
seminggu sudah aku hidup berumah tangga tapi aku masih merasa kalau aku hidup sendiri, dan terkurung bagai tawanan mas Arkha selalu sibuk dengan kerjaan nya sebagai direktur utama, kak Marisa dia punya kesibukan sendiri entah apa itu, yang jelas dia sangat jarang kulihat keluar rumah sementara kak Rania dia sibuk dengan karya melukis nya.
"dorrr" aku terjingkat kaget saat seseorang mengagetkanku, kulihat Erkan tersenyum lalu duduk di samping ku.
"sedang apa di sini sore sore begini kak ?" tanya nya.
"cari angin,"
"kau sendiri, ngapain di sini?" tanya ku.
"ini rumah kakak ku, aku bebas datang kapan saja ke sini "
aku mengangguk sambil tersenyum samar, kenapa aku tanya begitu seperti orang bodoh saja bahkan harusnya tanpa di tanya pun aku sudah bisa menebak kalau Erkhan bebas keluar masuk rumah ini karena ini rumah kakaknya.
"gak usah panggil aku kakak, panggil nama saja Irnia lagian sudah bisa di pastikan kalau kau usianya lebih tua dariku" ucapku.
"aku masih ingin hidup kak ,kalau aku memanggil istri kak Arkha dengan sebutan nama bisa bisa kepalaku di penggal "
"emang kakak mu sejahat itu?"
"orang kalau sudah cemburu, suka lupa ingatan kak"
"Erkhan" suara mas Arkha menghentikan percakapan kami, aku menoleh ke belakang mas Arkha menatap ku dengan tajam begitupun pada Erkhan adiknya .
"mas sudah pulang?" tanyaku basa basi.
"ya" jawabnya ketus ,ya ampun segitunya gak mau bicara dengan ku jawaban nya sangat singkat padat dan jelas.
"ikut Kakak kedalam ada yang mau kakak bicarakan"
"baik kak, kakak ipar aku permisi dulu bye" ucapnya sambil melambaikan tangan kemudian masuk kedalam rumah utama menyusul mas Arkha.
"nyonya, saya mencari anda ternyata di sini ayok kita masuk ke rumah sudah mau malam ini"
__ADS_1
"iya El" aku berjalan beriringan dengan Ella saat melewati rumah kak Marisa ku tatap sebentar rumah nya aku masih ingat betul suara suara itu,pasti itu suara mas Arkha dengan kak Marisa ,kalau bukan suara mas Arkha suara siapa lagi.
"kenapa nyonya menatap rumah nyonya Marisa seperti itu?" aku jadi gelagapan mendengar pertanyaan Ella.
"ah enggak ko El, rumah kak Marisa seperti nya nyaman ya El ,dari luarnya aja udah terlihat bersih dan rapi " kulihat Ella kebingungan, mungkin memang ucapan ku tak masuk akal rumah kita juga sama nyaman, bersih dan rapi tak jauh beda dari rumah kak Marisa.
"nyonya ayo, sudah mau malam"
"iya Ell"
saat makan malam tiba kulihat Erkhan belum pulang dia datang bersama mas Arkha lalu duduk di kursi dekat dengan ku.
"Hai kakak ipar ketemu lagi kita" aku hanya tersenyum menanggapi sapaan nya. kulihat mas Arkha melirik tak suka kearah adik nya.
Selesai makan malam kami pun kembali ke rumah masing masing, sungguh sangat membosankan selalu begini saja alur nya setiap hari, biasanya di rumah papa aku tidak di kekang masih bisa cari angin keluar meski hanya nongkrong di caffe langganan. tapi di sini aku tak bisa kemana mana.
"El, apa di kulkas masih ada buah potong yang di kasih bik sum kemarin?" aku yang baru keluar dari dalam kamar tak mememukan ada Ella ku lihat sekeliling namun tak juga ku jumpai Ella di sini, kemana orang itu.
"El" panggilku tapi tak juga ada yang menyahut, akhirnya aku sendiri yang harus melihat masih ada apa enggak nya buah potong itu, tak biasanya Ella pergi tanpa pamit begini, rumah terasa sepi kalau gak ada Ella di sini, biasanya dia akan temani aku nonton televisi sebelum aku tertidur.
