
"Irni"
"Nyonya" teriak Rania juga Ella barengan saat melihat Irni tergeletak mengenaskan dengan kaki bersimpah darah.
Arkha langsung membopong tubuh istrinya di ikuti oleh Rania, pengawal, juga Ella di belakang nya.
"Bukakan pintu mobil cepat" bentaknya, pengawal dengan cepat membuka pintu.
"Izin kan aku untuk ikut mas" Arkha tak menyahut dia membawa Irni masuk kedalam mobil, Rania pun segera ikut masuk dan duduk di samping Arkha untuk membantu menopang kepala Irni.
"Cepat jalan ke rumah sakit " ucapnya dengan suara tegas.
Sopir pun segera melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, menuju rumah sakit. tak sampai setengah jam mobil pun berhenti tepat di depan IGD Rania segera berlari keluar memanggil perawat untuk membawakan ranjang pasien.
"Tolong cepat bawa istri saya untuk di periksa, Selamatkan dia " Arkha membantu para perawat mendorong bangsal pasien sampai di depan ruang periksa setelah nya Arkha juga Rania tak di izinkan untuk ikut masuk kedalam meski Arkha memberontak ingin menemani Irni di dalam.
"Mas, mas sudah biarkan dokter memeriksa Irni dengan baik kita tunggu di sini duduk dulu" Rania mencoba menenangkan suaminya namun Arkha menepis kasar tangan istri keduanya itu.
Tak ada kata sakit hati untuk seorang Rania dia sadar diri meski posisi nya juga seorang istri tapi dia bukan lah pengisi hati suaminya. Rania pun akhirnya hanya duduk sendiri melihat suaminya yang hanya mondar mandir sambil sesekali meraup wajahnya kasar.
Tak lama kemudian pintu ruang periksa pun terbuka muncul seorang perawat dari dalam, " Keluarga pasien?" panggil perawat.
Arkha segera berjalan menghampiri perawat itu dengan di susul Rania di belakang nya tak peduli jika nanti dirinya akan di marahi suaminya atau malah lebih parah dari itu yang jelas dia begitu khawatir dengan kondisi Irni dan ingin mengetahui keadaannya.
"Bagaimana keadaan istri saya Sus? tanya nya.
" Silahkan masuk tuan, dokter ingin bicara" Arkha pun masuk Rania masih mengekor di belakangnya, Terlihat Irni terbaring dengan pakaian pasien masih belum sadarkan diri.
"Silahkan duduk tuan, nyonya"
Arkha pun duduk berhadapan dengan dokter, wajah yang biasanya terlihat dingin sekarang sudah tak terlihat watak dinginnya berganti dengan raut wajah cemas.
"Bagaimana kondisi istri saya dokter?" tanya nya.
"Apa istri anda tengah susah buang besar tuan? atau istri anda salah makan, saya menemukan ada obat pencahar dengan dosis tinggi dalam urin istri anda " Arkha terlihat mengerutkan kening nya heran, sementara ada rasa terkejut di wajah Rania.
__ADS_1
"Maksud dokter? Tanya Arkha masih belum mengerti, Pasalnya dia begitu menjaga makanan apa yang masuk kedalam perut istrinya.
" Begini tuan, saya menemukan ada obat pencahar dengan dosis tinggi ada dalam perutnya, sebenernya obat itu sangat tidak baik di konsumsi oleh ibu hamil di trimester pertama karena akan berpengaruh pada janin" jelasnya lagi. Arkha masih saja belum mengerti, entah ucapan dokter yang terlalu muter muter tidak langsung dengan intinya atau malah otak dia yang sedikit tak masuk dengan penjelasan yang dokter jelaskan barusan.
"Jadi maksud dokter Irni tengah hamil muda? " Tanya Rania yang sontak saja membuat Arkha menatap terkejut ke arahnya. Arkha mengalihkan lagi pandangan nya ke arah dokter dengan tatapan bertanya.
"Betul nyonya, Pasien tengah hamil usia kandungan 5 minggu tapi mohon maaf kami tidak bisa menyelamatkan kandungan nya," Ucap dokter dengan raut wajah berubah sedih.
" Jangan bercanda dokter, bilang jika ini semua gak bener! " sentak Arkha dengan raut wajah murkanya.
"Bilang jika ini semua gak bener dokter, " Bentak nya lagi hampir nya saja Arkha melayangkan pukulan pada dokter jika saja Rania tidak menariknya.
"Mas sudah, simpan emosimu Irni tengah sakit" Arkha menepis kasar tangan Rania yang memegang tangan nya.
"Kenapa baru ketahuan sekarang jika dia tengah hamil, kenapa baru ketahuan saat kandungan nya sudah keguguran kenapa?" ucapnya sedih, menyesal juga bercampur marah. Arkha meraup wajah nya kasar matanya sudah memerah, dia pun bangkit lalu menendang dengan keras kursi yang barusan di duduki nya sampai membuat perawat yang tengah memeriksa infus Irni terjingkat kaget, begitupun dengan Rania juga dokter.
