Gadis Manis Ternyata Suhu

Gadis Manis Ternyata Suhu
Menyadari


__ADS_3

Doni hanya diam termenung di ruangannya, meskipun tubuhnya berada di kantir, namun fikirannya serasa di rumah di kepalanya jelas berputar pemandangan antara Lana dan Setya yang terjadi sejak semalam hingga tadi pagi, membuat oraknya serasa akan pecah saja.


"Ahhhh, sial sial sial. Kenapa wajah Lana selalu muncul di kepalaku.." teriak Doni untung hanya ada dirinya di sana.


"Aku benar benar gila jika terus seperti ini. akhhh..." Tangannya sudah mengacak ngacak rambutnya yang tadi rapi hingg berubah kusut.


"Tidak, tidak boleh dia itu keponakanku."


"Tapi kenapa aku malah jatuh cinta padanya!" Doni makin frustasi setelah akhirnya ia menyadari jika perasaannya selama ini adalah perasaan suka terhadap seorang wanita. Mungkin itu bagus, tapi kenapa harus pada keponakannya sendiri hal itu benar benar membuat Doni semakin gila rasanya.


"Kenapa harus Lana, kenapa bukan wanita lain.." ujarnya semakin melemah, tangannya kian kuat memukul dadanya yang terasa nyeri saat ia melihat perlakuan Lana pada Setya.


"Oh, shittt. sial..." Doni berdiri dari kursi kebesarannya, ia segera keluar dari dalam ruangannya dan hendak kembali ke apartemen karena percuma juga ia di kantor jika fikirannya terus saja memikirkan Lana.


Doni membawa mobilnya sendiri, ia ingin secepatnya sampai di apartemen dan menemui Lana yang selalu membayanginya beberapa bulan belakangan ini dan hari ini ia baru sadar jika ternyata dirinya menyukai keponkannya sendiri.


"Sial..." makinya lagi saat Doni masih mengendarai mobilnya, beberapa kali ia memukul stir mobil yang tak bersalah sama sekali.


Tak butuh waktu yang lama bagi Doni untuk segera sampai di apartemennya, ia segera masuk dan hendak mencari Lana namun yang di cari tak juga ketemu.


"Lana..." panggil Doni cukup keras saat ia membuka pintu kamar keponakannya dan mendorong hingga terbuka. lebar namun masih tak menemuinya bahkan Setyapun tak ada membuat Doni makin merasa kesal dan marah.


"Ahh, kemana mereka." ujar Doni memikirkan kemana dua orang yang selalu bersama beberapa bulan ini.


Dini terus mencari tanpa henti namun tetap saja hasilnya nihil.


Sedang di taman tak jauh dari apartemen, Lana sedang membawa Setya berjalan dengan membopong sebelah tangannya yang ia letakkan di atas pundak.


"Hati hati Kak, pelan pelan aja.." ujar Lana menasehati Setya yang hendak berjalan agak cepat menuju kursi yang ada di taman itu.


Tentu saja Setya buru buru, karena jantungnya sudah berdegup kencang karena terlalu dekat dengan gadis yang ia suka, sementara Lana hnya bersikap biasa saja karena memang ia tak memiliki perasaan apapun pada Setya, ia hanya menganggapnya sebagai Kakak saja dan gak lebih.


"Pelan pelan Kak.." Lana mulai melepaskan tangan Setya dari pundaknya karena kini mereka sudah sampai di kursi panjang yang ada di taman


"Ahh, Kakak Setya berat juga ya!" ujar Lana sambil duduk di samping Setya yang segera menoleh ke arahnya.


"Maaf Nona.." ucap Setya merasa tak enak karena telah menyulitkan Nona Mudanya.


"Santai aja Kak, selama ini kan Kak Setya selalu nemenin Lana jadi sekarang gantian Lana yang nemenin Kakak." jawab Lana tersenyum semanis mungkin ke arah Setya yang semakin gerogi dan salah tingkah.


"Ehh, i..ya Nona, terima kasih.." ujar Setya.


