pengawal dan penjaga di sana jadi tidak perlu!" jawab Lana ketus, melirik Doni yang wajahnya semakin kesal menatap tajam pada Lana.
"Kenapa! karena aku bukan Om mu?" tanya Doni tak kelah ketus karena sejak tadi hanya diam dan menyimak obrolan antara Lana dan juga Pamannya.
Ragil tersenyum tipis melihat pertengkaran dari kedua manusia yang beda usia dan jenis kelamin ini.
"Tidak!" jawab Lana dengan wajah lugunya semakin membuat Ragil gemas.
"Lalu?" Doni menatap tajam Lana yang terlihat sangat santai dengan kepalanya yang ia sandarkan di pundak Ragil.
"Tidak ada!" jawab Lana mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Dasar labil, kerjaannya cuma marah marah doang!" gumam Lana namun masih terdengar oleh Ragil yang tertawa kecil menatap wajah kesal Doni yang juga membuang pandang ke arah berlawanan.
"Dasar bocil!" gumam Doni.
"Kalian sangat cocok...." ujar Ragil di sela tawanya yang tak tertahan lagi.
"Kakekkkk..." teriak Lana
"Paman....." terika Doni berbarengan. Mereka berdua menatap tajam pada Ragil, sekian detik berikutnya mereka saling pandang dan mengunci dalam diam.
Ragil lagi lagi menatap Lana dan Doni yang saling pandang secara bergantian, ia segera menahan mulutnya dengan tangan agar tak kembali tertawa, namun gagal.
"Itu hanya menurut ku saja!" ucap Ragil, ia hendak menjauhkn dirinya dati Lana dan Doni yang masih saling melemparkan tatapan tajam.
"Sebaiknya aku kembali ke kamar saja, karena di sini hawanyanya sangat tidak baik untuk kesehatan ku.." lirih Ragil, ia benar benar akan pergi dari sana karena tak ada sautan dari keduanya.
"Kakek tetaplah di sini.." pinta Lana, ia yang lebih dulu mengalihkan pandangannya kembali menatap Ragil yang sudah berdiri dan hendak melangkah.
"Tidak tidak, kakek akan kembali ke kamar saja, kalian selesaikan masalah kalian hingga tuntas dan jangan sampai ada yang tersisa." jelas Ragil, iapun segera meninggalkan Lana dan Doni yang kembali sling menatap dalam diam dan keheningan karena semua pengawal serta pembantu sudah Ragil usir dari sana agar membuat keduanya lebih leluasa.
"Apa lihat lihat?" ucap Lana, ia duduk menyamping agar tak melihat Doni yang duduk di depannya namun ia masih bisa melirik ke arah Doni yang tetap duduk mengahadap ke arahnya dan menatapnya.
'****, anak ini sangat cantik!' batin Doni menatap Lana yang sangat cantik, dengan wajah polos tanpa make up belum lagi baju tidur yang agak tipis dengan bawahan celana pendek sebatas pahanya sehingga dengan jelas Doni bis melihat paha mulus dan putih milik Lana apa lagi dengan cara duduk Lana yang melipat kakinya.
"Mesumm..." cercar Lana menatap dengan tatapn selidik pada Doni yang sejak tadi memperhatikannya juga bagian paha dan kakinya.
Doni mendelik mendengar ucapan Lana. "Kau-" Ucapan Doni tertahan saat Lana sudah berdiri dan hendak melangkah menajuh darinya, namun dengan cepat Foni mencekal lengan Lana hingga gadis remaja menjelang dewasa itu menoleh dan menatapnya dengan sebelah alis yang terangkat.
__ADS_1
"Duduk, kita perlu bicara!" ucap Doni pelan, ia menatap Lana dengan tatapan memohon.
Lana duduk kembali, ia duduk menghadap ke arah Doni. "Apa yang ingin di bicarakan?"tm tanya Lana tetap dengan nada ketus, ia menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa dengan kedua tangan yang ia lipat di depan dada menatap Doni yang sedang berusaha menahan diri dengan menghela nafas dalam dan menghembuskan secara perlahan.
"Cepat katakan Om, Lana sudah ngantuk!" ujar Lana memancing dengan wajah kesal.
"Bisanya kamu tidur larut!" jawab Doni, ia mengerutkan keningnya menatap Lana yang sangat santai dan tenang.
"Itukan biasanya, sekarang beda..." ucap Lana. masih ketus dan sinis.
"Cepat aoa yang mau Om bicarain sama Lana?" ucap Lana.
"Om suka sama Lana!" ujar Doni menatap lekat manik mata Lana, ia fikir jika gadis di hadapannya akan sangat terkejut sstelah ia mengatakan isi hatinya, namun semua prediksinya salah total, Lana masih tetao tenang dan justru tersenyum miring.
"Hanya itu!" ucap Lana memajukan tubuhnya sedikit.
"Hmmm." dehem Doni dengan wajah heran menatap sikap Lana.
"Kalo itu saja, Lana sudah tahu Om!" ujar Lana tetap pada senyumannya, dan sekarang justru Doni yang terkejut akan ucapan Lana yang mengatakan jika ia sudah mengetahui perasaannya.
"Sejak?" tanya Doni dengan ekspresi tak percaya, namun sikap tenang Lana membuat ia percaya.
"Baru, mungkin beberapa bulan yang lalu sejak Om cium Lana di kantor!" jawab Lana memutar mutar matanya seolah sedang berfikir kapan tepatnya.
"Jadi!"
"Lalu kenapa Lana tak menolak Om waktu itu?" mendapat pertanyaan itu lagi dari Doni membuat wajah Lana kembali kesal, ia masih tak habis fikir dengan Doni yang masih belum paham dan mengerti atas sikapnya waktu itu yang tak menolak ciuman darinya.
