Gadis Manis Ternyata Suhu

Gadis Manis Ternyata Suhu
Mengalahkan Om Doni


__ADS_3

Beberapa tahu lagi sudah terlewati. Lana kecil tumbuh menjadi gadis muda yang sangat mempesona, selain itu ia juga semakin mahir dalam segala hal.


"Lana, kau harus bisa menggunakan pedang ini dengan benar. Begini..." ujar Doni saat melatih Lana berpedang smbil mempraktekannya. Latihan ini akan menjadi latihan terakhir bagi Lana karena semua pelatihan yang Doni berikan padanya, semuanya sudah ia kuasai.


"Baiklah baiklah aku mengerti Om.." jawab Lana kembali mengambil pedangnya dari tangan Dni.


Lana sedang melatih gerakan berpedangnya, larena sangat sulit untuk bisa menguasai gerakannya yang cukup banyak belum lagi Om Doni yang selalu ingin agar Lana cepat memahami semua yang ia ajarkan padanya.


"Sekarang kita akan berlatih tanding.." Doni sudah siap dengan pedang miliknya, ia berdiri tepat di hadapan Lana yng juga bersiap untuk melawan Omnya.


"Serang Om sekarang!" perintah Doni, Lana hanya mengangguk kemudian menyerang Doni dengan membabi buta, namun gerakan Lana sama sekali tidak membuat Doni kewaahan bahkan ia sama sekali tak bergerak dari tempatnya membuat Lana kesal dan semakin berusaha unyuk menjatuhkan Omnya itu.


"Kau kurang fokus Lana.." terang Doni memberi nasihat, bahkan ia bisa membuat Lana mundur hanya dengan satu kali gerakan saja.


"Shittt.. Aku tak akan menyerah.." ucapnya menatap ke arah Doni yang terlihat santai dengan senyuman di bibirnya membuat Lana semakin kesal.


Lana kembali menyerang Doni dengan segala macam gerakan yang telah ia kuasi, tapi tetap saja hasilnya nihil. Sekarang malah Doni yang sudah melukai lengan Lana dengan pedangnya tanpa bergerak sedikitpun dari tempatnya.


"Kau masih sangat lemah dalam berpedang Lana.." ungkap Doni, kali ini ia sedikit kecewa dengan hasil latihan Lana.


"Untuk hari ini cukup. Istirahat dan obati lukamu.." Ujar Doni meninggalkan Lana yang masih memegang lengannya yang terasa sakit dan perih walaupun Doni tak membuat luka yang parah di lengan Lana, hanya saja Lana merasa kecewa karena ia masih belum bisa membuat Omnya sedikit saja mundur saat menghadapinya.


"Sial, aku masih belum bisa mengalahkan Om Doni." ucap Lana memandangi lengannya yang terluka dan sudah mengeluarkan darah.


"Jika begini, aku tidak akan bisa mengalahkan mereka yang mungkin lebih hebat dari pada Om Doni.." Lana sangat kesal ia bahkan menekan lukanya hingga darah yang keluar semakin banyak dan sudah membasahi sebagian lengannya.


Lana segera masuk ke dalam Villa, ia mengobati lukanya sendiri di dalam kamar.


"Shhh, sakit juga ternyata. Ah sial sial sial..." umpatnya masih merasa kecewa saat mengingat kekalahannya barusan.


"Aku harus lebih giat lagi berlatih berpedangku.." Lana segera memperban lukanya kemudian ia beranjak dari tempat tidur menuju pedang yang ia letakkan tak jauh dari lemari kuno di samping tempat tidur.


"Aku harus berlatih lagi, hingga tak ada yang bisa mengalahkan aku termaksud Om Doni sekalipun.." semangat Lana yang berkobar terlihat jelas di matanya. Lana mengambil pedang peninggalan Ayahnya, bahkan di sana tertulis nama dirinya.


"Ayah, aku tidak akan mengecewakanmu.." lirih Lana saat menatap ukiran namanya di gagang pedang yang ia pegang saat ini.