Sebenarnya Lana tahu akan perasaan Setya padanya, namun ia tak bisa membalas perasaan Setya dengan perasaan yang sama karena itulah ia hanya akan membalasnya sebagai seorang adik yang baik dan perhatian terhadap Kakaknya saja.

__ADS_1


"Kak..." panggil Lana


"Ya Nona.." jawab Setya kembali menoleh ke arah Lana


"Apa Kakak menyukai ku?" tanya Lana tanpa menatap Setya justru kini matanya tengah terpejam dwngan kepalanya yang ia letakkan di atas sandaran kursi yang ia duduki.


Setya gelagapan, bungung harus berkata jujur atau bohong dengan pertanyaan menjebak dari Nonanya ini.


"Maaf Nona.." akhirny hanya kata maaf yang terlontar dari bibir Setya dengan pandangan menunduk


"Jadi Kak Setya benar menyukai Lana ya!" ujar Lana tetap dengan ke adaan yang sama, Setya hanya diam masih tertunduk.


"Maaf Kak, Lana gak bisa membalas perasaan Kakak ke Lana, tapi Lana harap perlakuan Kakak ke Lana selama ini jangan sampai berubah ya, karena Lana sayang sama Kak Setya seperti Kakak Lana sendiri.." ujar Lana menatap dalam manik Setya yang berwarna hitam pekat yang juga menatap ke arahnya setelah mendengar penituran Nona Mudanya barusan.


"Nona..." lirih Setya, jujur hatinya sakit saat Lana yang menolak dirinya bahkan sebelum ia mengatakannya. langsung, tapi setidaknya menjadi Kakak bukanlah hal yang buruk karena ia masih bisa. bersama dengan. gadis yang ia sukai.


"Lana mohon tetap jadi Kakak Lana, dan memberikan perhatian Kakak sama Lana seperti yang selama ini Kakak lakukan, tapi bedanya Kakak melakukannya karena Lana adalah adik Kakak.." jelas Lana semakin dalam menatap Setya.


"Baik Nona, akan saya usahakan.." jawab Setya akhirnya setelah ia hanya diam saja, ia mengalihkan pandangannya ke arah depan begitupun Lana. Keadaan kembali hening tak ada yang bicara di antara mefeka berdua, Lana yang sudah memejamkan matanya lagi sedangkan Setya menatap lurus ke arah depan dengan perasaan yang sudah tak ada harapan lagi.


"Apa Nona sudah punya kekasih?" tanya Setya tiba tiba tanpa. menatap lawan bicaranya. Lana yang mendengar pertanyaan itu membuka matanya namun tak juga menoleh ke arah orang yang bertanya


"Tidak ada, hanya ada seseirang yang mungkin sudah hadir di sini.." jawab Lana dengan telunjuknya yang menunjuk ke bagian dadanya.


"Apa dia juga menyukai Nona?" lanjut Setya, ia masih penasaran dengan orang yang kini sudah mengisi hati Nona Mudanya.


"Ku rasa tidak, karena setiap kali kami bertemu dia akan terlihat sangat cuek dan dingin bahkan jarang menegurku.." jawab Lana raut wajahnya nampak sedih.


"Bodoh..." ujar Setya tersenyum sinis.


"Lana?" tanya Lana saat ia mendengar ucapan Setya


"Bukan, tapi laki laki itu yang bodoh karena sudah mengabaikan bidadari cantik seperti Nona.." jawab Setya tersenyum menatap Lana yang juga tersenyum ke arahnya.


"Ya ya, Kakak memang benar. Dia memang bodoh karena tak bisa. menyadari kecantikanku.." puji Lana pada dirinya sendiri dengan bangga. Lana dan Setyan kembali saling tatap beberapa detik kemudian tertawa bersama karena merasa lucu sendiri.


"Ahhhh, Lana selalu bahagia jika di dekat Kakak terima kasih..." ujar Lana jujur


"Sama sama Nona, itu sudah menjadi tugas saya.." jawab Setya


("Setidaknya aku selalu bersamamu Nona, dan bisa membuatmu tersenyum bahagia seperti ini..") batin Setya sesekali ia melirik Lana yang kembali menutup matanya menikmati angin sepoi sepoi yang mengenai wajahnya dan membuat rambutnya yang panjang dan sengaja di urai terbang ke mana mana membuat ia semakin terlihat mempesona.


