Gadis Manis Ternyata Suhu

Gadis Manis Ternyata Suhu
Perasaan Aneh


__ADS_3

Hari hari Lana di habiskan untuk sekolah dan les selebihnya ia gunakan untuk melatih kemampuannya, bahkan terkadang ia mengajak Setya untuk berlatih bertanding agar kemampuannya semakin baik..


Doni yang terlalu sibuk akhir akhir ini tak bisa menemani Lana untuk berlatih, hingga membuat peluang bagi Setya untuk semakin dekat dengan keponakannya itu tanpa ia sadari.


"Kak Setya lumayan, tapi masih kalah sama Lana.." ucap Lana di sela sela istirahat.


Lana dan Setya sedang berada di bawah pohon rindang dekat apartem yang di khususkan bagi Lana latihan, mereka terlihat semakin dekat. Entah mengapa jika di dekat Setya ia selalu merasa bahagia tapi berbeda jika di dekat Omnya entahlah mungkin ada rasa lain di dalam dirinya yang tak bisa ia ungkapkan.


"Kau jauh lebih kuat dari pada aku Nona, bahkan sekarang aku semakin merasa mindet jika di dekat Nona..." jawab Setya jujur, ia merasa jika nantinya bukan ia yang melindungi Nonanya tapi justru dialah yang akan di lindungi.


"Tidak juga, ku rasa Kakak cukup hebat.." ucap Lana tersenyum manis pada Setya yang terpaku menatap senyuman Lana padanya.


Kini cara bicara Lana dan Setya tak seformal sebelumnya karena Lana sendiri yang meminta jika mereka hanya berdua maka harus bersikap seperti seorang teman saja bukan sebagai Nona dan bawahan. Meski begi, Setya tetap memanggil Lana Nona.


"Terimakasih..." jawab Setya saat ia kembali sadar.


"Hahh, lelahnya..." ucap Lana merebahkan tubuhnya ke rumput, namun kepalanya ia letakkan di atas paha Setya membuat pria itu sedikit terkejut dengan sikap Nona Mudanya.


"No...na..." ucap Setya gagap. Lana justru memejamkan matanya dan tak memperdulikan panggilan Setya yang sedang menatap dirinya yang sedang menjadikan paha Setya sebagai bantal.


"Aku ingin tidur sebentar Kak, jadi jangan bergerak. Ini perintah.." ucap Lana tetap pada posisinya. Lana tertidur dengan pulas sedangkan Setya menelan ludahnya dengan susah payah karena ia terbuai akan wajah Lana lebih tepatnya pada bibir mungil Lana yang terlihat menggoda.


("Astagaaa, mati aku...") batin Setya memejamkan matanya mencoba menetralkan perasaan dan gejolak yang ada pada dirinya. Lana yang terbangun setelah merasa cukup dengan istirahatnya menatap wajah Setya yang berada tepat di atas wajahnya karena ia masih berada di paha Setya yang ia jadikan bantal.


"Ternyata Kak Setya tampan juga ya kalo di lihat dari dekat..."senyum Lana mengembang ia masih terlalu terlena dengan wajah Setya yang terlihat lebih tampan jika sedang tertidur.


"Nona.." kaget Setya saat melihat Lana yang masih berada di pahanya sedang menatap dirinya dengan senyuman di bibir yang membuat ia jadi was was hingga tertidur.


"Kakak tampan, ya walaupun tak setampan Om Doni..." ucap Lana jujur, gadis itu memang selalu mengatakan apa yang inhin ia akatakan tanpa berpikir apa yang di rasakan orang lain.


Wajah Setya memerah, ia segera memalingkan wajahnya dari hadapan Lana yang masih setia menatapnya.


"Nona, maaf itu paha aku keram.." ucap Setya mencoba mengalihkan pembicaraan

__ADS_1


"Eh, maaf Kak.." ucap Lana segera duduk di samping Setya yang sudah kembali biasa.


"Udah sore ya! rasanya aku masih ingin di sini..." ucap Lana lesu, karena ia bosan ke apartemen yang sepi karena Omnya itu selalu pulang larut sedangkan ia sudah tertidur.


"Tapi sebaiknya kita pulng Nona, karena nanti Tuan marah.." ucap Setya mencoba merayu Lana agar ikut pulang bersamanya.


"Bahkan Om Doni tak pernah ada waktu lagi untuk Lana Kak.." jawab Lana kemudian berdiri dan berjalan duluan menuju Apartemen.


setya tak menjawab, ia hanya mengikuti Nona Mudanya hingga tepat di depan Apartemen.


"Aku pamit Nona.." ucap Setya masih sedikit agak kikuk saat mengatakan 'aku'.


"Hmm, hati hati Kak..dah.." ucap Lana tersenyum sambil melambaikan tangannya saat melihat Setya semakin menjauh dari pintu Apartemennya.


