
"Ir, Irni apa kau masih didalam?" Kudengar mas Arkha mengetuk pintu kamar mandi. aku pun bergegas memakai baju dan segera keluar dari ruang ganti.
"Aku sudah selesai dari tadi mas" ucapku, membuat mas Arkha langsung berbalik dan tersenyum.
"Baguslah, kukira masih di dalam ayok turun waktu makan malam sudah terlewat dikit " ucapnya. kulihat jam sudah menujukan pukul setengah delapan malam, aku sempat terkejut pasti kak Rania sudah menunggu di meja makan dari setengah jam yang lalu.
Kami pun segera turun kebawah, terlihat di sana kak Rania sudah duduk manis sambil memainkan ponselnya kak Rania menoleh saat menyadari kedatanganku juga mas Arkha lalu dia tersenyum begitulah kak Rania, kadang aku suka berpikir apa kak Rania tak pernah sedih dia selalu saja tersenyum di depan ku juga mas Arkha. tapi aku gak pernah tau bagaimana dia saat sendiri.
"Maaf ya kak nunggu lama " ucapku tak enak hati.
"Enggak ko, aku baru aja datang 5 menit yang lalu tadi aku ketiduran ku pikir kalian sudah makan duluan tapi pas kulihat makanan nya masih utuh " ucapnya terkekeh pelan. aku bernafas lega mendengar ucapan kak Rania jadi aku tidak terlalu merasa bersalah karena membiarkan kak Rania menunggu sampai setengah jam.
Acara makan malam pun di mulai seperti biasanya kita makan dalam keheningan, namun makan malam kali ini ada yang kurang ku lihat kursi yang biasa di duduki kak Marisa sekarang kosong tak ada yang menempati, meski dia sangat jarang berinteraksi dengan ku apalagi mengobrol seperti aku dengan kak Rania, tapi aku sudah mengenal kak Marisa beberapa bulan ini jelas saja membuatku kehilangan.
"Cepat habiskan makanan nya, malah melamun, kenapa?" aku sedikit gelagapan saat di tegur mas Arkha, kulihat makanan ku masih utuh ternyata dari tadi aku hanya memutar mutar makanan ku saja.
"Mas aku sepertinya belum lapar, aku makan buah saja yah " ucapku. mas Arkha pun mengangguk lalu memanggil bik sum untuk membawakan beberapa macam buah potong seperti biasanya.
" Perut kamu masih belum nyaman Ir?" tanya kak Rania setelah dia menghabiskan makanan nya.
" Enggak ko kak sudah enakan, hanya saja belum mau makan nasi kaya gak ada nafsu aja makan gitu" ucapku. kak Rania mengangguk mengerti.
"Ya sudah aku duluan ya Ir, selama malam " pamit nya.
__ADS_1
"Selamat malam juga kak " kulihat kak Rania semakin menjauh dari meja makan, tak lama kemudian bik sum pun datang membawakan sepiring buah potong kesukaanku.
"Terima kasih bik" ucapku. Setelah pamit bik sum kembali lagi ke dapur.
"Mas boleh gak aku bawa buah nya ke atas, aku makan di kamar saja di sini kurang nyaman " mas Arkha yang tadinya hanya pokus dengan ponsel pun berbalik menatapku lalu tersenyum.
"Sini mas bawakan, " Mas Arkha membawa piring berisi buah potong itu, sampai di kamar aku duduk di sofa kemudian menyalakan televisi untuk menemani ku yang sudah merasa bosan.
" Irni, mas ada urusan dulu di luar sebentar kamu gak apa sendiri di sini atau perlu teman?" tanya nya.
"Mas mau kemana?" tanyaku penasaran.
"Ada perlu dengan Heru, "
" Hanya sebentar, ini penting, mas berangkat ya sudah terlambat " ucapnya membuatku tak bisa lagi menahan kepergian nya. kulihat mas Arkha sudah keluar dari dalam kamar, kamar besar ini pun menjadi semakin sepi setelah mas Arkha gak ada aku jadi bingung harus mengajak siapa masuk kesini untuk menemani ku sementara yang punya akses keluar masuk kedalam ruangan pribadi mas Arkha hanya Ella juga bik sum.
