Gadis Pemuas Nafsu

Gadis Pemuas Nafsu
GPN 11


__ADS_3

"Mas kamu lagi ngapain di situ? Tanya ku sambil terus berjalan mendekat ke arah mas Arkha yang sudah duduk manis di sofa. Aku cukup terkejut kenapa dia ada di sini sementara ini adalah jam kerjanya.


" Aku mau kita makan bersama, dan aku juga mau pastikan kalau kamu makan yang bener" Aku tersenyum lembut ke arah nya lalu duduk di samping nya.


"Ini sudah siang apa kamu gak pergi ke kantor mas? Tanya ku, sambil membuka satu persatu wadah yang tertutup rapat.


"Tadi sudah ke kantor sebentar terus pulang lagi, hari ini aku mau kerja dari rumah saja karena di kantor juga gak ada meeting penting" Ucapnya sambil terus menatapku.


"Kenapa menatap ku seperti itu? Malu tau di tatap begitu" Ucapku sambil memalingkan wajah, di tatap dengan tatapan yang tak pernah mas Arkha tunjukan pada orang lain rasanya jantung berdebar debar. Mas Arkha terkekeh pelan mungkinkah ada yang lucu?


"Kamu cantik Irni, kenapa harus malu saat di tatap?" Tanya nya.


"Eng-enggak apa mas, ayok makan aku sudah sangat lapar" Ucapku sambil menyendok nasi dan mengambil beberapa lauk untuk pelengkapnya.


"Kamu mau makan pake lauk apa mas? Tanya ku memastikan.


" Pakai itu saja " Tunjuk nya, ku ambilkan sedikit nasi dengan lauk yang di inginkan suamiku, lalu menyodorkan nya kamipun makan dalam diam hanya suara sendok dan garpu yang saling beradu sampai menimbulkan suara dentingan.


"Makan yang banyak, itu masih ada nasi sama lauknya" Aku menggeleng, perut ku bukan perut karet yang bisa melar dan muat makanan banyak.


"Aku sudah kenyang mas" Ucapku.


"Ya sudah aku kembali ke rumah utama, jika kau bosan keliling saja dulu di sana "


"Apa aku tidak boleh keluar dari sini sebentar saja hanya untuk cari angin?" Tanya ku hati hati, takut jika nanti mas Arkha akan marah padaku, aku belum tau mas Arkha jika marah seperti apa.


"Tidak boleh! Ucapnya tegas. Nyali ku langsung menciut aku mengangguk mengerti tak mau membuat mas Arkha semakin marah.

__ADS_1


Kulihat mas Arkha berjalan keluar rumah, dia tidak pamit dan pergi begitu saja. Sebetulnya Aku heran kenapa mas Arkha begitu memegang teguh pendiriannya menahan kami di sini bahkan hanya untuk cari angin luar saja tidak di perbolehkan.


"Nyonya ponsel Anda berbunyi" Ella datang menghampiri ku dengan membawa ponsel yang masih bergetar dengan layar menyala memperlihatkan nama Maura di sana.


"Makasih ya El" Ucapku, ku usap layar ponsel untuk menjawab panggilan dari adik ku itu.


"Hallo" Terdengar suara isakan tangis saat aku menjawab telpon dari Maura, aku masih membiarkan dia menangis tak mau menanyakan apa penyebabnya ku biarkan dia saja nanti yang akan menjelaskan.


"Kakak, tolong kami" Pintanya saat tangisnya sudah mulai mereda.


"Kenapa? Tanyaku masih dengan nada tak bersahabat, sebetulnya mendengar suara tangisan pilu adik ku itu membuat ku tak tega, tapi jika ingat perlakuan nya dengan ibunya terhadap ku saat di rumah membuat rasa benci ku terhadap mereka menutup rasa iba ku.


"Papa kak, papa di tangkap polisi " Ucapnya, kemudian menangis lagi dengan tersedu sedu. Aku cukup terkejut mendengar ucapan Maura ada apa dengan keluarga ku sebenarnya.


"Ngomong yang jelas Maura, atau ku tutup telpon nya " Ancam ku.