"Saya mohon maaf tuan karena tidak bisa menyelamatkan penerus anda, Sebentar lagi nyonya akan di bawa ke ruang perawatan kemungkinan akan di rawat beberapa hari di rumah sakit supaya kita mudah memeriksa perkembangan keadaan nya" Arkha hanya diam saja saat dokter bicara, entah apa yang ada dalam pikiran nya Dia menatap Irni dengan tatapan yang sangat sulit untuk di artikan.
______
Di ambilnya ponsel yang tergeletak di atas tempat tidurnya lalu menekan salah satu kontaknya.
"Hallo Dim, Dim aku hamil" ucapnya dengan suara pelan, namun terlihat jelas wajah nya begitu panik.
" Apa? kamu hamil? kenapa bisa seceroboh itu kenapa bisa sampai kebobolan " ucapnya di balik telpon.
" Ya aku gak tau, terus sekarang gimana aku gak mau sampai mas arkha tau tentang ini semua bisa bisa aku di bunuh oleh nya " Ucapnya semakin panik. "Belikan aku obat penggugur kandungan Dim, hanya itu cara satu-satunya agar aku tetap selamat"
"Tidak tidak, aku tidak akan mengijinkan mu membunuh anak kita dia darah daging ku Marisa, aku gak akan pernah membiarkan mu membunuh janin itu " ucapnya tegas.
"Terus sekarang bagaimana, gak ada cara lain. Aku melakukan hubungan itu dengan mu juga hanya untuk main main bukan untuk mendapatkan keturunan "
"Marisa jangan berbuat gila dengan membunuh anak itu, jika kau bunuh anak itu maka aku akan membunuh mu juga " ancamnya membuat Marisa tertawa terbahak.
"Kau mengancamku Dim,? lihat saja nanti " Marisa langsung mematikan ponselnya. dia berjalan ke rumah utama dan masuk kedalam ruangan khusus untuk perawatan orang rumah.
__ADS_1
Karena tidak mungkin dia bisa keluar membeli obat penggugur kandungan maka dia akan meracik sendiri obat obatan yang ada di sana dengan dosis yang dia takar sendiri.
"Semoga cara ini berhasil, heh janin sialan aku tidak pernah menginginkan mu untuk hadir dalam rahimku, kenapa kau malah tumbuh di sini" Ucapnya sambil menekan kuat kuat perut bagian bawahnya.
Setelah menemukan beberapa obat yang di perlukan nya Marisa segera keluar dari sana sebelum ada orang yang mengetahuinya.
" Nyonya dari mana?" Marisa terjingkat kaget saat tiba tiba Yuni ada di dekatnya.
" Dari rumah utama, kau bikin aku kaget saja Yun " ucapnya sambil berjalan masuk kedalam rumah.
"Maaf nyonya, itu tadi saya bawakan buah yang anda minta, saya simpan di kulkas dulu" ucapnya.
"Makasih ya Yun, kau boleh balik dulu ke rumah utama bantu bantu di sana aku ingin sendiri dulu sekarang mau istirahat juga kurang enak badan" ucapnya mengusir Yuni secara perlahan.
"Baik nyonya jika nanti ada perlu apa apa langsung telpon saya saja " Marisa hanya mengangguk mendengar ucapan pelayan pribadinya.
Setelah Yuni pergi dari sana Marisa segera masuk kedalam kamar dan menyimpan obat obatan yang dia bawa dari rumah utama. lalu dia segera keluar mengambil buah nanas muda yang dia pesan dari Yuni tadi.
Marisa memakan satu buah nanas muda dengan sambal yang dia buat begitu pedas, agar orang tak curiga dia juga minta di bawakan bengkoang juga pepaya muda untuk di rujak. selesai memakan nanas muda Marisa membuang bengkoang juga pepaya nya ke dalam tempat sampah.
"Sekarang giliran aku meracik obat obatan ini untuk mengeluarkanmu dari dalam perutku, janin malang" Ponsel Marisa berbunyi di lihatnya nomor kekasih gelapnya yang telpon.
"Hallo, ada apa lagi?" tanya nya dengan suara ketus.
"Marisa kau tidak berbuat gila dengan janin itu kan?" tanya nya cemas.
"Bukan urusan mu " jawabnya.
"Marisa biarkan janin itu untuk hidup, kita bicarakan ini dengan tuan Arkha secara baik baik" Bujuknya dengan pelan.
"Kau mau mati, mati saja sana sendiri.! kau pikir Arkha akan dengan mudah memaafkan kesalahan ku juga kesalahan mu, mimpi mu terlalu manis " ucapnya sinis.
" Aku tak perduli jika tuan Arkha akan menghukum ku, bahkan jika dia ingin membunuhku sekali pun asal kau jangan bunuh anakku, biarkan dia tetap hidup "
"kau sudah gila Dimas!" Marisa mematikan secara sepihak telpon nya, terlihat ponselnya kembali berdering beberapa kali tapi dia enggan untuk mengangkat nya lagi.
__ADS_1
"Gak ada yang bisa keluar dari rumah ini dengan selamat Dimas, apalagi kita sudah buat kesalahan yang begitu besar, cara ini adalah yang terbaik " gumam nya sambil menatap obat yang sudah siap untuk dia minum.