"Bodoh..." gumam Lana, namun masih bisa di dengar oleh Doni. Lana segera berdiri, sungguh moodnya kembali kacau dan berantakan. Ia ingin menjauh dari Doni yang tak oeka sama sekali akan perasaannya.
"Lana..." panggil Doni, ia kembali mencekal lengan Lana dan ikut berdiri mendekat ke arah Lana yang masih membelakanginya.
"Maaf..." lirih Doni yang sudah memeluk Lana dari arah belakang. Lana hanya diam, ia tak berniat untuk berbalik dan menyambut pelukan Doni.
"Untuk apa?" tanya Lana, ia masih kesal.
"Semuanya! maaf waktu itu Om cium kamu.." ujar Doni. Lana yang tak tahu harus apa. lagi agar Omnya ini paham jika ia juga menyukainyapun hanya diam dengan rasa kesal.
"Lepas..." ucap Lana ketus, Doni menggeleng tak ingin melepaskan oelukannya dan semakin mengeratkan oelukannya pada Lana.
"Lepas Om!" tegas Lana dan Doni tetap pada posisinya membuat Lana kian kesal, hingga ia hendak melepaskan tangan Doni yang melingkar di perutnya, namun kekuatan Lana seolah hilang begitu saja hingga tak mampu melepaskan pelukan Doni darinya dan itu semakin membuat ia kesal.
"Lan, kalau kamu marah karena ciuman itu, Om bener bener minta maaf tapi tolong jangan menjauh ya!" lirih Doni, ia hendak membalik tubuh Lana namun justru itu menjadi kesempatan bagi Lana untuk meloloskan dirinya dari cengkraman Doni.
"Bodoh..." ucap Lana kesal, ia yang sudah menjauh dari Doni yang tercengang melihat Lana yang mulai menaiki tangga untuk menuju kamarnya dengan kekesalan.
__ADS_1
"Kenapa? apa yang salah dati ucapanku barusan! aku hanya minta maaf..." lirih Doni memikirkan ucapannya barusan pada Lana dan malah membuat gadis itu semakin marah dan kesal hingga meninggalkan dirinya di sana.
Ragil yang sejak tadi memerhatikan keduanya hanya bisa geleng geleng kepala melihat keponakannya yang sangat tidak peka akan perasaan Lana.
"Dia memang bodoh tentang cinta dan perasaan, sangat mirip denganmu Adik!" gumam Ragil, mengingat adiknya Papah Doni.
Ragil mendekati Doni yang sudah duduk kembali di sofa dengan wajah tak mengerti akan sikap Lana padanya.
"Sudah bicara?" tanya Ragil yang ikut duduk di samping Doni.
"Sudah, tapi Lana masih kesal dan semakin kesal sepertinya!" jawab Doni frustasi. Ragil tersenyum tipis, ia menepuk pundak Doni yang langsung menoleh pada Ragil Pamannya.
"Kau harus bisa mengerti perasaannya Don, wanita itu memang sulit di mengerti." ucap Ragil, Doni mengerutkan keningnya.
"Sudah ku coba, karena itu aku minta maaf atas yang pernah ku lakuakan padanya.." jawab Doni serius. Ragil menggeleng dengan senyuman yang belum hilang di bibirnya.
"Belum, kau masih belum paham tentang perasaan dan keinginann Lana yang sebenarnya." ujar Ragil tak kalah serius namun sangat tenang.
"Maksudnya?" tanya Doni yang semakin tak mengerti. Ragil menghela nafas panjang dan menghembuskannya secara kasar.
"Apa saat itu dia menolakmu Don?" tanya Ragil dan Doni menggeleng saat ia memikirkan ciuman mereka yang sudah dua kali terjadi.
"Lalu! apa menurutmu dia akan marah! sedangkan jelas jelas dia tidak menolakmu?" tanya Ragil. Doni nampak berfikir keras, benar saat itu Lana sam sekali tak menolaknya meskipun gadis itu tak membalas.
"Astagaaaaa, bodoh!" umpatnya untuk dirinya sendiri, ia memukul oelan keoalanya hingga beberapa kali.
Ragil tersenyum puas, akhirnya keponakan bodohnya ini bisa paham juga. "Pahamkan!" ucap Ragil dan Doni mengangguk dengan wajah kesal akan kebodohannya sendiri.
"Baiklah, Paman akan istirahat dan sebaiknya besok kau segera mengatakan segalanya pada Lana sebelum terlambat." ujar Ragil memberikan nasihat pada keponakannya sambil berdiri menatap Doni yang segera mengangguk dan tersenyum.
"Makasih Paman.." tulus Doni, sungguh ia sangat bersyukur bisa bertemu dengan Paman kandungnya hingga ia dan Lana mungkin saja bisa bersama untuk menjakin kasih.
"Hmmm." jawab Ragil, ia berlalu meninggalkan Doni yang masih setia duduk di sofa yang ada di ruabg keluarga.
"Benar, besok akan aku katakan segalanya pada Lana semoga belum terlambta dan pria bernama Farid tak kan ku buarka dia mendekati Lanaku!" ucapnya penuh keyakinan dan tegas, senyum sinis tergambar jelas di bibirnya.
Doni pun segera masuk ke dalam kamarnya yang berada di samping kamar Lana, sebelum ia masuk Doni menilirik kamar Lana yang sudah tertutup rapat dan tersenyum.
"Tunggulah sampai besok Don, dia akan jadi milikmu!" gumam Doni, ia segera masuk ke dalam kamar untuk istirahat.
Lanjut lagi.....
Semoga syuka selalu ya sayyyyyy....
Makasih orang baik....
__ADS_1
😊🙏🙏