"Ja-jangan kak, tolong bantu papa juga kami kak papa Membunuh tuan willson karena papa belum melunasi hutang hutang nya, papa gak mau tuan willson terus menagih nya jadi papa membunuh nya kak, sekarang papa berada di kantor polisi tadi beberapa polisi datang ke sini untuk menangkap papa dan membawanya" Aku membulat kan mataku mendengar ucapan Maura.


"I-itu anu kak" Ucapnya terbata. Aku sudah bisa menduganya pikiran ku gak mungkin meleset ini semua pasti ulah sonya.


"Urus saja keluarga toxic mu itu, papa sudah bilang padaku kalau aku bukanlah bagian dari keluarga nya lagi bahkan aku sudah di keluarkan dari kartu keluarga " Ucapku, lalu ku matikan telpon itu. Tak terasa tetesan cairan bening meluncur begitu saja dari kedua mataku, aku memang tak pernah menunjukan rasa sedih ku di hadapan orang lain, namun tak jarang aku selalu menangis sendirian menumpah kan rasa sedih ku.


Dada ku terasa sesak saat mendengat papa di tangkap polisi, bagaimana pun sikap nya selama ini padaku tapi dia tetap papa ku, aku sangat menyayanginya terlepas bagaimana dia memperlakukan ku, tapi bagaimana cara agar aku bisa menyelamatkan papa dari dalam balik jeruji besi, tuan willson itu bukan orang sembarangan dia termasuk jajaran milyader di kota kami,akan sangat sulit membantu papa karena harus melawan keluarga tuan willson.


Ku usap air mataku yang terus saja keluar tanpa bisa di tahan, aku melangkah kan kakiku masuk kedalam kamar lalu menguncinya aku butuh waktu untuk sendiri saat ini agar pikiran ku sedikit lebih tenang.


"Nyonya, apa anda baik baik saja" Terdengar Ella memanggil dengan suara panik nya, pasti dia melihatku menangis tadi sebelum masuk kedalam kamar. "Nyonya, tolong jawab saya apa anda baik baik saja didalam?" Tanya nya lagi.

__ADS_1


"Aku baik baik saja El, aku sedang ingin sendiri untuk saat ini" Ucapku serak, tak terdengar lagi suara Ella di depan mungkin dia sudah pergi dari sana.


Aku duduk di atas ranjang sambil memeluk kedua lututku, aku tak pernah sesedih ini sebelum nya. Aku pun mulai merebahkan tubuhku sampai tak terasa kesadaran ku mulai hilang dan tak ingat apa lagi yang terjadi dengan ku setelah nya.


______


Sementara di luar Ella berlari masuk kedalam rumah utama untuk menemui tuan Arkha dan memberitahu keadaan nyonya nya.


"Kenapa lari lari El? Tanya salah satu pelayan di rumah utama.


"Aku mau menemui tuan Arkha, apa dia ada di ruangan nya atau sudah kembali ke kantor? Tanya nya balik, terlihat wajah Ella begitu panik juga cemas.


" Tuan ada di ruangan nya El, memang nya ada apa?" Tanya nya kepo.


"Nanti saja kita ngobrol nya " Ella segera berlari ke arah ruang kerja tuan Arkha dan mengetuk pintunya.


"Tuan, tuan Arkha " Ella mengetuk dengan cepat pintu ruang kerja tuan nya. Tak lama kemudian pintu pun terbuka muncul Arkha dengan wajah bingung nya dari balik pintu.


"Ada apa?" Tanya nya heran.


"Nyonya tuan, tadi saya lihat nyonya menangis terus masuk kedalam kamar dan menguncinya, saya khawatir dengan nyonya tuan" Arkha yang mendengar itupun tanpa menunggu Ella dia melangkah kan kakinya menuju ke rumah istri barunya.


"Mana kunci cadangan?" Tanya nya. Ella dengan cepat mengambil kunci cadangan yang ia simpan di dapur.


"Ini tuan kuncinya" Arkha langsung membuka pintu kamar Irni, dia menghampiri istrinya yang meringkuk di atas ranjang, Arkha yang melihat istrinya tak sadarkan diri pun langsung membawanya keluar dari dalam kamar.


____

__ADS_1


Aku mengerjap kan mataku, ku edarkan pandangan melihat sekeliling ruangan yang terlihat berwarna putih.


"Dimana aku?"


__ADS_2