
"Irni" papa berjalan menghampiriku air matanya sudah jatuh membasahi pipinya yang sekarang terlihat kusam tak terawat juga terlihat lebih tirus dari yang terakhir kali ku lihat.
"Papa, maaf Irni baru bisa datang " ucapku tak mampu menahan rasa yang bergejolak dalam dada, antara sedih, juga bahagia bisa berjumpa dengan papa.
"Maafkan papa nak, papa gak pantas jadi papa kamu, papa bukan papa yang baik" ucapnya sambil terisak, tubuhnya bergetar hebat menahan tangis supaya tak pecah.
"Papa, papa adalah papa terbaik untuk Irni, maafkan Irni jika selama ini belum jadi anak yang baik untuk papa" ucapku. ingin rasanya aku memeluk papa dengan erat tapi sel tahanan ini menghalangi kami.
"Maafkan papa Irni, papa menyesal selalu mengikuti keinginan sonya, papa menyesal nak" ucapnya. tangisan nya terdengar pilu sangat terlihat jika papa sekarang tengah menyesali perbuatannya.
"Papa, papa tenang yah mas Arkha akan membantu papa keluar dari sini, kami akan berusaha semampu kami untuk bisa mengeluarkan papa dari sini" ucapku sambil menatap mata papa yang terlihat sayu.
"Papa sudah gak berharap bisa keluar dari sini, karena papa tau kesalahan papa begitu fatal sudah membunuh tuan willson, tapi papa mohon padamu tolong cari adik mu, jangan biarkan dia jadi korban nya sonya "
"Maksud papa apa? bukan nya sonya sudah meninggal? tanyaku.
" Sonya belum meninggal.! Maura terpaksa bohong denganmu karena di tekan oleh sonya, Maura di peralat oleh sonya untuk memerasmu, tolong selamatkan adikmu dia anak papa juga Irni" Aku terdiam mematung mendengar ucapan papa, apa iya sonya belum meninggal.
"Lalu sekarang Maura ada di mana pah?"
"Maura ada di jakarta dengan sonya, dia bekerja di salah satu club malam terbesar di sini, carilah adikmu selamat kan dia. masa depan nya masih panjang, jangan biarkan sonya merusak adik mu"
"Akan aku usahakan pah," ucapku sambil menggenggam dengan erat tangan papa.
"Ayo pulang sekarang" Mas Arkha datang mengajakku pulang, ku tatap wajah papa yang seperti belum puas bertemu denganku.
"Boleh saya minta waktunya sebentar lagi tuan? saya masih rindu dengan anak saya" ucap papa sambil menciumi tangan ku.
"10 menit" ucapnya kemudian duduk di bangku yang di sediakan dengan pak Hendra.
"Papa sebenernya bingung apa yang harus papa bicarakan lagi dengan mu,papa sudah terlalu banyak membuat kesalahan, papa sudah menyia nyiakan kamu, papa merasa tak pantas untuk kamu panggil papa. papa_" Aku segera melatakan jari telunjuk ku di bibir papa supaya papa berhenti bicara yang tidak tidak.
"Stop pah, jangan terus menyalahkan diri sendiri semua yang sudah terjadi gak akan pernah bisa terulang lagi, papa gak akan pernah bisa merubah semuanya. tolong jangan ungkit lagi sekarang papa harus berubah menjadi papaku yang dulu lagi, papa sebelum kenal dengan sonya " Kulihat papa kembali terisak setelah mendengar ucapan ku barusan.
__ADS_1
"Maafkan papa, andaikan papa dulu gak masuk kedalam perangkap nya, papa menyesal nak papa menyesal. Papa kira sonya adalah wanita yang baik, lembut, juga penyayang tapi sifat aslinya terlihat setelah sonya menikah dengan papa, semuanya hancur "
"Gak ada gunanya papa menyesali semua yang sudah terjadi, sekarang papa fokus berubah menjadi pribadi lebih baik lagi, aku sama mas Arkha akan berusaha semampu kami untuk membantu papa keluar dari sini" papa mengangguk, akupun melepaskan gengaman tangan kami.
"Waktunya sudah habis, ayo pulang" Ajak mas Arkha.