"Lana janji akan menjadi kuat, dan pasti akan Lana lakukan." lanjut Lana.


Malam itu Lana tak ingin tidur karena fikirannya sedang terganggu karena kekalahannya untuk yang sekian kali saat melawan Om Doni.


"Aku akan berlatih di sini saja.." ucap Lana saat memperhatikan sekitarnya. Lana sedang melatih tehnik beladari berpedangnya di dekat danau yang cukup terang karena malam itu bulan bersinar dengan penuh.

__ADS_1


Lana terus meningkatkan gerakannya yang cukup lambat saat menghadapi Doni tadi sore, hingga beberapa kali ia terus melakukan hal yang sama. Lana yang sedang asik berlatih tak menyadari jika lengannya yang terluka karena serangan dari Om Doni kembali mengeluarkan darah dan sudah merembas dari perban yang ia lilitkan di lengannya.


Hari semakin larut, namun Lana masih dengan posisinya berlatih di pinggir danau. Lana terus berlatih sampai ia merasa kelelahan.


"Ku rasa cukup malam ini, besok aku akan kembali melatih tehnik yang sama agar bisa menang dari Om Doni.." ujarnya semangat meskipun ia sangat lelah.


Lana segera kembali ke Villa dan masuk ke dalam kamarnya untuk mandi. Lana baru sadar jika lemgannya kembali mengeluarkan darah saat ia hendak melepaskan pakaiannya.


"Berdarah lagi." Lana segera mandi dan membasuk lukanya meski terasa agak perih.


"Shhhh..." lirihnya saat ia menyiramkan air hangat ke luka di lengannya yang masih mengeluarkan darah segar.


"Luka ini, akan menjadi luka pertamaku dan akan menjadi kenangan bagaiku kedepannya.." ucap Lana saat ia sudah selesai dengan mandinya dan mengusap lengannya yang terluka meski sudah tak mengeluarkan darah lagi.


"Tunggu dan lihat saja, aku pasti akan membuat Om Doni tercengang karena dia akan aku buat mundur.." ujar Lana sebelum ia benar benar memejamkan matanya dan tertidur dengan pulas.


"Ayah, Bunda...." panggil Lana saat ia melihat kedua orang tua di hadapannya sedang tersenyum ke arahnya.


"Berjuanglah Nak..." ucap Ayah Lana kemudian menghilang menjadi seberkas cahaya yang tak lagi mampu Lana gapai..


"Tidak, jangan jangan pergi. Jangan tinggalkan Lana Ayah Bunda..." teriak Lana yang sudah menangis menatap cahaya berwarna biru semakin menjauh darinya.


"Balaskan, balaskan, balaskan dendamku Lana..." Lana mendengar suara teriakan di telinganya cukup keras hingga ia menutup telinganya karena terlalu sakit dan ikut berteriak hingga suara itu menghilang dan berubah menjadi suara panggilan Doni.


"Aaaaa......" teriak Lana saat ia terbangun dari tidurnya dengan wajah ketakutan.


"Om..." Lana langsung memeluk Om Doni yang masih berdiri di dekat kasurnya.


"Kamu mimpi Ayah sama Bunda lagi?" tanya Doni mengelus rambut panjang Lana yang terurai dan belum pernah di potong sejak mereka masuk ke dalam hutan dan tinggal di Villa.


"Hmmm, tapi Lana juga mendengar suara asing sampe telinga Lana terasa sakit Om.." jawab Lana saat ia sudah melepaskan pelukannya dengan Doni.


"Suara! suara siapa? dan apa yang ia katakan?" Doni sedikit kepo.


"Entahlah, Lana juga gak tahu siapa, tapi dia bilang Balaskan dendamku!.." Lana mengingat ucapan suara yang ada di mimpinya


"Gitu aja Om, terus Lana bangun..." jelas Lana kembali memeluk Doni yang tetap diam saat Lana memeluknya.


"Sudah, sekarang Lana mandi dan Om tunggu di lapangan latihan ya!" ujar Doni melepaskan pelukan mereka.