"Kenapa sore baru pulang?" suara khas laki laki dewasa menggema di ruang tamu saat Lana baru menjatuhkan bokongnya di salah satu sofa panjang.


"Om..." Lana menoleh sebentar kemudian kembali fokus pada hpnya.


Doni sengaja pulang lebih awal karena entah mengapa ia merasa rindu dengan Lana, namun saat ia sampai di Apartemen ia tak menemukan keponakannya itu dan malah melihat jika Lana yang sedang tertidur pulas di paha Setya.


Doni yang kesal dan entah perasaan apa itu, memutuskan kembali ke Apartemen dan menunggu keponakannya itu pulang tapi siapa sangka jika Lana pulang sore.


"Habis latihan." jawab Lana tetap fokus pada hpnya. Lana sedikit membuat jarak pada Doni karena jika selalu di dekat Omnya itu jantungnya seakan mau copot.


"Lana Im sedang bicara padamu.." ucap Doni semakin kesal, melihat Lana yang acuh tak acuh padanya sedang kan dengan Setya dia bisa begitu dekat.


Lana ikut kesal, ia menatap Doni dalam hingga kedua mata itu bertemu dengan mata Omnya. Doni sedikit terpaku saat Lana menatapnya hingga akhirnya ia sendiri yang memalingkan wajah ke arah lain.


"Lana ke kamar dulu mau istirahat, besok juga mau sekolah." Lana segera beranjak dan meninggalkan Doni di ruang tamu dengan segala perasaan aneh dalam dirinya.


Dikamar, Lana tak segera membersihkan tubuhnya, justru ia langsung merebahkan dirinya ke atas kasur yang berukuran beaar dan empuk.


"Om tua itu menyebalkan sekali beda sama Kak Setya yang menyenangkan..." Lana memejamkan matanya, ia membayangkan Setya dan tersenyum bersamanya namun tiba tiba bayangan Doni justru muncul di benaknya hingga ia membuka matanya dan duduk..

__ADS_1


"Gila, kenapa bayangan Om Doni malah muncul..." ucap Lana sambil memukul kepalanya pelan...


Lana segera membersihkan dirinya dan kembali merebahkna tubuhnya ke atas kasur, namun sesaat ia teringat sesuatu dan kembali bangkit kemudian mengambil suatu benda dari dalam laci.


"Ini buku apaan yah?" ucap Lana penasaran dengan buku yang sebelumnya ia temukan di Villa dan ia bawak ke Apartemen.


"Hmm, buka aja deh..." Lana hendak membuka lembaran pertama dari buku itu, namun baru juga terbuka sedikit suara Om Doni membuat ia terkejut dan kembali menutup buku di tangannya kemudian segera menyimpannya lagi.


"Lana makan malam.." ucap Doni sambil mengetok pintu keponakannya, namun tak ada jawaban dari dalam hingga ia memutuskan untuk masuk dan melihat keponakannya sedang apa.


"Sudah tidur..." Doni mendekat ke arah Lana yang sudah tidur, tapi lebih tepatnya berpura pura tidur karena ia masih sedikit kesal dengan Omnya itu.


"Maaf Om terlalu sibuk..." ucap Donu saat ia sudah berada di sisi kanan tempat tidur sambil memperhatikan keponakannya.


"Lana..." lanjutnya kemudian duduk di pinggir tempat di mana Lana sedang tertidur. Lana sangat gugup bahkan jntungnya sudah dag dig dug tak karuan apa lagi saat Doni mulai mengusap wajahnya dengan lembut, namun ia masih berusaha untyk trtap tenang.


"Cantik..." Doni mencium kening Lana cukup lama, entahlah padahal selama ini ia tak pernah melakukan itu terhadapn keponakannya bahkan saat Lana masih kecilpun ia sama sekali tak pernah menciumnya tapi sekarang?


"Selamat tidur..." Doni memperbaiki selimut Lana dan menutup tubuhnya hingga ke dadanya kemudian ia keluar setelah mematikan lampu dan menutup pintu pelan.


"A...apa itu, kenapa jantungku.." ucap Lana pelan. Lana segera bangun dan duduk setelah memastikan jika Omnya benar benar sudah pergi dari kamarnya.


Lana kembali rebahan, ia mencoba tidur namun tak bisa karena kecupan Doni selalu membaynginya belum lagi perasaannya yang tak karuan saat Omnya itu mencium keningnya.


"Oh, apa ini kenapa aku tak bisa tidur! ayolah..." ucap Lana memegang kedua matanya sambil mengelusnya. Hingga tengah malam Lana baru bisa tertidur...


Lana selalu menghindari kontak mata dengan Omnya, setiap kali Doni bertanya sesuatu Lana selalu menjawab seadanya dan tak pernah mentap mata atau wajahnya. Lana ingin menghindari Omnya yang membuat jantungnya hampir meledak.


Lanjut up....


makasih orang baik....


🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2