Dari jauh, lagi lagi Doni menemukan Lana bersama Setya yang sedang tertawa bersama, bahkan jika bersamanya pun keponakannya itu tak pernah memberikan senyuman manisnya. Doni juga mendengar percakapan Lana dan Setya meski hanya setengahnya saja karena ia datang setelah Setya bertanya tentang orang yang Lana sukai.

__ADS_1


"Siapa pria yang Lana sukai?" monolog Doni pada dirinya sendiri, tanpa sadar ia meninju pohon yang menjadi temoat sembunyinya hingga beberapa kali membuat tangannya memerah bahkan terluka.


"Ah shitt,, sial..." Doni segera pergi dari sana karena tak tahan lagi melihat kebersamaan Lana dan Setya yang semakin dekat saja. Ia memutuskan untuk kembali ke apartemennya dan istirahat di kamar.


"Nona, sudah sore sebaiknya kita kembali ke apartemen saja." ujar Setya saat melihat hari yang semakin sore


"Hmm." jawab Lana kembali menarik tangan Setya dan meletakannya ke atas pundaknya kemudian mereka berjalan beriringan menuju apartemen.


"Terima kasih Nona, maaf sudah merepotkan.." ujar Setya saat mereka sudah sampai di kamar milik Lana dan ia berbaring di atas kasur milik Nonanya itu. Lana hanya tersenyum dan keluar setelah ia menarik selimut dan menutupi Setya sampai ke perut.


"Istirahat Kak, ku rasa besok Kakak sudah semakin baik.." ujar Lana kemudian meninggalkan Setya yang baru saja di berikan ramuan oleh Lana membuat matanya terasa berat dan akhirnya tertidur.


"Dari mana saja?" tanya Doni dengan ketus


"Taman..." jawab Lana yang hendak melewati Omnya


"Lana..." panggil Doni dengan suara yang ia tahan


Lana berhenti, namun tak berbalik ia hnya menunggu kata kata mutiara apa lagi yang akan Omnya berikan padanya. Namun Doni malah diam membuat Lana kesal dan akhirnya berjalan menuju dapur meninggalkannya sendiri dengan mulut yang tak bisa mengatakan apapun.


Doni kembali menyusul Lana ke dapur, ia duduk di kursi sambil terus memperhatikan keponakannya yang hendak memasak sesuatu. Lana merasa risih dengan tatapan Omnya, namun ia tetap mengontrol perasaannya agar tak sampai salah tingkah.


Lana sudah selesai, ia membuat bubur ayam dan ada tiga mangkok di sana tentu saja untuk dirinya, Doni dan Setya.


"Ini..." Lana memberikan semangkok bubur ayam buatannya pada Doni yang duduk di sana kemudian ia beranjak dari dapur hendak menuju ruang tamu dengan membawa bubur miliknya sedangkan untuk Setya ia simpan.


"Mau ke mana?" tanya Doni yang belum menyentuh buburnya


"Ruang tamu..." jawab Lana tetap meneruskan langkahnya. Doni segera menyusul dan membawa buburnya juga kemudian duduk berhadapan dengan Lana yang sudah duduk dan menyantap buburnya dengan nikmat.


"Om gabung.." ujar Doni, Lana hanya mengangguk dan terus menyantap buburnya hingga tak tersisa begitupun Doni, meskipun sesekali matanya melirik Lana.


Malam itu Lana dan Doni tertidur di ruang tamu, karena tak ada salah satu yang mau mengalah dan tidur di kamar milik Doni. Lana tertidur dengan kepalanya di atas pundak Doni, sedangkan Doni kepalanya di atas kepala Lana hingga membuat jarak mereka begitu dekat.


Up lagi....


Maaf ya masih slow upnya...


Makasih yang masih setia sama novel ini.


Jangan lupa kasih like sama dukungnnya ya...


Makasih orang baik...

__ADS_1


🙏🙏🙏


__ADS_2