Malam semakin larut kulihat jam sudah menunjukan pukul setengah dua malam tapi masih belum ada tanda tanda mas Arkha kembali, mataku juga begitu susah untuk terpejam.
Aku mencoba merebahkan diriku di atas ranjang, televisi tetap ku nyalakan untuk menemaniku agar tak terlalu kesepian malam ini, sampai tak terasa rasa kantuk pun mulai menyerang.
_____
Sinar matahari membangunkan ku, kulihat mas Arkha masih terlelap, aku mulai menatap wajah tampan nya alis tebal, hidung mancung, bibir yang sensual, rahang nya yang tegas juga tatapan matanya yang tajam begitu menawan suamiku, dulu saat pertama kali bertemu dengan mas Arkha aku langsung jatuh cinta pada pandangan pertama tapi sikap nya begitu dingin. aku gak pernah berharap mas Arkha akan mencintaiku sedalam ini tapi sekarang semua nya sudah berubah, aku sangat bersyukur mas Arkha begitu mencintaiku.
__ADS_1
" Masih ingin terus menatapku?" tanyanya. membuatku sedikit terkejut kukira mas Arkha masih terlelap tapi kenapa dia menyadari aku tengah menikmati wajah tampan nya.
" Mas pulang jam berapa tadi malam?" tanyaku mengalihkan pembicaraan.
"Jam setengah 4 subuh" jawab nya dengan suara serak khas bangun tidur, mas Arkha membawaku kedalam dekapan nya.
"Mas sudah siang, kak Rania pasti sudah menunggu kita untuk sarapan di bawah " ucapku, kulihat waktu sudah jam 7 kurang sepuluh menit sudah pasti akan telat lagi untuk sarapan bersama.
"Biarkan seperti ini dulu sebentar, mas masih ngantuk " ucapnya lalu memejamkan kembali matanya, tak lama kemudian dengkuran halus pun mulai terdengar aku yang di dekap kuat oleh tangan kokohnya tak bisa melarikan diri sampai akhirnya aku menyusul kembali mas Arkha kealam mimpi.
______
"Bik belum yang turun untuk sarapan?" tanya Rania lalu duduk sendiri untuk memulai sarapan nya.
"Belum ada yang turun nyonya, semalam tuan Arkha kembali jam setengah empat subuh nyonya mungkin sekarang masih tidur " Rania menatap bik sum dengan tatapan penuh tanya, tapi dia bertanya dengan bik sum pun percuma karena bik sum gak mungkin tau Arkha dari mana.
"Ya sudah biarkan mereka istirahat, aku sarapan duluan saja" ucapnya, Rania pun makan sendiri sambil sesekali mengecek ponselnya melihat melihat karya melukis dari berbagai belahan dunia.
Selesai sarapan Rania segera pergi dari ruang utama tujuan nya sekarang adalah ke makam Marisa, sejak Rania mengurus Irni dirumah sakit dia belum pernah sekalipun datang mengunjungi makam Marisa di halaman samping rumah utama.
Rania mendudukan dirinya di samping makam kakak madunya itu, dia tatap tanah yang masih merah karena baru 6 hari Marisa meninggal, Rania mengusap dengan lembut nisan yang bertuliskan nama Marisa.
"Marisa, maaf aku baru sempat datang sekarang, aku minta maaf jika semasa kau hidup kita tak pernah bersahabat baik, smoga kau bahagia di alam sana. ini pilihan mu sudah pasti kau bahagia bukan?"
__ADS_1
"Aku pernah berpikir jika alur kehidupanku sangat lah tragis dan sangat tidak adil, tapi setelah melihat mu seperti ini sepertinya aku lebih beruntung," ucapnya. Rania menaburkan kelopak bunga diatas tanah kuburan yang masih basah itu lalu pergi meninggalkannya.