Aku menatap papa sungguh belum puas rasanya aku bertemu dengan papa hari ini, aku ingin menebus kebersamaan kita yang sudah terlewat selama beberapa tahun lalu.
"Pulang lah nak, ikut dengan suamimu papa gak apa" Aku mengangguk setelah mencium tangan papa aku bergegas menghampiri mas Arkha yang sudah berdiri menunggu ku.
"Tuan" aku juga mas Arkha menghentikan langkah kami saat mendengar papa memanggil.
"Tolong jaga putriku, aku sudah menyia nyiakan dia dari kecil tolong bahagia kan putriku tuan, jangan kau sia siakan dia seperti aku menyia nyiakan nya dulu" ucapnya dengan bibir bergetar. dua butiran bening itu lolos begitu saja dari kelopak mata ku.
"Anda tenang saja, putri Anda aman bersama saya!"
" Saya pegang kata kata itu" ucap papa, mas Arkha menarik tanganku membawaku keluar dari dalam ruangan tempat papa di tahan.
Setelah masuk kedalam mobil mas Arkha menarikku kedalam pelukan nya, aku semakin terisak saat mas Arkha memelukku juga mengusap lembut kepalaku.
"Maaf" ucapku.
"Untuk apa?" tanyanya.
"Karena aku sudah terlalu terbawa suasana"
"Itu hal yang wajar, tapi jangan berlarut dalam kesedihan."
"Mau makan dulu apa langsung pulang?" tanya nya.
"Bolehkah makan di luar? tanyaku dengan dengan mata berbinar aku sangat berharap bisa makan di luar setelah sekian lama terperangkap di rumah mas Arkha.
"Mumpung masih di luar, khusus hari ini aku perbolehkan kamu untuk menikmati suasana luar tapi tolong jangan minta untuk sering sering keluar rumah setelah ini, akan sangat bahaya" aku menatap mas Arkha dengan tatapan bertanya.
__ADS_1
"Bahaya? tanyaku.
" Gak usah ingin tau lebih jauh tentang diriku," ucapnya membuat ku mengerutkan kening.
"Memang kenapa sih mas? kamu sudah tau banyak tentangku tapi aku belum tau banyak tentang mu" ucapku sambil menatap nya.
"Nanti kau akan tau sendiri!" Mas Arkha langsung menyalakan mobil dan melajukan nya menyusuri jalanan ibukota.
" Kamu pengen nya makan apa?" tanya mas Arkha.
"Makanan khas Jepang enak kayanya mas! ucapku.
Mas Arkha melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, setelah menempuh perjalanan kurang lebih 30 menit mas Arkha memarkirkan mobilnya di depan salah satu restoran khas Jepang, aku segera turun di susul mas Arkha di belakangku.
"Tunggu sebentar!" Aku yang sudah mau masuk kedalam restoran pun menghentikan langkahku.
"Kenapa mas? tanyaku .
" Ada yang tertinggal di mobil, tunggu dulu di situ!" aku mengangguk, lalu duduk di kursi yang ada di depan restoran. Saat aku tengah menunggu ku lihat seseorang yang sangat aku kenal lewat sambil bergandengan tangan melewati ku.
"Hei, kenapa malah bengong?" tanyanya mas Arkha. aku yang pokus dengan orang tadipun langsung terjangkat kaget saat mas Arkha mengibaskan tangan nya di depan wajahku.
"Ah, enggak mas. sudah selesai ayo masuk aku sudah lapar" ucapku sambil menarik tangan nya masuk kedalam restoran.
Kami duduk di kursi ujung, lalu memesan makanan kulihat mas Arkha tak hentinya menatap satu persatu pengunjung yang masuk kedalam restoran.
"Kamu lagi nungguin orang mas?" tanyaku heran.
"Enggak, sudah pesan makanan? mas Arkha malah berbalik tanya.
" Sudah, kamu kenapa sih mas dari tadi gelisah terus?
"Gak ada apa apa!" ucapnya membuatku langsung terdiam. setelah menunggu beberapa saat makanan pun tiba kami makan dalam diam sampai makanan habis.
__ADS_1
Saat mas Arkha mengambil dompet di kantong celana sekilas kulihat ada pistol di sana, aku sedikit terkejut mengetahui mas Arkha membawa senjata api, untuk apa mas Arkha membawa senjata itu.