"Hmm..." jawab Lana segera beranjak dari tempatnya dan segera menuju kamar mandi, sedangkan Doni segera keluar dan menuju meja makan menunggu Lana untuk sarapan bersama.

__ADS_1


Butuh waktu setengah jam bagi Lana menyelesaikan mandi nya. Maklumlah sekarang kan Lana sudah menjadi gadis muda. Lana dan Doni segera sarapan dan menuju lapangan untuk melatih kemampuan Lana lagi.


"Ingat Lana, fokuskan fikiran kamu jangan sampai memberi sedikit saja celah pada musuh.." jelas Doni saat ia akan memulai latih tanding bersama Lana.


"Baik Om..." jawab Lana dan segera mengambil kuda kuda untuk menyerang Doni yang juga sudah siap untuk menerima serangan Lana.


Lana dengan semangatnya menyerang Doni, serangan pertama dan kedua masih belum mampu menggoyangkan Doni, hingga gerakan ketiga yang Lana ciptakan sendiri barulah bisa membuat Omnya itu mundur hingga beberapa langkah. Doni tak bisa menebak gerakan keponakannya satu itu hingga ia harus mundur untuk menghindari gerakan juga tebasan dari Lana.


"Bagus Lana.." ucap Doni saat ia melihat gerakan baru Lana.


"Apa kau yang menciptakan gerakan itu?" tanya Doni kembali ke posisinya.


"Hmm.." jawab Lana tetap dengan posisi siaga.


Lana kembali menyerang Doni dengan gerakan yang di ajarkan Omnya, namun tak satupun gerakannya mampu membuat Om Doni kembali mundur.


"Kenapa Lana?" tanya Doni saat melihat Lana yang terdiam seperti sedang berfikir dan menyadari sesuatu, kemudian ia tersenyum dan menatap Doni.


"Sekarang Lana pasti bisa mengalahkan Om Doni.." ucap Lana dengan senyuman yang menakutkan.


"Om akan menunggu Lana..." jawab Doni semakin serius setelah melihat senyuman keponakannya yang tak pernah ia tunjukan sebelumnya.


Lana menyerang Doni dengan gerakkan gerakkan baru yang ia ciptakan sendiri, sehingga Doni sedikit kewalahan menahan serangan Lana yang terus saja di berikan padanya. Doni tersentak saat ia merasakan jika lengannya tergores oleh pedang Lana.


"Ini..." Doni menatap lengannya di mana bajunya sedikit sobek dan memperlihatkan luka kecil di sana.


Doni menatap Lana yang tersenyum puas, namun nafasnya mulai memburu karena terlalu banyak menggunakan tenaganya untuk menyerang Doni demi ambisinya untuk bisa mengalahkannya.


"Kau mulai memahami latihan ini rupanya Lana!" ucap Doni tersenyum menatap Lana yang hampir terjatuh ke tanah jika tak segera di tangkap olehnya.


"Aku berhasil Om.." ujar Lana kemudian ia tak sadarkan diri karena terlalu lelah. Untuk pertama kalinya Lana kehabisan tenaga hingga tak sadarkan diri seperti ini.


Doni segera mengangkat Lana membawanya kembali ke Villa, ia segera membaringkan Lana dengan hati hati di atas kasur tak lupa ia juga menyelimuti keponakannya yang tumbuh semakin cantik dan menggoda di hadapannya.


"Istirahatlah, karena kita hampir pada tujuan." ucap Doni saat sudah di ambang pintu.


Hari yang sangat melelahkan bagi Lana pun bagi Doni, karena akhirnya Lana bisa menyeimbangi kekuatannya meskipun harus menghabiskan banyak tenaga, namun itu cukup membuat Lana bahagia. dan Doni yang semakin merasa bangga dan kagum pada sosok Lana kepinakannya.


Lanjut up say...


Makasih yang dah mampir baca, jangan lupa like dan dukungannya ya, karena akan sangat berarti bagi author....

__ADS_1


Makasih orang baik...


🙏🙏🙏


__ADS_2