"mencari apa" aku menoleh saat mendengar suara berat seorang laki laki yang sangat aku kenali suara nya.
"m-mas kamu ngapain di sini?" tanya ku sedikit gugup.
"ini" mas Arkha menyodorkan sepiring buah potong padaku, dia seperti bisa membaca pikiran ku kalau aku ingin makan buah potong.
"ma-makasih mas" ucapku gugup. rasa dingin seketika terasa begitu menusuk berada di dekatnya membuat aku jadi kedinginan. ku dudukan kembali bokong ku di sofa memakan satu persatu buah potong yang dibawa oleh mas Arkha sambil melihat drama Korea favorit ku di televisi.
"boleh duduk di sini?" tanya nya.
"duduk lah mas, ini rumah mu juga" ucapku, jangan tanya seperti apa rasanya jantung ku sekarang.
"Irni, apa kau nyaman tinggal di sini?" tanya nya, membuat ku menoleh menatap wajah nya.
__ADS_1
"nya-nyaman mas, kenapa?" tanyaku balik.
"gak apa, bagaimana dengan Marisa juga Rania apa mereka bersikap tak baik padamu?" pertanyaan nya membuat ku heran, seminggu menikah dengan mas Arkha baru kali ini dia mengajak ku bicara berdua seperti sekarang.
"mereka baik mas, tak pernah mencampuri urusan ku, akupun tak pernah mencampuri urusan meraka jadi kita masing masing saja" ku lihat mas Arkha menghela nafas lega.
"baiklah aku mau kembali ke rumah utama, masih banyak pekerjaan" aku mengangguk sambil tersenyum kearah nya. namun wajah suamiku itu masih saja datar tanpa ekspresi.
"iya mas"
"ingat perjanjian Irni, kau tak boleh dekat dengan laki laki lain selama kau masih terikat dengan ku, termasuk adik ku sendiri"
"i-iya mas" setelah mas Arkha keluar dari dalam rumah, aku menyentuh dadaku yang masih saja berdebar debar.
masih ada rasa kebingungan dalam diriku kenapa mas Arkha tiba tiba berubah, biasanya dia akan bersikap cuek seolah tak peduli tapi sekarang dia sangat berbeda.
"nyonya, kenapa anda melamun" aku terjingkat kaget saat Ella menyentuh bahuku.
"ya Tuhan El, kau mengagetkan ku saja" ucapku sambil berjalan ke arah sopa.
"dari mana saja El, tadi aku mencari mu tapi gak ada "
"maaf nyonya, saat anda di dalam kamar mandi, saya pergi ambil buah potong di rumah utama karena di dalam kulkas sudah habis, tapi saat saya akan kembali ke sini saya ketemu tuan di depan rumah anda, dia menyuruh saya untuk pergi dulu sebentar sementara tuan masuk kedalam sini dengan membawa buah potong" ucapnya panjang lebar menjelaskan kemana dia tadi pergi, aku pun manggut manggut mengerti.
"El, apa mas Arkha kejedot beton, atau kepalanya tertimpa durian kenapa dia bisa berubah drastis begitu?" tanya ku masih sedikit bingung.
"kalau menurut saya sih, tuan seperti nya menyimpan rasa untuk anda nyonya, hanya saja tuan belum menyadari nya, dia masih gengsi mengakui perasaan nya sendiri"
"ah sok tau kamu El, gak mungkin dia suka dengan ku, kak Marisa juga kak Rania itu lebih cantik juga lebih menarik dari pada aku usia mereka juga lebih matang " ucapku mencoba menyangkal.
"kita lihat saja nanti nyonya, pasti tuan akan mengungkapkan isi hatinya, hanya tinggal nunggu waktu saja."
"gak usah terlalu banyak berhayal, udah ah ini di beresin El aku mau ke kamar mandi, mau bersih bersih terus tidur"
__ADS_1
Sampai di dalam kamar aku masih kepikiran dengan ucapan pelayan ku Ella, mulut ku memang menyangkal tapi hati dan pikiran ku beda lagi.
"apa benar mas Arkha punya rasa untukku?"